Jurnal

 

USAHATANI CABAI MERAH DENGAN PEMANFAATAN PUPUK ORGANIK DARI SAMPAH RUMAH TANGGA DI BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIANJAWA TIMUR

Oleh :

(Aldon MHP Sinaga dan Umi Rofiatin)

Program Studi Agribisnis Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang

 

ANALISA USAHA RENGGINANG UBI KAYU ”BUNGA” DI DESA SIDO MUKTI KECAMATAN PADANG JAYA KABUPATEN BENGKULU UTARA

Oleh :

Novitri Kurniati, S.P., M.P*, Dwi Fitriani, S.P*., M.P., dan Meli Lela**

* Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammaduyah Bengkulu

** Alumni Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Bengkulu

 

KECERNAAN PAKAN PADA SAPI PERANAKAN ONGOLEBETINA MUDA AKIBAT PENGGANTIAN PAKAN KONSENTRATBUNGKIL KOPRA DENGAN BUNGKIL INTI BIJI SAWIT

Oleh :

Didik Kusuma Hadi

faternabhuwana@yahoo.co.id

(Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang)

 

ANALISIS PERANAN MOTIVASI PEMILIK LAHANTERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA BURUH TANIDI DESA SUMBER BENING KECAMATAN SELUPU REJANG

Oleh :

Darmansyah. AN

(Dosen Agribisnis Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Rejang Lebong)

 

EVALUASI TANAMAN LANSKAP SEBAGAI PEREDUKSI DI BUNDARAN WARU

Oleh :

Murdaningsih

warkava@yahoo.com

Fakultas Pertanian  Universitas Flores

 

PEMANFAATAN AIR KELAPA HIJAU SEBAGAI PENYEIMBANG FRUKTOSA DALAM PENGENCER DAN LAMA PENYIMPANAN TERHADAP KUALITAS SPERMA SAPI SIMENTAL

Oleh :

Wismalinda Rita dan Sunaryadi

(Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Bengkulu)

RUMUSAN DAN PENENTUAN PRIORITAS STRATEGI PROGRAM PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT PESISIR (PEMP)DI KOTA BENGKULU

Oleh :

Indra Cahyadinata

(Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu)

FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI DAN ANALISIS EFISIENSIUSAHATANI KENTANG MERAH (Solanum tuberasum) DI DESA TALANG LAHAT KECAMATAN SINDANG KELINGI KABUPATEN REJANG LEBONG

Oleh :

Yulius Budiman

(Dosen Agribisnis Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Rejang Lebong)

EVALUASI ALAT GRADING  BUAH MANGGA ARUMANIS/GADUNG DI PEKEBUN BESAR

Oleh :

Wahyunindyawati dan Sri Harwanti

warkava@yahoo.com

(Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa  Timur)

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN IKAN LELE DI PASAR KOTA BENGKULU

Oleh :

Bella Vransisca 1), Novitri Kurniati 2) dan Neti Kesumawati 2)

1) Alumni Fakltas Pertanian Universitas Muhammadiyah Bengkulu

2) Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Bengkulu

 

HARGA POKOK, IMPAS, DAN PROFITABILITAS USAHATANICABE MERAH  (Capsicum annum L) DI DESA SUMBER URIPKECAMATAN SELUPU REJANG KABUPATEN REJANG LEBONG

Oleh :

Reswita

(Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu)


ANALISIS USAHATANI PADI SAWAH SISTEM SATU KALI TANAM DUA KALI PANEN DI DESA TALANG LEAK KECAMATAN BINGIN KUNING KABUPATEN LEBONG

Oleh :

Lara Usayana 1), Rita Feni 2) dan Maheran Mulyadi 2)

1) Alumni Fakltas Pertanian Universitas Muhammadiyah Bengkulu

2) Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Bengkulu

 

 

ANALISIS PENDAPATAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI USAHATANI SAWI PAHIT (Brassica juncea L.) DI DESA SUMBER URIP KECAMATANSELUPU REJANG KABUPATEN REJANG LEBONG

Oleh :

Yulius Budiman

( Dosen Agribisnis Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Rejang Lebong )

 

FAKTOR-FAKTOR PENENTU TINGKAT PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA PEMANEN SAWIT(Studi Kasus Pada PT. Agro Muko Sei Kiang Estate Lalang LuasKecamatan V Koto Kabupaten Mukomuko)

Oleh :

Indra Gustiawan 1), Edi Efrita 2) dan Jon Yawahar 2)

1) Alumni Fakltas Pertanian Universitas Muhammadiyah Bengkulu

2) Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Bengkulu

 

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT KECUKUPAN GIZI MANDIRI PANGAN DI DESA BARAT WETAN KECAMATAN KABAWETAN KABUPATEN KEPAHIANG PROPINSI BENGKULU

 

Oleh :

Bambang JS, Musriyadi Nabiu dan Sri Sugiarti

Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas PertanianUniversitas Bengkulu

 

KAJIAN EKONOMI USAHATANI KEDELAI

Oleh :

HASANAWI MASTURI

(Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Bengkulu)

 

ANALISIS EFISIENSI USAHA PENGOLAHAN STIK UBI JALAR(Ipomea batatas) PADA HOME INDUSTRI “ZAHRA PRODUKSI”  DI DESA TELADANKECAMATAN CURUP SELATAN KABUPATEN REJANG LEBONG

Oleh :

Yeni Marlina

(Dosen Agribisnis Sekolah Tinggi  Ilmu Pertanian Rejang Lebong)

 

PERLAKUAN BAHAN ORGANIK DAN KALIUM

UNTUK MENINGKATKAN SERAPAN UNSUR HARA MAKRO KEDELAI

DI TANAH ULTISOL

 

Oleh :

Herlina

(Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Dehasen Bengkulu)

ABSTRACT

Fertilization of potassium have an important things to increase soybean production in  Ultisol land. One of the newly pre-eminent soybean genotype which is adaptif to high acidity is  genotipe 25 EC. The objective of this research were to know the influences of dosages organic materials and potasium variation  at vegetatif phase. This research was conducted in ultisol land of Bengkulu Province from June to September 2011. The materials are soybean seed of genotipe 25 EC, rhizobium isolat, fungi pelarut of phosphate, organic materials and potassium. Research use split plot design with three replications. The main plot was organic materials dosages consisting of 0; 0,5; and 1 ton ha-1 and the sub plot was potassium dosages consisting of 0; 25; 50; 75; and 100 kg KCL ha-1. The result show that addition of organic materials can improve efficiency usage of potassium . Addition of organic materials  0,5 ton ha-1 can depress requirement of potassium  become 25 kg KCL ha-1 which giving best result for dry weight of plant and macro nutrient absorption component.

Key words : organic material, potassium, soybean, ultisol land

PENDAHULUAN

Kalium adalah salah satu unsur hara makro yang diserap tanaman dalam bentuk K+.  Kandungan kalium dalam jaringan tanaman rata-rata sebesar 0,3% dari berat basah.  Kalium berfungsi sebagai aktivator enzim pada fotosintesis dan protein dan metabolisme karbodihrat, translokasi karbohidrat, sintesis protein, permeabilitas membran dan kontrol pH, regulasi stomata, resistensi tanaman dari serangan penyakit, peningkatan ukuran biji dan peningkatan kualitas hasil (Barchia, 2009).

Kekahatan kalium merupakan kendala yang sangat penting dan sering terjadi di tanah Ultisol. Masalah tersebut erat kaitannya dengan bahan induk tanah yang miskin K, hara kalium yang mudah tercuci karena KTK tanah rendah, dan curah hujan yang tinggi di daerah tropika basah sehingga K banyak yang tercuci.  Upaya untuk meningkatkan produksi kedelai di tanah masam dapat dilakukan melalui pengelolaan tanaman yang sesuai dan manipulasi tanah yang tepat. Pemupukan kalium memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan produksi kedelai di tanah Ultisol.

Hara K dalam biji hanya sekitar 15-20% dari total K yang diserap tanaman, tetapi kebutuhan K untuk tanaman biji-bijian cukup banyak, bahkan hampir sama dengan kebutuhan akan N (Partoharjono, dkk. 1988).  Dalam menentukan dosis pupuk, perlu dipertimbangkan pengelolaan bahan organik sisa panen, karena sebagian K yang diserap tanaman berada dalam sisa panen.  Karena sifat K yang sangat mobil serta sifat tanah Ultisols yang mempunyai permebalitas tinggi, maka pengelolaan pupuk K perlu mendapat perhatian antara lain dosis, saat pemberian, serta pertimbangan penggunaan bahan organik atau kapur.  Selanjutnya dikatakan bahwa penambahan bahan organik dapat mengurangi kebutuhan K.

Penggunaan pupuk organik untuk produksi tanaman dapat memberikan manfaat  jangka panjang. Hal ini disebabkan karena unsur-unsur hara dalam pupuk organik dilepaskan secara perlahan-lahan dan tersimpan di dalam tanah dalam waktu lama sehingga memberikan pengaruh residu (Makinde dan Ayoola, 2008). Penelitian Yassen et al. (2010) menunjukkan bahwa pemberian pupuk organik dapat meningkatkan hasil dan kandungan N, P, dan K tanaman gandum pada dua musim tanam .

Tanaman kedelai umumnya diusahakan pada tanah mineral masam seperti Ultisol dengan tingkat kesuburan yang rendah yang mempunyai reaksi tanah yang masam (pH 4.5-5.5), kandungan unsur hara N, P, K, Ca, dan Mg yang rendah, serta kandungan Al yang tinggi yang memfiksasi P sehingga menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Umumnya, perbaikan sifat kimia tanah Ultisol dilakukan dengan pemberian pupuk kandang, kapur dan pupuk kimia seperti urea, SP-36 dan KCl.  Tanah mineral masam memiliki luasan terbesar di Indonesia yaitu ± 67% dari total luas tanah Indonesia dan tersebar dari Pulau Sumatera sampai Papua. Mengingat luasan dan sebarannya maka tanah mineral masam memiliki potensi terbesar untuk pengembangan tanaman kedelai (Subagyo et al., 2000).

Salah satu genotipe kedelai unggul baru yang adaptif terhadap kemasaman tinggi dan ketersediaan P rendah telah berhasil dirakit, yakni kedelai  genotipe 25 EC yang memiliki keragaan baik pada tanah Andosol, Histosol, dan Ultisol (Suryati et al., 2006) dan bobot biji kering per tanaman yang lebih tinggi dibandingkan dengan genotipe Wilis dan Slamet (Suryati dan Chozin, 2007).   Berdasarkan hasil penelitian Bertham (2011) mengenai kajian mekanisme geneotipe 25 EC  mendapatkan P pada kondisi kahat P adalah dengan cara bersimbiosis dengan FMA. Pemupukan P menekan perkembangan mikoriza arbuskula sampai (15-100%), aktivitas alkaline  phosphatase (20-88%), dan kadar C biomassa jasad renik tanah (40-71%).  Tetapi kajian tentang dosis pupuk kalium dan bahan organik masih belum optimal.  Karena itu diperlukan kajian lanjut tentang dosis pupuk kalium yang dapat digunakan jika dikombinasikan dengan pemakaian bahan organik.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi dosis bahan organik dan kalium pada fase vegetatif kedelai.

 

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di  desa Medan Baru, Kotamadya Bengkulu, Propinsi Bengkulu dari bulan Juni sampai dengan bulan September 2011.  Analisis tanah, pengukuran bobot kering dan jaringan tanaman dilaksanakan di Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu. Bahan-bahan yang digunakan adalah benih kedelai genotipe  25 EC yang didapatkan dari Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian UNIB, isolat rhizobium dan fungi pelarut fosfat dan bahan organik (kompos).

Benih kedelai dilapisi dengan rhizobium dan fungi pelarut fosfat. Benih kedelai yang  terbungkus inokulan  tersebut kemudian ditanam pada lubang tanam hasil penugalan, setiap lubang diberi dua biji kedelai.  Pupuk K seluruhnya diberikan pada saat tanam.  Setiap satuan percobaan atau petak berukuran 2 x 2 meter, setiap petak terdiri atas 6 baris tanaman dengan 10 tanaman setiap baris atau jarak tanam 20 cm x 30 cm yang setara dengan 160.000 tanaman per hektar.

Percobaan dilaksanakan dengan menggunakan rancangan Petak Terbagi. Petak utama ialah aplikasi bahan organik dalam bentuk kompos yang terdiri dari 3 taraf yakni 0; 0,5; dan 1 ton ha-1.  Anak petak ialah pemberian pupuk kalium  yang terdiri 5 taraf yakni 0; 25; 50; 75;  dan 100 kg KCl ha-1.  Total kombinasi perlakuan sebanyak 15 dan diulang sebanyak tiga kali sehingga total terdapat  45 satuan percobaan.

Pengamatan dilakukan pada fase vegetatif dengan variabel yang diamati adalah bobot kering total tanaman,  serapan hara N, P dan K.  Tanaman yang diamati adalah tanaman sample yang ditentukan secara acak sebanyak  3 lubang tanam yang masing-masing terdiri dari dua tanaman pada setiap petak perlakuan.  Serapan hara diukur berdasarkan hasil kali bobot kering dengan kadar hara.  Kadar hara N jaringan tanaman diukur dengan metode Kjeldahl, hara P diukur dengan pewarnaan kalium antimonil tartrat – asam askorbat, dan hara K diukur dengan fotometer nyala.

Data yang diperoleh berdasarkan hasil pengamatan dianalisis dengan model sidik ragam. Beda antar perlakuan diuji dengan DMRT (Duncan Multiple Range Test) pada taraf kepercayaan 95%.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Tanah di Lokasi Penelitian

Karakteristik tanah di lokasi penelitian yang terletak di Desa Kandang Limun, Kotamadya Bengkulu, tergolong tanah masam dengan kadar bahan organik sedang, kadar N rendah, kadar P rendah, kadar K rendah, kapasitas tukar kation sedang, kejenuhan basa sedang, kejenuhan Al sangat rendah, dan tekstur tanah  lempung (clay).  Dapat disimpulkan bahwa kondisi tanah tempat berlangsungnya penelitian tergolong tanah masam dan memiliki kesuburan kimia rendah dengan masalah utama ketersediaan hara N, P dan K rendah. Tekstur tanah yang didominasi oleh lempung (clay) namun dengan kapasitas tukar kation rendah menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil unsur hara dari pupuk yang akan diikat di komplek pertukaran. Hal tersebut berpotensi meningkatkan kehilangan hara dari pupuk akibat proses pencucian (leaching). Penggunaan pupuk buatan dengan demikian bukan merupakan langkah yang tepat untuk meningkatkan kesuburan tanah dan respon tanaman terhadap pupuk (Tabel 1).

 

Pengaruh Bahan Organik dan Pupuk Kalium terhadap Bobot Kering Tanaman

Bobot kering tanaman merupakan indikator pertumbuhan yang paling sering digunakan untuk mengukur keberhasilan perlakuan yang dicobakan pada sebuah percobaan.  Perlakuan pupuk kalium yang diuji pada penelitian ini memberikan pengaruh sangat nyata terhadap bobot kering tanaman dengan perlakuan pupuk kalium  dosis 75 kg ha-1 dan perlakuan tanpa  bahan organik, memberikan hasil yang terbaik.  Namun dengan perlakuan bahan organik sebanyak 0,5 ton ha-1 , pemberian pupuk kalium cukup dengan dosis 25 kg ha-1, karena ternyata dengan meningkatkan dosis kalium sudah tidak meningkatkan lagi bobot kering tanaman. Pada perlakuan bahan organik sebanyak 1 ton ha-1 bahkan sudah tidak perlu lagi melakukan  penambahan pupuk kalium karena hasil yang diperlihatkan adalah sama antara perlakuan  tanpa kalium dan dengan perlakuan kalium berbagai dosis, bahkan pada dosis  50 kg ha-1 ,  lebih rendah (Tabel 3).  Hal ini memperlihatkan bahwa semakin tinggi pemberian bahan organik, maka pemakaian pupuk kalium dapat dikurangi bahkan ditiadakan.  Sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rochyati et al., (1988) dalam Barchia (2009) yang mengatakan bahwa penambahan bahan organik dapat mengurangi kebutuhan pupuk kalium.

 

Pengaruh Bahan Organik dan Pupuk Kalium terhadap Kadar hara P dan K tanaman

Sesuai sidik ragam penambahan kalium memberikan pengaruh nyata terhadap  kadar P tanaman.  Penanaman kedelai 25 EC tanpa bahan organik menghasilkan kadar P yang tidak berbeda nyata antar perlakuan berbagai dosis kalium, namun dengan penambahan bahan organik sebanyak 0,5 ton ha-1, penambahan kalium dengan dosis 100 kg ha-1 justru menurunkan nilai kadar P tanaman.  Peningkatan pemakaian bahan organik dengan dosis hingga 1 ton ha-1, diperlukan penambahan kalium setidaknya 25 kg ha-1 untuk meningkatkan kadar P tanaman (Tabel 4).

Secara umum dapat dikatakan bahwa penambahan kalium, baru akan meningkatkan kadar P tanaman jika disertai dengan penambahan bahan organik minimal 0,5 ton ha-1. Hal ini berhubungan dengan peran bahan organik pada tanah dengan kualitas kesuburan yang rendah seperti di Bengkulu. Kondisi  tanah dengan tingkat kesuburan yang rendah tersebut, umumnya  memiliki kapasitas tukar kation rendah, sehingga efisiensi pemupukan akan diperoleh jika pemakaian pupuk kimia (kalium) disertai dengan usaha peningkatan kemampuan tanah  memegang unsur hara yakni dengan melalui penambahan bahan organik (Bertham, 2002).

Penambahan kalium berpengaruh sangat nyata terhadap nilai kadar K jaringan tanaman.  Perlakuan tanpa penambahan bahan organik dan perlakuan dengan penambahan bahan organik 0,5 ton ha-1 memperlihatkan kadar K tanaman akan semakin tinggi dengan semakin ditingkatkannya dosis kalium.  Namun dengan penambahan bahan organik sebesar 1 ton ha-1 kadar K tanaman tertinggi diperoleh dengan penambahan kalium sebesar 50 kg ha-1 (2,12%).  Bertham et al. (2009) bahwa batas kritis kadar K dalam jaringan tanaman adalah sebesar 2% dan kadar maksimum untuk pertumbuhan normal sekitar 2,5 % – 3%.  Jika kadar K dalam jaringan tanaman kurang dari 2%, maka tanaman akan lebih responsif terhadap penambahan pemupukan K.

Sementara dari hasil penelitian yang dilakukan, memberikan hasil kadar K dalam jaringan tanaman pada semua perlakuan penambahan kalium dan bahan organik berada di bawah 2%, kecuali penambahan bahan organik 1 ton ha-1 dan kalium dosis 50 kg ha-1 (2,12%).  Secara umum dapat dikatakan bahwa tanaman kedelai pada penelitian yang dilakukan memiliki respon terhadap pemupukan K.

Hal ini dibuktikan dengan sidik ragam dimana perlakuan kalium berpengaruh nyata hampir pada semua komponen pertumbuhan yang diamati.  Meskipun tidak seragam dapat terlihat bahwa semakin tinggi penambahan pupuk kalium, dengan atau tanpa penambahan bahan organik, memberikan hasil kadar K jaringan tanaman yang juga semakin tinggi (Tabel 4).

Pengaruh Bahan Organik dan Pupuk Kalium terhadap Serapan Unsur Hara P dan Unsur Hara K Tanaman

Serapan unsur hara adalah persentase kadar unsur hara tanaman dikalikan dengan bobot kering tanaman tersebut.  Penambahan pupuk kalium pada penanaman kedelai tanpa perlakuan penambahan bahan organik,  baru akan direspon tanaman dengan menaikkan serapan unsur hara P jika ditambah pupuk kalium dengan dosis 75 kg ha-1.  Penambahan dosis kalium menjadi 100 kg ha-1 sudah tidak berpengaruh pada peningkatan komponen serapan unsur P. Perlakuan dengan penambahan bahan organik sebesar 0,5 ton ha-1 dapat menekan pemakaian  kalium sampai 25 kg ha-1 dan peningkatan pemakaian bahan organik hingga 1 ton ha-1 dapat meniadakan pemakaian kalium untuk komponen pertumbuhan serapan unsur hara P (Tabel 5).

Respon yang sama yang diperlihatkan oleh komponen  serapan unsur hara K, dimana pada perlakuan tanpa bahan organik serapan unsur hara K terbaik jika ditambahkan kalium dengan dosis 75 kg ha-1.  Namun penambahan bahan organik dengan dosis 0,5 ton ha-1, pemakaian pupuk kalium dapat ditekan hingga 25 kg ha-1.  Dengan meningkatkan jumlah bahan organik menjadi sebesar 1 ton ha-1, bahkan dapat meniadakan pemakaian pupuk kalium untuk memperoleh nilai serapan unsur hara K yang relatif sama.  Hal ini sejalan dengan hasil yang diperoleh oleh  Rochayati et al. (1988) dalam Barchia (2009) yang mengatakan bahwa penambahan bahan organik dapat mengurangi kebutuhan pupuk kalium.  Pengolahan tanah konservatif diarahkan pada perbaikan struktur fisik, komposisi kimia, dan keseimbangan biota tanah yang optimum, dan biotik tanah optimal.  Pada sistem tersebut akan terbentuk agroekosistem yang stabil dengan masukan dari luar yang minimum.

Penambahan pupuk kalium secara tunggal memberikan pengaruh nyata kepada beberapa komponen pertumbuhan vegetatif antara lain bobot kering tanaman, kadar N tanaman,  kadar K tanaman, serta serapan unsur hara P dan K.  Namun jika berinteraksi dengan bahan organik, selain memberikan pengaruh nyata pada komponen-komponen tersebut di atas, juga memberikan  pengaruh yang nyata pada komponen kadar N tanaman dan serapan unsur hara N tanaman (Tabel 6).         Interaksi perlakuan yang memberikan hasil terbaik untuk komponen  pertumbuhan vegetatif adalah kombinasi perlakuan penambahan kalium dengan dosis 25 kg ha-1 dan penambahan bahan organik sebesar 0,5 ton ha-1.  Namun jika tidak diberikan perlakuan bahan organik (bahan organik 0 ton ha-1), maka dosis kalium yang dibutuhkan menjadi lebih tinggi yakni mencapai 75 kg ha-1 untuk memperoleh hasil yang relatif sama.  Kecuali untuk komponen pertumbuhan serapan unsur hara N yang memperlihatkan hasil yang relatif sama pada perlakuan tanpa bahan organik dengan berbagai dosis kalium.

Peningkatan dosis kalium pada ketiga dosis bahan organik yang digunakan tidak memberikan perbedaan nilai serapan unsur N.  Hal ini diduga karena lahan yang digunakan untuk kegiatan penelitian masih mengandung cukup bahan organik dan pupuk hayati rhizobium sisa pertanaman sebelumnya, yang memungkinkan ketersediaan unsur N relatif cukup sehingga penambahan bahan organik tidak berpengaruh pada serapan unsur N.  Menurut Notohadiprawiro (2006) dengan pengelolaan yang baik dan dengan mengembangkan adaptasi pada ekologi tanah, tanah yang pernah diinokulasi dengan rhizobium atau mikoriza dan ditanami dengan jenis kelompok tanaman yang sama, tidak memerlukan tambahan bahan organik dan inokulasi ulang.

Bobot kering tanaman adalah merupakan salah satu indikator penting yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman selanjutnya.  Secara tunggal, kalium memberikan pengaruh nyata terhadap bobot kering tanaman.  Namun, jika berinteraksi dengan bahan organik maka perlakuan yang memberikan hasil terbaik untuk komponen bobot kering tanaman adalah kombinasi   perlakuan  kalium  dosis 25 kg ha-1 dengan bahan organik dosis 0,5 ton ha-1.  Untuk menghasilkan bobot kering tanaman yang relatif tidak berbeda, tanah tanpa penambahan bahan organik memerlukan jumlah kalium yang lebih banyak, yakni hingga 75 kg ha-1.  Atau dengan kata lain penambahan bahan organik dapat mengurangi kebutuhan pupuk kalium  dapat dibuktikan melalui komponen bobot kering tanaman (Tabel 6).

Lokasi penelitian berlangsung pada tanah seri Kandang Limun yang merupakan tanah berkesuburan rendah dengan kendala utama rendahnya kandungan bahan organik tanah dan rendahnya unsur hara tersedia (N, P dan K).  Untuk meningkatkan produktivitas tanah yang demikian pemberian bahan organik mutlak diperlukan. Hal ini dapat dibuktikan dari penelitian yang dilakukan yang memperlihatkan bahwa meskipun tanpa penambahan kalium, terjadi peningkatan efisiensi pemupukan dengan penambahan bahan organik sebesar 0,5 ton ha-1, serapan unsur hara kalium menjadi  131,65 mg dibanding tanpa penambahan bahan organik yang hanya bernilai 99,85 mg.  Sedangkan serapan unsur hara P menjadi 64,42 mg dibanding tanpa penambahan bahan organik yang hanya sebesar 39,89 mg. Begitu pula untuk serapan unsur hara N menjadi 391,85 mg dibanding dengan perlakuan tanpa bahan organik serapan unsur hara  N hanya sebesar 323,67 mg (Tabel 6).  Meskipun secara uji statistik angka-angka tersebut berbeda tidak nyata namun memperlihatkan bahwa penambahan bahan organik dapat memperbaiki sifat-sifat tanah sehingga dapat meningkatkan efektifitas penyerapan pupuk yang sejalan dengan hasil yang telah dibuktikan oleh Nursyamsi et al., (1997).

Secara umum perlakuan dosis kalium memberikan pengaruh nyata pada berbagai kombinasi perlakuan yang digunakan pada penelitian ini dan memberikan hasil untuk komponen pertumbuhan fase vegetatif yang terbaik adalah dengan perlakuan 25 kg ha-1 kalium dan 0,5 ton ha-1 bahan organik yang dicerminkan pada komponen pertumbuhan bobot kering tanaman, serapan unsur P dan K.  Pemupukan K berpengaruh nyata meningkatkan kadar  K jaringan tanaman.  Hal ini memperlihatkan ketersediaan kalium yang tinggi pada tanah dengan penambahan bahan organik akan diikuti oleh peningkatan serapan K oleh jaringan tanaman (Tabel 4).

KESIMPULAN

Perlakuan penambahan bahan organik dapat mengurangi pemakaian pupuk kalium yang terlihat dari hasil terbaik dalam penelitian ini diperoleh dengan perlakuan bahan organik 0,5 ton ha-1 dan pupuk kalium  25 kg ha-1.Penambahan bahan organik dapat meningkatkan serapan unsur hara makro  kedelai genotipe 25EC di lahan ultisol.

DAFTAR PUSTAKA

Barchia,  M.F.   2009.  Agroekosistem  Tanah  Mineral  Masam.  Gajah Mada University Press.  Yogyakarta.

Bertham, Y.H.,  2002.  Potensi pupuk hayati dalam peningkatan produktivitas kacang tanah dan kedelai pada tanah seri kandang limun Bengkulu.  Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Indonesia. 4(1):18-26.

Bertham, Y.H., A.D. Nusantara,  dan  H. Pujiwati.  2009.   Peningkatan  produktivitas genotipe baru kedelai berbasis mekanisme adaptasi mendapatkan hara   fosfor dari tanah ultisol. Laporan Penelitian Hibah Kompetitif Penelitian Sesuai Prioritas Nasional, Lembaga Penelitian Universitas Bengkulu. Bengkulu.

Bertham, Y.H dan A.D. Nusantara.  2011.  Mekanisme adaptasi genotipe baru kedelai

dalam mendapatkan hara fosfor dari tanah mineral masam.  J. Agron. Indonesia 39(1) : 24-30.

Eviati, Sulaeman.  2009.  Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah, Tanaman dan Pupuk.

Edisi ke 2.  Balai Penelitian Tanah, Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian, Balibangtan, Deptan.  Bogor.

Makinde, E.A., O.T.  Ayoola.  2008.  Residual influences of early season crop  fertilization and cropping system on growth and yield of cassava. Am. J.    Agric. Biol. Sci. 3:712-715

Notohadiprawiro, T.  2006.  Makna Budidaya Masukan Rendah dan Prospeknya untuk Meningkatkan Produksi Pangan.  Makalah Rapat Koordinasi Upsus Kedelai di Jawa Tengah, Dit. Bina Produksi Padi dan Palawija, Bandungan.

Nursyamsi, D., J. Sri Adiningsih Sholeh, dan A. Adi.  1997.  Penggunaan Bahan

Organik untuk Meningkatkan Efisiensi Pupuk N pada Ultisol Sitiung, Sumbar :  319-330 dalam Subagyo, H., S. Sabihan, R. Shofiyati, A.B. Siswanto, F. Agus, Irawan, A. Rachman, dan Ropiq (eds).  Prosiding Konggres Nasional VI HITI : Penatagunaan Tanah Dalam Rangka Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat, Buku II.  Jakarta 12-15 Desember 1995.  HITI, Bogor.

Partoharjono, S., J.S. Adiningsih, dan L.G. Ismail. 1988.  Peningkatan produktivitas lahan kering beriklim basah melalui teknologi sistem usahatani.  Dalam : Sistem Usahatani di Lima Agroekosistem.  Risalah Lokakarya.  Balitbangtan.  Bogor.

Subagyo, H., N. Suharta, dan A.B. Siswanto.  2000.  Tanah-tanah Pertanian di Indonesia.  Hal. 21 – 66 dalam Sumber Daya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya.  Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Suryati, D., D. Hartini, Sugianto, dan D. Minarti. 2006. Penampilan lima galur

harapan kedelai dan kedua tetuanya di tiga lokasi dengan jenis tanah berbeda. J. Akta Agrosia 9(1) : 7-11.

Suryati D. dan M. Chozin. 2007. Analisis stabilitas galur-galur harapan kedelai dari persilangan malabar & kipas putih. J Akta Agrosia Edisi Khusus No. 2:176-180.

Yassen, A.A., S.M. Khaled, Sahar, M.  Zaghloul.  2010.  Response of wheat to              different rates and ratios of organic residues on yield and chemical  composition under two types of soil.  J. Am. Sci.


UJI DAYA SIMPAN BENIH KACANG TANAH (Arachis hypogea L.)

DENGAN PERIODE PENGERINGAN POLONG BERBEDA

Oleh :

Eka Suzanna* dan Yukiman Armadi**

(*Dosen Fakultas Pertanian Universitas Prof. Dr. Hazairin, SH Bengkulu)

(**Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Bengkulu)

 

ABSTRAK

Penelitian bertujuan untuk mengetahui periode pengeringan polong yang tepat untuk memperpanjang daya simpan benih kacang tanah danmengetahui lama simpanbenih kacang tanah dengan viabiliatas dan vigor benih yang tinggi selama penyimpanan.Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dan tiga ulangan.Faktor pertama adalah lama pengeringan polong terdiri dari polong dijemur selama 3 hari, dijemur selama 4 hari, dan dijemur selama 5 hari.Faktor kedua adalah lama simpan benih terdiri dari lama simpan 2 minggu, 4 minggu, 6 minggu, dan 8 minggu.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengeringan polong mempengaruhi daya simpan benih.Daya simpan benih dapat diperpanjang dengan pengeringan polong yang lebih lama.Pengeringan polong selama 5 hari dapat mempertahankan viabilitas dan vigor benih kacang tanah selama disimpan 8 minggu.Penurunan viabilitas dan vigor benih terjadi selama penyimpanan benih kacang tanah.

PENDAHULUAN

Peningkatan jumlah penduduk yang diikuti dengan perkembangan industri pangan dan pakan ternak telah memacu peningkatan permintaan akan palawija. Kacang tanah termasuk salah satu tanaman palawija yang banyak mendapat perhatian selain kedelai dan jagung, dan merupakan tanaman leguminosa utama setelah kedelai.Kacang tanah memegang peranan penting sebagai sumber protein dan lemak nabati yang berguna bagi pemenuhan gizi masyarakat.Disamping itu bukil (ampas kacang tanah yang sudah dipipil atau diambil minyaknya) dan daun kacang tanah banyak dimanfaatkan sebagai pupuk hijau.

Di Provinsi Bengkulu, terjadi penurunan produksi pada tahun 2008 menjadi 4,6 ribu ton (luas panen 4,6 ribu hektar) dari 5,4 ribu ton pada tahun sebelumnya (BPS Provinsi Bengkulu, 2009).  Peningkatan permintaan akan kacang tanah harus segera diikuti dengan peningkatan produksi, yang dapat diupayakan dengan berbagai cara, antara lain dengan program perluasan pertanaman. Hal ini menyebabkan tingginya kebutuhan akan pengadaan benih unggul yang bermutu tinggi serta tersedia dalam jumlah dan waktu yang tepat.

Penggunaan benih bermutu dari varietas unggul merupakan salah satu faktor penting dalam peningkatan produksi pertanian.Tetapi benih yang bermutu untuk kepentingan usaha perdagangan maupun untuk kepentingan para petani dalam usaha mengembangkan tanaman masih sulit diperoleh.

Menurut Justice dan Bass (2002), sejak panen kelompok benih baik benih yang digunakan segera atau digunakan kemudian hari biasanya melalui serangkaian proses yang meliputi pemanenan, pembersihan, pemipilan, dan perontokan polong, pengeringan, dan penyimpanan.

Memetik kacang tanah berarti memisahkan polong dari bagian-bagian tanaman lainnya dan semuanya dilakukan secara manual dengan tangan.Hasil petikan yang berupa polong harus segera dikeringkan atau dijemur selama beberapa hari sampai sekitar 10 hari. Polong yang sudah dipisahkan dari akar dan telah kering harus dibersihkan dari kotoran-kotoran atau tanah yang menempel, kemudian disortir dari polong yang kurang berisi, polong yang diserang hama dan penyakit, atau polong pecah dan tidak sempurna bentuk polongnya. Setiap hari polong yang dijemur harus dibalik agar merata keringnya.Panen selama musim hujan dapat mengakibatkan terjadinya pembusukan sehingga menurunkan kualitas dan kuantitas hasil produksi.

Pengeringan benih adalah suatu cara untuk mengurangi kadar air di dalam benih, dengan tujuan agar benih dapat disimpan lama. Pengeringan benih dengan penjemuran merupakan cara yang tradisional di Indonesia. Penjemuran dengan sinar matahari merupakan pilihan sebagian besar petani dalam mengeringkan hasil panen kacang tanah karena biaya pengeringan yang relatif murah dan mudah dilakukan.Kerugian dari cara ini adalah kadar air benih tidak merata dan penjemuran tergantung pada keadaan cuaca. Selain itu waktu yang diperlukan lebih lama dan tenaga yang diperlukan juga lebih banyak.

Penjemuran dalam bentuk polong tanaman kacang tanah lebih efektif dan efisien apabila keadaan cuaca menguntungkan.Bila dilakukan pada keadaan cuaca kurang baik dapat mengakibatkan mutu hasil menurun dengan hasil biji yang berubah warna, mudah busuk dan berkecambah sebelum digunakan.

Bila cuaca tidak begitu panas, pengeringan dilakukan dengan menghamparkan polong tipis-tipis saja dan tidak boleh tebal. Pengeringan yang dilakukan petani umumnya belum optimal, dimana ketebalan penjemuran berkisar 5 – 15 cm, sedangkan ketebalan optimal adalah 15 cm. Pengeringan dengan penjemuran pada terik matahari biasanya menggunakan alas seperti terpal plastik, keping bambu atau tanpa alas.

Penyimpanan benih adalah periode yang dilalui benih setelah pemanenan, jadi mencakup saat menunggu sebelum pengolahan, pengemasan (pengepakan), dan transportasi ke unit pengolahan atau transportasi ke pemakai (konsumen) benih (Sadjad, 1994).Tujuan utama penyimpanan benih adalah untuk mempertahankan viabilitas benih selama periode simpan yang cukup panjang melalui pengaturan kondisi simpan yang optimal, sehingga diharapkan benih masih mempunyai daya hidup dan mampu untuk tumbuh di lapang dengan produksi optimal (Byrd, 1983).Menurut Suzanna (2007c) penyimpanan benih adalah salah satu upaya untuk memperpanjang jangkauan hidup benih, dengan tujuan utama penyimpanan benih adalah untuk mempertahankan viabilitas benih selama periode simpan.

Menurut Kartasapoetra (2003) benih sebaiknya disimpan di tempat yang kering dan tertutup rapat untuk menjamin kualitas.Penyimpanan dalam rangka pembenihan mempunyai arti yang luas, karena dimulai sejak benih mencapai masak fisiologis sampai ditanam.Tempat dan waktunya dapat terjadi ketika benih masih berada pada tanaman induk, di gudang penyimpanan atau dalam rangka pengiriman ke konsumen.

Benih bermutu tinggi sangat diperlukan karena merupakan salah satu sarana untuk dapat menghasilkan tanaman yang berproduksi maksimal. Selama periode penyimpanan dapat terjadi penurunan viabilitas benih, yang akhirnya akan menurunkan mutu benih. Menurut Sadjad (1993) selama periode penyimpanan dapat terjadi penurunan viabilitas yang disebut dengan kemunduran benih.

Kemampuan benih untuk mempertahankan viabilitasnya selama penyimpanan tergantung kepada kadar air awal sebelum simpan, sifat genetis benih, susunan kimia benih, kerusakan mekanis yang terjadi pada waktu panen dan pasca panen, suhu ruang simpan, dan serangan hama dan penyakit (King dan Robert, 1979). Deraan cuaca di lapang karena penundaan penanganan benih setelah panen dapat berpengaruh terhadap peningkatan dan penurunan kadar air benih, yang akhirnya dapat mengakibatkan penurunan viabilitas benih.Hasil penelitian Suzanna (2007a) menunjukkan bahwa penundaan perontokan dapat menurunkan viabilitas benih kacang tanah.

Penyimpanan kacang tanah dapat dilakukan dalam bentuk polong atau butiran biji. Polong sebaiknya dijemur sampai kering, karena apabila masih basah polong akan mudah busuk dan diserang hama dan penyakit. Butiran biji yang akan disimpan sebagai benih harus memenuhi persyaratan, antara lain sehat dan tidak kisut, murni dan unggul, ukuran benih standar sesuai dengan varietasnya, benih dalam keadaan kering dan  kadar air sekitar 10-15 %.

Untuk penyimpanan yang lama biasanya digunakan wadah simpan berupa kaleng atau plastik tebal yang tertutup rapat.Ruang simpan harus bersih dan bebas dari serangga dan tikus.Dengan penyimpanan yang baik maka mutu benih dapat dipertahankan dalam waktu yang cukup lama.Benih dari bahan pangan umumnya tidak tahan disimpan terlalu lama. Untuk penyimpanan jangka pendek, apabila suhu 30oC dan kelembaban nisbi lingkungan simpan 50 %, maka kadar air maksimum untuk benih serealia 12 % dan untuk benih yang mengandung minyak 8 % (Sutopo, 2004).

Dalam batas tertentu, makin rendah kadar air benih makin lama daya hidup benih tersebut. Kadar air optimal dalam penyimpanan bagi sebagian besar benih adalah sekitar 6 – 8 %. Kadar air yang terlalu tinggi dapat menyebabkan benih berkecambah sebelum ditanam. Tetapi kadar air yang terlalu rendah akan menyebabkan kerusakan pada embrio benih. Menurut Bewley dan Black (1994) penurunan kadar air pada benih dapat mengakibatkan pengeringan bagian dalam embrio sehingga menekan aktivitas ribosom dalam sintesis protein, akibatnya viabilitas benih akan menurun.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Prof. Dr. Hazairin, SH Bengkulu dan di Kelurahan Penurunan Kota Bengkulu, dari Desember 2010 sampai dengan Januari 2011.

Bahan-bahan yang digunakan adalah kacang tanah varietas Jerapah, pasir, kantong plastik polipropilen, terpal plastik, karung, dan tali rafia. Alat-alat yang digunakan adalah bak perkecambahan, ember, hand sprayer, tampah (niru), jarum jahit, pisau, gunting,  timbangan analitik, oven, desikator, dan cangkul.

Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah lama pengeringan polong, yang terdiri dari 3 taraf, yaitu : 3 hari, 4 hari, dan 5 hari.Faktor kedua adalah lama simpan benih, yang terdiri dari 4 taraf, yaitu : 2 minggu, 4 minggu, 6 minggu, dan 8 minggu.Data dianalisis dengan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji Wilayah Berganda Duncan (DMRT) taraf 5 %.

Tanaman kacang tanah yang telah berumur 100 hari dipanen dengan kriteria yaitu sebagian besar daun telah menguning dan gugur, polong 80 % telah tua, kulit polong keras (Rukmana, 1998). Kacang tanah dicabut dari tanah, dibersihkan, kemudian polongnya dilepaskan dari bagian tanaman yang lain.Polong dijemur dengan lama penjemuran sesuai perlakuan. Penjemuran dilakukan dengan cara polong dihamparkan di atas terpal plastik, dan dijemur setiap hari dari pukul 08.00 sampai dengan 14.00.

Polong kacang tanah yang sudah dijemur dilepas bijinya dari polong yang disebut dengan proses pembijian. Pembijian dilakukan secara manual agar didapat benih yang utuh dan tidak rusak.Kemudian biji disortir lagi secara manual dengan memakai tampah (niru) dan biji yang terlalu besar atau kecil dan keriput disingkirkan.Benih hasil sortasi diambil sebagai bahan untuk penyimpanan benih, dimasukkan ke dalam wadah simpan dan diletakkan di rak dalam ruang simpan.Lamasimpan sesuai perlakuan. Wadah simpan yang digunakan adalah kantong plastik. Setiap kantong dilubangi dengan cara ditusuk dengan jarum sebanyak 10 lubang.

Media tanam yang digunakan untuk perkecambahan berupa pasir.Pasir dimasukkan ke dalam bak perkecambahan.Pada setiap bak perkecambahan ditanam 50 butir benih.

Tolok ukur yang diuji adalah daya berkecambah benih, kecepatan tumbuh benih, keserempakan tumbuh benih, berat kering kecambah normal, dan kadar air benih.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Interaksi perlakuan periode pengeringan polong dan lama simpan benih berpengaruh sangat nyata terhadap tolok ukur daya simpan benih kacang tanah yaitu daya berkecambah, kecepatan tumbuh, keserempakan tumbuh, dan kadar air benih, tetapi berpengaruh tidak nyata terhadap berat kering kecambah normal kacang tanah. Perlakuan tunggal periode pengeringan polong dan lama simpan berpengaruh sangat nyata terhadap daya simpan benih kacang tanah.

Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Analisis Uji Daya Simpan Benih Kacang Tanah pada Berbagai Periode Pengeringan Polong

Tolok Ukur Periode Pengeringan Lama Simpan Interaksi
Daya Berkecambah ** ** **
Kecepatan Tumbuh ** ** **
Keserempakan Tumbuh ** ** **
Berat Kering Kecambah ** ** tn
Kadar Air Benih ** ** **

Keterangan :  ** = berpengaruh sangat nyata

tn = berpengaruh tidak nyata

Tabel 2 memperlihatkan bahwa pada lama simpan 2 minggu memberikan nilai daya berkecambah benih kacang tanah tertinggi dan periode pengeringan polong tidak mempengaruhi daya berkecambah benih. Pengeringan selama 3 dan 4 hari memperlihatkan hasil yang sama (daya berkecambah 92.67 %) dan berbeda tidak nyata dengan pengeringan 5 hari (92.00 %). Pada penyimpanan 4 minggu periode pengeringan polong mempengaruhi hasil, dimana semakin lama periode pengeringan daya berkecambah benih semakin tinggi. Daya berkecambah dari polong yang dikeringkan selama 5 hari berbeda tidak nyata dengan 4 hari, berbeda tidak nyata dengan polong yang dikeringkan selama 3, 4, dan 5 hari pada penyimpanan 2 minggu.

Daya berkecambah benih semakin menurun dengan semakin lama disimpan dengan pengeringan polong yang semakin cepat. Pada penyimpanan 6 minggu, pengeringan polong 4 dan 5 hari menunjukkan hasil daya berkecambah yang sama (87.67 %) dan terjadi penurunan daya berkecambah pada pengeringan 3 hari (82.67 %), walaupun secara statistik berbeda tidak nyata.  Pada lama simpan 8 minggu, benih yang berasal dari polong yang dikeringkan selama 3 hari sudah sangat menurun daya berkecambahnya hingga 53.33 % (terendah).

Pada jangka penyimpanan benih yang singkat (2 minggu) pengeringan polong tidak mempengaruhi kecepatan tumbuh benih. Kecepatan tumbuh tertinggi (28.75 %/etmal) ditunjukkan benih yang disimpan 2 minggu dengan pengeringan polong 5 hari, berbeda tidak nyata dengan pengeringan 4 dan 3 hari. Kecepatan tumbuh terendah (12.67 %/etmal) ditunjukkan benih yang disimpan 8 minggu dengan pengeringan polong selama 3 hari, yang berbeda nyata dengan perlakuan lainnya (Tabel 2).

Tabel 2.    Pengaruh Interaksi Perlakuan Periode Pengeringan Polong dan Lama Simpan Terhadap  Daya  Berkecambah dan Kecepatan Tumbuh Benih Kacang Tanah

Lama Simpan Periode Pengeringan Daya Berkecambah (%) Kecepatan Tumbuh (%/etm)
2 minggu 

 

 

 

4 minggu

 

 

 

6 minggu

 

 

 

8 minggu

3 hari 

4 hari

5 hari

 

3 hari

4 hari

5 hari

 

3 hari

4 hari

5 hari

 

3 hari

4 hari

5 hari

92.67 a 

92.67 a

92.00 a

 

87.67 b

89.67 a

90.67 a

 

82.67 b

86.67 b

86.67 b

 

51.33 d

66.00 c

72.67 c

28.59 a 

27.72 a

28.75 a

 

24.10 b

26.99 a

27.75 a

 

19.93 bc

23.87 b

24.28 b

 

12.67 d

16.18 c

17.97 c

Keterangan :  Angka-angka yang diikuti huruf  yang  sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada uji DMRT 5 %.

Tabel 3 memperlihatkan bahwa terjadi penurunan keserempakan tumbuh dengan semakin lama benih disimpan pada periode pengeringan polong berbeda. Benih yang berasal dari polong yang dijemur selama 3 hari dan disimpan selama 2 minggu menunjukkan keserempakan tumbuh tertinggi dan berbeda tidak nyata dengan polong yang dikeringkan selama 4 dan 5 hari, juga berbeda tidak nyata dengan benih yang disimpan selama 4 minggu dengan pengeringan polong 3, 4, dan 5 hari.

Keserempakan tumbuh terendah ditunjukkan benih yang disimpan selama 8 minggu dengan pengeringan polong 3 hari, yaitu 48.67 %, berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Pengeringan polong 4 dan 5 hari memberikan hasil yang sama, dengan keserempakan tumbuh sebesar 60.33 % dan 65.67 %.  Daya simpan benih kacang tanah yang polongnyadikeringkan selama 3 hari hanya mencapai 6 minggu, sedangkan yang dikeringkan polongnya selama 4 dan 5 hari daya simpannya dapat diperpanjang sampai 8 minggu (Tabel 3).

Penjemuran biji atau polong dengan sinar matahari merupakan salah satu cara pengeringan yang paling sederhana dan umum dilakukan oleh petani di Indonesia (Sutopo, 2004). Pada penelitian ini diketahui bahwa cara ini kurang efektif, karena membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menurunkan kadar air benih setelah panen. Pengeringan yang dilakukan selama 3 hari tidak efektif menurunkan kadar air benih kacang tanah. Menurut Sastrodipuro, dkk (1991) saat panen kacang tanah mempunyai kadar air cukup tinggi sekitar 57.3 – 58.6 %. Hasil penelitian Suzanna (2007b) pada tanaman kacang hijau memperlihatkan bahwa pengeringan polong selama 3 hari  menghasilkan viabilitas benih tertinggi.

Terjadi penurunan daya simpan benih dengan semakin lama benih disimpan.Penurunan daya berkecambah, kecepatan tumbuh dan keserempakan tumbuh terjadi pada lama simpan 8 minggu.Bahkan pada perlakuan pengeringan polong 3 hari, benih sudah tidak dapat disimpan lagi dan digunakan sebagai bahan tanam (bukan disebut benih lagi) karena daya berkecambahnya sudah dibawah 60 %.Benih hanya dapat disimpan selama 6 minggu.Tetapi dengan pengeringan polong yang lebih lama, daya simpan benih dapat diperpanjang hingga 8 minggu.Terjadi penurunan viabilitas dan vigor yang lebih cepat dibandingkan bila polongnya dikeringkan lebih lama.

Tabel 3. Pengaruh Interaksi  Perlakuan Periode Pengeringan Polong dan Lama Simpan Terhadap  Keserempakan  Tumbuh dan Kadar Air Benih Kacang Tanah

Lama Simpan Periode Pengeringan Keserempakan Tumbuh (%) Kadar Air Benih (%)
2 minggu 

 

 

 

4 minggu

 

 

 

6 minggu

 

 

 

8 minggu

 

 

3 hari 

4 hari

5 hari

 

3 hari

4 hari

5 hari

 

3 hari

4 hari

5 hari

 

3 hari

4 hari

5 hari

90.67 a 

90.00 a

90.33 a

 

85.33 ab

85.00 ab

88.33 a

 

78.00 b

80.33 b

82.67 b

 

48.67 d

60.33 c

65.67 c

29.53 c 

32.72 c

31.75 c

 

34.83 b

32.86 c

35.44 b

 

40.76 a

36.41 b

40.52 a

 

43.18 a

41.33 a

38.93 a

Keterangan :  Angka-angka  yang  diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada uji DMRT 5 %.

Kadar air awal sebelum simpan yang cukup tinggi dengan pengeringan polong yang singkat, diduga menjadi penyebab terjadinya penurunan daya simpan yang lebih cepat. Penyimpanan pada ruang dengan suhu kamar diduga meningkatkan kadar air benih selama penyimpanan.   Di dalam ruang simpan, benih selalu menjaga  kesetimbangan dengan kadar air yang ada di sekitarnya. Menurut Sutopo (2004) ini berkaitan dengan sifat benih yang higroskopis. Benih akan menyerap atau mengeluarkan zat air sampai kadar airnya seimbang dengan udara di sekitarnya.

Sifat benih kacang tanah yang mengandung lemak tinggi diduga juga menjadi penyebab lebih cepat terjadinya penurunan viabilitas dan vigor dalam penyimpanan pada ruang suhu kamar. Menurut Sutopo (2004) untuk penyimpanan jangka pendek, dengan ruang simpan bersuhu 30oC dan kelembaban nisbi lingkungan 50 %, maka kadar air maksimum untuk benih yang berminyak 8 %, sedangkan pada kondisi lingkungan simpan 20oC – 60 %, kadar air maksimum untuk benih berminyak 9.5 %.

KESIMPULAN

Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah :

  1. Pengeringan polong mempengaruhi daya simpan benih kacang tanah. Daya simpan benih dapat diperpanjang dengan pengeringan polong yang lebih lama. Pengeringan polong selama 5 hari dapat mempertahankan viabilitas dan vigor benih selama disimpan 8 minggu.
  2. Lama simpan mempengaruhi daya simpan benih kacang tanah. Penurunan viabilitas dan vigor benih terjadi selama penyimpanan benih.

DAFTAR PUSTAKA

Biro Pusat Statistik Propinsi Bengkulu.2009. Produksi Padi dan Palawija Propinsi Bengkulu.Biro Pusat Statistik.Bengkulu.

Byrd, W.H. 1983. Pedoman Teknologi Benih. PT. Pembimbing Masa. Jakarta.

Justice, O.L. dan L.N. Bass. 2002.  Prinsip Praktek Penyimpanan Benih. Rajawali Press. Jakarta.

Kartasapoetra, A.G.  2003.  Teknologi Benih.  PT. Rineka Cipta. Jakarta

King, M.A. and E.H. Robert. 1979.  Storage of recalcitrance seed achievments and possible approaches. IPGRI Secretariat. Rome.

Mugnisjah, W.Q. dan A. Setiawan.  1991. Produksi Benih.  Bumi Aksara.  Jakarta.

Rukmana, H.R. 1998.  Kacang Tanah.  Kanisius.Yogyakarta.

Sadjad, S.  1993. Dari Benih Kepada Benih. PT. Grasindo.  Jakarta.

Sadjad, S.  1994.  Kuantifikasi Metabolisme Benih.  Gramedia Widyaswara. Jakarta.

Sutopo, L.  2004.  Teknologi Benih. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Suzanna, E.  2007a.  Penurunan viabilitas benih kacang tanah (Arachis hypogea L.) akibat penundaan perontokan.  Jurnal Agroqua 5 (2) : 7-11.

—————.  2007b.  Pengaruh pemupukan phospat dan pengeringan polong terhadap viabilitas benih kacang hijau (Phaseolus radiatus).  Jurnal Penelitian Rafflesia 10 (2) : 44-50.

—————.  2007c.  Pengaruh lama penyimpanan dan suhu ruang  simpan terhadap viabilitas benih karet.  Jurnal Agriculture 7 (3) : 164-169.

 

PENGARUH INOKULASI Endomikorhiza TERHADAP

PERTUMBUHAN BIBIT TANAMAN HUTAN

Oleh:

Sunarti

(Dosen PNSD Fakultas Pertanian Universitas Prof. Dr. Hazairin, SH Bengkulu)

ABSTRAK

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh inokulasi tiga jenis jamur endomikorhiza pada bibit tanaman hutan. Tanaman hutan yang digunakan yaitu Akasia (Acacia mangium) dan Sengon (Paraserianthes falcataria), sedangkan mikorhiza yang digunakan adalah: Glomus aggregatum, Glomus fasciculatum dan Glomus etunicatum. Bibit tanaman hutan diambil dari anakan alam (bibit yang tumbuh dari biji yang jatuh dekat pohon). Endomikoriza diisolasi dari perakaran tanaman kelapa sawit. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap, 4 perlakuan dengan 10 ulangan. Perlakuan Mo= tanpa endomikoriza, M1= endomikoriza G. aggregatum, M2= G. fasciculatum, M3= G. etunicatum.

Hasil percobaan menunjukkan, G. fasciculatum memberikan hasil terbaik pada pertumbuhan bibit Akasia, sedangkan G. etunicatum membrikan hasil pertumbuhan yang baik pada bibit sengon.

Kata kunci: Endomikoriza,  Acacia mangium, Paraserianthes falcataria

PENDAHULUAN

Akasia (Acacia mangium) dan sengon (Paraserianthes falcataria) merupakan tanaman hutan industri yang banyak digunakan dalam kegiatan reboisasi. Kayu akasia dan sengon juga banyak diusahakan untuk berbagai keperluan dalam bentuk kayu olahan berupa papan dengan ukuran tertentu sebagai bahan baku pembuat peti, papan penyekat, pengecoran semen dalam konstruksi, industri korek api, pensil,  dan kayu lapis. Sekarang ini kedua kayu ini tidak hanya diusahakan sebagai tanaman untuk reboisasi tetapi juga diusahakan secara prefesional untuk berbagai keperluan dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Pada dasarnya keedua tanaman ini merupakan jenis tanaman yang dapat tumbuh baik di lahan-lahan marjinal dengan pH rendah serta tanah batu (Anonim, 2003). Namun untuk mendapatkan tanaman yang sehat, sempurna serta subur dan menghasilkan kayu yang berkualitas baik maka penyediaan bibit yang baik sangat diperlukan.

Untuk tujuan ini diperlukan sentuhan teknologi dari aspek budidaya agar dapat menghasilkan bibit yang baik pertumbuhannya dan murah dalam perawatannya. Banyak penelitian yang menggali potensi jasad mikro untuk dapat digunakan sebagai agen yang membantu penyediaan unsure hara bagi tanaman. Hal ini diharapkan agar dapat menekan biaya produksi dan menjadikan sistim pertanian yang ada menjadi suatu sistim pertanian yang ramah lingkungan. Jasad-jasad mikro yang dapat membantu penyediaan unsure hara bagi tanaman diantaranya bakteri Rhizobium diketahui dapat bersimbiose dengan tanaman dan memfiksasi nitrogen secara biologis sehingga kandungan N tanah menjadi meningkat. Selain itu juga diketahui jamur yang dapat bersimbiose dengan tanaman dan dapat melarutkan fosfor sehingga menjadi tersedia bagi tanaman. Jamur ini dikenal dengan mikoriza yang dapat juga membantu mentranslokasikan P tanah ke dalam tanaman. Nama mikoriza berasal dari kata Yunani yang berarti cendawan akar, nama ini pertama kali dikemukakan oleh Frank pada tahun 1885 sebagai organ komposit dari cupuliferae (Gunawan, 1993).

Jamur mikoriza merupakan jamur yang terdapat pada perakaran dan dapat bersimbiosis atau berasosiasi saling menguntungkan dengan banyak tanaman. Jamur ini tersebar luas di alam dan ditemukan bersimbiosis dengan tanaman tropik dan sub tropik seperti gandum, sorgum, kedelai,gogo, ketela pohon, anggur, jeruk, tembakau, kapas teh, karet (Ahmadjian, 1986; Dommergues dan Krupa, 1978), kelapa, nenas dan tanaman hutan (Gianinazi dan Diem, 1982). Jamur mikoriza yang berasosiasi dengan tanaman dapat membantu tanaman dalam penyerapan unsur hara makro dan mikro yang berdampak pada pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan tanaman tanpa jamur mikoriza. Pada tanaman kopi, jamur mikoriza mampu meingkatkan serapan hara P, meningkatkan berat kering tajuk dan akar tanaman. Pada kakao, jamur mikoriza meningkatkan serapan P, Mg dan Cu (Wibawa dan Baon, 1991; Baon, 1994). Sedangkan pada tanaman Gaharu, mikoriza Glomus fasciculatum dan Glomus etunicatum memberikan hasil pertumbuhan yang baik pada bibit tanaman Gaharu (Sunarti, 2005).  Pada tanaman hutan banyak ditemukan mikoriza jenis ektomikoriza, namum demikian penggunaan  jamur endomikoriza pada tanaman hutan untuk membantu pertumbuhan bibit merupakan salah satu alternative yang perlu dicoba. Oleh karenanya  perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui respon bibit tanaman akasia dan tanaman sengon setelah diinokulasi dengan jamur endomikoriza. Penelitian bertujuan untukmengetahuipengaruhinokulasijamurendomikorizaterhadappertumbuhanbibit Akasia (Acacia mangium) dan Sengon (Paraserianthes falcataria).

METODOLOGI  PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan di  Laboratorium Fakultas Pertanian Unihaz dan Desa Cahaya Negri Kabupaten Seluma dari bulan Februari 2012 sampai dengan  bulan Agustus 2012.

Bahan- bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: bibit tanaman Akasia (Acacia mangium), bibit tanaman Sengon (Paraserianthes falcataria), spora jamur mikoriza Glomus agregatum, Glomus fasciculatum dan Glomus etunicatum, KOH, KCl, H2O2, Lactophenol cotton blue, aquades steril, media tanam steril.

Sedangkan alat-alat yang digunakan adalah: Mikroskop, pinset, kompor, panci,  polybag ukuran 2 kg, skop, cangkul, meteran, dan alat tulis.

Penelitianmenggunakandua jenistanamanhutanyaitu: Akasia (A.mangium) dan Sengon (Parasetianthes falcataria). Jenisendomikorhiza yang digunakanadalah :Glomusaggregatum, Glomusetunicatum, danGlomusfasciculatum.

PenelitianmenggunakanRancanganAcakLengkapdengan 4 (empat) perlakuanjamurmikoriza , Mo = kontrol, M1= MikorizaG. agregatum, M2=  mikoriza G. fasciculatum, M3=  mikoriza G. etunicatum,  perlakuandiulang 10 kali.

Bibit tanamanakasia dan sengon berupaanakanalam (tumbuhdaribiji yang jatuhdisekitarpohon) yang memiliki 4 daun, diambildanditanamdalampolibag ukuran 2 kg dengan media tanam campuran antara tanah top soil  dan pasir dengan perbandingan 2:1.

Pemisahan masing-masing spora mikoriza dilakukan di Laboratoorium Fakultas pertanian Unihaz dengan bantuan mikroskop binokuler.

Setelah  tanaman berumur seminggu dalam polybag (tanaman stabil dalam polybag) maka diberiinokulumjamurendomikorizasebanyak 50 sporauntuksetiapperlakuan. Inokulasi dilakukan dengan memberikan masing-masing 50 spora disekitar perakaran bibit.

Pengamatan dilakukan pada tanaman setelah umur 12 minggu. Parameter yang diamati meliputi: tinggi tanaman, diameter batang, berat basah total, berat kering total dan persentase kolonisasi.

Penghitungan persentase kolonisasi dilakukan denngan metode Clearing and staining (Kormanik dan Graw, 1982) yang dimodifikasi. Akar dicuci bersih dan dipotong-potong sekitar 1 cm lalu direndam dalam larutan KOH 10% pada suhu 1210C selama 15 menit. Setelah itu akar dibilas pada air mengalir dan sisa larutan KOH dibuang lalu direndam dalam H2O2 selama lima menit. Akar kemudian dicuci kembali sampai bersih dan direndam dalam KCl 5% selama lima menit, lalu dicuci kembali. Pewarnaan dilakukan dengan merendam akar dalam lactophenol cotton blue 5% dan dipanaskan sampai mendidih selama 10 menit.

Akar yang telah diwarnai diamati di bawah mikroskop untuk dihitung persentase koloninya. Persentase koloni dihitung dengan rumus sebagai berikut (Giovenetti dan Mosse, 1980):

Panjang akar terinfeksi

Kolonisasi (%) = —————————-   x 100%

Panjang akar yang diamati

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari percobaan yang dilakukan di dapat data respon pertumbuhan bibit tanaman Akasia dan sengon (tinggi tanaman, diameter batang, berat basah, berat kering dan persentase kolonisasi)  sebagai berikut:

1. Respon Tanaman Akasia (Acacia mangium)

Tabel 1.  Pengaruh Inokulasi Jamur Endomikoriza pada Bibit Akasia umur 12 minggu

 

Endomikoriza

 

Tinggi tanaman

 

Diameter Batang

 

Berat Basah Total (gr)

 

Berat Kering Total (gr)

 

% kolonisasi

 

Kontrol (Mo)

 

15.5 C

 

3.4 AB

 

10.8 BC

 

2.10 BC

 

0 B

 

G. aggregatum (M1)

 

12.2 C

 

2.4 C

 

7.8 C

 

1.55 C

 

35 A

 

G. fasciculatum (M2)

 

25.0 A

 

3.6 A

 

16.7 A

 

3.73 A

 

45 A

 

G. etunicatum (M3)

 

20.1 B

 

2.9 BC

 

12.1 B

 

2.65 B

 

50 A

Ket: Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata.

Gambar 1. Bentuk Spora Endomikoriza G. fasciculatum

Ciri-Ciri Spora Endomikoriza G fasciculatum:

Bentuk Spora   : Bulat

Warna Spora    : Kuning sampai coklat

Ukuran Spora  : 105– 310 x 110- 305 µm

Bentuk spora  yang demikian ditemukan   diperakaran bibit tanaman akasia setelah berumur 12 minggu inokulasi.

2. Respon Tanaman Sengon (Parasetianthes falcataria)

Dari perlakuan terhadap bibit tanaman sengon terhadap jamur endomikoriza didapatkan data sebagaimana tabel 2.  Berikut:

Tabel 2. Pengaruh Inokulasi Jamur Endomikoriza pada Bibit Sengon umur 12 minggu

 

Endomikoriza

 

Tinggi tanaman

 

Berat Basah Total (gr)

 

Berat Kering Total (gr)

 

% kolonisasi

 

Kontrol (Mo)

 

6.1 B

 

10.9 BC

 

1.45 C

 

0 B

 

G. aggregatum (M1)

 

6.0 B

 

9.9 C

 

 

2.01 BC

 

35 A

 

G. fasciculatum (M2)

 

9.2 B

 

11.0 B

 

2.17 B

 

45 A

 

G. etunicatum (M3)

 

14.4 A

 

19.0 A

 

3.63 A

 

40 A

Ket: Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata

 

Gambar 2.  Spora mikoriza G. etunicatum.

Ciri-ciri spora Endomikoriza G. etunicatum:

Bentuk spora   : bulat sampai agak lonjong

Warna spora    : umumnya kuning sampai coklat

Terkadang hialin sampai coklat.

Ukuran spora   : 68 – 144 (-162 µm)

Spora ini juga ditemukan pada hasil penelitian, hanya saja dalam penelitian spora G .aggregatum sulit ditemukan, sehingga gambar spora tidak dapat  ditampilkan.

Data pada Tabel 1. menunjukkan bahwa perlakuan jamur endomikoriza yang berbeda pada bibit Akasia memberikan respon yang berbeda-beda. Perlakuan jamur endomikoriza G. aggregatum dan G. etunicatum tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang, berat basah total dan berat kering total tanaman, walaupun pada persentase kolonisasi menunjukkan kolonisasi yang tidak berbeda nyata dengan G. fasciculatum. Respon yang nyata didapatkan pada tanaman yang diinokulasi dengan jamur endomikoriza G. fasciculatum. Terlihat bahwa perlakuan dengan jamur endomikoriza G. fasciculatum mampu meningkatkan keragaan yang baik pada bibit. Tinggi tanaman, diameter batang, berat basah total dan berat kering total menunjukkan perbedaan yang sangat nyata. Ini berarti jamur endomikoriza  G. fasciculatum mampu berasosiasi dengan baik dalam akar akasia dan mampu merespon pertumbuhan bibit dengan baik.

Pada bibit sengon (Parasetianthes falcataria), perlakuan dengan jamur endomikoriza G. aggregatum dan G. fasciculatum tidak memberikan pengaruh yang nyata pada parameter yang diamati. Sedangkan pemberian jamur endomikoriza G. etunicatum menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap parameter tinggi tanaman, berat basah total, berat kering total, dan persentase kolonisasi. Ini berarti bibit tanaman sengon menunjukkan respon pertumbuhan yang baik dengan adanya inokulasi jamur endomikoriza G. etunicatum.

Dari Tabel 1 dan Tabel 2. diatas terlihat bahwa penggunaan jamur endomikoriza G. fasciculatum memberikan hasil yang terbaik pada bibit akasia dibandingkan G. aggregatum dan G. etunicatum.  Sedangkan untuk bibit sengon hasil terbaik didapatkan pada bibit yang diinokulasi dengan jamur endomikoriza G. etunicatum.

Jika dilihat dari persentase kolonisasinya,  ke-tiga jenis jamur endomikoriza yang digunakan mampu mengkolonisasi akar dengan baik.  Hal ini menunjukkan bahwa ke tiga jenis jamur endomikoriza yang digunakan dalam penelitian ini cocok digunakan pada bibit Akasia dan bibit sengon.  Menurut  Brundrett et al. (1996), kecocokan inang bagi jamur endomikoriza ditandai dengan mampunya jamur endomikoriza tersebut mengkolonisasi akar yang diinfeksinya. G. etunicatum menunjukkan persentase kolonisasi yang tertinggi dibanding jamur endomikoriza yang lain (G. fasciculatum dan G, agregatum), tetapi belum mampu meningkatkan pertumbuhan bibit sebaik G. fasciculatum.  Hal ini dimungkinkan karena pada tahap awal infeksi, jamur endomikoriza masih membutuhkan energi untuk kolonisasi terlebih dahulu (Barea et al., 1989) sehingga nutrisi yang didapat lebih diarahkan untuk pertumbuhan jamur endomikroriza. Setelah jamur mampu mengkolonisasi akar dengan baik maka nutrisi akan dialihkan untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman inangnya.

KESIMPULAN

  1. Glomus fasciculatum dapat meningkatkan pertumbuhan bibit Akasia
  2. Glomus etunicatum dapat meningkatkan pertumbuhan Sengon.
  3. Ke-tiga jenis endomikoriza (G. fasciculatum, G. agregatum dan G etunicatum) mampu mengkoloni akar akasia dan sengon dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadjian, V.  1986. Symbiose and Intriduuction to Biological Association. University Press of NER England, Hanover, London.

Andrianto, J.  12010. Pola Budidaya  sengon. Arta Pustaka. Jakarta.

Anonim. 1999. Rehabilitasi Hutan dan Lahan dengan Acacia mangium . Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Departemen Kehutanan. Jakarta.

______. 2003.  Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN).  Direktorat Jenderal RLPS. Buku I-IV. Jakarta.

Baon, J. B. 1994. Kopi Organik perlu Mikoriza. Prosiding Gelar Teknologi Kopi Arabika Organik. Takengon, 8-9 Nop 1994. A. Wibawa dkk (penyunting). Pusat Peneltian Kopi dan Kakao. Jember.

Barea, J.M., F. El-Atrich and R. Azcon.  1989.  Mycorrhiza and Phosphate Interaction as Affecting Plant Development, N2 Fixation, N Transfer and  N-Uptake from Soil in Legume-grass Mixtures by Using A 15N Dilution Technique.  Soil Biol.  Biochem.  21 : 581 – 589.

Brundrett, M., N. Bougher, B.  Dell, T. Groove and N. Malajczuk.  1996.  Working with Mycorrhizas in Forestry and Agriculture.  ACIAR Monograph Series.  Canberra.

Della Cruz, R.E. 1988. General Lectures on Mycorrhizae. Publ. By Workshop on Myco. Inoc. Com. UPBL. Philippine.

Dommergues, Y. R. Dan Krupa. 1978. Interaction between non- pathogenic soil microorganism and Plants. Elsevier Scientific Publlishing Company, Netherlands.

Fukuara, Y.M. 1988. Mikoriza, Teori dan Kegunaannya dalam Praktek. Fahutan IPB. Bogor.

Gianinazi dan H.G. Diem. 1982. Endomycorrhizae in the tropics. In Dommergues and Diem (eds) Mycrobiology of Tropical Soil. Dr. W. Junk Publishers. London.

Gunawan, A. W.  1993.  Mikoriza Arbuscular.  Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat. IPB. Bogor.

Gunn, B.V dan S.J. Midgley.  1991.  Determination and Identification Acacia sp. Terjemahan Panjimas. Yogyakarta.

Kormanik,P.P. dan A.C. Mc. Graw. 1982.Quantification of VAM in Plant Roots in N.C. Schenk (Ed). Methods and Principles of Mycorrhizal Research. The American Phytop. Soc. St. Paul Minnesota.

Laksono. 2003.  Acacia sp. Sebagai Alternatif Kegiatan Rehabilitasi Lahan. CV Andi. Yogyakarta.

Mahya, I.B.  2011. Jurus Sukses Budidaya Sengon Laut. Cable Book. Yogyakarta.

Mosse, B. 1981. Vesicular-Arbuscular mycorrhizal research for tropical agriculture. Research Bulletin 194, University of Hawaii.

Sastrahidayat, I.R.  1995.  Aplikasi Tablet Mikoriza pada Beberapa Jenis Tanaman di Jawa Timur. Jurnal penelitian Ilmu-Ilmu Hayati. Vol 9 (1).

Sumarna, S.H. 2012. Sukses Budidaya Sembilan Jenis Kayu Penghasil Rupiah. Agromedia Pustaka. Yogyakarta.

Sunarti. 2004. Peranan jamur Mikoriza pada Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit dan Pengaruhnya dalam Menekan Infeksi Patogen Ganoderma boninense. Disertasi Program Doktor. Universitas Brawijaya. Malang.

Sunarti. 2006. Pengaruh Cendawan Endomikoriza Terhadap Pertumbuhan Gaharu.  Jurnal Agriculture: Vol 6 No.02 Juli- Nopember 2006. Fakultas Pertanian Universitas Muhamadiah Bengkulu.

Sylvia, D.M. 1998. Mycorrhizal symbiosis In Sylvia, D.M., Fuhrmann, Peter, Hartel, G., David A. Zuberer. 1988. Principles and Aplication of Soil microbiology. Prentice Hall. New Jersey.

Wibawa, A dan J.B. Baon. 1991. Pengaruh Mikoriza ber-VA terhadap efisiensi Pemupukan Fosfat alam pada Kakao Lindak. Kong. Nas. Kakao III. Medan.

 

PEMANFAATAN PULP BUAH KAKAO (Theobroma cacao)

SEBAGAI BAHAN DASAR PENGOLAHAN PERMEN KERAS (HARD CANDY) DENGAN VARIASI PERLAKUAN GULA

Oleh :

Hesti Nur’aini

(Program Studi Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Dehasen Bengkulu)

ABSTRAK

Pulp kakao adalah lapisan lendir berwarna putih yang menyelimuti keping biji di dalam buah kakao. Ditinjau dari komposisi kimianya, pulp kakao mengandung komponen gizi yang cukup tinggi, di antaranya sukrosa, glukosa dan sedikit pati, sehingga sangat potensial untuk diolah menjadi produk pangan. Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menentukan formulasi komposisi pulp kakao yang tepat dalam pengolahan permen pulp kakao.

Penelitian dilakukan melalui tahap pengolahan permen pulp kakao dengan 2 (dua) variasi perlakuan, yaitu perlakuan pengenceran pulp kakao (1 : 1, 1 : 2 dan 1 : 3) dan perlakuan komponen gula (sukrosa murni dan campuran sukrosa : sirup glukosa dengan perbandingan 50 : 50). Analisis yang dilakukan meliputi analisis kadar air dan uji organoleptik terhadap produk permen pulp kakao, menggunakan metode Hedonic Scale Scoring dengan 20 orang panelis terlatih berdasarkan tingkat kesukaan terhadap atribut warna, rasa, tekstur dan kesukaan secara keseluruhan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok, menggunakan percobaan faktorial.

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa formulasi pengolahan permen pulp kakao yang disukai oleh konsumen dan memenuhi standar kualitas SNI adalah penggunaan larutan pulp kakao dengan perbandingan biji kakao basah : air = 1 : 1 dan menggunakan sirup glukosa 50 % dan sukrosa 50 %. Berdasarkan analisis yang dilakukan terhadap permen keras pulp kakao diketahui kadar air permen pulp kakao berkisar antara 2,13 s/d 4,43 %, sedangkan secara umum, permen pulp kakao yang paling disukai oleh konsumen adalah permen yang diolah dari larutan pulp kakao dengan perbandingan biji kakao basah : air =            1 : 1 dan menggunakan sirup glukosa 50%.

PENDAHULUAN

Buah kakao merupakan buah yang mempunyai rusuk (alur) sebanyak 10 buah. Dinding buah terdiri dari lapisan luar tipis yang menjangat dan lapisan dalam yang tebal, lunak dan mengandung air. Lapisan dalam yang berasa manis tersebut disebut daging buah, dimana terdapat biji buah di sekitar daging (plasenta) dengan jumlah 20-60 biji per buah, tergantung varietas dan kesuburan tanaman. Masing-masing biji diselaputi oleh lendir (pulp). Dari keseluruhan bagian buah kakao, hanya bagian biji kakao yang dimanfaatkan oleh petani atau perusahaan perkebunan untuk diolah menjadi biji kakao kering, sementara bagian lendir (pulp) kakao hanya dibuang begitu saja. Pulp kakao merupakan lapisan berlendir yang menyelimuti keping biji yang sebagian terdiri atas air dan komponen gizi yang lain. Ditinjau dari komposisi kimianya, pulp kakao mengandung komponen gizi yang cukup tinggi, di antaranya sukrosa, glukosa dan sedikit pati (Sulistyowati, et al, 1998; Anonim, 2008), sehingga sangat potensial untuk diolah menjadi produk pangan.

Pengolahan pulp kakao menjadi produk pangan selain sebagai upaya pemanfaatan limbah juga sebagai penggalian sumber pangan alternatif bernilai tinggi di antaranya nata de cacao, sirup, jus, permen dan lain sebagainya. Beberapa penelitian terdahulu telah mempelajari pemanfaatan pulp kakao menjadi produk pangan, di antaranya menjadi produk nata de cacao (Sulistyowati, et al, 1998), sirup kakao (Royati, 2007) dan sumber enzim poligalaturonase endogenous (Putra, 2009). Namun penelitian yang mempelajari dan mendasari tentang proses pengolah permen berbasis pulp kakao masih sangat minim.

Hasil penelitian Atmawinata, et al (1998) dan Yusianto (2000) membuktikan bahwa pengurangan kadar pulp sebelum proses fermentasi pada biji kakao akan memperbaiki kualitas biji kakao kering yang dihasilkan. Pengurangan pulp buah kakao bisa dilakukan secara manual maupun secara mekanis. Hal ini tentu saja menempatkan posisi pulp kakao menjadi limbah pengolahan biji kakao kering.

Beberapa penelitian terdahulu telah mempelajari pemanfaatan pulp kakao menjadi produk pangan, di antaranya menjadi produk nata de cacao (Sulistyowati, et al, 1998), sirup kakao (Royati, 2007) dan sumber enzim poligalaturonase endogenous (Putra, 2009).

Hasil penelitian Sulistyowati, et al, (1998), menentukan formulasi penyiapan  pulp kakao sebagai bahan dasar pembuatan nata de cacao, terungkap bahwa faktor pengenceran pulp kakao (10, 15, 20 dan 25 kali) tidak berpengaruh terhadap kualitas nata de cacao. Lebih lanjut, Pratiwi (2009) mengungkapkan hasil penelitiannya bahwa pelarutan pulp kakao dalam pengolahan nata de kakao bisa dilakukan dengan cara menambahkan air ke dalam biji kakao basah dengan perbandingan biji kakao basah dan air sebanyak 1:1.

Permen atau kembang gula merupakan salah satu makanan selingan berbentuk padat dengan rasa manis, yang sifatnya mudah larut dalam air, serta mempunyai warna dan aroma yang menarik. Secara umum, permen dibagi menjadi dua kelas, yaitu permen kristalin (krim) dan permen non kristalin (amorphous). Hard candy (permen keras) merupakan salah satu permen non kristalin yang mempunyai tekstur keras, penampakan mengkilat dan bentuk bening. Bahan utama dalam pengolahan permen ini adalah sukrosa, air dan glukosa, sedangkan bahan tambahannya adalah flavor, pewarna dan zat pengasam (Anonim, 1999). Standar Nasional Indonesia No. 3547.1:2008 menyatakan bahwa kembang gula adalah jenis makanan selingan berbentuk padat, dibuat dari gula, glukosa atau pemanis lain atau dengan atau tanpa penambahan bahan makanan lain dan bahan tambahan makanan yang diijinkan (BSN, 2008).

Hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan sukrosa sebagai bahan utama dalam pembuatan permen adalah kelarutannya. Permen yang menggunakan sukrosa murni mudah mengalami kristalisasi. Pada suhu 20oC hanya 66,7% sukrosa murni yang dapat larut. Bila larutan sukrosa 80% dipanaskan hingga 109,6oC dan kemudian didinginkan hingga 20oC, maka 66,7% akan terlarut dan 13,3% akan terdispersi. Bagian sukrosa yang terdispersi ini akan menyebabkan kristalisasi pada produk akhir. Oleh karena itu perlu digunakan bahan lain untuk meningkatkan kelarutan dan menghambat kristalisasi, misalnya sirup glukosa atau gula invert (Anonim, 1999).

Permasalahan lain yang mungkin timbul dalam pengolahan permen keras adalah stickiness dan graining. Stickiness terjadi karena meningkatnya kadar air pada permen sehingga permen menjadi bersifat higroskopis. Masalah ini bisa diatasi dengan menggunakan campuran sukrosa dan sirup glukosa, tetapi rasio antara sukrosa dan sirup glukosa perlu disesuaikan karena kesalahan rasio kedua bahan tersebut bisa menyebabkan graining (pengkristalan) (Anonim, 1999).

Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menentukan formulasi komposisi pulp kakao yang tepat dalam pengolahan permen pulp kakao, sehingga dihasilkan permen keras (hard candy) dengan kualitas yang baik dan diterima oleh konsumen dan untuk mengidentifikasi pengaruh penambahan sirup glukosa terhadap mutu kimia dan organoleptik permen pulp kakao.

 

METODOLOGI PENELITIAN

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pulp kakao, sukrosa, sirup glukosa, air serta bahan-bahan untuk analisis, sedangkan peralatan yang digunakan dalam meliputi : baskom, timbangan, kain kassa (penyaring), botol, peralatan pengolahan, thermometer dan peralatan laboratorium untuk analisis.

Penelitian dilakukan melaui tahap pengolahan permen pulp kakao dengan 2 (dua) variasi perlakuan, yaitu perlakuan pengenceran pulp kakao (1 : 1, 1 : 2 dan 1 : 3) dan perlakuan komponen gula (sukrosa murni dan campuran sukrosa : sirup glukosa dengan perbandingan 50 : 50). Analisis yang dilakukan meliputi analisis kadar air (Sudarmaji et al, 1997) dan uji organoleptik terhadap produk permen pulp kakao, menggunakan metode Hedonic Scale Scoring dengan 20 orang panelis terlatih berdasarkan tingkat kesukaan terhadap atribut warna, rasa, tekstur dan kesukaan secara keseluruhan (Kartika et al, 1999). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok, menggunakan percobaan faktorial. Apabila terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan, dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada rentang kepercayaan atau uji beda nyata terkecil 5 %.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kadar Air Permen Pulp Kakao

Hasil analisis kadar air permen pulp kakao dengan variasi pengenceran dan perlakuan gula bisa dilihat pada Tabel 1.

 

 

Tabel 1. Nilai Rata-rata Analisis Kadar Air (%) Permen Pulp Kakao

Perlakuan gula Variasi Pengenceran (biji kakao:air)
1 : 1 1 : 2 1 : 3
100 % sukrosa 3.52 b 4.01 a 4.43a
50% sukrosa + 50 % glukosa 2.13 d 3.20 c 3.38 c

Keterangan : angka yang diikuti oleh kode huruf  yang berbeda menunjukkan adanya perbedaan yang nyata pada taraf signifikansi 5%.

 

 

Air merupakan senyawa penting dalam bahan pangan. Walaupun air bukan merupakan sumber nutrien, tetapi sangat esensial dalam proses biokimiawi organisme hidup. Oleh karena itu, kadar air dalam bahan pangan sangat menentukan sifat fisik, kimia, organoleptik dan umur simpan bahan pangan yang bersangkutan. Semakin tinggi kadar air dalam bahan pangan, kemungkinan pertumbuhan mikroorganisme perusak semakin besar pula. Standar Nasional Indonesia menetapkan bahwa syarat mutu permen keras harus mempunyai kadar air maksimal 3.5 %. Hasil pengukuran kadar air permen pulp kakao dalam penelitian ini sudah sesuai dengan standar kadar air permen keras, meskipun terdapat sedikit penyimpangan yaitu pada perlakuan pengenceran 1 : 2 dan 1 : 3 untuk penggunaan sukrosa 100 %.

Hasil analisis kadar air yang ditampilkan pada Tabel 1 di atas, diketahui bahwa ada pengaruh yang nyata antar perlakuan variasi pengenceran dan perlakuan gula. Semakin encer larutan pulp kakao yang digunakan, kadar air permen pulp kakao yang dihasilkan semakin tinggi, sedangkan penggunaan sukrosa 100% memberikan pengaruh kadar air yang lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan 50% sukrosa + 50% glukosa. Hal ini diduga karena peranan sirup glukosa dalam membantu mmperbaiki sifat-sifat permen keras. Sirup glukosa adalah cairan gula kental yang diperoleh dari pati. Sirup glukosa digunakan dalam industri permen, selai dan pengalengan buah – buahan. Fungsi sirup glukosa dalam pembuatan permen agar dapat meningkatkan viskositas dari permen sehingga tidak lengket. Penggunaan sirup glukosa dapat mencegah kerusakan pada permen ( Hidayat dan Ikarisztiana, 2004). Sirup glukosa berfungsi untuk memperlunak hasil atau hasilnya halus sehingga permen yang dihasilkan tidak terlalu keras, selain itu juga berfungsi mencegah pengkristalan sukrosa atau gula. Penggunaan sirup glukosa dalam pembuatan permen keras adalah seimbang dengan jumlah gula yang digunakan. Penambahan sirup glukosa dalam kadar tinggi akan menyerap dan mengikat air sehingga mikroba tidak bebas mengunakan air untuk tumbuh pada produk yang ditumbuhi (Minarni, 1996).

 

Sifat Sensoris Permen Pulp Kakao

Warna

Hasil uji sensoris permen pulp kakao untuk parameter warna ditampilkan pada Tabel 2 di bawah ini.

 

 

Tabel 2. Nilai Rata-rata Uji Sensoris Warna Permen Pulp Kakao

Perlakuan gula Variasi Pengenceran (biji kakao:air)
1 : 1 1 : 2 1 : 3
100 % sukrosa 2,15b 3,50a 3,85a
50% sukrosa + 50 % glukosa 2,10b 2,25b 3,15a

 

Ket Skala : 1= sangat suka; 2 = suka; 3 = agak suka; 4 = tidak suka; 5 = sangat tidak suka

 

 

Penentuan mutu bahan pangan pada umumnya sangat bergantung pada beberapa faktor, di antaranya cita rasa, warna (kenampakan), tekstur dan nilai gizinya. Warna atau kenampakan merupakan salah satu atribut mutu yang sangat penting bagi produk olahan pangan, yang mendapatkan perhatian cukup besar oleh para pengusaha industri pengolahan pangan. Walaupun warna/kenampakan kurang berhubungan dengan niai gizi, kenyataan membuktikan bahwa sebelum faktor-faktor lain dipertimbangkan, secara visual faktor warna/kenampakan tampil lebih dahulu dan kadang-kadang sangat menentukan. Suatu bahan yang dinilai bergizi, enak dan teksturnya sangat baik kurang disukai konsumen apabila memiliki warna/kenampakan yang tidak sedap dipandang atau memberi kesan telah menyimpang dari warna/kenampakan yang seharusnya, begitu pula ada produk permen jelly biji nangka. Hal ini juga dijelaskan oleh Szczesniak (1983), bahwa warna/kenampakan juga berpengaruh terhadap flavor makanan yang diterima oleh konsumen. Permen jelly biji nangka yang mempunyai warna yang lebih gelap (kusam) memberi kesan mempunyai rasa yang kurang enak dibandingkan pada permen jelly dengan warna yang lebih terang (transparan). Penerimaan warna suatu bahan berbeda-beda tergantung dari faktor alam, geografis dan aspek sosial masyarakat penerima.

Tabel 2 di atas menjelaskan bahwa untuk parameter warna, secara umum tidak ada perbedaan yang nyata antar perlakuan penggunaan gula, sedangkan semakin kental larutan pulp kakao yang digunakan, akan menghasilkan permen pulp kakao yang semakin disukai oleh panelis. Hal ini diduga karena warna khas pulp kakao yang kuning kecoklatan, sehingga setelah diolah menjadi permen kakao menghasilkan warna yang kuning jernih, sementara semakin banyak air yang ditambahkan dalam pengenceran, permen pulp yang dihasilkan menjadi lebih pudar, mengingat banyaknya air yang ditambahkan. Kenyataan ini membuat panelis lebih menyukai permen pulp kakao yang dibuat dari pengenceran yang lebih sedikit air.

Rasa

Hasil uji sensoris menggunakan panelis terlatih diketahui bahwa semakin kental larutan pulp kakao yang digunakan, menghasilkan permen pulp kakao yang semakin disukai. Hal ini diduga karena kandungan senyawa asam yang tinggi dalam pulp kakao. Senyawa asam ini memberikan sensasi yang segar terhadap permen pulp kakao. Adapun penambahan glukosa 50% memberikan pengaruh terhadap rasa permen pulp kakao yang lebih disukai panelis, dibandingkan dengan jika hanya menggunakan sukrosa saja. Hasil uji sensoris terhadap rasa permen pulp kakao disajikan pada Tabel 3.

 

 

 

Tabel 3. Nilai Rata-rata Uji Sensoris Rasa Permen Pulp Kakao

Perlakuan gula Variasi Pengenceran (biji kakao:air)
1 : 1 1 : 2 1 : 3
100 % sukrosa 2,05c 3,60a 3,70a
50% sukrosa + 50 % glukosa 1,90c 2,90b 3,65a

 

Ket Skala : 1= sangat suka; 2 = suka; 3 = agak suka; 4 = tidak suka; 5 = sangat tidak suka

 

 

Rasa adalah sifat inderawi yang melibatkan indera pengecap dan indera pembau. Rasa diasumsikan menjadi empat rasa dasar, yaitu manis, asam, pahit dan asin (Winarno, 2002). Adapun gabungan dari beberapa empat rasa dasar tersebut akan muncul sensasi rasa baru yang salah satunya adalah sensasi rasa segar yang secara umum terdapat pada produk permen.

 

Tekstur

 

Hasil penilaian uji sensoris oleh panelis terlatih terhadap produk permen pulp kakao ditampilkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Nilai Rata-rata Uji Sensoris Tekstur Permen Pulp Kakao

Perlakuan gula Variasi Pengenceran (biji kakao:air)
1 : 1 1 : 2 1 : 3
100 % sukrosa 2,15c 3,50a 3,85a
50% sukrosa + 50 % glukosa 2,10c 2,80b 3,75a

Ket Skala : 1= sangat suka; 2 = suka; 3 = agak suka; 4 = tidak suka; 5 = sangat tidak suka

Pada tabel 4 di atas diketahui bahwa secara umum perlakuan variasi pengenceran pulp kakao dan penambahan gula berpengaruh nyata terhadap permen pulp kakao. Semakin kental pulp kakao yang digunakan, permen pulp kakao yang dihasilkan semakin disukai oleh panelis, sedangkan penambahan 50 % sirup glukosa memberikan pengaruh terhadap permen pulp kakao yang lebih disukai dibandingkan dengan penggunaan 100% sukrosa. Hal ini diduga karena sirup glukosa memberikan efek positif terhadap tekstur permen pulp kakao. Menurut Hidayat dan Ikarisztiana, 2004, penggunaan sirup glukosa dapat mencegah kerusakan pada permen. Sirup glukosa berfungsi untuk memperlunak hasil atau hasilnya halus sehingga permen yang dihasilkan tidak terlalu keras, selain itu juga berfungsi mencegah pengkristalan sukrosa atau gula. Penggunaan sirup glukosa dalam pembuatan permen keras adalah seimbang dengan jumlah gula yang digunakan. Penambahan sirup glukosa dalam kadar tinggi akan menyerap dan mengikat air sehingga mikroba tidak bebas mengunakan air untuk tumbuh pada produk yang ditumbuhi (Minarni, 1996).

Tekstur merupakan sifat bahan pangan yang berhubungan dengan sifat-sifat fisik maupun kimianya, yang diterima oleh indera penglihatan (sebelum dikosumsi), indera perabaan (dalam penanganan), indera perabaan dalam mulut (selama konsumsi) dan indera pendengar. Oleh karena itu, penilaian tekstur (kekenyalan) melibatkan hampir seluruh parameter mutu yang lain.

KESIMPULAN

  1. Formulasi pengolahan permen pulp kakao yang disukai oleh konsumen dan memenuhi standar kualitas SNI adalah penggunaan larutan pulp kakao dengan perbandingan biji kakao basah : air = 1 : 1 dan menggunakan sirup glukosa 50 % dan sukrosa 50 %.
  2. Kadar air permen pulp kakao berkisar antara 2,13 s/d 4,43 %, sedangkan secara umum, permen pulp kakao yang paling disukai oleh konsumen adalah permen yang diolah dari larutan pulp kakao dengan perbandingan biji kakao basah : air =          1 : 1 dan menggunakan sirup glukosa 50%.

SARAN

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai potensi pulp kakao menjadi permen jelly, maupun produk-produk pangan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1999. Teknologi Pangan dan Agroindustri. No.1. Vol. 1 – 12. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor.

Anonim. 2008. Kulit Buah Kakao. Pulp dan Biji Buah Kakao. Komposisi Kimia Pulp dan Kulit Buah. http://coklat-chocolate.blogspot.com/2008/03/kulit-buah-kakaopulp-buah.html. [19 Mei 2011].

Atmawinata, O., S. Mulato, S.Widyotomo dan Yusianto. 1998. Teknik Pra Pengolahan Biji kakao Segar secara Mekanis untuk Mempersingkat Waktu Fermentasi dan Menurunkan Keasaman Biji. Pelita Perkebunan. Vol.14 (I) : 48-62.

Badan Standarisasi Nasional. 2008. Standar Nasional Indonesia No. 3547.1 : 2008. Kembang Gula – Bagian 1 : Keras. Badan Standarisasi Nasional. Jakarta.

Hidayat dan Ikarisztrana..2004. Membuat Permen Jelly. Trubus Agrisarana, Surabaya.

Kartika, B., P. Hastuti dan W. Supartono, 1999. Pedoman Uji Inderawi Bahan Pangan. Gadjah Mada Press. Yogyakarta.

Minarni. 1996. Mempelajari Pembuatan Dan Penyimpanan Permen Jelly Gelatin Dari Buah Mangga Kweni. Fakultas Teknologi Pertanian IPB. Bogor.

Putra, G. 2009. Penentuan Kinetika Enzim Poligalakturonase (PG) Endogenous dari Pulp Biji Kakao. Jurnal Biologi. Vol. XIII (1) : 21-24.

Royati, H. 2007. Pengaruh Konsentrasi Gula terhadap Tingkat Kesukaan Sirup Pulp Kakao. Laporan Tugas Akhir. Program Studi Teknologi Pangan Fakultas Pertanian. Universitas Dehasen Bengkulu.

Sudarmadji, S., B. Haryono dan Suhardi, 2007, Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Penerbit Liberty. Yogyakarta.

Sulistyowati, O. Atmawinata, S. Mulato dan Yusianto, 1998, Pemanfaatan Limbah Bubur Pulpa Kakao untuk Pembuatan Nata Kakao. Pelita Perkebunan. Vol. 14 (I) : 63 – 75.

Winarno, F.G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Yusianto. 2000. Pasca Panen Kakao. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember Indonesia.


 

KARAKTER FISIOLOGIS DAN KUALITAS SEMAI JABON

(Anthocephalus cadamba Miq.) TERHADAP PEMBERIAN

NAUNGAN DAN KOMPOSISI MEDIA SEMAI

Oleh :

Deselina

 

(Staf Pengajar Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu)

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh taraf kerapatan naungan dan komposisi media semai terhadap karakter fisiologis semai terhadap cahaya dan kualitas semai Jabon (Anthocephalus cadamba Miq.) di persemaian. Penelitian ini dilakukan di Zona Penelitian Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu di Kelurahan Medan Baru Kecamatan Muara Bangkahulu sejak Bulan Agustus-Desember 2013. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Petak Terbagi dengan rancangan dasar Rancangan Acak Lengkap. Petak utama adalah kerapatan naungan yang terdiri dari 4 taraf yaitu tanpa naungan (N0), paranet dengan kerapatan 55% (N1), paranet dengan kerapatan 65% (N4) dan paranet dengan kerapatan 75% (N3) sedangkan anak petaknya adalah komposisi media semai yang terdiri atas 5 taraf yaitu : Tanah topsoil (M0), Pasir : tanah topsoil : arang sekam = 1 : 3 : 1 (M1), Tanah topsoil : kompos = 3 : 1 (M2), Tanah topsoil : pasir : pupuk kandang = 7 : 2 : 1 (M3 ), Tanah : arang sekam = 1 : 1 (M4). Percobaan ini terdiri dari 20 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan sehingga secara keseluruhan terdapat 20 x 3 = 60 unit percobaan. Setiap unit percobaan terdapat 2 tanaman sehingga diperlukan semai Kayu Jabon sebanyak 120 semai.

Berdasarkan analisis keragaman menunjukkan bahwa kerapatan naungan memberikan pengaruh nyata terhadap luas daun sedangkan komposisi media semai dan interaksi antara pemberian kerapatan naungan dan komposisi media semai menunjukkan pengaruh tidak nyata  terhadap semua variabel yang diamati. Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa N1 menunjukkan luas daun yang paling tinggi yaitu 44.067 cm2.

 

PENDAHULUAN

Kebutuhan dunia akan kayu terus meningkat, untuk keperluan bahan bangunan, perabotan rumah tangga, serat, kertas dan untuk bahan bakar. Usaha yang telah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan ini adalah memanfaatkan kayu yang selama ini belum dikenal secara komersial yaitu  Kayu Jabon) (Anthocephalus cadamba Miq.). Kayu jabon merupakan hasil hutan yang banyak manfaat, di antaranya untuk bahan bangunan, bahan baku furniture, industri kertas dan kerajinan tangan (Mulyana, dkk., 2010).

Kebutuhan kayu nasional yang mencapai lebih dari 60 juta m3/tahun menjadi latar belakang adanya peluang bisnis yang menarik untuk dikembangkan. Peluang mendapatkan keuntungan dengan cara membangun hutan buatan untuk menanam berbagai jenis tanaman hutan.  Jenis tanaman hutan yang ditanam harus memenuhi beberapa persyaratan, sebagai berikut : waktu masak tebang atau panen relative pendek, pengelolaan relative mudah, persyaratan tempat tumbuh tidak rumit, hasil kayunya serbaguna atau multiguna, permintaan pasar terus meningkat, membantu menyuburkan tanah dan memperbaiki kualitas lahan.  Berdasarkan persyaratan tersebut jabon merupakan jenis tanaman yang sesuai dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industry kayu dikarenakan Kayu Jabon merupakan salah satu jenis tananam yang pertumbuhannya sangat cepat (fast growing species) dan dapat tumbuh subur di hutan tropis (Mulyana, dkk., 2010).

Dalam pembuatan tanaman Kayu Jabon memerlukan persediaan bibit dengan kualitas baik dan jumlah yang mencukupi. Persediaan bibit tersebut dapat terpenuhi melalui persemaian. Di persemaian bibit bisa diberi perlakuan tertentu dan dirawat untuk menghasilkan bibit yang berkualitas, sehingga jika bibit ditanam di areal penanaman mampu tumbuh dengan baik. Perlakuan bibit di persemaian diantaranya berupa penyapihan bibit dari bak penaburan ke polibag dengan periode waktu penyapihan tertentu dan penggunaan media penyapihan yang sesuai untuk pertumbuhan bibit di persemaian (Mindati dan Rostiwati, 1991).

Pembibitan merupakan langkah awal dalam menyediakan bibit bermutu untuk kegiatan penanaman. Mutu bibit yang dihasilkan di persemaian akan menentukan keberhasilan penanaman di lapangan, Mutu bibit sangat dipengaruhi oleh cara pengelolaan dan media yang digunakan dalam memproduksi bibit di persemaian (Hendromono, 2003). Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas semai adalah dengan cara memakai media dengan komposisi yang sesuai dan dengan pemberian naungan di persemaian.

Penggunaan media tumbuh semai berpengaruh terhadap mutu bibit yang dihasilkan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih media sapih antara lain, media yang mampu mengikat air dan unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, mempunyai drainase dan aerasi baik, dapat mempertahankan kelembaban di sekitar akar tanaman, tidak mudah lapuk, tidak menjadi sumber penyakit bagi tanaman, dan mudah didapat dan harganya murah (Agoes, 1994).

Pada kegiatan pembibitan, khususnya tanaman kehutanan, disamping aplikasi media semai, aplikasi naungan (misalnya paranet) sangat diperlukan. Pengaturan tingkat kerapatan naungan diperlukan untuk mengatur intensitas cahaya sesuai dengan kebutuhan semai. Kebutuhan cahaya setiap jenis akan berbeda. Pada jenis yang membutuhkan cahaya, naungan yang terlalu rapat akan menyebabkan terjadinya etiolasi, sedangkan naungan yang kurang akan menyebabkan kurangnya perlindungan tanaman (semai) dari sinar matahari langsung, curah hujan yang tinggi, angin serta fluktasi suhu yang ekstrim (Schmidt, 2002).

 

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di Zona Penelitian Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu di Kelurahan Medan Baru Kecamatan Muara Bangkahulu Kota Bengkulu mulai Bulan Agustus-Desember 2013.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah, benih kayu Jabon,  tanah topsoil, pasir halus, pupuk kandang, dan arang sekam.

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah meteran, paranet, bak kecambah, polibag ukuran 20 cm x 30 cm, ember, Chlorophyll meter (SPAD-S20), cangkul, ayakan ukuran 10 mm x 10 mm, mistar, caliper, Leaf area meter, Kamera dan alat tulis.

Rancangan percobaan yang di gunakan adalah rancangan petak terbagi (split plot design) dalam pola acak kelompok lengkap. Petak utama adalah kerapatan naungan, sedangkan anak petaknya adalah komposisi media sapih. Kerapatan naungan di persemaian terdiri dari 4 taraf, yang dipasang di tempat terbuka di sekitar lokasi persemaian, sehingga faktor naungan secara rinci adalah sebagai berikut:

N0 : Tanpa Naungan

N1 : Paranet dengan kerapatan 55 %

N2 : Paranet dengan kerapatan 65 %

N3 : Paranet dengan kerapatan 75 %

Sedangkan komposisi media semai terdiri atas 5 taraf yaitu :

M0 : Tanah topsoil

M1 : Pasir : tanah topsoil : arang sekam = 1 : 3 : 1

M2 : Tanah topsoil : kompos = 3 : 1

M3 : Tanah topsoil : pasir : pupuk kandang = 7 : 2 : 1

M4 : Tanah : arang sekam = 1 : 1

 

Dengan demikian, percobaan ini terdiri dari 20 kombinasi perlakuan dan 3 ulangan sehingga secara keseluruhan terdapat 20 x 3 = 60 unit percobaan. Setiap unit percobaan terdapat 2 tanaman sehingga diperlukan semai kayu Jabon sebanyak 120 semai.

Prosedur penelitian meliputi persiapan semai, persiapan media sapih, penyapihan, pembuatan tempat naungan, penanaman dan pemeliharaan.

Variabel yang diamati adalah :

  1. Luas Daun (mm2)

Data diperoleh dengan cara menghitung luas daun yang tumbuh pada masing-masing semai yang dilakukan pada akhir pengamatan.

 

  1. Klorofil Daun (butir/5 mm2)

Perhitungan jumlah klorofil daun masing-masing tanaman dilakukan pada bagian pangkal helai daun, bagian tengah helai daun, dan bagian ujung helai daun, dengan posisi daun pada tanaman yaitu pada  bagian bawah, bagian tengah dan bagian atas batang, sehingga setiap tanaman dilakukan 9 kali pengukuran. Klorofil dihitung dengan Chlorophyll meter (SPAD-S20) dengan cara daun diletakkan pada bagian sensor dan secara otomatis pada layar klorofil daun yang disensor.

  1. Nilai Kekokohan Semai (NKS)

Nilai kekokohan semai diperoleh dengan menghitung perbandingan tinggi semai dan diameter leher akar yang dilakukan pada akhir penelitian dengan menggunakan rumus :

 

NKS =   Tinggi Semai

Diameter Leher Akar

Analisis data yang digunakan adalah analisis varian terhadap variabel luas daun (cm2), kandungan klorofil daun (butir/5 mm2), dan nilai kekokohan semai dan indeks mutu bibit. Jika hasil analisis varian terhadap variabel-variabel tersebut menunjukkan pengaruh berbeda nyata akan dilanjutkan uji lanjut dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT) α 5% dimana interaksi yang terjadi dilanjutkan dengan uji beda dua arah.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis keragaman terhadap setiap variable karakter fisiologi kayu jabon di persemaian dengan pemberian kerapatan naungan dan komposisi media semai disajikan pada Tabel 1.

 

 

Tabel 1. Ringkasan Hasil Analisa Keragaman (Nilai F-Hitung) Pengaruh Kerapatan Naungan dan

Komposisi Media Semai Terhadap Variabel Yang Diamati

 

Variabel Pengamatan F – Hitung
Kerapatan Naungan Komposisi media semai Interaksi
Luas Daun 

Kandungan Klorofil

Nilai Kekokohan Semai

0.164ns 

4.289*

10.956ns

2.476ns 

1.335ns

0.351ns

1.335ns 

1.153ns

0.752ns

Keterangan : * = berpengaruh nyata                ns = berpengaruh tidak nyata


Pembahasan

Uji pengaruh perlakuan pemberian  kerapatan naungan terhadap karakter fisiologis semai Kayu Jabon

 

Hasil analisis keragaman (ANOVA) menunjukkan bahwa pemberian kerapatan naungan memberikan pengaruh yang nyata terhadap karakter fisiologis Kandungan Klorofil (Tabel 1) dan hasil uji lanjut DMRT pengaruh kerapatan naungan dapat dilihat pada Tabel 2.

 

 

Tabel 2.Hasil Uji Lanjut Rerata nilai Luas Daun Semai Kayu Jabon (cm2)

Perlakuan Kerapatan Naungan Nilai Luas Daun
N0 

N1

N2

N3

27.400 c 

44.066 a

35.066 b

33.466 bc

Keterangan :    Angka-angka pada kolom yang sama yang diikutimoleh huruf yang berbeda                      menunjukkan berbeda nyata menurut DMRT taraf nyata 5%.

 

 

Daun berfungsi sebagai penerima cahaya dan alat fotosintesis. Laju fotosintesis per satuan tanaman umumnya dipengaruhi oleh luas daun (Sitompul dan Guritno, 1993).  Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa luas daun semai Kayu Jabon tertinggi didapat oleh N1 (44.066 cm2) dan luas daun yang paling rendah didapat oleh N0 (27.400 cm2). Hal ini juga berarti kerapatan naungan 55% memberikan luas daun tertinggi. Naungan memberikan efek yang nyata terhadap luas daun. Daun mempunyai permukaan yang lebih besar di dalam naungan daripada jika berada pada tempat terbuka. Fitter dan Hay (1992) mengemukakan bahwa jumlah luas daun menjadi penentu utama kecepatan pertumbuhan.  Keadaan seperti ini dapat dilihat pada hasil penelitian dimana daun-daun yang mempunyai jumlah luas daun yang lebih besar mempunyai pertumbuhan yang besar pula  (Marjenah, 2001).

Menurut Sirait (2008) peningkatan luas daun merupakan salah satu bentuk adaptasi tanaman yang tumbuh pada kondisi naungan sebagai upaya memaksimalkan penangkapan cahaya yang jumlahnya terbatas dibandingkan dengan pada kondisi terbuka. Hal ini sejalan dengan laporan Marler et al. (1994) yang menyebutkan terjadinya peningkatan luas daun pada tanaman muda Carambola dengan bertambahnya taraf naungan.

Lingga et.al., (1990) dalam Deselina (2012) mengatakan bahwa ukuran luas daun berkorelasi positip dengan batang, yaitu tanaman yang berbatang besar bertajuk luas dan tanaman berbatang kecil bertajuk sempit. Leopold dan Kriedemm (1975) mengemukakan bahwa luas daun suatu tanaman akan menentukan tingkat absorbs cahaya matahari sebagai sumber energy dalam proses fotosintesis.

Daun mempunyai permukaan yang lebih besar di dalam naungan daripada di tempat terbuka. Naungan memberikan efek yang nyata terhadap luas daun. Tanaman yang ditanam ditempat terbuka mempunyai daun yang lebih tebal daripada di tempat ternaung.

Walaupun pemberian naungan berpengaruh tidak nyata terhadap nilai kekokohan semai,namun dapat dilihat pada Gambar 1 bahwa nilai kekokohan semai tertinggi didapat pada N3 (3.810 ) dan terendah didapat pada N0 (3.622 ). Intensitas cahaya yang rendah mendorong tanaman untuk mencari cahaya menyebabkan pertumbuhan meninggi tanaman yang mengakibatkan semakin bertambahnya nilai kekokohan semai. Tanaman yang mengalami kekurangan cahaya biasanya lebih tinggi dari tanaman yang mendapatkan cukup cahaya (Sitompul dan Guritno, 1995).

 

 

 

Gambar 1. Rerata Nilai Kekokohan Semai Kayu Jabon Dengan Pemberian Kerapatan Naungan

 

Posisi daun tanaman, sudut, distribusi luas daun berpengaruh terhadap intersepsi cahaya. Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa pemberian naungan tidak berpengaruh nyata terhadap Kandungan klorofil daun, namum  bila dilihat pada Gambar 2. Nilai kandungan klorofil tertinggi didapat oleh N1 (29.053) dan nilai terendah oleh N0 (25.633).

 

 

 

Gambar 2.   Rerata kandungan klorofil daun semai Kayu Jabon  dengan pemberian kerapatan naungan

 

Perbedaan tingkat kehijauan daun dikarenakan daun N1 mempunyai warna daun yang lebih hijau, secara langsung memberikan indicator jumlah klorofil yang lebih banyak. Salisbury dan Ross (1992) mengatakan bahwa sintesis klorofil sangat dipengaruhi oleh factor keturunan, cahaya dan suplai mineral tertentu.

Marjenah (2001) mengemukakan jumlah daun tanaman lebih banyak di tempat ternaung daripada di tempat terbuka.  Ditempat terbuka mempunyai kandungan klorofil lebih rendah dari pada tempat ternaung. Naungan memberikan efek yang nyata terhadap luas daun. Daun mempunyai permukaan yang lebih besar di dalam naungan daripada di tempat terbuka.

Dewi (1996) dalam Marjenah (2001) mengemukakan bahwa kandungan klorofil Shorea parvifolia pada tempat terbuka mempunyai kandungan klorofil lebih rendah yaitu  34,80 satuan, sedangkan dengan naungan sarlon satu lapis berjumlah 42,21 satuan dan naungan sarlon dua lapis 48,05 satuan; sedangkan Shorea smithiana pada tempat terbuka kandungan klorofilnya 32,91 satuan, naungan sarlon satu lapis 36,49 satuan dan naungan sarlon dua lapis 40,01 satuan.
Sebagaimana yang dikemukakan oleh Daniel et al (1992) bahwa daun-daun yang berasal dari posisi terbuka dan ternaung, atau dari tumbuhan toleran dan intoleran, mempunyai morfologi yang sangat bervariasi. Daun yang terbuka, lebih kecil, lebih tebal dan lebih menyerupai kulit daripada daun ternaung pada umur dan jenis yang sama.

 

Uji pengaruh perlakuan pemberian komposisi media tanam terhadap karakter fisiologis semai Kayu Jabon

 

Berdasarkan Tabel 1. Disajikan bahwa pemberian komposisi media tanam tidak berpengaruh pada semua variable yang diamati. Untuk variable kandungan klorofil daun  terlihat bahwa nilai kandungan klorofil daun tertinggi didapat oleh perlakuan M1 (27.341) dan nilai terendah didapat oleh M3 (26.125) seperti yang disajikan pada Gambar 3. Perlakuan M1 yang merupakan kombinasi dari tanah, pasir dan arang sekam memberikan hasil yang paling tinggi dibandingkan perlakuan lain.

 

 

 

 

Gambar 3.   Rerata Kandungan Klorofil Daun Semai Kayu Jabon Dengan Pemberian Komposisi      Media Tanam

 

Penambahan arang sekam ke media semai diduga berpengaruh terhadap ketersediaan hara makro dan mikro yang kemudian diserap tanaman untuk meningkatkan klorofil daun. Meningkatnya jumlah klorofil daun berarti mendukung kegiatan fotosintesis, dengan demikian fotosintat yang dihasilkan lebih besar untuk diakumulasikan ke seluruh jaringan tanaman untuk proses fisiologi. Unsur hara yang mempengaruhi pembentukan klorofil daun adalah nitrogen dan magnesium, sehingga kekurangan unsur-unsur tersebut akan menyebabkan metabolism tanaman terganggu dan terhambatnya pembentukan klorofil daun.

Ogawa dalam Faridah (1996) menyatakan bahwa pemberian arang hanya akan memberikan pengaruh positip terhadap pertumbuhan tanaman pada media tanah ber-pH rendah. Faridah (1996) juga menjelaskan arang pada kadar tertentu memang memberikan pengaruh positip pada pertumbuhan tanaman, namun pada suatu tingkat yang lebih tinggi lagi arang ini akan bersifat meracun dan mengurangi unsure-unsur yang tersedia di tanah bagi tanaman bahkan .memberikan hasil pertumbuhan yang lebih jelek dibandingkan tanpa pemberian arang.

Supriyanto dan Fiona (2010) menyatakan penambahan arang sekam pada media tumbuh akan menguntungkan karena dapat memperbaiki sifat tanah di antaranya adalah mengefektifkan pemupukan karena selain memperbaiki sifat fisik tanah arang sekam juga berfungsi sebagai pengikat hara yang  dapat digunakan tanaman ketika kekurangan hara, hara dilepas secara perlahan sesuai kebutuhan tanaman (slow release).

Pemberian komposisi media tanam berpengaruh tidak nyata terhadap luas daun semai kayu Jabon (Tabel 1). Seperti yang diperlihatkan oleh Gambar 4. luas daun semai Kayu Jabon tertinggi didapat oleh perlakuan M3 sebesar 39.75 cm2 dan luas daun terendah didapat oleh perlakuan M2 yaitu sebesar 31.15 cm2.

 

 

 

Gambar 4. Rerata Luas Daun Semai Kayu Jabon Dengan Pemberian Komposisi Media Tanam

 

Daun berfungsi sebagai penerima cahaya dan alat fotosintesis. Laju fotosintesis per satuan tanaman umumnya dipengaruhi oleh luas daun (Sitompul dan Guritno, 1993). Lingga et. al. (1990) dalam Deselina (2012) mengatakan bahwa ukuran luas daun berkorelasi positip dengan batang, yaitu tanaman berbatang besar bertajuk luas dan tanaman berbatang kecil bertajuk sempit.

Pemberian komposisi media tanam berpengaruh tidak nyata terhadap nilai kekokohan semai kayu Jabon (Tabel 1). Seperti yang diperlihatkan oleh Gambar 4. Nilai kekokohan semai Kayu Jabon tertinggi didapat oleh perlakuan M1 sebesar 4.264 dan nilai kekokohan semai terendah didapat oleh perlakuan M4 yaitu sebesar 3.132. Nilai kekokohan terendah adalah yang terbaik, didapat dari perlakuan penambahan media topsoil dengan arang sekam.

 

 

 

Gambar 5.  Rerata Nilai Kekokohan Semai Kayu Jabon Dengan Pemberian Komposisi Media Tanam

 

Hal ini sejalan dengan penelitian Supriyanto dan Fiona (2010) bahwa penambahan arang sekam pada media semai dapat meningkatkan nilai kekokohan semai sebesar 12.19% – 21,68%.

Nilai kekokohan semai jabon terbaik pada penelitian ini adalah semai di media kontrol M0 yang memiliki nilai terkecil yaitu sebesar 3.131. Hal ini sesuai dikatakan oleh Astika (2003) dalam Supriyanto dan Fiona (2010) bahwa semakin kecil nilai kekokohan semai maka makin mudah semai tersebut beradaptasi dengan lingkungan dan lebih tahan terhadap gangguan angin.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan analisis keragaman menunjukkan bahwa kerapatan naungan memberikan pengaruh nyata terhadap luas daun sedangkan komposisi media semai dan interaksi antara pemberian kerapatan naungan dan komposisi media semai menunjukkan pengaruh tidak nyata  terhadap semua variabel yang diamati. Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa N1 menunjukkan luas daun yang paling tinggi yaitu 44.067 cm2

DAFTAR PUSTAKA

Agoes, D. S. 1994. Aneka Jenis Media Tanam dan Penggunaannya. Penerbit Swadaya. Jakarta.

 

Daniel, TW., JA. Helms dan FS. Baker, 1979. Principles of Silviculture. In Marsono(trans) dan OH. Soeseno (ed) 1987. Prinsip-prinsip Silvikultur. Gadjah Mada University, Yogyakarta.

 

Deselina, 2012. Efek aplikasi dosis arang kompos dan taraf kerapatan naungan terhadap kualitas semai Kayu Bambang Lanang (Maducha apersa HJ.Lam.). Jurnal Penelitian Rafflesia. Fakultas Pertanian Universitas Muhamammadiyah Bengkulu. Vol 19 : 1

Faridah, E., 1996. Pengaruh intensitas cahaya, mikoriza dan serbuk arang pada pertumbuhan

Dryobalanops sp. Buletin penelitian Fakultas Kehutanan. Universitas Gadjah Mada.

Yogyakarta. I (29) : 4-6.

 

Fitter, A. H. dan R. K. M. Hay. 1994. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Gadjah Mada University

Press. Yogyakarta.

 

Hendromono. 2003. Peningkatan Mutu Bibit Pohon Hutan Dengan Menggunakan medium Organik dan Wadah Yang Sesuai. Bulletin Penelitian dan pengembangan Kehutanan. Badan Penelitian dan pengembangan Kehutanan. Jakarta.

Marler, TE, B. Shaffer and J.H. Crane (1994). Developmental light level affects growth, Morphology and leaf physiology of young carambola trees. J. Am. Soc. Hort. Sci 119 : 711- 718.

Mindawati, N. dan T. Rostiawati. 1991. Pengaruh Periode penyapihan Terhadap Pertumbuhan Anakan Shorea stenoptera Burch. Forma. Bulletin Penelitian Hutan 2 (1) :45-50.

Mulyana, D, C.Asmarahman dan Fahmi, I., 2010. Bertanam Jabon. AgroMedia, Jakarta.

Salisbury, FB dan CW. Ross, 1992. Fisiologi Tumbuhan Jilid 3. Penerbit ITB, Bandung.

Schmidt, Larst  dan Forest Seed Centere, Danida. 2000. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub Tropis. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan Dan Perhutanan Sosial. Departemen Kehutanan.

Sirait, J, 2008. Luas daun, kandungan klorofil dan laju pertumbuhan rumput pada naungan dan pemupukan yang berbeda. JITV 13(2) : 109-116. Medan.

Sitompul, S. M dan B. Guritno. 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Gadjah Mada UniversityPress Yogyakarta.

Supriyanto dan Fidryaningsih, F., 2010. Pemanfaatan arang sekam untuk memperbaiki pertumbuhan]semai Jabon (Anthocephalus cadamba Roxb.) pada  media subsoil. Jurnal Silvikultur Tropika  vol 3 No.1. hal-24-28.

 

KEARIFAN LOKAL NUNDANG BINEAK DI KABUPATEN LEBONG

“ CARA EFEKTIF PENGENDALIAN HAMA TIKUS “

Oleh :

Neti Kesumawati

(Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadyah Bengkulu)

ABSTRAK

Tikus sawah (Rattus argentiventer : Robb & Kloss) merupakan musuh utama petani di Indonesia, baik dilapangan maupun ditempat penyimpanan hasil. Luas daerah diserang tikus tiap tahun di Indonesia mencapai 140.927 ha. Serangan hama itu hampir terjadi setiap musim tanam dengan kerusakan mencapai 15-20 % tiap tahunnya ( Sudarmaji dan Herawati, 2001). Di Kabupaten Lebong terdapat kearifan lokal untuk mengendalikan jumlah hama tikus, yaitu “ Nundang Bineak (mengundang bibit)”. Proses ini merupakan  ritual budaya yang  turun-temurun di Kabupaten Lebong.   Dengan  didoakan tetua adat, campuran  benih 10 kilogram dibasahi air dan dicampur tujuh macam ramuan ”obat” tradisional, jeruk nipis, daun cekrau, daun kumpei, satu kilogram rebung bambu kuning, kunyit busuk, 20 buah pinang dan kendur. Pemakaian  ramuan rebung kuning, kunyit busuk, buah pinang dan kendur sebagai pestisida alami mempunyai keunggulan, yaitu : (1) mudah terurai di alam dan ramah lingkungan; (2) dapat membunuh hama/penyakit tanaman (ekstrak daun pepaya, tembakau, biji mahoni, kunyit, rebung bambu kuning, dll); (3) relatif aman bagi manusia dan ternak karena residunya mudah hilang; (4) perangkap hama tanaman(tanaman orok-orok, temblekayam); (5) mudah didapat dan ekonomis; (6) dosis yang digunakan tidak mengikat dan beresiko dibandingkan dengan pestisida sintetis; (6) merupakan pemecahan masalah hama jangka pendek/cepat (Fachraniah, Kurniasih, Ashar, 2013)

 

PENDAHULUAN

Manusia pada waktu dahulu memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berburu dan mengambil buah-buahan atau umbi-umbian secara langsung dari alat tanpa ada usaha budidaya. Selama pengambilan ini tanpa  disengaja  tercecerlah biji-bijian di sepanjang jalan pulang kegua-gua (tempat peristirahatan mereka) dan tumbuh menjadi tanaman baru. Pristiwa ini telah menggugah hati  mereka untuk menanam/membudidayakan biji-bijian tersebut dan usaha ini berlanjut kebiji-bijian dengan jenis berbeda-beda. Akhirnya mereka berhasil membudidayakan berbagai jenis tanaman untuk memenuhi keperluan pokok hidupnya , seperti makanan, pakaian dan perumahan. Tetapi dalam usaha pembudidayaan ini banyak sekali kendala yang dihadapi, baik fisik, sosial, ekonomi dan biologi yang mengancam keberhasilan produksinya. Dari berbagai kendala ini masalah hama tidak bisa diabaikan begitu saja karena kerusakan yang ditimbulkannya dapat mencapai 80% (Djuwarsono, 1992).

Menurut Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan (2003), untuk tikus sawah tingkat kerusakan pada tanaman padi di Indonesia bervariasi, mulai dari kerusakan ringan hingga  terjadi puso atau gagal panen. Rata-rata intensitas serangan tikus setiap tahun pada tanaman padi di Indonesia selama sepuluh tahun (1989–1998) mencapai 19,3%, dengan luas serangan 90.837 ha. Sedangkan pada kurun waktu tahun 1998–2002 tercatat luas serangan mencapai 165.381 ha dan 7.699 ha diantaranya puso. Kerusakan akibat hama tikus pada tanaman padi tersebut, selalu merupakan kerusakan terbesar dibanding dengan kerusakan yang ditimbul­kan oleh hama utama padi lain, seperti wereng cokelat dan penggerek batang padi. Rata rata tingkat kerusakan oleh tikus sawah pada tanaman padi selama kurun waktu 1977–2005 diseluruh Indonesia disajikan pada Gambar 1.

Sebenarnya tikus  (Rattus argentiventer : Robb & Kloss) merupakan musuh utama petani di Indonesia baik dilapangan maupun ditempat penyimpanan hasil. Luas daerah yang diserang tikus tiap tahun di Indonesia mencapai 140.927 ha dan serangan ini terjadi hampir disemua provinsi. sehingga bila dihitung-hitung petani dan pemerintah telah dirugikan milyaran rupiah baik berupa kerugian hasil akibat serangan maupun biaya pengendaliannya. Kehilangan hasil gabah akibat serangan hama itu hampir terjadi setiap musim tanam dengan kerusakan mencapai 15-20 % tiap tahunnya ( Sudarmaji dan Herawati, 2001)

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi di Indonesia pada tahun 2011 sebesar 6539 juta ton gabah kering giling (GKG),mengalami penurunan sebanyak 1.08 juta ton (1.63 %) dibandingkan tahun 2010. Penurunan produksi padi terjadi karena adanya beberapa Kendala, diantaranya iklim atau cuaca yang tidak menentu, lahan pertanian yang semakin sempit, tenaga kerja ahli semakin berkurang, teknologi dalam budidaya belum berkembang, dan adanya gangguan hama dan penyakit. Salah satu hama tanaman yang merupakan kendala dalam mempertahankan dan meningkatkan produksi tanamaan padi adalah tikus sawah

Mengingat dampak negatif yang ditimbulkan dari serangan hama tikus dapat menimbulkan permasalahan berkurangnya penyediaan bahan pangan sehingga tidak dapat mencukupi kebutuhan bahan pangan penduduk yang bertambah sangat cepat, seperti yang diungkapkan oleh  Malthus bahwa jumlah penduduk cenderung untuk meningkat secara geometris (deret ukur), sedangkan kebutuhan hidup riil dapat meningkat secara arismatik (deret hitung). Untuk itu, perlu  dilakukan  suatu usaha pengendalian hama tikus sawah secepat mungkin agar kondisi tidak semakin parah

Secara umum, usaha yang pertama kali dilakukan manusia untuk mengendalikan hama adalah dengan cara menangkap, menepis atau memukul dan menggunakan orang-orangan untuk mengusir burung  (Harahap, 1994). Pada mulanya cara pengendalian cukup efektif untuk menekan populasi hama. Namun dengan semakin meluasnya daerah pertanian dan bertambahnya penduduk dunia, cara-cara tersebut tiudak mampu lagi membendung peningkatan populasi dan keganasan hama. Dengan berkembangnaya ilmu dan teknolog,i dikembangkan cara-cara pengendalian hama yang lebih efektif dibandingkan metode fisik mekanik, seperti pengendalian dengan menggunakan pestisida. Pengendalian hama dengan cara baru ini melihatkan hasil yang memuaskan tetapi sangat disayangi semakin mengarah pada penggunaan pestisida. Keberhasilan pestisida dalam menekan populasi hama membuat penduduk dunia berlomba-lomba memakai pestisida, tetapi mereka tidak menyadari bahwa pemakaian pestisida akan menimbulkan degradasi lingkungan. Hardjowigeno (1995), menyatakan bahwa salah satu kerugian penggunaan pestisida pada tanaman pertanian adalah timbulnya residu pestisida pada tanaman sebagai bahan makanan manusia. Sebagian besar residu pestisida  terakumulasi di dalam tanah dan  dapat bertahan dalam waktu lama dalam tanah sampai beberapa tahun. Selanjutnya residu pestisida ini dapat mempengaruhi kehidupan di dalam tanah, terakumulasi di dalam tubuh hewan dan dapat berpindah dari satu hewan ke hewan lainnya melalui rantai makanan.

Berdasarkan dampak negatif yang ditimbulkan oleh pestisida ini sangat besar, orang mulai berpikir untuk menghidupkan kembali kearifan lokal yang merupakan pengetahuan  yang turun menurun yang diperoleh dari pengalaman pada waktu mengelola tanah, tumbuhan, binatang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, seperti makanan, obat-obatan, pakaian, dan pemukiman.  Pengetahuan ini mengandung nilai, kepercayaan dan sistem religi yang biasanya melahirkan perilaku positif terhadap kelestarian lingkungan hidup ( Syafaat, dkk., 2008)

Indonesia yang memiliki banyak ragam budaya ternyata mempunyai banyak terdapat kearifan lokal juga, salah satunya adalah  kearifan lokal yang ada  di Kabupaten Lebong Propinsi Bengkulu yang sampai sekarang masih dilaksanakan oleh masyarakat petani, yaitu “ Nundang Bineak (mengundang bibit) “ . Kearifan lokal nundang bineak merupakan ritual yang  diyakini  bisa memagar tanaman padi agar tak diganggu hama penyakit, salah satunya hama tikus sawah. Selain itu, kearifan lokal ini  mengisyaratkan bagi masyarakat petani  atau gong untuk turun ke sawah secara serentak.

Mengingat inti kegiatan kearifan lokal adalah melindungi kelestarian lingkungan  hidup yang sudah mengalami krisis yang sudah sangat memprihatinkan. Maka  perlu merubah pola pikir dan perilaku yang semula semena-mena terhadap alam menjadi perilaku yang bersahabat dengan alam, terdahulu. Atas dasar ini sudah sangat perlu menghidupkan kembali kearifan lokal dengan cara mengkaji secara mendalam tentang kearifan lokal, termasuk kearifan lokal “ Nundang Bineak”  yang ada di Kabupaten Lebong Propinsi Bengkulu.

 

PENGERTIAN KEARIFAN LOKAL

Lingkungan tempat hidup sangat mempengaruhi kualitas kehidupan kita dan mempunyai peranan sangat penting dan mendalam bagi perkembangan dan pertumbuhan diri manusia serta masyarakat. Selain itu kondisi alam dan lingkungan hidup juga mempengaruhi perkembangan nilai dan budaya masyarakat.

Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk dengan beraneka ragam kebudayaan yang hidup di dalamnya. Kemajemukan tersebut menjadi pendorong dan penggerak dalam penggelolaan lingkungan hidup, dimana banyak pengalaman dan pengetahuan yang dikembangkan, diralisasikan, dipahami dan dijadikan pedoman secara turum menurun dalam masyarakat tersebut. Pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki masyarakat, terutama masyarakat  adat telah menjadikan mereka  sebagai individu-individu yang sangat memahami mengenai perlindungan lingkungan dan hal ini  tampak melalui simbol-simbol adat yang nyata serta mampu dipahami secara logis.  Sehubungan dengan pelestarian lingkungan hidup, masyarakat adat bukan dalam tahap mengobati (surpassing) atau memulihkan (recovering) melainkan masih dalam tahap pencegahan (prevention) dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Cara pelestarian yang hidup dalam masyarakat adat ini dalam undang-undang No. 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang disebut dengan ” kearifan lokal “ (Nurhasanah, 2010)

Kearifan lokal merupakan warisan nenek moyang kita dalam tata nilai kehidupan yang menyatu dalam bentuk religi, budaya dan adat istiadat. Dalam perkembangannya masyarakat melakukan adaptasi terhadap lingkungannya dengan mengembangkan suatu kearifan yang berwujud pengetahuan atau ide, peralatan, dipadu dengan norma adat, nilai budaya, aktivitas mengelola lingkungan guna mencukupi kebutuhan hidupnya ( Suhartini, 2009).

Sesungguhnya pengetahuan yang diturunkan oleh nenek moyang kita ini  telah terbukti manfaatnya.  Terlihat dari cara mereka menjaga kelestarian lingkungan hidup yang lebih mengutamakan pemeliharaan tradisional, sehingga dalam penggunaan sumberdaya lingkungan tanpa menyebabkan kerusakan yang berarti dalam jangka waktu yang lama. Namun dengan meningkatnya penduduk dan banyaknya teknologi yang masuk, menyebabkan kerusakan terhadap lingkungan dan ketidakseimbangan lingkungan, bahkan telah sampai pada tahap krisis lingkungan yang sudah sangat memprihatinkan. Semua ini akibat dari penggunaan teknologi yang kurang memperthitungkan aspek ramah lingkungan. Alam dengan sumberdaya yang ada hanya dipandang sebagai alat pemuas kebutuhan hidup manusia saja, sehingga bisa semaunya terhadap alam. Manusia  menjadi semena-mena terhadap lingkungannya,mereka tidak ambil pusing serta menjadi angkuh dan terlena dengan ilmu dan tekhnologi yang dikembangkan manusia. Mereka tidak sadar kalau tekhnologi hasil penemuan manusia mempunyai keterbatasan yang terletak didalam diri manusia sendiri. Banyak sekali bencana alam terjadi akibat keserakahan manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam  yang kurang bertanggungjawab,seperti pengolahan tanah yang keliru di daerah hulu sungai, pemakaian bahan kimia, pembuangan limbah rumahtangga,dan lain-lain.  Tindakan inilah yang pada akhirnya berdampak negatif  pada kondisi lingkungani, baik kuantitas maupun kualitas.

Kearifan lokal merupakan salah satu cara  untuk mengembalikan proporsi permasalahan lingkungan hidup kepada azaz keseimbangan semula dengan berpedoman kepada pengalaman dan pengetahuan yang telah diturunkan oleh nenek moyang .  Manusia sebagai  khalifah dimuka bumi yang bertanggungjawab atas segala bentuk kerusakan di muka ini sudah selayaknya menjalankan pesan-pesan moral yang ada di dalam kearifan lokal. Manusia harus memperlakukan lingkungan di sekitarnya sebagai tempat tinggal yang telah memberikan segalanya untuk kita dengan baik, sehingga ada tanggung jawab yang besar untuk menjaga dan mengelolanya  Pengembangan teknologi sederhana di dalam mengelola sumberdayanya akan selalu dipertahankan untuk menjaga tradisi, memberi motivasi dan menjaga kepercayaan masyarakat dalam mengelola wilayahnya sehingga masyarakat berperan sebagai kunci utama dalam menjaga keseimbangan sumberdaya alam yang ada di sekitarnya (Baharudin, 2012)

TIKUS SAWAH

Klasifikasi dan Morfologi Tikus Sawah

Tikus sawah (Rattus argentiventer) adalah  makhluk  berkemampuan tinggi dibanding hama tanaman  lain dan  tergolong hewan menyusui . Tikus sawah memiliki klasifikasi sebagai berikut :

Kerajaan          : Animalia

Filum               : Chordata

Kelas               : Mamalia

Ordo                : Rodentia

Superfamilia    : Muroidea

Familia            : Muridae

Genus              : Rattus

Spessies           : Rattus argentiventer

Tikus sawah memiliki  ekor lebih pendek dari pada panjang badan dan kepala, warna putih didada dan perut kadang-kadang agak buram. Bentuk : panjang tubuh 134 – 210 mm, panjang telinga 20 – 22 mm, panjang telapak kaki belakang 32 – 39 mm, bobot jantan berkisar 130 – 190 g, sedangkan yang betina bobot sekitar 110 – 160 g, lebar gigi pengerat ≤3 mm. Tekstur bulu agak kasar dan warna coklat kelabu (Boeadi, 1979). Tikus memiliki indera penciuman dan pendengaran yang tajam, tikus betina mempunyai 6 pasang puting susu yang terletak dikiri dan kanan pada bahagian dada dan perut memanjang sepanjang badan. Tikus sawah dapat berkembang biak pada umur 1,5 – 5 bulan setelah kawin. Seekor tikus betina dapat melahirkan 8 ekor anak setiap melahirkan (Arifin, 1995).

Perilaku Tikus Sawah

Tikus sawah sebagian besar tinggal di persawahan dan lingkungan sekitar sawah. Tikus sawah memiliki daya adaptasi yang tinggi sehingga mudah tersebar di dataran rendah dan dataran tinggi. Selain itu, tikus sawah juga suka menggali liang untuk berlindung dan berkembangbiak, membuat terowongan atau jalur sepanjang pematang dan tanggul irigasi (Rochman 1992)

Tikus biasanya menyerang padi pada malam hari, sedangkan siang hari tikus bersembunyi  di dalam lubang pada tanggul irigasi, jalan sawah, pematang, dan daerah perkampungan dekat sawah. Pada periode sawah bera sebagian tikus bermigrasi ke daerah perkampungan dekat sawah dan akan kembali ke sawah setelah pertanaman padi menjelang fase generatif (Permada, 2009). Kehadiran tikus di daerah persawahan dapat dideteksi dengan memantau keberadaan jejak kaki (foot print), jalur jalan (run way),kotoran/feses, lubang aktif, dan gejala serangan. Tikus betina mengalami masa bunting sekitar 21-23 hari dan mampu beranak rata-rata sejumlah 10 ekor.Tikus dapat berkembang biak apabila makanannya banyak mengandung zat tepung. Populasi tikus sawah sangat ditentukan oleh ketersediaan makanan dan tempat persembunyian yang memadai. Tempat persembunyian tikus antara lain tanaman, semak belukar, rumpun bambu, pematang sawah yang ditumbuhi gulma,dan kebun yang kotor (Sudarmaji,2005)

Sehubungan tikus sawah adalah tergolong hewan omnivora yang mampu memanfaatkan beragam pakan untuk bertahan hidup sehingga jenis pakan yang dikonsumsi tergantung kondisi lingkungan dan bervariasi sepanjang stadia tumbuh padi (Prasetyo, 2012). Biasanya tikus yang kelaparan akan memakan hampir semua benda yang dijumpai, terutama yang mengandung karbohidrat, seperti ubi jalar, ubi kayu, ubi talas, dll (Anonim 2012). Kebutuhan pakan ±10-15% dari bobot badannya dan minum air ±15-30 ml per hari. Material pakan dalam lambung berupa endosperm padi, bagian pangkal batang padi, serpihan rumput-rumputan, potongan tubuh arthropoda, bagian tanaman dikotil, dan materi lain. Ketika bera pratanam hingga semai padi, tikus sawah mengkonsumsi rumput-rumputan (45%), endosperm (31%), dan yang lain (4-10%). Pada saat padi vegetatif, beragam pakan relatif setara dikonsumsinya (17-25%), sedangkan pada padi generatif pakan berupa endosperm (51%), arthropoda (12%), dan bagian tanaman non-padi (7-18%). Dalam mengkonsumsi pakan, tikus sawah lebih dahulu mencicipi untuk mengetahui reaksi terhadap tubuhnya dan apabila tidak membahayakan akan segera memakannya (Prasetyo, 2012).

 

Pengendalian Tikus Sawah

 

a.   Pola tanam

Tanam serempak dan diupayakan keserentakan pada saat bunting dan bermalai padi  pada areal  meliputi satu WKPP (200ha) dengan selisih waktu tanam antar  hamparan kurang dari satu bulan (Syamsuddin, 2011).

 

  1. Sanitasi

Kebersihan terhadap semak – semak dan rerumputan yang dapat sebagai persembunyian tikus sangat membantu menekan perkembangan populasi tikus.  Tumpukan – tumpukan sisa hasil panen dapat menjadi tempat persembunyian dan liang tikus. Berdasarkan pengamatan ditemukan bahwa  puncak populasi terjadi pada saat 2 – 5 minggu setelah panen (Surtikanti, 2011)

 

c.    Fisik
Pengendalian cara ini merupakan gabungan semua cara fisik untuk membunuh tikus seperti dengan pukulan, diburu dengan anjing, menggunakan perangkap, penggunaan pagar plastik. Cara ini biasanya lebih berhasil apabila dilaksanan secara massal atau grapyokan. Grapyokan dapat dilakukan bila padi sawah telah dipanen atau saat sawah sedang tidak ditanami ataupun sedang bera. Pada saat dilakukan kegiatan ini liang-liang tikus dibongkar dan tikusnya dibunuh. Pengunaan pagar plastik khususnya dilakukan pada persemaian padi. Dengan metoda ini diharapkan tikus tidak dapat masuk kedalam persemaian, dan hasilnya lebih baik bila dikombinasikan dengan pemasangan perangkap (Anonim, 2012)

d.    Penggunaan bahan bahan yang tidak disukai oleh tikus

Merupaakan salah satu cara pengendalian tikus yang relatif lebih aman, karena secara umum bahan-bahan yang digunakan  tidak meracuni (seperti bangle, talas kimpul, dan mengkudu). Bahan ini bekerja dengan cara mempengaruhi indera penciuman tikus yang berkembang sangat baik (Muchrodji,dkk, 2006)

 

  1. Kimiawi

Jika tingkat populasi tikus menjadi tinggi diluar batas toleransi selama fase vegetatif, metode pengendalian dengan rodentisida adalah satu satunya jalan yang effektif untuk mengurangi populasi tikus hingga ketingkat kerusakan minimum (Syamsuddin, 2011)

 

PRINSIF KEARIFAN LOKAL “ NUNDANG BINEAK ” DALAM ENGENDALIAN HAMA TIKUS SAWAH

 

Nundang Bineak atau mengundang bibit  merupakan prosesi ritual budaya yang  turun-temurun dilakukan sejak berabad silam di Kabupaten Lebong.  Biasanya ritual ini dipimpin oleh tetua adat yang sangat memahami  tentang doa dan matra yang   diperuntukkan pada para leluhur dan semua warga Rejang. Agar pembacaan doa  lebih khusuk, biasanya warga Rejang  membakar  kemenyan seukuran jempol jari orang dewasa. Inti dari pelaksanaan ritual ini adalah agar diberi keselamatan dan tanaman padi yang bakal ditebar dilindungi oleh Yang Mahakuasa

Menurut Zulkani (2011), prosesi pelaksanaan ritual Nundang Bineak, sebagai berikut :

Persis di depan tetua adat  tergeletak seonggok benih padi berbalut kain putih. Benih sekitar 2,5 kaleng atau setara 10 kilogram ini sebelumnya dibasahi air dan dicampur tujuh macam ramuan ”obat” tradisional, antara lain jeruk nipis, daun cekrau, daun kumpei, satu kilogram rebung bambu gading (bambu kuning), kunyit busuk, 20 buah pinang dan kendur. Semua dipotong kecil-kecil dan diramu menjadi satu dengan benih padi tersebut. Benih ini terdiri atas inti berasal dari tujuh tangkai padi hasil panen tahun sebelumnya yang disimpan khusus, dicampur dengan benih padi bantuan pemerintah.

  1. Selanjutnya tetua adat  membuka kain putih penutup onggokan benih padi itu. Ia mengambil air kelapa muda hijau dengan setangkai daun sidingin (juga ramuan obat tradisional). Air kelapa muda itu dipercikkan ke tumpukan benih padi sampai kelihatan basah.
  2. Prosesi ritual budaya itu lantas ditutup dengan doa selamat dan makan bersama oleh semua yang hadir. Hidangannya berupa nasi puncung dengan dua ayam matang utuh yang ditaruh di atas talam. Ayam itu juga bukan sembarangan, tetapi harus ayam putih dan biring, yakni seekor ayam warna kuning keemasan baik kaki maupun bulunya. Ayam harus utuh, tidak dipotong-potong layaknya hidangan biasa.
  3. Seusai makan bersama, warga yang hadir dibekali sejumput benih yang sudah diramu untuk dicampur dengan benih yang disiapkan di rumah masing-masing , sedangkan  warga yang tidak datang akan diberi  sampai semua petani kebagian
  4. Selanjutnya dilakukan penanaman benih secara serempak oleh masyarakat Lebong

Menurut  Syafarudin dalam Zulkani (2011), semua ramuan yang diaduk dengan benih padi mempunyai tujuan, seperti  rebung bambu kuning  diyakini untuk  mencegah tanaman padi di sawah dari serangan hama tikus, sedangkan kendur dan kunyit busuk diyakini dapat mengusir hama kutu seperti walang sangit. Jadi, ramuan itu bukan asal saja, tetapi diambil dari tumbuhan yang dipakai sebagai obat tradisional oleh masyarakat Rejang. Sebenarnya ramuan-ramuan yang dipakai dalam acara Numdang Bineak, seperti rebung bambu kuning, kendur, kunyit merupakan pestisida alami.  Seperti yang disampaikan oleh Fachraniah, Kurniasih, Ashar (2013), pestisida alami merupakan suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari alam seperti tumbuhan dan mempunyai keunggulian, yaitu : (1) mudah terurai di alam dan ramah lingkungan; (2) dapat membunuh hama/penyakit tanaman (ekstrak daun pepaya, tembakau, biji mahoni, kunyit, rebung bamboo kuning, dll); (3) relatif aman bagi manusia dan ternak karena residunya mudah hilang; (4) sebagai pengumpul/perangkap hama tanaman(tanaman orok-orok, temblekayam); (5) bahan baku mudah didapat dan ekonomis; (6) dosisyang digunakan tidak mengikat dan beresiko dibandingkan dengan penggunaan pestisida sintetis; (6) merupakan pemecahan masalah hama jangka pendek/cepat.

Selain kelebihan di atas, prosesi nundang bineak penanaman serempak juga mempunyai keunggulan: 1) menciptakan populasi hama serendah-rendahnya pada awal pertumbuhan tanaman, 2) menciptakan populasi hama yang “seragam” agar perkembangannya lebih mudah diamati dan pengendaliannya juga lebih mudah dilakukan, 3) menghindari sumber serangan (dari tanaman yang tidak bertanam serempak), dan 4) mengencerkan populasi hama dan vektor virus per satuan luas (Arifin, 2011)

KESIMPULAN

1. Tikus sawah (Rattus argentiventer : Robb & Kloss) merupakan musuh utama petani di Indonesia baik dilapangan maupun ditempat penyimpanan hasil

2.    Salah satu pengendalian hama tikus yang ramah lingkungan adalah pemakaian pestisida alami dan penanaman secara serempak

3.    Kearifan local “Nundang Bineak” di Kabupaten Lebong merupakan prosesi ritual yang bertujuan untuk melakukan penanaman secara serempak yang mengunakan pestisida alami  (campuran ramuan rebung kuning, kunyit busuk, buah pinang dan kendur)  

SARAN

1.    Perlu menghidupkan kembali atau menggali kearifan local-kearifan local  yang sudah mulai dilupakan oleh masyarakat  di Kabupaten Lebong

2.    Perlu mengenalkan secara dini tentang kearifan local Nundang Bineak kepada anak-anak

3.    Perlu adanya kerjasama antara pemerintah Kabupaten Lebong dengan pemuka adat, pemuka masyarakat untuk lebih giat menerapkan kegiatan kearifan local “Nundang Bineak” dalam usahatani Tanaman padi

DAFTAR PUSTAKA

Anonim,  2012..  http:// diperta.jabar. prop.go.id/index.php/submenu/1065.Diakses tanggal   15-3-2013

——-   http//binsum.com/2011/02. penanggulangan hama tikus-dalam-usaha-budidaya-pertanian

Arifin, K. 1995. Beberapa langkah usaha dalam pencegahan dan pengendalian hama tikus, Balai Informasi Pertanian. Bandung

——-,M.2011. 78. Hama Utama Tanaman Kacang Tanah: Bioekologi dan Cara Penanggulangannya. Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan (Balitbio). Sukabumi

Baharudin, E. 2012. Kearifan Lokal, Pengetahuan Lokal dan Degradasi Lingkungan. Fakultas  Ilmu Komunikasi – Universitas Esa Unggul, Jakarta

Boeadi, 1979. Morphologi Tikus. Prosiding Lokakarya Pengendalian Hama Tikus. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. Jakarta.

Djuwarsono, T. 1992. Bioekologi, Serangan dan Pengendalian Lalat Kacang. Balai Penelitian Tanaman   Pangan . Malang

Hardjowigeno, S. 1995. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta.

Harahaf, J.S. 1994. Hama Palawija. Penerbit Swadaya Jakarta

Muchrodji, Santosa Y, Mustari AH. 2006. Prospek Penggunaan Sarcocystis Singaporensis Untuk Pengendalian Biologis Populasi Tikus Sawah (Rattus argentiventer). Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan IPB.Bogor.

Nurhasanah, N.F. 2010. Lingkungan dan Kearifan Lokal. Fakultas Syariah dan Hukum. Bandung

 

PENGARUH JENIS PUPUK ORGANIK PADAT DAN CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN MELON (CUCUMIS MELO L.)

DI POLYBAG

Oleh :

Heniyati Hawalid

(Dosen PNSD pada Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Palembang)

 

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pengaruh jenis pupuk organik padat dan cair terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman melon (Cucumis melo L) di Polybag dan dilaksanakan pada bulan Agustus sampai November 2012. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 9 kombinasi perlakuan yang di ulang sebanyak 3 kali dengan 3 tanaman contoh. Perlakuan pertama adalah jenis pupuk organik padat (P) yaitu : Pupuk Kandang kotran sapi 250 g/polybag (P1), pupuk organik plus 300 g /Polibag (P2), Pupuk kompos rumput-rumputan 250 g/polybag (P3). Sedangkan Perlakuan kedua adalah jenis pupuk organik cair (C) yaitu : pupuk organik cair hewani 200 ml/2l air (C1), pupuk organik cair nabati 200 ml/2l air (C2), pupuk organik cair campuran nabati + hewani 200 ml/2l air (C3).

PENDAHULUAN

Melon (Cucumis melo L.) merupakan salah satu jenis buah-buahan yang makin populer di dunia. Permintaan masyarakat terhadap  buah melon semakin lama semakin meningkat. Dengan permintaan melon yang semakin meningkat, maka untuk memenuhi kebutuhan konsumen, baik dalam segi kualitas maupun kuantitas, perlu dilakukan peningkatan produksi. Salah satu upaya peningkatan hasil yang dapat dilakukan adalah melalui pemupukan.. Cahyono (2008), menjelaskan bahwa pemupukan dalam budidaya tanaman merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan produksi. Dewasa ini pemupukan yang ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan melalui sistem pertanian organik. Budidaya tanaman dilakukan dengan cara pemakaian pupuk organik dan pestisida organik. Pupuk organik merupakan hasil akhir dari penguraian sisa-sisa (serasah) tanaman dan binatang, misalnya pupuk kandang, pupuk hijau, kompos, bungkil, guano, tepung tulang dan lain sebagainya. Pupuk organik mampu memperbaiki struktur lapisan permukaan tanah (top soil), meningkatkan jasad renik, mempertinggi daya serap dan daya simpan air, sehingga kesuburan tanah meningkat (Yuliarti, 2009).

Pupuk organik mempunyai kandungan hara yang rendah dan dipergunakan terutama untuk kesuburan fisik tanah supaya gembur (strukturnya baik). Susunan unsur rata-rata untuk pupuk kandang sekitar 0,5% N, 0,25% P2O5 dan 0,5% K2O atau dalam 1 ton pupuk kandang terdapat 5 kg N, 2½ kg P2O5 dan 5 kg K2O. Sedangkan, unsur yang terdapat dalam 1 ton jerami padi dalam bentuk kompos memberikan 22 kg N dan 43 kg K2O ditambah unsur-unsur lainnya (Departemen Pertanian, 2010).

Menurut Nurhidayat (2009) Untuk meningkatkan kandungan hara pada pupuk organik dapat ditambahkan mineral pupuk anorganik dan mineral alami, yang merupakan usaha manifulasi dari sifat pupuk organik dikenal sebagai pupuk organik plus. Pupuk organik plus merupakan pupuk organik limbah pertanian yang dilengkapi dengan pupuk anorganik dan bahan mineral alami. Penambahan bahan mineral alami yaitu tepung darah menambah unsur N dan P, tepung tulang menambah K dan Ca dan tepung cangkang menambah Ca. Pupuk organik yang ditambahkan tepung tulang,tepung darah, dan mineral batubara alami disebut dengan pupuk organik plus. Hasil penelitian Syafrullah (2010), pada budidaya tanaman padi dengan menggunakan pupuk organik plus dosis 750 kg/ha dapat meningkatkan produksi sebesar 6,77 ton/ha. Urine sapi merupakan komoditi yang berharga karena urine sapi mengandung unsur Nitrogen yang tinggi,oleh karena itu sudah banyak petani yang mengolah dan menggunakan urine sapi sebagai pupuk organik yang ekonomis dan menguntungkan (Phrimantoro, 2004). Kelebihan dari pupuk cair organik adalah dapat secara cepat mengatasi defesiensi hara, tidak bermasalah dalam pencucian hara dan mampu menyediakan hara secara cepat. Dibandingkan dengan pupuk cair anorganik, pupuk organik cair umumnya tidak merusak tanah dan tanaman walaupun sesering mungkin digunakan. Selain itu, pupuk ini juga memiliki bahan pengikat, sehingga larutan pupuk yang diberikan ke permukaan tanah bisa langsung digunakan oleh tanaman khususnya tanaman melon (Purwendro dan Nurhidayat, 2007).

Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan penelitian tentang pengaruh jenis pupuk organik padat dan jenis pupuk organik cair terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman melon (Cucumis melo.L) di polybag.

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan  takaran pupuk organik padat dan cair terhadap pertumbuhan tanaman melon (Cucumis melo L.) di polybag.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini telah dilaksanakan di pekarangan kebun salah satu warga jalan Jakabaring Palembang, dari bulan Agustus sampai November 2012

Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak kelompok (RAK) Faktorial dengan 9 kombinasi yang diulang 3 kali, serta dengan 3 tanaman contoh. Perlakuan pertama adalah jenis pupuk organik padat (P) yaitu : Pupuk Kandang kotran sapi 250 g/polybag (P1), pupuk organik plus 300 g /Polibag (P2), Pupuk kompos rumput-rumputan 250 g/polybag (P3). Sedangkan Perlakuan kedua adalah jenis pupuk organik cair (C) yaitu : pupuk organik cair hewani 200 ml/2l air (C1), pupuk organik cair nabati 200 ml/2l air (C2), pupuk organik cair campuran nabati + hewani 200 ml/2l air (C3).

1. Pebuatan pupuk organik padat dan pembuatan pupuk organik plus, 2. Pembuatan pupuk organik cair nabati, 3. Pembuatan pupuk organik hewani, 4. Persiapan media tanam, 5. Persiapan benih, 6. Persemaian benih, 7. Penanaman, 8. Pemupukan, 9. Perlakuan pupuk cair, 10. Pemeliharan, 11. Panen.

Peubah  yang Diamati

1. Panjang tanaman (cm), 2. Jumlah daun (helai), 3. Umur berbunga (Hst), 4. Berat buah  per tanaman (kg), 5. Berat berangkasan basah, 6. Kadar gula buah (̊ brix).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian berdasarkan tabulasi dapat dilihat pada Tabel 1, dan BNJ dapat dilihat pada Tabel 2 serta pada Tabel 3.

Tabel 1. Pengaruh Jenis Pupuk Organik Padat dan Jenis Pupuk Organik Cair

Terhadap Semua Peubah Yang Diamati

 

 

Perlakuan

Peubah yang diamati
Panjang Tanaman(cm) Jumlah Daun (helai) Umur Berbunga(hst) Berat Berangkasan Basah (g) Berat Buah (kg) Kadar Gula (brix)
P1 232,55 23,95 22,25 425,25 1,33 16,71
P2 245,00 24,30 21,61 445,66 1,75 18,68
P3 229,53 22,85 22,36 418,88 1,23 16,11
C1 235,33 24,33 22,10 433,33 1,38 16,66
C2 232,88 23,22 22,18 414,22 1,42 16,70
C3 238,99 24,66 22,97 442,44 1,54 16,75
P1C1 231,00 24,18 22,22 430,00 1,25 16,48
P1C2 234,00 23,11 22,33 420,00 1,26 16,18
P1C3 232,66 23,99 22,21 426,66 1,50 17,47
P2C1 247,00 24,22 21,66 443,33 1,63 18,23
P2C2 237,00 24,22 21,17 436,66 1,81 18,63
P2C3 251,33 24,66 21,43 456,66 1,83 19,21
P3C1 228,00 24,66 22,44 426,66 1,26 15,76
P3C2 227,66 22,33 22,44 386,66 1,20 15,55
P3C3 233,00 23,55 22,55 443,33 1,70 17,03

Tabel 2. Pengaruh Pupuk Organik Padat Terhadap Umur Berbunga, Berat Buah, dan Kadar Gula Buah Melon.

 

Perlakuan

Peubah yang diamati
Umur Berbunga(hst) Berat Buah (kg) Kadar Gula (brix)
P1 22,25 b 1,33 a 16,71 a
P2 21,61 a 1,75 b 18,68 b
P3 22,36 b 1,23 a 16,11 a

Keterangan : Angka-angka diikuti oleh huruf yang sama berarti berbeda tidak nyata.

Tabel 3.  Pengaruh Jenis  Pupuk Organik Cair Terhadap Kadar Gula (0brix) Buah Melon.

Perlakuan Rata-rata F-tabel
0,05 = 1,08 0,01 = 1,42
C1 

C2

C3

16,96 

16,75

17,71

a

a

A

A

Keterangan : Angka-angka diikuti oleh huruf yang sama berarti berbeda tidak nyata.

Hasil analisis tanah Laboratorium Kimia, Biologi dan Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya (2012), sebelum penelitian menunjukkan bahwa pH 5,40 (masam) dengan kandungan C-Organik 0,30 % (sangat rendah), N-Total 0,03 % (sangat rendah), P-Bray 19,05 ppm (sedang), K-dd 0,32 me/100g (sangat rendah), dan KTK 0,35 me/100g ( sangat rendah ). Tekstur tanah memiliki kandungan pasir 40,65%, debu 42,55% dan liat 21,80% dan tergolong tanah bertekstur lempung berpasir. Tanah tersebut tergolong pH rendah (masam), dan kesuburan tanah tergolong rendah lainnya.

Dari hasil penelitian terlihat secara statistik hasil analisis keragaman pada semua peubah yang diamati yaitu, panjang tanaman, jumlah daun, umur berbunga, berat berangkasan basah, berat buah, dan kadar gula, terlihat pada semua perlakuan jenis pupuk organik padat, jenis pupuk organik cair dan interaksinya menunjukan hasil yang tidak nyata, kecuali pada perlakuan jenis pupuk padat berpengaruh nyata pada peubah umur berbunga dan berpengaruh sangat nyata pada peubah berat buah dan kadar gula. Pada perlakuan jenis pupuk organik cair berpengaruh nyata pada kadar gula dan interaksi perlakuan berpengaruh tidak nyata pada semua peubah yang diteliti.

Walaupun secara statistik hasil analisis keragaman berpengaruh tidak nyata maka dibuatlah tabel data, peubah yang diamati secara tabulasi menunjukan nilai tertinggi ada pada perlakuan jenis pupuk organik plus (P2) dan jenis pupuk organik campuran hewani + nabati (C3). Serta interaksinya pada kombinasi perlakuan jenis pupuk organik plus dan pupuk organik cair campuran nabati + hewani (P2C3), seperti tertera pada tabel 3 diatas.

Hal ini diduga karena pupuk organik plus mengandung unsur hara yang lebih tinggi,baik makro maupun mikro sebagai pupuk yang berimbang dan lengkap dibandingkan dengan pupuk kotoran sapi dan kompos rumput-rumputan, ini terlihat dari hasil analisis kimia pupuk oragnik plus, yaitu mengandung unsur hara N = 8,05 %, P = 5,11 % dan K = 4,00 %, sedangkan pupuk kandang sapi N = 2,28 %, P = 0,37 %, dan K = 0,50 %, dan unsur hara pada kompos rumput-rumputan adalah N = 1,02 %, P = 0,20 %, dan K = 0,39 %. Adanya perbedaan kandungan unsur hara makro N,P,K inilah yang menyebabkan adanya perbedaan pertumbuhan dan produksi tanamn.

Ini sejalan dengan pendapat Hanafiah, (2005), bahwa unsur hara makro, yaitu Nitrogen, Posfor dan Kalium yang cukup tersedia dalam tanah akan dapat meningkatkan produksi dan pertumbuhan tanaman. Menurut Hukum Minum Leibig, bahwa jika salah satu unsur hara yang tersedia dalam keadaan minimum maka unsur hara tersebut merupakan faktor pembatas yang akan meng hambat pertumbuhan tanaman (Winarso,2005). Disamping itu pupuk organik plus juga dapat memperbaiki sifat fisik tanah terutama dalam hal memperbaiki struktur tanah sehingga aerase dan drainase tanah menjadi lebih baik, karena mampu meningkatkan jumlah pori – pori tanah. Dengan baiknya aerase dan drainase maka jumlah oksigen lebih banyak dan kemampuan tanah menahan air lebih tinggi.Sejalan dengan pendapat Rao (2008), bahwa bahan organik penting untuk pembentukkan agregat tanah dan juga untuk pembentukkan struktur tanah. Bahan organik juga membantu  dalam konservasi hara tanah dengan  mencegah erosi dari permukaan tanah.

Disamping itu, kecilnya perbedaan hasil pada peubah yang diamati dalam penelitian karena umur tanaman yang ditanam dalam penelitian ini adalah tanaman hortikultura yang mempengaruhi umur panen 60 sampai 70 hari, sedangkan pengaruh pupuk organik umumnya bersifat lambat tersedia (Slow release) sehingga membutuhkan waktu untuk melepas unsur hara yang optimal lebih lama. Lebih lanjut dijelaskan bahwa, ketersedian unsur hara sangat mempengaruhi jumlah hara yang diserap oleh tanaman. Hal ini sependapat dengan Phrimantoro (2004) serta Winarso (2005), yang menyatakan bahwa respon tanaman terhadap pemberian pupuk akan meningkat bila menggunakan jenis pupuk dan dosis yang tepat. Hal ini sejalan dengan pendapat Winarso, (2005), bahwa ketersediaan unsur hara esensial dalam tanah sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Lebih lanjut dijelaskan oleh Lakitan, (1996) bahwa banyaknya nutrisi dalam tanah yang dapat diserap tanaman tergantung dari umur tanaman, tanaman yang berumur panjang akan menyerap nutrisi lebih banyak dari tanaman yang berumur pendek, seperti tanamn tahunan berbeda dengan tanaman semusim. Pupuk organik plus diberikan pada tanah sedangkan pupuk organik cair campuran nabati + hewani yang di berikan lewat media daun sebagai pelengkap unsur hara di tanah. Kondisi ini menyebabkan tanaman memperoleh makanan yang cukup sesuai dengan kebutuhan tanaman. Menurut Hanafiah (2005), indikator kondisi fisik tanah dan nutrisi yang disediakan tanah dicerminkan oleh kualitas pertumbuhan dan produksi tanaman yang tumbuh di atasnya. Dalam keadaan optimal tanaman akan tumbuh dan berproduksi maksimal. Ditambahkan Winarso (2005), bahwa tingkat kandungan unsur hara di bawah optimum akan mengakibatkan rendahnya respon pertumbuhan tanaman, walaupun frekuensi pemberian tepat namun karena zat terlarutnya rendah, maka kebutuhan makanan menjadi kurang terpenuhi.

KESIMPULAN

  1. Perlakuan pupuk organik plus memberi pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman melon (Cucumis melo L.), di polybag.
  2. Perlakuan pupuk organik cair campuran nabati + hewani secara tabulasi  berpengaruh terbaik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman melon (Cucumis melo L.) di polybag.
  3. Kombinasi/interaksi pemberian pupuk organik plus dan pupuk organik cair campuran nabati + hewani Secara tabulasi berpengaruh terbaik terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman melon (Cucumis melo L.) di polybag.

DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, B. 2008.Usaha Tani dan Penanganan Pascapanen. Aneka. Solo

Departemen Pertanian.2010.Kandungan Unsur-Unsur Hara Pada Pupuk. Badan Pengendali Bimas.Jakarta

Hanafiah, K.A, 2005. Dasar- Dasar Ilmu Tanah. Jakarta : PT. Raja Grafrindo Persada

Lakitan, B. 1996. Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. Raja Grafindo Persada. Jakarta

Nurhidayat dan Purwendo. S. 2009. Memanfaatkan Sampah untuk pupuk organic.    Penebar Swadaya. Jakarta.

Phrimantoro, R.2004. Manfaat Urine Ternak Sebagai Pupuk Ternak. Jawa barat.

Purwendo Dan Nurhidayat. S. 2007. Menghasilkan Sampah untuk pupuk dan pestisida organic. Penebar Swadaya. Jakarta.

Rao, S. 2008. Mikroba Tanah dan Pertumbuhan Tanaman, Universitas Indonesia Press, Jakarta.

Syafrullah. 2010. Sistem Pertanian Organik : Penerapannya pada Tanaman Padi, Sayuran dan Sistem Pertanian Organik Terpadu dalam Pengembangan Desa Organik. Buku Ajar FP-UMP. Palembang.

Winarso, S. 2005. Kesuburan Tanah : Dasar Kesehatan Dan Kualitas Tanah. Gava Media,Yogyakarta.

Yuliarti, N. 2009. Cara Menghasilkan Pupuk Organik. Andi. Ygyakarta.

 

ANALISIS PENDAPATAN USAHA TERNAK AYAM BURGO

DI PROVINSI BENGKULU

 


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>