Universitas Muhammadiyah (UM) Bengkulu bersama Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah memperoleh kepercayaan untuk terlibat dalam pelaksanaan Program FOLU (Forest and Other Land Use) yang mendapat dukungan pendanaan dari Norwegia. Dana program tersebut disalurkan melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Kehutanan Republik Indonesia sebagai bagian dari upaya mendukung program lingkungan dan pengelolaan lahan berkelanjutan di Indonesia.
Kehadiran Program FOLU menjadi bagian dari komitmen Indonesia dalam mendukung pencapaian target penanganan perubahan iklim di tingkat global. Program ini tidak hanya berorientasi pada rehabilitasi lahan dan peningkatan tutupan vegetasi, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat peran masyarakat dalam pengelolaan kawasan hutan serta meningkatkan kapasitas kelembagaan masyarakat yang berada di sekitar kawasan.
Pada tingkat nasional, Program FOLU memiliki target penyerapan karbon hingga 2,8 miliar ton CO₂e pada 2030. Sasaran tersebut menjadi salah satu bagian dari strategi Indonesia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus mengoptimalkan sektor kehutanan dan penggunaan lahan sebagai salah satu sektor penting dalam penyerapan karbon.
Upaya tersebut semakin relevan di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim terhadap berbagai aspek kehidupan. Karena itu, pengelolaan hutan, rehabilitasi lahan, serta pelibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam menciptakan sistem pengelolaan lingkungan yang tidak hanya berorientasi pada aspek ekologis, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi.
Dalam pelaksanaan Program FOLU di Bengkulu, Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) UM Bengkulu dipercaya menjadi salah satu mitra utama MLH PP Muhammadiyah. Kawasan yang menjadi bagian dari program tersebut memiliki luas mencapai 80 hektare.
Pelaksanaan kegiatan juga melibatkan masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan. Sebanyak 56 anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) turut menjadi bagian dari program. Keterlibatan mereka dinilai penting karena masyarakat lokal memiliki peran langsung dalam berbagai kegiatan di lapangan, mulai dari proses penanaman hingga pemeliharaan tanaman.
Selain menjadi pelaksana kegiatan, masyarakat sekitar kawasan juga menjadi penerima manfaat dari program rehabilitasi lahan. Dengan pola tersebut, kegiatan konservasi diharapkan dapat berjalan secara lebih berkelanjutan karena masyarakat memiliki keterlibatan sekaligus kepentingan dalam menjaga keberlangsungan kawasan yang dikelola.
Salah satu kegiatan utama yang akan dilaksanakan adalah penanaman sebanyak 12.500 batang bibit tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species) unggul. Berbagai jenis tanaman akan dikembangkan di kawasan tersebut, di antaranya aren, petai, jengkol, mangga, jeruk kalamansi, serta jenis tanaman lainnya yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kawasan.
Pemanfaatan tanaman MPTS menjadi salah satu pendekatan yang menggabungkan kepentingan lingkungan dengan aspek ekonomi masyarakat. Tanaman yang ditanam tidak hanya berfungsi dalam mendukung penyerapan karbon dan menjaga kondisi lingkungan, tetapi juga dapat menghasilkan berbagai produk yang mempunyai nilai ekonomi.
Buah, biji, maupun hasil tanaman lainnya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan berpotensi menjadi sumber pendapatan. Dengan demikian, rehabilitasi lahan melalui tanaman MPTS diharapkan mampu memberikan manfaat dalam dua aspek sekaligus, yaitu membantu menjaga kelestarian lingkungan serta membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.
Program tersebut tidak hanya berhenti pada kegiatan penanaman. Seluruh rangkaian pelaksanaan dirancang secara bertahap dan mencakup beberapa kegiatan utama, seperti rehabilitasi lahan, pemeliharaan tanaman, pelatihan dan pendampingan masyarakat, penguatan kelembagaan Kelompok Tani Hutan, serta monitoring, evaluasi, dan pelaporan.
Pelaksanaan Program FOLU di KHDTK UM Bengkulu direncanakan berlangsung selama tiga tahun. Setiap tahun memiliki fokus kegiatan yang berbeda sesuai dengan tahapan program.
Pada tahun pertama, kegiatan akan lebih diarahkan pada pelaksanaan penanaman bibit di kawasan yang telah ditentukan. Setelah proses penanaman dilakukan, tahun kedua difokuskan pada pemeliharaan tanaman. Tahapan tersebut penting untuk memastikan tanaman yang telah ditanam dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
Sementara itu, pada tahun ketiga akan dilakukan uji petik sebagai salah satu tahapan untuk mengetahui dan menilai tingkat keberhasilan program. Evaluasi tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan bahwa kegiatan yang telah dilaksanakan sesuai dengan target dan memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan.
Di samping rehabilitasi lahan, penguatan kelembagaan masyarakat juga mendapatkan perhatian khusus. Kelompok Tani Hutan yang terlibat akan mendapatkan pelatihan dan pendampingan agar memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengelola kawasan hutan.
Melalui kegiatan tersebut, anggota kelompok diharapkan mampu meningkatkan kapasitas dalam pengelolaan kawasan secara mandiri. Pengelolaan juga diarahkan agar tetap memperhatikan prinsip keberlanjutan dan konservasi sehingga pemanfaatan kawasan tidak mengabaikan kepentingan kelestarian lingkungan.
Penguatan kelembagaan masyarakat menjadi salah satu aspek penting karena keberlanjutan program tidak hanya bergantung pada kegiatan selama masa pendanaan berlangsung. Kemampuan masyarakat dalam mengelola kawasan secara mandiri diharapkan dapat menjadi fondasi agar manfaat program tetap berlanjut setelah periode pelaksanaan Program FOLU selesai.
Untuk menjaga kualitas dan akuntabilitas pelaksanaan, kegiatan monitoring dan evaluasi akan dilakukan secara berkala. Pemantauan tersebut bertujuan memastikan setiap tahapan kegiatan berjalan sesuai dengan rencana, termasuk perkembangan tanaman, pelaksanaan kegiatan masyarakat, serta pencapaian target program.
Hasil monitoring dan evaluasi selanjutnya akan dituangkan dalam laporan dan disampaikan secara transparan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Salah satu pihak yang menerima laporan tersebut adalah BPDLH Kementerian Kehutanan RI selaku lembaga yang menyalurkan pendanaan program.
Sistem monitoring, evaluasi, dan pelaporan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga transparansi serta akuntabilitas penggunaan dana dan pelaksanaan kegiatan. Dengan adanya mekanisme tersebut, perkembangan program dapat dipantau sekaligus menjadi dasar untuk mengetahui sejauh mana target rehabilitasi dan penyerapan karbon telah tercapai.
Pelaksanaan Program FOLU sendiri memiliki cakupan yang lebih luas dan tidak hanya berlokasi di Bengkulu. Program serupa juga dilaksanakan di sejumlah daerah lain di Indonesia, yaitu Tapanuli Selatan, Deli Serdang, Lampung Barat, Lampung Tengah, Lebak Banten, Banyumas, serta Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kehadiran program di berbagai wilayah tersebut memperlihatkan bahwa Program FOLU memiliki cakupan pelaksanaan yang luas dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Perguruan tinggi, organisasi masyarakat, pemerintah daerah, hingga Kelompok Tani Hutan memiliki peran dalam mendukung pelaksanaan kegiatan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah.
Untuk memperkenalkan program secara lebih luas, Program FOLU dijadwalkan diluncurkan di Banyumas pada 23 September 2026. Agenda tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkenalkan tujuan, mekanisme, serta cakupan program kepada masyarakat dan para pemangku kepentingan.
Peluncuran tersebut sekaligus menjadi penanda dimulainya implementasi Program FOLU di berbagai wilayah yang telah ditetapkan. Melalui pelaksanaan yang terencana dan melibatkan masyarakat secara langsung, program diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap kondisi lingkungan maupun kehidupan masyarakat sekitar kawasan hutan.
Di Bengkulu, pelaksanaan program melalui KHDTK UM Bengkulu diharapkan dapat membantu mempercepat proses rehabilitasi lahan, meningkatkan kualitas pengelolaan kawasan, serta mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Di sisi lain, pemanfaatan tanaman MPTS juga diharapkan dapat memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat melalui hasil tanaman yang memiliki nilai jual. Dengan demikian, program tidak hanya diarahkan untuk mencapai tujuan lingkungan berupa peningkatan penyerapan karbon, tetapi juga memperhatikan aspek kesejahteraan masyarakat.
Keberhasilan Program FOLU pada akhirnya sangat bergantung pada sinergi berbagai pihak yang terlibat. Kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi masyarakat, pemerintah, dan masyarakat lokal menjadi bagian penting dalam membangun model pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Melalui kolaborasi tersebut, rehabilitasi lahan diharapkan dapat berjalan secara konsisten, kelembagaan masyarakat semakin kuat, dan manfaat ekonomi dari kawasan dapat dirasakan secara berkelanjutan. Program FOLU juga menjadi salah satu bentuk upaya bersama untuk memperkuat peran masyarakat dalam menjaga lingkungan sekaligus mendukung kontribusi Indonesia terhadap agenda penanganan perubahan iklim di tingkat global.

