HARGA POKOK, IMPAS, DAN PROFITABILITAS USAHATANI CABE MERAH (Capsicum annum L) DI DESA SUMBER URIP KECAMATAN SELUPU REJANG KABUPATEN REJANG LEBONG

 

ABSTRACT

The research  objective were counting cost of good sold at red-pepper farming, break event point at red-pepper farming, and profitability of at red-pepper farming. Determining of place was specified intentionally that was in Sumber Urip village, Selupu Rejang subdistrict, Rejang Lebong regency, where determining of respondents were taken by simple random sampling method, there were 95 respondents who planted red pepper, while the marketing agency respondents are taken by snowball sampling method.The result showed that cost of goog sold in red pepper farming was about Rp 2.901,197 per kg, break event point value is 29,24 kg with sale value Rp. 238.741,2 and profitability is 64%

Keywords: red chili, cost of good sold, break event point, profitability

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung harga pokok, break event point, dan profitabilitas pada cabe merah. Menentukan tempat ditentukan sengaja yang berada di Desa Sumber Urip, Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong, di mana penentuan responden diambil dengan metode simple random sampling, ada 95 responden yang menanam cabai merah, sedangkan responden agen pemasaran tersebut diambil dengan menggunakan snowball sampling metode. Hasil penelitian biaya  usahatani cabai merah Rp 2.901,197 per kg, titik impas adalah 29,24 kg nilai jual Rp. 238.741,2 dan profitabilitasnya  adalah 64%

Kata kunci: cabai merah, harga pokok penjualan, profitabilitas

PENDAHULUAN

Cabe atau lombok, merupakan komoditas prospektif yang dapat diandalkan untuk dibudidayakan dalam berbagai skala usaha. Cabe dapat dijadikan komoditas pilihan usahatani karena cabe memiliki banyak keunggulan, diantaranya memiliki nilai ekonomis yang tinggi, multiguna dalam kehidupan sehari-hari, memiliki wilayah pemasaran yang cukup baik, merupakan komoditas yang dapat dijual dalam berbagai bentuk produk, misalnya cabe segar, cabe beku, dan bermacam produk cabe olahan, merupakan komoditas yang hemat lahan karena untuk dapat meningkatkan produksinya dilakukan dengan mengutamakan teknologi, merupakan komoditas yang dapat ditanam pada berbagai lahan, misalnya sawah, tegalan; tempat dengan luas lahan terbatas (pot, polibag, serta wadah bekas lainnya), merupakan komoditas yang dapat ditanam pada berbagai kondisi musim, dan merupakan komoditas yang dapat ditanam pada berbagai lingkungan tumbuh, misalnya di daerah pinggir laut, dataran menengah, dan pegungungan (Rukmana, 2002). Di Kabupaten Rejang Lebong  tanaman cabe juga merupakan  komoditas unggulan. Tanaman cabe yang umumnya dibudidayakan adalah cabe merah terutama di daerah Kecamatan Selupu Rejang, salah satunya yaitu di desa Sumber Urip dimana daerah tersebut merupakan daerah sentra cabe merah di Kabupaten Rejang Lebong. Sebagian besar mata pencaharian penduduk di Desa Sumber Urip adalah sebagai petani, hal ini didukung oleh keadaan alamnya yang cocok untuk lahan pertanian tanaman sayuran (Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Rejang Lebong, 2009).

Disamping prospektif dan menguntungkan usahatani cabe juga memiliki resiko yang besar. Tanaman cabe adalah tanaman semusim yang harganya tidak stabil atau sangat fluktuatif, hal ini disebabkan oleh sebaran produksinya yang tidak merata sepanjang tahun di seluruh daerah. Di suatu daerah harga cabe tinggi sekali dan di daerah lain harga murah sekali..Harga ini masih tetap menjadi beban yang resiko terbesar ditanggung petani. Petani selalu menghadapi harga yang sangat berfluktuatif, sedangkan harga input seperti bibit, pupuk, pestisida, dan mulsa dapat dipastikan selalu naik secara mantap (Setiadi, 2006). Walaupun demikian, pada saat-saat tertentu cabe dapat melonjak naik sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi petani. Lonjakan ini dapat disebabkan oleh gangguan musim dan hari raya tertentu. Kenaikan harga tersebut dapat berlipat ganda kalau saat gangguan musim terjadi bersamaan dan berdekatan dengan perayaan hari raya. Harga cabe di beberapa kota besar, pada umumnya meningkat pada bulan Oktober-Desember dan Pebruari-April, hal ini sesuai dengan kenyataan pada bulan-bulan tersebut adalah hujan lebat yang menyebabkan produksi menurun sementara permintaan selalu bertambah (Sunaryano,1999)

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang harga pokok, titik impas, dan profitabilitas usaha tani cabe merah di Desa Sumber Urip Kabupaten Rejang Lebong yang dilaksanakan pada bulan Januari-Juni 2009.

Adapun tujuan dari penelitian ini untuk menghitung besarnya harga pokok, titik impas, dan profitabilitas usahatani cabe merah di desa Sumber Urip Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian dilakukan dengan sengaja (purposive) di desa Sumber Urip kecamatan Selupu Rejang kabupaten Rejang Lebong, tepatnya di kaki Bukit Kaba. Penentuan responden dilakukan dengan metode Simple Random Sampling yaitu pengambilan responden secara acak, dimana tiap unit populasi memiliki peluang/kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi responden (Nazir, 1998). Responden dalam penelitian ini adalah petani cabe merah yang melakukan usahatani cabe merah di desa Sumber Urip kecamatan Selupu Rejang kabupaten Rejang Lebong pada musim tanam Januari 2009–Juni 2009. Responden dalam penelitian ini diambil sebanyak 95 responden dari total populasi yaitu 149 petani. Sementara untuk mendapat data mengenai saluran dan lembaga pemasaran metode yang digunakan dalam penentuan responden adalah snowball sampling. Dimana penentuan responden berdasarkan informasi yang diperoleh dari petani cabe merah. Dari produsen diperoleh informasi tentang jumlah pedagang pengumpul atau pedagang pengecer yang membeli produk mereka sehingga sampai ke konsumen.

Untuk mengetahui besarnya harga pokok produksi digunakan rumus (Sugiri, 2009)

Untuk menghitung Break Event Point digunakan rumus sebagai berikut :

Dimana :

Margin kontribusi  (Rupiah)  = Penjualan – Biaya  variabel

Menghitung Profitabilitas usahatani cabe merah digunakan rumus :

p   (%)                       =  MOS (%) X MIR (%)

dimana :  p  = Kemampuan Memperoleh Laba (%)

MOS(%) =

MIR (%)  =

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Responden

Umur

Persentase terbesar umur petani cabe merah berada pada kisaran 36 tahun sampai dengan 52 tahun dengan persentase sebesar 54%, ini berarti bahwa sebagian besar petani cabe merah berada pada usia produktif. Mubyarto (1989)  menyatakan bahwa petani yang berada pada usia produktif yaitu usianya berkisar antara 15-64 tahun. Mubyarto (1989) juga mengatakan bahwa petani yang berada pada usia produktif akan memberikan hasil kerja yang maksimal jika dibandingkan usia yang tidak produktif. Karena pada usia produktif ini, seseorang mempunyai kemampuan yang  baik dalam berpikir dan bertindak untuk merencanakan suatu kegiatan usahatani. Petani cabe merah yang berada pada usia produktif diharapkan mampu secara optimal memanajemen kegiatan usahataninya, mengkombinasikan penggunaan input yang efektif dan efisien, serta bisa menghasilkan produksi yang optimal.

Tingkat Pendidikan

Rata-rata tingkat pendidikan yang pernah ditempuh oleh petani cabe merah di daerah penelitian relatif rendah yaitu hanya 7,83 tahun dengan kisaran 5-12 tahun. Persentase tingkat pendidikan petani terbesar berada pada tingkat pendidikan (< 7 tahun) yaitu sebesar 55,78 %. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat petani masih berada pada tingkat SD. Dengan kondisi tingkat pendidikan yang masih rendah ini secara tidak langsung mempengaruhi pengetahuan dan tingkat adopsi inovasi petani yang berkaitan dengan usahatani cabe merah. Hasil penelitian sejalan dengan pendapat Soekartawi (1995) yang menyatakan pendidikan yang rendah menjadi kendala dalam proses adopsi  inovasi teknologi dan sebaliknya pendidikan yang tinggi berpengaruh terhadap cepatnya tingkat adopsi inovasi yang diterima oleh petani.

Jumlah Tanggungan Keluarga

Persentase jumlah tanggungan keluarga petani cabe merah di derah penelitian rata-rata 2,75 dengan kisaran 1-5 orang. Jumlah tanggungan keluarga pada kisaran 2-3 orang sebesar 66,32 %, jumlah tanggungan keluarga < 2 orang dan tanggungan keluarga > 3 orang persentasenya masing-masing sebesar 10,53 % dan 23,16 %. Menurut Nahriyanti (2008) jumlah anggota keluarga petani akan berpengaruh bagi petani dalam perencanaan dan pengambilan keputusan petani dalam hal usahataninya, karena anggota keluarga petani dapat merupakan sumber tenaga kerja dalam kegiatan usahatani terutama anggota keluarga yang produktif.

Pengalaman Usahatani Cabe Merah

Pengalaman usahatani cabe merah < 16 tahun dengan persentase 36,84 %, 16-30 tahun dengan persentase 47,37 % dan > 30 tahun dengan 15,79 %. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata pengalaman usahatani cabe merah sebesar 19,63 tahun dengan kisaran 2-45 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum pengalaman dalam usahatani cabe merah sudah cukup lama karena pada daerah penelitian tersebut usahatani cabe merah merupakan mata pencaharian pokok dan dominan dilakukan disana. Pengalaman dalam usahatani cabe merah dapat digunakan petani dalam pengambilan keputusan yang akan dilakukan pada musim berikutnya yang bertujuan untuk mencapai suatu keberhasilan dalam kegiatan ushatani cabe merah yang dijalankan.

Luas Lahan Cabe Merah

Luas lahan usahatani cabe merah di daerah penelitian yang dimiliki petani < 0,41 ha yaitu dengan persentase sebesar 53,68 % sedangkan luasan lahan 0,41-0,7 ha dan > 0,7 ha masing-masing dengan persentase sebesar 28,42 % dan 17,90 %. Sejalan dengan pendapat Hernanto (1989), adanya kriteria pembagian golongan kepemilikan lahan oleh petani menjadi empat golongan: a) golongan petani luas (> 2 Ha), b) golongan petani sedang (0,5 – 2 Ha), c) golongan petani sempit (< 0,5 Ha) dan d) golongan buruh tani tidak berlahan. Maka jumlah petani cabe merah di daerah penelitian berdasarkan luas lahan secara umum termasuk ke dalam golongan petani sempit.

 

Penggunaan dan Biaya Produksi Usahatani Cabe Merah

Dalam berusahatani diperlukan berbagai macam input, untuk mendapatkan input tersebut diperlukan biaya produksi. Biaya-biaya yang dikeluarkan petani dalam berusahatani cabe merah terdiri dari biaya variabel dan biaya tetap. Biaya variabel terdiri  dari biaya benih, pupuk, pestisida, tenaga kerja dalam keluarga, tenaga kerja luar keluarga, dan mulsa. Sedangkan biaya tetap terdiri dari biaya penyusutan alat-alat pertanian dan pajak lahan.

Biaya Variabel

Penggunaan dan Biaya Benih

Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa benih yang ditanam petani merupakan benih cabe hibrida atau lado, benih didapatkan dengan cara membeli baik di Kios, Pasar dan lainnya. Benih tersebut dibeli petani dengan rata-rata harga Rp. 14.6473,68/Kg. Rata-rata penggunaan benih cabe merah di daerah penelitian adalah sebanyak 0,08 Kg/Ut. Adanya perbedaan besarnya penggunaan benih oleh masing-masing petani disesuaikan dengan kondisi lahan dan modal petani. Disamping itu juga karena adanya perbedaan luas lahan usahatani cabe merah. Data rata-rata jumlah penggunaan dan biaya benih dapat dilihat pada Tabel 1

Tabel 1 . Rata-Rata Jumlah Penggunaan Benih dan Biaya Benih Usahatani Cabe Merah di Desa Sumber Urip.

Uraian Jumlah
Penggunaan Benih (Kg)  Harga (Rp/Kg) Biaya Benih (Rp) 0,08  14.647.368,42 1.138.947,37

Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa penggunaan benih adalah 0,08 kg per usahatani dan rata-rata biaya yang dikeluarkan petani untuk membeli benih adalah sebesar Rp. 1.138.947,37 per usahatani

Penggunaan dan Biaya Pupuk

Maksud pemupukan adalah memberikan unsur-unsur hara yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman cabe, karena unsur hara tersebut tidak cukup tersedia dalam tanah. Unsur-unsur-unsur hara ini terikat dalam senyawa kimia yang disebut pupuk. Ada 2 macam pupuk yang biasa digunakan dalam pertanian ialah pupuk organik dan anorganik. Pemberian pupuk sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabe merah yang pada akhirnya akan meningkatkan produksi. Agar menghasilkan produksi yang diinginkan, maka petani harus memperhatikan kebutuhan apa yang diperlukan tanaman agar dapat tumbuh dengan subur. Jenis pupuk yang digunakan oleh petani di Desa Sumber Urip adalah pupuk ZA, Phonska, TSP, Kandang. Rata-rata jumlah penggunaan dan biaya yang dikeluarkan petani untuk pembelian pupuk dapat dilihat pada Tabel 2

Tabel 2.     Rata-Rata Jumlah Penggunaan dan Biaya Pupuk Usahatani Cabe Merah di Desa Sumber Urip.

Jenis Pupuk Jumlah (Kg/Ut/Mt) Total Biaya (Rp/Ut/Mt)
ZA 109,00 192.894,74
Phonska 131,84 389.736,84
TSP 135,26 270.894,74
Kandang 3.373,16 810.642,11
Jumlah 3.749,26 1.664.168,43

Dari Tabel 2 dapat dilihat bahwa rata-rata jumlah penggunaan pupuk adalah sebanyak 3.749,26 Kg/Ut/Mt, dan rata-rata biaya pupuk yang dikeluarkan petani untuk usahatani cabe merah adalah sebesar Rp 1.664.168,43/Ut/Mt. Biaya paling besar yang dikeluarkan petani diantara jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang, yaitu sebesar Rp 810.642,11/Ut/Mt (48,71%) dari total biaya pupuk. Pupuk kandang merupakan jenis pupuk yang banyak digunakan petani pada saat penelitian.

Penggunaan dan Biaya Pestisida

Pemberantasan hama dan penyakit pada usahatani cabe merupakan salah satu pemeliharaan tanaman yang cukup penting. Banyak jenis hama serangga dan kutu daun yang sangat membahayakan kesehatan tanaman dan bahkan dapat menggagalkan pembuahannya. Serangan hama dan penyakit tersebut dapat dicegah atau diperkecil dengan semprotan pestisida. Pemberian pestisida bertujuan untuk membasmi gulma, hama dan penyakit yang menyerang tanaman. Pemberian pestisida harus diberikan secara tepat, baik waktu pemberian, jenis pestisida dan dosisnya sehingga dapat dicapai keberhasilan usahatani dan dapat mengurangi risiko kegagalan panen. Adapun jenis pestisida yang digunakan adalah Dursban dan Ditane. Rata-rata jumlah penggunaan dan biaya yang dikeluarkan petani untuk pembelian pestisida dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Rata-Rata Jumlah Penggunaan dan Biaya Pestisida Usahatani            Cabe Merah di Desa Sumber Urip.

Uraian Jumlah Rata-rata biaya (Rp/UT/MT)
P.Dursban (Liter/Ut/Mt) 1,34 116.505,26
P.Ditane (Kg/Ut/Mt) 3,61 239.568,42
Jumlah 4,95 356.073,68

Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa rata-rata biaya yang dikeluarkan petani untuk membeli pestisida adalah sebesar Rp 356.073,68 per usahatani

Penggunaan dan Biaya Mulsa

Penggunaan mulsa juga merupakan salah satu hal yang penting dalam meningkatkan produksi usahatani cabe merah, adapun salah satu fungsi mulsa yaitu untuk menekan pertumbuhan gulma dan menjaga kelembaban tanah. Dengan adanya bahan mulsa di atas permukaan tanah, benih gulma tidak mendapatkan sinar matahari. Kalaupun ada sinar matahari, pertumbuhan gulma akan sangat terhalang. Akibatnya tanaman yang ditanam akan bebas tumbuh tanpa kompetisi dengan gulma dalam penyerapan hara mineral tanah. (Umboh, 2002). Rata-rata jumlah penggunaan dan biaya yang dikeluarkan petani untuk pembelian pestisida dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Rata-Rata Jumlah Penggunaan dan Biaya Mulsa Usahatani Cabe Merah di Desa Sumber Urip.

Uraian Jumlah (Gulung/Mt) Rata-rata biaya(Rp/Ut/Mt)
Mulsa Perak Hitam 4,28 1.906.421,05
Jumlah 4,28 1.906.421,05

Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa rata-rata biaya yang dikeluarkan petani untuk membeli mulsa adalah sebesar Rp 1.906.421,05 per usahatani.

Penggunaan dan Biaya Tenaga Kerja

Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang sangat penting dalam usahatani, disamping benih, pupuk, pestisida dan alat-alat pertanian. Input tenaga kerja berperan sebagai pengelola atau sebagai penggerak input lainnya untuk menghasilkan produksi. Tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani cabe merah berasal dari dalam keluarga dan luar keluarga, tenaga kerja yang digunakan mencakup tenaga kerja pria dan wanita. Tenaga kerja pria digunakan mulai dari kegiatan persemaian, pengolahan lahan, penanaman, penyulaman, pemupukan, penyemprotan hama dan penyakit tanaman, penyiangan, pemanenan. Sementara tenaga kerja wanita sebagian besar hanya digunakan pada kegiatan persemaian, penanaman, penyulaman, pemupukan, penyiangan dan pemanenan. Untuk lebih jelasnya alokasi penggunaan tenaga kerja dan biaya untuk masing-masing kegiatan usahatani cabe merah dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5.    Rata-Rata Jumlah Penggunaan Tenaga Kerja Dalam dan Luar Keluarga Usahatani Cabe  Merah di Desa Sumber Urip.

Uraian Jumlah Rata-rata biaya (Rp/Ut/Mt)
Tenaga Kerja Dalam Keluarga 1.498.147,37
Tenaga Kerja Luar Keluarga 2.039.407,89
Jumlah 3.537.555,26

 

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui rata-rata biaya tenaga kerja dalam keluarga yang dikeluarkan oleh petani cabe merah untuk satu kali musim tanam adalah sebesar Rp 1.498.147,37 per usahatani. Dan biaya rata-rata yang dikeluarkan untuk tenaga kerja luar keluarga adalah sebesar Rp 2.039.407,89 per usahatani

Biaya Tetap

Penggunaan Dan Biaya Penyusutan Peralatan

Alat-alat pertanian yang digunakan oleh petani dalam suatu kegiatan usahatani umumnya tidak habis dipakai dalam satu kali musim tanam, untuk itu perlu dihitung biaya penyusutannya. Jenis peralatan yang digunakan antara lain: cangkul, parang, sabit dan alat semprot. Perhitungan nilai penyusutan adalah harga awal dikurang harga akhir dibagi umur ekonomis, dalam perhitungan tersebut harga akhir diasumsikan bernilai nol.

Tabel 6. Rata-Rata Jumlah Biaya Penyusutan Peralatan Dalam Usahatani Cabe Merah di Desa Sumber Urip.

Jenis Alat Jumlah (unit) Rata-rata Biaya (Rp/Ut/Mt)
Cangkul 81.175,88
Parang 16.530,45
Sabit 23.674,56
Alat Semprot 31.713,16
Jumlah 153.094,05

Berdasarkan data Tabel 6 dapat diketahui bahwa rata-rata biaya yang dikeluarkan untuk penyusutan peralatan adalah sebesar Rp 153.094,05 per usahatani. Biaya penyusutan yang paling besar adalah penyusutan cangkul yaitu sebesar Rp 81.175,88 per usahatan.

Biaya Pajak Lahan

Lahan merupakan faktor produksi yang sangat penting dalam proses produksi usahatani. Lahan yang digunakan oleh petani dalam kegiatan usahatani cabe merah adalah lahan milik sendiri. Oleh karena itu lahan yang ada dikenakan sejumlah pajak. Besarnya biaya pajak lahan yang dikeluarkan tergantung pada luas lahan. Rata-rata besranya biaya pajak lahan yang dikeluarkan oleh petani dalam usahatani cabe merah adalah sebesar Rp 2.311,05 per usahatani.

Total Biaya Usahatani Cabe Merah

Biaya total usahatani merupakan penjumlahan semua biaya, baik biaya tetap (FC) maupun biaya variabel (VC) selama kegiatan usahatani dalam satu kali musim tanam. Rata-rata total biaya dalam usahatani cabe merah adalah sebesar Rp 8.758.570,89/Ut/Mt. Untuk lebih jelasnya rata-rata biaya usahatani yang dikeluarkan oleh petani cabe merah di Desa Sumber Urip dapat dilihat pada Tabel 7

Tabel 7. Rata-Rata Total Biaya Produksi Usahatani Cabe Merah di Desa Sumber Urip

Jenis Biaya Rp/Ut/Mt %
Biaya Variabel Benih Pupuk : -  ZA -  Phonska -  TSP -  Kandang Total Biaya Pupuk Pestisida -    Dursban -    Ditane Total Biaya Pestisida Total Biaya Mulsa Tenaga Kerja Dalam Keluarga Tenaga Kerja Luar Keluarga Total Biaya Tenaga Kerja Biaya Tetap Biaya Penyusutan Alat Pajak Lahan 1.138.947,37 192.894,74                                 389.736,84 270.894,74                       810.642,11 1.664.168,43 116.505,26 239.568,42 356.073,68 1.906.421,05 1.498.147,37 2.039.407,89 3.537.555,26

153.094,05 2.311,05

13,00

19,00

4,06 21,77

40,39

1,75 0,03

Total 8.758.570,89 100

Dari Tabel 7 diketahui bahwa rata-rata total biaya yang dikeluarkan oleh petani cabe merah dalam satu kali musim tanam adalah sebesar Rp 8.758.570,89 per usahatani dan rata-rata biaya yang paling besar dikeluarkan oleh petani cabe merah adalah biaya tenaga kerja. Total biaya tenaga kerja jika dibandingkan dengan total biaya produksi usahatani cabe merah mencapai 40,39% per usahatani.

Besarnya biaya tenaga kerja tersebut dikarenakan untuk melakukan berbagai macam kegiatan usahatani cabe merah yang dibutuhkan oleh sejumlah tenaga kerja mulai dari persemaian sampai kegiatan panen.

Produksi dan Penerimaan Usahatani Cabe Merah

Dalam penelitian ini produksi cabe merah yang diukur adalah dalam bentuk cabe yang berwarna merah dengan satuan Kg.

Penerimaan usahatani merupakan perkalian antara produksi dengan harga jual cabe merah di Desa Sumber Urip. Dengan demikian jumlah penerimaan petani cabe merah dipengaruhi oleh jumlah produksi cabe merah yang dihasilkan dalam satu kali musim tanam serta harga produksi cabe merah yang berlaku pada musim tanam tersebut. Data rata-rata produksi, harga dan penerimaan dapat dilihat pada Tabel 8

Tabel 8.    Rata-Rata Produksi, Harga dan Penerimaan Usahatani Cabe Merah di Desa Sumber Urip

Uraian Jumlah (Rp/UT/MT)
Jumlah produksi (Kg/UT)  Harga (Rp/Kg) Penerimaan (Rp) 3.018,95  8.083,68 24.646.342,11

 

 

Rata-rata produksi usahatani cabe merah di derah penelitian dalam satu kali musim tanam adalah sebanyak 3.018,95 Kg per usahatani dengan rata-rata harga jual sebesar Rp 8.083,68. Rata-rata penerimaan usahatani cabe merah dalam satu kali musim tanam adalah sebesar Rp 24.646.342,11 per usahatani

Harga Pokok Produksi Usahatani Cabe Merah

Dalam analisis harga pokok diperlukan komponen biaya dan jumlah produksi. Biaya merupakan pengeluaran yang dikeluarkan oleh petani dalam kegiatan usahatani cabe merah sedangkan jumlah produksi adalah jumlah cabe yang dihasilkan oleh petani dalam satu kali musim tanam. Harga pokok produksi didapat dengan membagi antara total biaya produksi dengan jumlah produksi. Perhitungan harga pokok bertujuan untuk melihat perbandingan antara harga pokok dan harga jual, apakah harga pokok berada diatas atau dibawah harga jual serta mengetahui margin atau keuntungan dari usahatani cabe merah. Harga pokok yang rendah belum tentu memberikan keuntungan pada usahatani tetapi juga tergantung pada harga jual petani, volume produksi, dan biaya produksi. Apabila harga pokok rendah dan harga jual tinggi maka usahatani baru mendapatkan keuntungan dan sebaliknya jika harga pokok lebih besar dari harga jual maka usahatani mengalami kerugian. Semakin besar volume produksi maka akan semakin rendah harga pokok dan sebaliknya jika semakin kecil volume produksi maka semakin tinggi harga pokok. Begitu juga dengan biaya produksi, semakin besar biaya produksi maka semakin tinggi harga pokok produksi dan sebaliknya semakin kecil biaya produksi maka semakin kecil juga harga pokok produksi.

Tabel 9.    Perhitungan Harga Pokok Produksi Usahatani Cabe Merah per Kilogram di Desa Sumber Urip

Uraian Jumlah (Rp)
Total biaya produksi (Rp)  Total produksi (kg) Harga Pokok Produksi (Rp/Kg) 8.758.570,890  3.018,950 2.901,197

Dari hasil analisis data penelitian didapat harga pokok cabe merah adalah sebesar Rp. 2.901,197per kg. Harga ini lebih rendah dibandingkan dengan harga jual petani, yaitu Rp. 8.083,68/kg, hal ini menunjukkan bahwa petani mendapatkan keuntungan yang cukup besar dari kegiatan usahatani cabe yang mereka lakukan, dimana margin yang diterima petani sebesar Rp.  per kg artinya setiap penjualan satu kg cabe dengan harga jual Rp. 2.901,197 diperoleh keuntungan sebesar Rp. 5.182,483 per kg.

Titik Impas Usahatani

Analisis titik impas secara umum memberikan informasi bagaimanakah pola hubungan antara volume penjualan, ongkos (biaya) dan laba yang akan diperoleh pada tingkat harga tertentu. Titik impas juga menggambarkan kondisi bahwa hasil usahatani cabe merah yang diperoleh sama dengan modal yang dikeluarkan oleh petani. Dalam kondisi ini, usahatani yang dilakukan tidak menghasilkan keuntungan tetapi juga tidak mengalami kerugian

Tabel 10. Perhitungan Titik Impas Usahatani Cabe Merah di Desa Sumber Urip

Uraian Jumlah (Rp/UT/MT)
a. Nilai Penjualan (Rp) 24.646.342,11
b. Total produksi (Kg) 3.018,95
c. Biaya Variabel (Rp) 8.603.165,79
d. Margin Kontribusi (Rp) (a-c) 16.043.176,32
e. Margin Kontribusi per Kg (d : b) 5.314,16
f.  Rasio Margin Kontribusi  (c : a) 0,65
g.  Biaya Tetap (Rp) 155.405,10
h. BEP penjualan (Rp)   (g : f) 238.741,21
i. BEP volume (kg)       (g : e) 29,24

Hasil analisis data penelitian menunjukkan nilai titik impas pada usahatani cabe merah di desa sumber urip untuk titik impas penjualan dalam rupiah usahatani cabe merah sebesar Rp. 238.741,21 , sedangkan posisi impas dalam satuan produk adalah 29,24 kg. Nilai ini menunjukkan bahwa agar usahatani cabe merah di desa sumber urip dapat memperoleh laba, maka usaha ini harus memproduksi atau menjual cabe merah lebih dari nilai impas. Dengan kata lain, apabila usahatani cabe merah di desa sumber urip mampu memperoleh penerimaan di atas Rp. 238.741,21 maka usahatani cabe merah  ini baru dapat menghasilkan laba. Sebaliknya, apabila usahatani cabe merah di desa sumber urip hanya dapat memproduksi kurang dari 29,24 kg atau penerimaan dibawah Rp. 238.741,21, maka usahatani cabe merah ini akan mengalami kerugian. Hal ini dikarenakan total biaya yang dikeluarkan lebih besar dari pada penerimaan sehingga terjadi kerugian.

Analisis titik impas juga menggambarkan marjin kontribusi per kg sebesar Rp. 5.314,16, artinya sumbangan dana untuk menutupi biaya tetap sebesar Rp. 155.405,10 adalah Rp. 5.314,16 dari setiap kg cabe yang terjual. Dengan kata lain, keuntungan akan meningkat sebesar marjin kontribusi per kg, apabila ada tambahan setiap cabe yang terjual.  Sementara itu, marjin kontribusi sebesar Rp. 16.043.176,32 lebih besar dibandingkan dengan biaya tetap Rp. 155.405,10. Ini berarti marjin kontribusi dapat digunakan untuk menutupi biaya tetap, maka usahatani cabe merah di desa sumber urip akan mendapatkan keuntungan. Tapi jika marjin kontribusi tidak cukup menutup biaya tetap, maka usaha ini akan mengalami kerugian (Garrison dan Noreen, 2000). Sedangkan rasio marjin kontribusi sebesar 0,65 % artinya bahwa untuk setiap peningkatan penjualan, total marjin kontribusi akan meningkat pula dengan asumsi tidak ada perubahan biaya tetap.

Profitabilitas Usahatani Cabe Merah

Profitabilitas usahatani cabe merah dihitung dari margin of safety (MOS) dan marginal income ratio (MIR). MOS adalah unit yang dijual atau diharapkan akan dijual di atas titik impas. MOS sering dinyatakan dalam persentase. Rasio ini merupakan tingkat keamanan bagi usaha untuk menurunkan penjualannya namun tidak sampai menderita kerugian dan belum mendapatkan keuntungan. Semakin tinggi nilai MOS maka keadaan usaha semakin baik, yang artinya keamanan usaha untuk menurunkan penjualan semakin besar. MIR merupakan rasio antara selisih penjualan dan biaya variabel dengan hasil penjualan tersebut, dimana semakin tinggi nilai MIR maka semakin baik keadaan usaha tersebut, karena kemampuan usaha untuk menutupi biaya tetap dan mendapatkan keuntungan semakin besar.

Tabel 11. Perhitungan Profitabilitas Usahatani Cabe merah di Desa Sumber Urip

Uraianasp Jumlah (Rp/UT/MT)
a. Nilai Penjualan (Rp) 24.646.342,11
b. Total produksi (Kg) 3.018,95
c. Biaya Variabel (Rp) 8.603.165,79
d. Margin Kontribusi (Rp) (a-c) 16.043.176,32
e. Margin Kontribusi per Kg (d : b) 5.314,16
f.  Rasio Margin Kontribusi  (c : a) 0,65
g.  Biaya Tetap (Rp) 155.405,10
h. BEP penjualan (Rp)   (g : f) 238.741,21
i. BEP volume (kg)       (g : e) 29,24
j. MOS 99,03%
k. MIR 65,09%
l.    p 64%

Nilai margin of safety (MOS) pada usahatani cabe merah  adalah sebesar  99,03%. Nilai sebesar ini menunjukkan bahwa jika jumlah penjualan yang berikutnya menurun lebih besar dari 99,03 % dari penjualan saat ini, maka usaha ini akan mengalami kerugian. Dengan kata lain usahatani cabe merah  keadaan aman untuk mengurangi jumlah penjualan sampai 99,03 % dari penjualan aktual. Kondisi ini juga menggambarkan bahwa penjualan  cabe merah berada pada 99,03 % di atas titik impas. Nilai perhitungan marginal income ratio (MIR) sebesar 65,09 % menunjukkan bahwa usahatani cabe merah memiliki kemampuan menutupi biaya tetap dan menghasilkan laba sebesar 65,09 % dari nilai penjualannya. Setiap penjualan cabe senilai Rp. 1,00 maka bagian yang dapat digunakan untuk menutupi biaya tetap dan laba yang diperoleh adalah sebesar 65,09 % nya. Hal ini menunjukkan bahwa penjualan  cabe merah  dapat menutupi biaya tetap dan dapat memberikan keuntungan. Setelah diketahui nilai margin of safety (MOS) dan marginal income ratio (MIR), maka dapat dihitung profitabilitas usahatani cabe merah dalam memperoleh laba sebesar 64 %. Hal ini menunjukkan bahwa dari nilai penjualan yang dapat diraih pada periode tahun analisis, usahatani cabe merah ini mampu mendapatkan laba sebesar 64 % dari nilai penjualan tersebut.

KESIMPULAN

  1. Harga pokok cabe merah di desa Sumber Urip Kabupaten Rejang Lebong adalah sebesar Rp. 2.901,197/kg.
  2. Usahatani cabe merah mencapai titik impas pada saat petani menjual cabe merah rata-rata 29,24 kg dengan nilai penjualan sebesar Rp. 238.741,2.
  3. Profitabilitas usahatani cabe merah di desa Sumber Urip Kabupaten Rejang Lebong sebesar 64%

SARAN

Usahatani cabe merah di Desa Sumber Urip Kabupaten Rejang Lebong sangat menguntungkan dan petani disarankan untuk tetap mempertahankan dan melanjutkan usahatani cabe mereka.

DAFTAR PUSTAKA

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Rejang Lebong. 2009. Buku Statistik Tanaman Pangan Kabupaten Rejang Lebong. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Rejang Lebong. Bengkulu.

Garrison, R.H dan Eric W. Noreen. 2000. Akuntansi Manajerial. Penerbit Salemba Empat. Jakarta.

Hernanto, F. 1989. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta

Mubyarto. 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES. Jakarta

Nahriyanti. 2008. Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor Produksi Pada Usahatani Jagung (Studi kasus Petani Jagung di Kel. Penreg Kec. Baranti Kab. Sidrap). http://www.indoskripsi.com. 5 Juni 2010

Oleh :

Reswita

(Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu)

Jurnal Agribis Vol. IV No. 1   Januari 2012

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nazir, M. 1998. Metode Penelitian Sosial. Ghalia Indonesia. Jakarta

Rukmana, R dkk.202. Bertanam Cabe Dalam Pot. Kanisius. Yogyakarta.

Setiadi. 2006. Bertanam Cabai. Penebar Swadaya. Jakarta.

Soekartawi. 1995. Analisis Usahatani. UI Press. Jakarta

Sunaryono, H. 1999. Budi Daya Cabe Merah. Algensindo. Bandung

Sugiri, S. 2009. Akuntansi Manajemen. Sebuah Pengantar.UPP STIM YKPN. Yogyakarta.

 

Reswita

(Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu)

 

This entry was posted in Jurnal. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>