Ketekunan, doa orang tua, dan keyakinan untuk tidak berhenti melangkah mengantarkan Yunita Sari, lulusan Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB), meraih predikat Lulusan Terbaik III Program Sarjana pada Wisuda Periode Oktober 2026. Perempuan kelahiran Riak Siabun 1, 27 Juni 2004, ini berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98.
Sebagai anak keempat dari empat bersaudara, Yunita memandang pencapaian tersebut bukan sekadar penghargaan atas prestasi akademik, melainkan buah dari perjalanan panjang yang dipenuhi perjuangan, dukungan keluarga, serta bimbingan para dosen.
“MasyaAllah, rasanya campur aduk antara haru, syukur, dan tidak menyangka. Sebagai anak ke-4 dari 4 bersaudara dari Riak Siabun, saya hanyalah gadis desa yang berangkat dengan doa orang tua dan tekad untuk tidak berhenti,” ungkap Yunita saat menceritakan perasaannya atas pencapaian tersebut.
Bagi Yunita, predikat lulusan terbaik bukan berarti dirinya paling pintar dibandingkan mahasiswa lain. Ia justru memaknai prestasi tersebut sebagai pengingat bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh memiliki nilai, meskipun proses untuk mencapainya tidak selalu berlangsung cepat.
Ia pun mempersembahkan pencapaian itu kepada kedua orang tua, keluarga, serta seluruh dosen Program Studi Ilmu Keperawatan UMB yang telah memberikan dukungan dan membimbingnya selama menempuh pendidikan.
“Predikat ini bukan tentang saya yang paling pintar, melainkan bukti bahwa Allah tidak pernah tidur melihat usaha hamba-Nya yang lambat sekalipun. Gelar ini saya persembahkan untuk kedua orang tua, keluarga, dan seluruh dosen Keperawatan UMB yang telah sabar membimbing. Ini bukan akhir, tapi awal tanggung jawab yang lebih besar untuk mengabdi,” tuturnya.
Konsistensi, Pemahaman, dan Doa Menjadi Kunci Belajar
Dalam menjalani perkuliahan, Yunita memiliki prinsip bahwa keberhasilan belajar tidak semata-mata ditentukan oleh lamanya waktu yang dihabiskan untuk membaca buku, tetapi oleh kesungguhan dalam memahami materi dan konsistensi menjalankannya.
Ia merangkum prinsip belajarnya dalam tiga hal utama, yakni niat, konsistensi, dan doa. Menurutnya, belajar perlu dimulai dengan niat yang baik, termasuk menjadikan ilmu sebagai sarana ibadah dan bentuk pengabdian kepada sesama.
Sebagai mahasiswa keperawatan, Yunita menyadari bahwa ilmu yang dipelajari memiliki tanggung jawab besar karena berkaitan dengan pelayanan kesehatan dan keselamatan manusia. Oleh sebab itu, materi perkuliahan perlu dipahami secara mendalam, bukan sekadar dihafalkan untuk menghadapi ujian.
“Belajar bukan tentang seberapa lama kita duduk di depan buku, tetapi tentang seberapa tulus niat kita untuk memahami. Bagi saya, kuncinya ada tiga: niat, konsisten, dan doa,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun rutinitas belajar yang teratur. Menurut Yunita, dua jam belajar dengan fokus setiap hari akan lebih bermakna daripada menghabiskan semalam suntuk untuk belajar menjelang ujian.
Selain konsistensi, doa dan restu orang tua menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan akademiknya. Ia meyakini bahwa ilmu bukan hanya perlu dicari dengan kesungguhan, tetapi juga dijalani dengan kerendahan hati dan niat untuk memberikan manfaat.
Prinsip tersebut sejalan dengan motto hidup yang dipegangnya, “It does not matter how slowly you go as long as you do not stop,” yang berarti tidak masalah seberapa lambat seseorang berjalan selama ia tidak berhenti.
Yunita juga memiliki ungkapan yang menjadi pengingat dalam menghadapi berbagai pengalaman hidup: “Kamu mungkin tidak selalu mendapatkan apa yang kamu inginkan, tetapi kamu akan selalu bertumbuh dari apa yang kamu lalui.”
Baginya, setiap tantangan merupakan kesempatan untuk belajar, memperbaiki diri, dan menjadi pribadi yang lebih kuat.
Teliti Edukasi Kesehatan bagi Siswi Sekolah Dasar
Dalam menyelesaikan pendidikan sarjananya, Yunita mengangkat penelitian berjudul “Perbandingan Efektivitas Media Edukasi Kesehatan Video Animasi dengan Buku Komik terhadap Pengetahuan Siswi Sekolah Dasar dalam Menghadapi Menarche di SD Negeri 162 Seluma.”
Penelitian tersebut membahas perbandingan dua media edukasi kesehatan, yakni video animasi dan buku komik, dalam mendukung pengetahuan siswi sekolah dasar mengenai menarche atau menstruasi pertama.
Topik ini memiliki relevansi dengan pendidikan kesehatan reproduksi bagi anak perempuan yang mulai memasuki masa pubertas. Pemahaman yang memadai mengenai menstruasi pertama diharapkan dapat membantu anak menghadapi perubahan tubuh dengan lebih siap, percaya diri, dan tidak diliputi ketakutan akibat kurangnya informasi.
Pemilihan media video animasi dan buku komik juga berkaitan dengan kebutuhan edukasi yang sesuai dengan karakteristik anak usia sekolah. Penyampaian informasi melalui media yang menarik dan mudah dipahami dapat menjadi pendekatan untuk membantu anak mengenali perubahan tubuh serta memahami cara menjaga kesehatan diri.
Melalui penelitian tersebut, Yunita menunjukkan perhatian terhadap pentingnya edukasi kesehatan sejak dini. Hal ini sejalan dengan peran tenaga keperawatan yang tidak hanya memberikan pelayanan ketika seseorang sakit, tetapi juga menjalankan upaya promotif dan preventif melalui pendidikan kesehatan kepada masyarakat.
Penelitian tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses Yunita dalam mengembangkan kemampuan akademik dan pemahaman terhadap persoalan kesehatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dari Prestasi Akademik Menuju Pengabdian
Bagi Yunita, keberhasilan meraih predikat Lulusan Terbaik III UMB bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Ia menyadari bahwa ilmu keperawatan yang telah dipelajari harus diwujudkan melalui kepedulian, profesionalisme, dan pelayanan yang memberikan manfaat bagi orang lain.
Pengalaman menempuh pendidikan tinggi mengajarkannya bahwa setiap orang memiliki proses dan kecepatan bertumbuh yang berbeda. Karena itu, ia meyakini bahwa seseorang tidak perlu merasa tertinggal selama tetap berusaha, menjaga konsistensi, dan tidak menyerah pada keadaan.
Pesan tersebut menjadi refleksi dari perjalanan Yunita, yang memaknai prestasi bukan hanya sebagai pencapaian pribadi, tetapi juga sebagai kesempatan untuk memperluas manfaat ilmu yang dimiliki.
Ia berharap ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UMB dapat menjadi bekal untuk menjalankan profesi keperawatan dengan penuh tanggung jawab, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kesehatan masyarakat.
Berharap UMB Terus Unggul, Islami, dan Peduli Sesama
Sebagai bentuk rasa terima kasih kepada almamaternya, Yunita menyampaikan harapan agar Universitas Muhammadiyah Bengkulu terus berkembang menjadi perguruan tinggi yang unggul, Islami, dan membawa keberkahan bagi masyarakat Bengkulu maupun Indonesia.
Menurutnya, keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual para lulusannya, tetapi juga dari karakter, akhlak, serta kepedulian mereka terhadap sesama.
“Semoga Universitas Muhammadiyah Bengkulu terus tumbuh menjadi kampus yang unggul, Islami, dan membawa keberkahan bagi Bengkulu dan Indonesia. Semoga UMB tidak hanya mencetak lulusan yang cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia dan peduli pada sesama,” harapnya.
Yunita juga mengungkapkan rasa terima kasih karena UMB telah menjadi tempat baginya untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan potensi diri. Baginya, almamater bukan hanya ruang untuk memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat membangun karakter dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
“Terima kasih telah menjadi rumah kedua tempat saya bertumbuh. Jaya selalu almamaterku tercinta,” tutupnya.
Prestasi Yunita Sari dengan IPK 3,98 pada Wisuda Periode Oktober 2026 menjadi kebanggaan bagi dirinya, keluarga, dan almamater. Kisahnya membawa pesan bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak harus selalu cepat. Dengan niat yang baik, konsistensi, doa, dan kemauan untuk terus melangkah, setiap proses dapat menjadi jalan untuk bertumbuh sekaligus mempersiapkan diri memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

