Di tengah riuh tepuk tangan dan wajah-wajah haru pada prosesi wisuda Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB) periode Mei 2026, nama Wike Selvia Fauzi menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian. Perempuan muda asal Kedataran, Kabupaten Kaur, itu berdiri dengan senyum tenang, menyandang predikat sebagai wisudawan terbaik dengan capaian nyaris sulit dipercaya: indeks prestasi kumulatif (IPK) sempurna 4,00.

Di balik toga dan kebanggaan yang ia kenakan hari itu, tersimpan cerita panjang tentang disiplin, pengorbanan, dan keteguhan menjaga mimpi.

Wike, kelahiran Kedataran, Kabupaten Kaur, 1 Juni 2003, berhasil menuntaskan pendidikan pada Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMB dengan predikat pujian.

Putri pasangan Napran Fauzi dan Aliah itu tidak hanya dikenal sebagai mahasiswa berprestasi di ruang kuliah, tetapi juga aktif dalam berbagai organisasi, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.

Namun, di tengah kesibukan tersebut, Wike memahami satu hal penting: prestasi akademik tetap harus menjadi prioritas.

“Tips bisa menjadi lulusan terbaik adalah konsisten dengan waktu. Meskipun saya aktif di organisasi kampus maupun luar kampus, kuliah tetap harus menjadi prioritas,” ujar Wike dengan nada sederhana.

Baginya, aktif berorganisasi bukan alasan untuk mengendurkan tanggung jawab akademik. Justru, pengalaman organisasi menjadi ruang belajar untuk mengasah kemampuan diri, selama tetap diimbangi dengan kedisiplinan mengatur waktu.

Ia mengaku tidak pernah membiarkan tugas menumpuk terlalu lama. Kehadiran di kelas, menyelesaikan tugas tepat waktu, serta menjaga hubungan baik dengan dosen menjadi prinsip yang selalu dipegang selama menempuh pendidikan.

“Bagi teman-teman yang aktif di organisasi, jangan terlena. Tentunya harus memprioritaskan nilai dan kuliah. Organisasi tetap berjalan, tetapi nilai juga harus dipertahankan,” katanya.

Perjalanan Wike menuju capaian akademik tertinggi tidak dibangun dalam semalam. Ada banyak hari yang diisi dengan perjuangan menyeimbangkan jadwal organisasi, tugas kuliah, hingga tuntutan akademik yang tidak ringan. Namun, di tengah segala dinamika itu, ia memilih bertahan dan terus berjalan.

Di balik keberhasilannya, tersimpan harapan besar kedua orang tua yang menjadi penyemangat utama. Dari Kabupaten Kaur, doa dan dukungan keluarga menjadi penguat saat lelah datang menghampiri.

Momentum wisuda bagi Wike bukan sekadar seremoni akademik atau pengakuan atas angka sempurna di transkrip nilai. Lebih dari itu, hari tersebut menjadi penanda bahwa kerja keras yang dijalani selama bertahun-tahun akhirnya menemukan hasilnya.

Wike percaya, keberhasilan bukan hanya milik mereka yang paling pintar, melainkan milik mereka yang mampu bertahan, menjaga konsistensi, dan tidak menyerah pada keadaan.

“Perjuangan tidak akan pernah mengkhianati hasil. Teruslah berjuang, terus berjalan, dan teruslah menjadi orang baik,” pesannya.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi memiliki makna mendalam. Sebab, di usia muda, Wike telah membuktikan bahwa mimpi besar dapat dicapai dengan ketekunan dan kedisiplinan.

Bagi banyak mahasiswa, kisahnya mungkin menjadi pengingat bahwa kesibukan bukan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab. Organisasi dapat dijalani, relasi bisa dibangun, tetapi pendidikan tetap membutuhkan kesungguhan. Di hari wisuda itu, ketika namanya disebut sebagai lulusan terbaik UMB periode Mei 2026, Wike tidak hanya membawa kebanggaan pribadi. Ia juga membawa harapan bagi keluarga, daerah asalnya di Kaur, dan menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain: bahwa langkah kecil yang dijalani dengan konsisten pada akhirnya mampu mengantarkan seseorang ke titik tertinggi pencapaiannya. (tim)

Bagikan
Kirim Pesan
Hai Kak!
Kamu sudah terhubung dengan admin Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UM Bengkulu). Ada yang bisa kami bantu?