Di antara ratusan wisudawan yang mengikuti prosesi wisuda Sarjana, Profesi Ners, dan Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) periode Mei 2026, sosok Yuni Yulita perempuan cantik Kelahiran Gemidar Ilir ini mencuri perhatian.
Pada usia yang baru menginjak 20 tahun, perempuan asal Kabupaten Lahat itu berhasil menyandang gelar sarjana pada program studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik sekaligus tercatat sebagai wisudawan termuda wisuda Universitas Muhammadiyah Bengkulu.
Capaian tersebut bukan sesuatu yang diraih dalam waktu singkat tanpa perjuangan. Sejak kecil, Yuni memang telah menunjukkan perjalanan pendidikan yang lebih cepat dibandingkan kebanyakan anak seusianya.
Saat berusia 4 tahun 6 bulan, ia sudah duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), lebih awal dibandingkan teman-teman sebayanya. Kecepatan langkah pendidikan itu terus berlanjut. Setelah menamatkan pendidikan menengah di MAN 1 Unggul Kabupaten Lahat, Yuni memutuskan melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Muhammadiyah Bengkulu pada usia 16 tahun.
Empat tahun berselang, ia berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana pada usia 20 tahun 3 bulan 9 hari, usia yang bagi sebagian orang masih menjadi masa pencarian arah hidup.
Bagi Yuni, menjadi lulusan termuda bukan sekadar kebanggaan pribadi, melainkan juga peluang untuk menatap masa depan lebih panjang. Menurutnya, usia muda memberikan ruang yang lebih luas untuk mengembangkan karier dan pengalaman kerja.
“Sebagai lulusan termuda, saya merasakan dampaknya di dunia kerja karena peluangnya masih sangat panjang,” ujar Yuni.
Meski menempuh pendidikan di usia relatif muda, Yuni mengaku tetap menghadapi tantangan seperti mahasiswa lainnya. Tugas perkuliahan, tuntutan akademik, hingga pengelolaan waktu menjadi bagian dari proses yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh.
Ia membagikan kiat sederhana namun konsisten dalam menyelesaikan studi tepat waktu, yakni menjaga disiplin dan memanfaatkan waktu secara efektif. Menurutnya, membuat jadwal harian menjadi cara yang membantunya tetap fokus menjalani perkuliahan.
“Disiplin dan konsisten dengan waktu sangat penting. Saya membuat jadwal untuk mengerjakan tugas dan aktivitas lainnya agar semuanya berjalan teratur,” katanya.
Yuni juga memberikan semangat kepada mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan pendidikan sarjana. Ia berpesan agar tidak mudah menyerah meskipun menghadapi berbagai hambatan selama proses kuliah.
“Untuk teman-teman yang masih berjuang menyelesaikan studi, tetap semangat. Jalani prosesnya dengan baik dan jangan menyerah,” pesannya.
Di balik keberhasilannya, Yuni menyadari ada banyak dukungan yang mengiringi langkahnya hingga titik ini. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada kedua orang tua, keluarga, rekan kuliah, dan para dosen yang selama ini memberikan bimbingan serta motivasi. Baginya, gelar sarjana yang diraih di usia muda bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk menghadapi tantangan yang lebih besar di masa mendatang. Dengan usia yang masih sangat muda, Yuni kini memiliki waktu yang panjang untuk membangun pengalaman, karier, dan cita-cita yang ingin diwujudkannya. (tim)


