Apa gunanya sebuah toga jika setelah dilepas seseorang kembali menjadi penonton bagi perubahan?

Apa arti selembar ijazah jika ilmu yang bertahun-tahun dipelajari berhenti menjadi kenangan di dalam almari?

Pertanyaan itu layak diajukan pada setiap momentum wisuda.

Sebab, wisuda sering kali dipahami sebagai garis finis. Padahal, dunia justru memperlakukannya sebagai garis start.

Pada 24 Oktober 2026, para lulusan Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UM Bengkulu) tidak sekadar merayakan keberhasilan menyelesaikan pendidikan. Mereka sedang memasuki arena kehidupan yang jauh lebih kompleks: dunia kerja yang berubah cepat, teknologi kecerdasan buatan yang semakin canggih, masyarakat yang semakin dinamis, dan persoalan bangsa yang tidak pernah selesai.

Karena itu, wisuda seharusnya tidak menjadi perayaan tentang berakhirnya pendidikan, tetapi pernyataan tentang dimulainya pengabdian.

Ijazah adalah bukti bahwa seseorang pernah menempuh pendidikan. Tetapi ijazah bukan jaminan bahwa pemiliknya akan menjadi manusia yang berguna.

Gelar akademik menunjukkan capaian intelektual, tetapi karakter menentukan bagaimana ilmu itu digunakan.

DI SINILAH TANTANGAN TERBESAR LULUSAN PERGURUAN TINGGI HARI INI

Kita hidup dalam zaman ketika informasi tersedia dalam hitungan detik.

Kecerdasan buatan dapat membantu menulis, menghitung, menerjemahkan, menganalisis data, bahkan menghasilkan berbagai gagasan. Banyak pekerjaan yang dahulu membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit.

Namun, ada sesuatu yang tidak dapat begitu saja diserahkan kepada mesin:

Kejujuran. Empati. Tanggung jawab. Keberanian mengambil keputusan moral. Dan kepedulian terhadap sesama.

Karena itu, lulusan UM Bengkulu tidak cukup hanya menjadi job seeker.

Mereka perlu tumbuh menjadi problem solver, pencipta peluang, pemimpin perubahan, dan manusia pembelajar sepanjang hayat.

IJAZAH MEMANG PENTING. TETAPI IJAZAH TIDAK LAGI CUKUP

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada 2025 Tingkat Pengangguran Terbuka lulusan universitas masih berada pada 5,39 persen.

Pada Mei 2026, secara nasional TPT memang turun menjadi 4,65 persen. Namun, angka itu sekaligus mengingatkan bahwa memasuki dunia kerja tetap bukan perkara sederhana.

Maka pertanyaan penting bagi lulusan UM Bengkulu bukan lagi sekadar:

“Setelah wisuda saya akan bekerja di mana?”

Pertanyaan yang lebih mendesak adalah:

“Setelah wisuda, nilai apa yang bisa saya ciptakan?”

INILAH PERSOALAN BESAR PENDIDIKAN TINGGI HARI INI

Kita memasuki dunia kerja yang sedang ditulis ulang oleh kecerdasan buatan.

World Economic Forum memperkirakan hingga 2030 sekitar 22 persen pekerjaan akan mengalami disrupsi, dengan 170 juta pekerjaan baru tercipta dan 92 juta pekerjaan terdampak hilang.

Hampir 40 persen keterampilan inti pekerja diperkirakan berubah.

Yang menarik, keterampilan yang paling dibutuhkan bukan hanya AI dan big data, tetapi juga berpikir analitis, kreativitas, kepemimpinan, ketangguhan, kolaborasi, dan lifelong learning.

ARTINYA, ANCAMAN TERBESAR BAGI LULUSAN BUKAN SEMATA-MATA AI

Ancaman sebenarnya adalah manusia yang berhenti belajar ketika memperoleh ijazah.

Ironisnya, sebagian kita masih memandang wisuda sebagai akhir dari proses pendidikan.

Setelah mendapatkan gelar sarjana, belajar dianggap selesai.

Padahal dunia justru baru saja membuka babak baru.

ILO pada 2026 menegaskan bahwa lifelong learning semakin penting karena transformasi digital, ekonomi hijau, dan perubahan dunia kerja menuntut manusia terus memperbarui keterampilannya.

Dunia kerja membutuhkan kombinasi kemampuan digital dengan kemampuan berpikir, bekerja sama, berkomunikasi, dan beradaptasi.

Karena itu, lulusan UM Bengkulu harus berani meninggalkan mentalitas:

“Saya sudah sarjana.”

Dan menggantinya dengan:

“Saya harus terus belajar.”

Lebih penting lagi, kita tidak perlu takut secara berlebihan terhadap AI.

ILO mencatat bahwa pada 2025 sekitar satu dari empat pekerja di dunia berada pada pekerjaan yang memiliki tingkat paparan tertentu terhadap GenAI.

Namun, sebagian besar pekerjaan lebih mungkin berubah dan ditransformasi, bukan langsung dihapus.

Di ASEAN, termasuk Indonesia, ILO pada Juli 2026 memperkirakan sekitar 21,7 persen pekerjaan di Indonesia memiliki tingkat paparan tertentu terhadap GenAI.

Tantangan utamanya bukan sekadar hilangnya pekerjaan, tetapi kesiapan manusia dan institusi menghadapi perubahan tersebut.

Dengan demikian, lulusan yang hanya menguasai apa yang dipelajari di bangku kuliah akan mudah tertinggal.

Tetapi lulusan yang mampu menggunakan AI sekaligus mempertahankan nalar, etika, kreativitas, empati, dan integritas justru memiliki peluang lebih besar untuk menjadi penggerak perubahan.

DI SINILAH PENDIDIKAN MUHAMMADIYAH MEMILIKI POSISI YANG SANGAT PENTING

Ilmu tidak boleh berhenti sebagai modal memperoleh pekerjaan.

Ilmu harus menjadi jalan pengabdian.

Al-Qur’an mengingatkan:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”

(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini bukan sekadar kalimat motivasi.

Ia adalah panggilan untuk bergerak.

Lulusan tidak boleh menunggu dunia berubah agar dirinya mendapatkan tempat.

Lulusan harus menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.

Ada yang mungkin berkata:

“Bukankah tugas perguruan tinggi memang hanya mendidik, sedangkan persoalan pekerjaan merupakan urusan dunia usaha dan pemerintah?”

Pendapat itu terlalu sederhana.

Perguruan tinggi memang tidak dapat menjamin setiap lulusan memperoleh pekerjaan.

Tetapi perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk membekali lulusan agar mampu menciptakan nilai, membaca perubahan, memecahkan masalah, dan terus belajar setelah meninggalkan kampus.

BAHKAN KETIKA AI SEMAKIN PINTAR, MANUSIA JUSTRU HARUS SEMAKIN MANUSIAWI

UNESCO pada 2026 menegaskan bahwa AI dalam pendidikan harus memperkuat kemampuan manusia untuk berpikir, bukan menggantikannya.

Karena itu, tantangan lulusan UM Bengkulu 2026 bukan sekadar menjadi AI literate, tetapi menjadi AI wise.

Artinya, mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan akal sehat, integritas, tanggung jawab, empati, dan kemanusiaan.

Para wisudawan, setelah tepuk tangan berhenti dan foto bersama selesai, pertanyaan kehidupan akan segera datang.

Apa yang akan Anda lakukan dengan ilmu itu?

Jangan hanya menjadi sarjana yang mencari pekerjaan.

Jadilah manusia yang menciptakan solusi.

Jangan hanya mengejar karier.

Bangunlah kebermanfaatan.

Jangan berhenti belajar karena telah memperoleh gelar.

Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat berapa kali kita memakai toga.

Sejarah akan mengingat apa yang kita lakukan setelah toga itu kita lepaskan.

Itulah makna sesungguhnya dari wisuda:

Bukan akhir pendidikan, melainkan awal pengabdian.

Bukan sekadar merayakan gelar, melainkan mempertanggungjawabkan ilmu.

Bukan hanya mencari tempat di tengah perubahan, tetapi berani menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.

Selamat kepada para wisudawan dan wisudawati Universitas Muhammadiyah Bengkulu.

Hari ini Anda menerima gelar.

Mulai hari ini, dunia menunggu karya Anda.

Refleksi Wisuda Periode 24 Oktober 2026 UM Bengkulu

Bagikan
Kirim Pesan
Hai Kak!
Kamu sudah terhubung dengan admin Universitas Muhammadiyah Bengkulu (UM Bengkulu). Ada yang bisa kami bantu?