Pernahkah kita menerima pesan yang begitu rapi, argumentatif, dan meyakinkan, tetapi kemudian menyadari bahwa pengirimnya bahkan tidak benar-benar memahami apa yang ia tulis?

Itulah wajah baru pendidikan di era kecerdasan buatan (AI). Mahasiswa dapat membuat makalah dalam hitungan menit, memperbaiki tata bahasa dengan satu klik, merangkum puluhan halaman tanpa membacanya, bahkan meminta mesin menyusun argumen yang terdengar akademik. Teknologi memang membuat manusia lebih cepat. Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita juga menjadi lebih berpikir?

Di sinilah makna Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026 perlu dibaca ulang.

Pada 1928, para pemuda memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Bahasa bukan sekadar alat menyampaikan pesan. Ia adalah alat membangun identitas, menyusun gagasan, dan mengikat keberagaman menjadi Indonesia.

Hari ini, kita menghadapi tantangan yang berbeda. Bukan kekurangan bahasa, melainkan kelebihan bahasa yang diproduksi mesin. Algoritma dapat menyusun kalimat lebih cepat daripada manusia. Platform digital dapat menentukan apa yang kita baca. Sistem rekomendasi dapat memilihkan apa yang kita lihat. AI bahkan dapat menawarkan apa yang sebaiknya kita pikirkan.

Di sinilah “penjajahan algoritma” bermula: ketika teknologi yang semestinya kita kendalikan justru perlahan mengendalikan cara kita membaca, menulis, memilih, dan berpikir.

 

Yang bekerja keras bukan lagi tangannya, melainkan sebuah algoritma.

Inilah paradoks pendidikan di era kecerdasan buatan (AI): kita memiliki generasi yang semakin mudah menghasilkan teks, tetapi belum tentu semakin mampu menghasilkan pikiran.

Persoalan ini menjadi semakin relevan ketika bangsa Indonesia memperingati Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa pada 28 Oktober 2026. Pada 1928, para pemuda mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan. Bahasa Indonesia ketika itu bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah proyek kebangsaan.

Hampir satu abad kemudian, tantangannya berubah. Jika pemuda 1928 berjuang menyatukan Indonesia melalui bahasa, pemuda 2026 menghadapi dunia yang justru dibanjiri bahasa: bahasa media sosial, bahasa global, bahasa algoritma, dan kini bahasa yang diproduksi oleh AI.

Sumpah Pemuda membutuhkan tafsir baru: bahasa harus tetap menjadi alat berpikir, AI harus menjadi alat bantu, dan karakter harus menjadi pengarah.

AI Sudah Masuk Ruang Kelas

Kita tidak perlu berdebat apakah mahasiswa menggunakan AI atau tidak. Pertanyaan itu sudah selesai.

Sebuah riset BRIN pada 2025 terhadap 293 mahasiswa dari 17 PTKIN menemukan bahwa lebih dari 90 persen responden menggunakan ChatGPT dan penggunaannya tergolong intensif.

Data PISA 2025 bahkan menunjukkan bahwa persoalan AI sudah menjangkau generasi sebelum mereka memasuki perguruan tinggi. Sebanyak 53 persen pelajar Indonesia menggunakan chatbot AI untuk membantu belajar setidaknya sekali seminggu. Sebanyak 39 persen menggunakannya untuk merangkum teks, 32 persen untuk riset awal sebuah topik, dan 30 persen untuk membuat draf tugas menulis. Hanya sekitar 7 persen yang mengatakan tidak pernah atau hampir tidak pernah menggunakan chatbot AI untuk tugas sekolah yang ditanyakan dalam survei.

Artinya, ketika generasi ini memasuki perguruan tinggi, AI bukan lagi teknologi tambahan. AI telah menjadi bagian dari ekosistem belajar mereka.

Karena itu, melarang AI sepenuhnya adalah respons yang tidak memadai. Yang lebih penting adalah mengajarkan bagaimana menggunakan AI tanpa menyerahkan fungsi berpikir kepada AI.

Ironi Besar: AI Maju, Budaya Membaca Belum Kokoh

Di sinilah persoalannya menjadi lebih serius.

PISA 2025 mencatat skor membaca Indonesia sebesar 365, jauh di bawah rata-rata OECD sebesar 461. Hanya sekitar 27 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih dalam membaca, sementara rata-rata OECD mencapai 69 persen. Hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau lebih, tingkat yang menuntut kemampuan memahami teks panjang, konsep abstrak, serta membedakan fakta dan opini berdasarkan petunjuk tersirat.

Ini bukan sekadar persoalan kemampuan membaca huruf. Ini adalah persoalan kemampuan memahami, menafsirkan, mengevaluasi, dan mempertanyakan informasi.

Maka kita menghadapi ironi: mesin semakin cepat membaca jutaan halaman, sementara manusia masih berjuang membaca secara mendalam.

Jika persoalan ini tidak diselesaikan, AI berpotensi menjadi jalan pintas yang memperbesar masalah literasi. Mahasiswa dapat memperoleh jawaban tanpa memahami pertanyaan; mendapatkan ringkasan tanpa membaca sumber; dan menghasilkan tulisan tanpa mengalami proses berpikir yang melahirkan tulisan tersebut.

PTMA dan Tugas Kebangsaan Baru

Tantangan ini seharusnya menjadi agenda besar Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA).

Dengan 162 institusi, sekitar 658 ribu mahasiswa, lebih dari 19 ribu dosen, dan 2.205 program studi, PTMA memiliki ekosistem yang cukup besar untuk menjadi kekuatan penting dalam membentuk budaya AI yang beretika di Indonesia.

PTMA tidak boleh sekadar menjadi konsumen teknologi. PTMA harus menjadi produsen gagasan dan etika teknologi.

Di sinilah nilai-nilai pendidikan Muhammadiyah menemukan relevansinya. Pendidikan tidak cukup melahirkan manusia yang cerdas secara kognitif, tetapi juga manusia yang memiliki integritas, tanggung jawab sosial, akhlak, dan keberpihakan pada kemaslahatan.

Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat relevan dengan era AI dalam QS. Al-Isra’ ayat 36:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui.”

Pesannya sederhana tetapi sangat dalam: jangan percaya sebelum mengetahui.

Dalam era ketika AI dapat menghasilkan jawaban yang terdengar sangat meyakinkan, prinsip tersebut menjadi semakin penting. Mahasiswa harus bertanya: Dari mana informasi ini berasal? Apakah sumbernya benar? Apakah argumennya logis? Apakah datanya dapat diverifikasi? Dan yang paling penting: apakah saya bersedia bertanggung jawab atas tulisan ini?

Itulah karakter akademik.

Sumpah Pemuda dalam Wajah Baru

Karena itu, memperingati Sumpah Pemuda 2026 tidak cukup dengan mengenakan pakaian adat, membaca teks Sumpah Pemuda, atau menggelar lomba bahasa.

Kita perlu menghidupkan kembali budaya membaca, menulis, berdialog, berpikir kritis, dan bertanggung jawab atas setiap kata.

Bahasa Indonesia harus tetap menjadi bahasa ilmu, bukan sekadar bahasa seremonial. AI harus menjadi co-pilot, bukan pengganti pikiran. Dan perguruan tinggi harus menjadi ruang tempat teknologi berkembang tanpa kehilangan kemanusiaan.

Sumpah Pemuda 1928 mengajarkan bahwa bahasa dapat menjadi kekuatan yang menyatukan bangsa.

Sumpah Pemuda 2026 harus mengajarkan sesuatu yang baru: di tengah banjir informasi dan kecerdasan buatan, kita harus tetap menjadi bangsa yang mampu berpikir dengan kepala sendiri, berbicara dengan bahasa yang bermartabat, dan bertindak dengan karakter.

Sebab ancaman terbesar AI bukan ketika mesin menjadi semakin cerdas.

Ancaman terbesar adalah ketika manusia berhenti menggunakan kecerdasannya sendiri.

Dan karena itu, pada 28 Oktober 2026, mungkin sudah waktunya kita memperbarui makna Sumpah Pemuda:

Satu bahasa untuk persatuan.
Satu karakter untuk peradaban.
Dan satu komitmen: AI boleh membantu kita berpikir, tetapi tidak boleh mengambil alih kemanusiaan kita.

Bagikan
Kirim Pesan
Hai Kak!
Kamu sudah terhubung dengan admin Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UM Bengkulu). Ada yang bisa kami bantu?