Kabar membanggakan datang dari dunia akademik. Dr. Oktarianita, S.KM., M.KM. berhasil menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, melalui penelitian disertasi yang mengembangkan model pendampingan laktasi untuk meningkatkan keberhasilan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif.
Promosi doktor tersebut dilaksanakan pada Kamis, 13 Agustus 2026, di Universitas Airlangga, Surabaya. Dalam penelitian disertasinya, Oktarianita mengangkat tema “Model Pendampingan Laktasi untuk Keberhasilan ASI Eksklusif Berdasarkan Konsep Goal Attainment dan Self-Management.”
Penelitian ini berangkat dari persoalan belum meratanya cakupan ASI eksklusif di Kota Bengkulu. Berdasarkan data yang dikaji dalam penelitian, masih terdapat tujuh puskesmas dengan capaian ASI eksklusif di bawah 50 persen. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya strategi pendampingan laktasi yang tidak hanya dilakukan secara insidental, tetapi dirancang secara terstruktur, sistematis, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan ibu menyusui.
Dalam penelitian tersebut, Oktarianita menggunakan desain observasional analitik dengan rancangan cross-sectional. Penelitian melibatkan 253 ibu menyusui yang memiliki anak berusia 6–9 bulan dan 60 bidan sebagai pendamping laktasi di Kota Bengkulu. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik stratified sampling, sedangkan analisis data menggunakan analisis deskriptif dan Structural Equation Modeling-Partial Least Square (SEM-PLS).
Mengintegrasikan Goal Attainment dan Self-Management
Salah satu kontribusi penting penelitian ini adalah pengembangan model pendampingan laktasi melalui integrasi Goal Attainment Theory dan konsep self-management.
Model yang dikembangkan terdiri atas dua jalur yang saling berinteraksi, yakni jalur bidan sebagai pemberi pendampingan dan jalur ibu sebagai penerima layanan. Kedua jalur tersebut dibangun untuk menciptakan interaksi, kesediaan, kesepakatan, serta komitmen bersama dalam mencapai tujuan utama, yaitu keberhasilan ASI eksklusif.
Pada jalur bidan, model mencakup persepsi tentang ASI eksklusif, judgment atau penilaian tingkat kepentingan program, action atau tindakan program ASI eksklusif yang telah dijalankan, engagement atau kesediaan mendampingi, serta proses pendampingan laktasi.
Sementara pada jalur ibu, model meliputi persepsi ibu tentang ASI eksklusif, self-efficacy, niat, engagement atau kesediaan untuk didampingi, proses pendampingan laktasi, self-management, serta keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Faktor lingkungan juga menjadi bagian penting yang diperhitungkan dalam model tersebut.
Action Bidan Menjadi Faktor Terkuat
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada jalur bidan, tindakan program ASI eksklusif yang telah dijalankan (action) menjadi faktor yang memiliki pengaruh paling kuat dan signifikan terhadap kesediaan bidan untuk mendampingi (engagement).
Hasil analisis menunjukkan koefisien jalur sebesar β=0,604, dengan T-statistik 30,678 dan p-value 0,000. Temuan tersebut menunjukkan bahwa semakin baik tindakan nyata bidan dalam menjalankan program ASI eksklusif, semakin tinggi pula keterlibatan bidan secara aktif dan berkelanjutan dalam pendampingan laktasi.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan program tidak cukup hanya dibangun melalui pemahaman atau persepsi mengenai pentingnya ASI eksklusif. Pemahaman tersebut perlu diterjemahkan menjadi tindakan nyata dan konsisten dalam pelayanan kepada ibu menyusui.
Sementara itu, pada jalur ibu, penelitian menemukan bahwa persepsi ibu mengenai ASI eksklusif berpengaruh positif dan signifikan terhadap self-efficacy. Selanjutnya, self-efficacy berpengaruh terhadap niat ibu, niat berpengaruh terhadap kesediaan ibu untuk didampingi, dan keterlibatan ibu tersebut berhubungan dengan self-management.
Faktor Lingkungan Menjadi Tantangan
Penelitian juga menemukan bahwa faktor lingkungan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap proses pendampingan laktasi, dengan koefisien jalur β=-0,423, T-statistik 9,308, dan p-value 0,000.
Temuan ini menunjukkan bahwa semakin besar hambatan lingkungan yang dihadapi ibu, semakin rendah kualitas, penerimaan, dan keberlanjutan proses pendampingan laktasi.
Faktor lingkungan yang dikaji antara lain ketersediaan pengganti ASI, pemasaran pengganti ASI, dukungan suami, peer group, serta dukungan religious group. Dengan demikian, keberhasilan ASI eksklusif tidak semata-mata menjadi tanggung jawab ibu, tetapi membutuhkan dukungan dari lingkungan sosial di sekitarnya.
Kebaruan Penelitian
Kebaruan atau novelty penelitian Oktarianita terletak pada integrasi konsep self-management ke dalam Goal Attainment Theory dalam pengembangan model pendampingan laktasi.
Penelitian menunjukkan bahwa self-management menjadi salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Di sisi lain, proses pendampingan laktasi juga terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap self-management ibu.
Model tersebut menempatkan ibu bukan hanya sebagai penerima informasi atau objek pelayanan, tetapi sebagai pihak yang memiliki peran aktif dalam mengelola proses menyusui. Pada saat yang sama, bidan berperan sebagai pendamping yang membangun komunikasi, interaksi, dukungan, serta komitmen bersama dengan ibu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dorong Pendampingan Laktasi yang Lebih Terstruktur
Berdasarkan hasil penelitian, model pendampingan laktasi yang paling efektif adalah model yang dibangun melalui dua jalur yang saling berinteraksi, yaitu jalur bidan dan jalur ibu.
Model tersebut menekankan pentingnya persepsi yang baik, tindakan nyata, keterlibatan, komunikasi, self-efficacy, niat, self-management, serta dukungan lingkungan untuk mencapai keberhasilan ASI eksklusif.
Oktarianita merekomendasikan adanya keterlibatan berbagai pihak secara berkelanjutan, mulai dari Dinas Kesehatan, puskesmas, bidan, ibu menyusui, keluarga, hingga lingkungan sosial ibu. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menciptakan sistem pendampingan laktasi yang lebih kuat, responsif, dan berkesinambungan.
Keberhasilan meraih gelar doktor ini sekaligus menjadi capaian penting bagi Dr. Oktarianita, S.KM., M.KM. dalam pengembangan keilmuan dan kontribusinya terhadap peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak.
Penelitian yang dikembangkan tidak hanya memberikan kontribusi akademik melalui model konseptual baru, tetapi juga menawarkan pendekatan yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penguatan program pendampingan laktasi di tingkat pelayanan kesehatan.
Dengan diraihnya gelar doktor dari Universitas Airlangga, diharapkan Dr. Oktarianita dapat terus mengembangkan penelitian dan inovasi di bidang kesehatan masyarakat, khususnya dalam upaya meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif serta memperkuat sistem pendampingan ibu menyusui yang melibatkan tenaga kesehatan, keluarga, dan lingkungan secara terpadu.


