Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UMB), menyelenggarakan Seminar Internasional bertema “Berkarya dengan Kata, Berdampak bagi Dunia” dalam rangka memperingati Bulan Bahasa, Rabu (28/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula Hasan Dien, Kampus IV UMB, ini mengangkat pentingnya bahasa, sastra, dan karya kreatif sebagai sarana membangun pengetahuan, memperkuat identitas budaya, serta memberikan dampak nyata bagi masyarakat dunia.

Seminar ini menghadirkan perspektif internasional mengenai peran bahasa dan karya tulis dalam menghubungkan dunia akademik dengan kehidupan masyarakat. Dua materi yang dibahas meliputi hubungan antara logika riset dan imajinasi sastra serta kontribusi Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) dalam memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia ke tingkat global.

Ketua Panitia, Hafiz Gunawan, M.Pd., dalam sambutannya menekankan pentingnya penyelenggaraan kegiatan akademik yang mampu mendorong mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas, memperluas wawasan, dan menghasilkan karya yang bermanfaat.

“Melalui seminar internasional ini, kami berharap mahasiswa tidak hanya menjadikan bahasa sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana untuk menyampaikan gagasan, membangun kreativitas, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Karya yang baik adalah karya yang mampu menyentuh, menginspirasi, dan membawa manfaat bagi orang lain,” demikian draf kutipan sambutan Ketua Panitia.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Wakil Rektor I UMB, Dr. Kasmirudin, M.Si. Dalam sambutan pembukaannya, ia menekankan pentingnya penguatan budaya literasi dan peningkatan kualitas akademik mahasiswa agar mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta tantangan global.

“Bahasa dan sastra memiliki peran penting dalam membangun peradaban, menyampaikan ilmu pengetahuan, dan memperkenalkan kekayaan budaya bangsa. Mahasiswa perlu membiasakan diri membaca, menulis, berpikir kritis, serta menghasilkan karya yang tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” demikian draf kutipan sambutan Wakil Rektor I.

Sastra dan Sains: Dua Bidang yang Saling Menguatkan

Mella Sarah Elmania, S.Pi., M.Sc., penulis sekaligus mahasiswa doktoral di Ehime University/Kochi University, melalui topik “Logika Riset dan Imajinasi Sastra: Menembus Batas Dunia Lewat Cerita” , menjelaskan bahwa sastra dan sains bukanlah dua bidang yang saling bertentangan. Keduanya justru dapat saling melengkapi dalam membangun cara berpikir yang sistematis, kreatif, dan komunikatif.

Pengalaman menulis sejak usia muda, termasuk ketika mengirimkan karya ke rubrik Arena Kecil Majalah Bobo pada 2005, menjadi salah satu titik awal perjalanan literasinya. Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan juga keberanian mengemukakan gagasan melalui tulisan.

Pengalaman menulis novel Sagacibu pada 2014 dan Ghost Dormitory in Den Haag pada 2015 juga menjadi contoh bagaimana penulis dapat mengembangkan cerita melalui pengamatan, wawancara, dokumentasi, dan penelusuran berbagai sumber. Saat menulis cerita berlatar Den Haag, misalnya, ia memanfaatkan video YouTube, wawancara dengan teman yang berada di Belanda, serta analisis karya populer untuk membangun gambaran latar cerita.

Menurut materi yang disampaikan, proses kreatif tersebut memiliki hubungan erat dengan kegiatan penelitian. Kemampuan menyusun alur dan kerangka cerita dapat membantu penulis menyusun laporan praktikum maupun proposal riset secara sistematis. Sementara itu, keterampilan bercerita atau storytelling dapat memperkuat penyampaian gagasan dalam esai beasiswa dan publikasi ilmiah.

Mella juga menyoroti pentingnya memadukan fakta ilmiah dengan narasi yang menarik. Sains menyediakan data dan metode untuk memahami dunia, sedangkan sastra membantu menghadirkan sisi kemanusiaan sehingga pengetahuan lebih mudah dipahami masyarakat luas.

Dampak sastra, lanjut materi tersebut, tidak berhenti pada halaman buku. Melalui cerita dan media sosial, penulis dapat membangun hubungan dengan pembaca, menginspirasi pilihan pendidikan, serta mengenalkan kekayaan flora endemik Bengkulu, termasuk Anggrek Pensil, dan isu konservasi perairan.

Pesan utama yang ditekankan dalam pemaparannya adalah bahwa sains memberi data untuk memahami dunia, sedangkan sastra memberikan cerita untuk mencintainya. Dengan demikian, kreativitas sastra dapat menjadi jembatan antara pengetahuan, empati, dan kepedulian terhadap lingkungan.

BIPA sebagai Jembatan Bahasa dan Budaya Indonesia ke Dunia

Materi berikutnya disampaikan oleh Ari Nursenja Rivanti dari Yunnan Minzu University, China, dengan topik “Dari Sumpah Pemuda ke Kelas Dunia: Berkarya dan Berdampak melalui BIPA”.

Pemaparannya menghubungkan semangat Sumpah Pemuda, khususnya ikrar menjunjung bahasa persatuan, dengan upaya memperkenalkan Bahasa Indonesia kepada penutur asing melalui program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).

BIPA tidak hanya mengajarkan kosakata dan tata bahasa, tetapi juga membuka ruang komunikasi lintas budaya. Pembelajaran Bahasa Indonesia dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari, pendidikan, pekerjaan, hubungan keluarga, persahabatan, serta pengenalan terhadap budaya Indonesia.

Ari mencontohkan ungkapan sederhana seperti “Sudah makan?” yang dapat memiliki makna berbeda sesuai konteks dan hubungan antarpembicara. Ungkapan tersebut tidak selalu sekadar pertanyaan mengenai makanan, tetapi juga dapat menjadi bentuk perhatian atau pembuka percakapan.

Contoh lain adalah penggunaan bahasa yang santun ketika berkomunikasi dengan dosen. Kalimat “Maaf, Bu. Bolehkah saya meminjam buku ini?” dinilai lebih sesuai untuk konteks tersebut dibandingkan ungkapan yang terlalu langsung. Contoh ini menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa perlu memperhatikan kesantunan, situasi, dan pemahaman budaya.

Materi tersebut juga menekankan bahwa kelas BIPA merupakan ruang saling belajar. Pengajar tidak hanya memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia, tetapi juga mendengarkan pengalaman pemelajar dari berbagai latar belakang. Pertanyaan sederhana seperti “Biasanya di sini bagaimana?” dapat membuka percakapan dan membantu pemelajar memahami kebiasaan sosial dalam masyarakat Indonesia.

Kekayaan lokal juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran. Pasar tradisional, kuliner daerah, dan kesenian lokal dapat menjadi sumber aktivitas berbahasa yang kontekstual. Mahasiswa dan pemelajar, misalnya, dapat membuat video berdurasi 60–90 detik atau cerita bergambar untuk menjelaskan alat musik tradisional, bahan pembuatannya, dan cara memainkannya.

Untuk menghidupkan semangat Sumpah Pemuda di kelas BIPA, materi tersebut menawarkan tema “Berbeda Bahasa, Bisa Bersama”. Pembelajaran disesuaikan dengan tingkat kemampuan pemelajar, mulai dari memperkenalkan nama, negara, dan bahasa yang dikuasai hingga mendiskusikan bahasa, identitas, dan persatuan.

Keberhasilan pembelajaran juga perlu ditunjukkan melalui perubahan kemampuan yang dapat diamati. Sebagai contoh, pemelajar yang awalnya hanya mampu menyebutkan nama makanan diharapkan dapat berkembang hingga mampu memesan makanan dan menanyakan bahan yang digunakan. Rekaman percakapan dan umpan balik pemelajar dapat menjadi bukti sederhana untuk mengevaluasi perkembangan tersebut.

Ari turut membuka ruang kontribusi bagi mahasiswa, antara lain sebagai pembuat bahan ajar dan audio, mitra latihan percakapan, pendokumentasi cerita lokal, serta peneliti kebutuhan pemelajar. Melalui proyek sederhana seperti menghasilkan satu karya dalam tujuh hari, mahasiswa didorong untuk mengembangkan materi pembelajaran yang dapat diuji dan diperbaiki berdasarkan kebutuhan calon pemelajar.

Mendorong Mahasiswa Menghasilkan Karya yang Berdampak

Kedua materi tersebut memperlihatkan bahwa bahasa, sastra, sains, dan pembelajaran lintas budaya memiliki hubungan yang saling mendukung. Keterampilan menulis dapat mengembangkan logika penelitian, sementara pengajaran bahasa dapat menjadi sarana diplomasi budaya dan pengenalan identitas bangsa.

Bagi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, wawasan ini menjadi dorongan untuk tidak membatasi karya pada tugas perkuliahan semata. Tulisan, cerita, bahan ajar, video, maupun dokumentasi budaya dapat dikembangkan menjadi media edukasi yang menjangkau masyarakat lebih luas.

Penyelenggaraan seminar internasional dalam rangka Bulan Bahasa ini diharapkan memperkuat budaya literasi di lingkungan UMB sekaligus memperluas pandangan mahasiswa mengenai peluang berkarya di tingkat nasional maupun internasional.

Melalui semangat “Berkarya dengan Kata, Berdampak bagi Dunia”, bahasa tidak hanya dipahami sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana menyebarkan pengetahuan, merawat budaya, membangun empati, dan menghadirkan perubahan positif bagi kehidupan.

Bagikan
Kirim Pesan
Hai Kak!
Kamu sudah terhubung dengan admin Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UM Bengkulu). Ada yang bisa kami bantu?