Yudisium Fakultas Pertanian UMB

Sebanyak 56 mahasiswa Fakultas Pertanian UMB dilantik menjadi Sarjana Pertanian pada Yudisium Fakultas Pertanian UMB, Tanggal 30 OOktober 2017.

3 orang mahasiswa terbaik dari masing-masing Prodi adalah sebagai berikut :

Prodi  Peternakan : Miftahul Jannah dengan IPK 3,80

Prodi Agribisnis : Aswad Suhardy dengan IPK 3,84

Prodi Agrotek dengan IPK 3,80

 

 

Posted in kegiatan FP | Leave a comment

ANALISIS PENDAPATAN USAHA BENIH PADI BERSERTIFIKAT PADA KELOMPOK TANI SIDO URIP KECAMATAN PONDOK KELAPA KABUPATENBENGKULUTENGAH(StudiKasusPadaKelompokTaniSidoUrip)

Oleh: EdyMarwan”, DwiFitriani danHendri Suyanto2>

 

1)Dosen Prodi AgribisnisFak. Pertanian Universitas Muhammadiyah Bengkulu

2)Alumni Prodi Agribisnis Fak. Pertanian Universitas Muhammadiyah Bengkulu

 

ABSTRACT

 

Enter prisesin agriculture is one of the people’s live lihood Central Bengkulu Regency. Availability of seeds is often a problem in rice  cultivation  in the region. In  2012, Farmers Group Sido Urip initiative to over come these through breeding efforts  to produce certified seed in a  sustainable manner. This study aims to determine the operating revenue of certified rice seeds to the farmers group Sido Urip  in one production period (3months). The study was conducted in May to June 2016 Farmers Sido Urip village Srikuncoro Sub Pondok Kelapa Central Bengkulu Regency. Objects were selected deliberately in breeder group which has produced sustainably certified seed sunder penawasan Seed Controland Certification Center for Food Cropsand Horticulture (BPSB) of  Bengkulu province. The results showed that the total cost required to process  12,250   kg of seed certificate is Rp. 95,938,291,  – I period production I season with revenue and income respectively Rp. 110 250 000, - I production period I season and Rp.14,311,709,-I production period I season. Certified rice seeds produced is sold at Rp.9000,- /kg.  The a verage pro. fit of certified rice seed is Rp.1022,-I kg I production period.

 

Keywords: Rice, certifiedseed, revenueanalysis

ABSTRAK

Usaha di bidang pertanian merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat Kabupaten Bengkulu Tengah. Ketersediaan benih sering menjadi masalah dalam budidaya padi pada wilayah ini. Pada tahun 2012, Kelompok Tani Sido Urip berinisiatif untuk mengatasi hal tersebut melalui usaha penangkaran untuk menghasilkan benih bersertifikat secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan usaha  benih padi bersertifikat pada Kelompok Tani Sido Urip dalam satu periode produksi (3 bulan). Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan bulan Juni 2016 di Kelompok Tani Sido Drip Desa Srikuncoro Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah. Objek penelitian dipilih dengan sengaja pada kelompok penangkar yang telah menghasilkan benih bersertifikat secara berkelanjutan dibawah penawasan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSB) Provinsi Bengkulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total biaya yang diperlukan untuk memproses  12.250 kg benih sertifikat adalah Rp. 95.938.291,-/  ,-/periode produksi/musim dengan penerimaan dan pendapatan masing-masing Rp.110.250.000,-/periode produksi/musimdanRp.14.311.709,-/periodeproduksi/musim.

PENDAHULUAN

Provinsi Bengkulu memiliki luas baku sawah yang cukup luas yaitu mencapai 100.054 ha (Dinas Pertanian Provinsi  Bengkulu,  2015).   Hal  ini sangat  diperlukan upaya program UPSUS agar pernanfaatan lahan sawah efisien  untuk meningkatkan produktivitas   padi  yang  selanjutnya akan berdarnpak pada peningkatan pendapatan  dan   kesejahteraan petani padi di ProvinsiBengkulu.  Peningkatan produktivitas padi dapat dilakukan melalui penerapan sistem  tanarn jajar legowo dan penggunaan benih unggul,  ketersediaan benih dapat terpenuhi melalui pelaksanaan kegiatan penangkaran benih padi.

Kebutuhan benih berrnutu rnerupakan salah satu komponen teknologi utama dalam pendekatan pengelolaan tanaman dan sumberber daya terpadu (Puslitbangtan, 2009). Penggunaan varietas  yang adaptif dan spesifik lokasi sangat diperlukan dalam mendukung peningkatan produktivitas dan produksi padi di ProvinsiBengkulu. Untuk dapat menunjukkan potensi hasilnya, varietas  mernerlukankondisi lingkunganatauagroekosistern tertentu (Rubiyo,2005).

Tidak semua varietas mampu  tumbuh dan berkernbang pada berbagai agr-ekosistern. Dengan  kata lain, tiap varietas akan memberikan hasil yang optimal jika  ditanam pada lahan yang sesuai  (Kustiyanto,  200I).   Varietas unggul merupakan salah satu komponen teknologi utama dalam peningkatan produktivitas,  produksidan pendapatan usahatani.

Varietas unggul adalah galur hasil pemuliaan  yang mempunyai satu atau lebih keunggulan khusus seperti potensi hasil tinggi, toleran terhadap hama dan penyakit, toleran terhadap   cekarnan lingkungan, mutu  produk,  dan   atau sifat-sifat lainnya,  Industri benih berbeda denganindustrilainnya umurnnyayang dikelola adalah  suatu kehidupan  yang   kepekaanya   sangat tinggiterhadaplingkungan baik diproduksidilapangan rnaupun penanganan pascapanensarnpai pernasaranproduksinyapunharusdapat terjaga dan rnernpertahankan  sifat genetik danfsiknyaagarbenihyang dihasilkandapatrnernenuhi kreteria benih yangberkualitas ( Hendarto,K

1996)hal.95.

Benih    yang    bermutu    dapat

diperoleh   melalui  usaha  pembuatan benih  padi    bersertifikat,  kebutuhan benihpadiyangberrnutucukuptinggi di Provinsi Bengkulu  merupakan peluang bagi petani penangkar dalam mengembangkan usaha bersertifikat.

Kabupaten BengkuluTengah merupakan wilayahProvinsi Bengkulu yangrnemanfaatkan peluangdalarn rnernenuhiketersediaanbenihbermutu diProvinsiBengkulu. Narnun dalam pelaksanaan   usaha  pernbuatan benih padi unggul bersertifikat dan bermutu di Kabupaten Bengkuiu Tengah ini belum ada yang melakukan perhitungan biaya penerimaan dan pendapatan secara rinci/aktual dari usaha pembuatan benih padibersertifikatdilakukan, olehkarena itu peneliti melakukan analisis pendapatan usaha benih  padi bersertifikat padaKelompokTaniSido UripKecarnatan PondokKelapa KabupatenBengkuluTengah.

 

METODOLOGI PENELITIAN

 

Metode penelitian yang dilakukan adalah studi kasus pada KelompokTani Sido Urip Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten   Bengkulu  Tengah.  Data yang diperoleh dalam penelitianini dikumpulkan kemudiandi tabulasidan dianalisa secara deskriptif.

Penelitian ini akan dilakukan diKelompok Tani SidoUrip  Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah., penentuan lokasi penelitian dilakukan  secara    sengaja    dengan pertimbangan di Kabupaten Bengkulu Tengah Merupakan salah satu pemasok benih padi bersertifikat di Provinsi pada  Bulan Mei   sampai Juni  tahun

2016. Responden dalam penelitian ini adalah Kelompok Tani Sido Urip Kecamatan Pondok Kelapa  di Kabupaten BengkuluTengah.

HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian Analisis Pendapatan Usaha Benih Padi bersertifikat pada Kelompok  Tani Sido Urip Kecamatan Pondok Kelapa KabupatenBengkulu Tengah dengan uraian penerimaan, total biaya dan  pendapatan yang diterima oleh  Kelompok Tani SidoUrip, dapat ditunjukan ditabel1.

 

Total Biaya Produksi Calon BenihPadiBersertifikat

Dalam    usaha    benih    padibersertifikasi di Kelompok Tani SidoUripKecamatan PondokKelapa tentu saja membutuhkan  biaya-biaya  agar usaha  tersebut    dapat    dijalankan sebagaimana mestinya.Biaya-biaya  ini terdiridari  biaya  tetap  dan  biaya variabel yang diperhitungkan. Penjumlahan dari kedua biaya-biaya tersebut merupakan biaya totalyang dibutuhkan oleh  Kelompok Tani Sido Urip dalam usaha benih padi bersertifikat.  Untuk lebih jelas mengenai biaya tersebu tdapat dilihat padaTabel 2.

 

Tabel 2 menunjukan bahwa perhitungan antara biaya tetap dan biaya variabel melalui penjumlahan keduanya harus dikeluarkan oleh Kelompok Tani dalam usaha benih padi bersertifikat sebesar Rp.  95.938.291,-/produksi/musim.

Pendapatan Usaha    Benih    Padi

Berserriflkat Pendapatan     yang    diperoleh dari penjualanbenihpadi bersertifikat dikurangi dengan biaya variabel yang dibayarkan secara tunai (tenagakerja, bahan baku, biaya operasional standari mutubenih, pengemasan dan kemasan benih) dan biayatetap yang diperhitungkan (penyusutanalat, sewa gudang). Penerimaan (TR), totalbiaya (TC) dan pendapatan (TR – TC) KelompokTani usaha benihpadi bersertifikat  di Kelompok Tani Sido Urip KecamatanPondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah pada table 2 Menunjukan  bahwa pendapatan usahabenih padi bersertifikasi pada Kelompok Tani  SidoUrip Kecamatan Pondok Kelapa dalam satu kali produksi/musim          adalah          Rp.14.311.709,-/produksi/musimataudalamsatuan kilogramsebesar Rp1.022,-/kg usaha selama3  bulan memproduksi benih padi bersertifikat dengan varietas Inpago 8   dengan label benih bersertifikatyang  lulus uji labotorium BPSBBengkulu berwarna ungu

KESIMPULAN

 

Hasil penelitian menunjukan bahwa usaha benih bersertifikat pada KelompokTani  SidoUrip Kecamatan Pondok KelapaKabupaten Bengkulu Tengah dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Penerimaan  dari  hasil  penjualan benih bersertifikat padaKelompok Tani Sido Urip Kecamatan Pondok Kelapa  Kabupaten     Bengkulu Tengah  sebesar Rp.110.250.000,­/produksi/musim.
    1. Total biaya yang dikeluarkan oleh Kelompok TaniSido Urip dalam usaha benih   padi   bersertifikat sebesar Rp. 95.938.291,­/produksi/musim
    2. Keuntungan   usaha   benih   padi  sertifikat pada Kelompok Tani Sido Urip Kabupaten Bengkulu Tengah sebesar    Rp. 14.311.709,/produksi/musim atau 1.022,­/Kg.

 

SARAN

 

  1. Diharapakan kepada kelompok tani penangkar untuk meningkatkan produktivitas hasil panen sehingga ketersediaan benih bersertifikat selalu tersedia dengan  mutu sesuai dengan      standarisasi perbenihan nasional pada saat musim tanam dengan beragam  varietas  benih yang dihasilkan   sesuai  dengan spesifiklokasi     di     Provinsi Bengkulu.
    1. Adanya   pembinaan   tindaklanjut terhadap kelompok tanipenangkar benih untuk memproduksi benih sehingga tumbuh  kelompok  tani usaha benih bersertifikat di setiap Kecamatan d iProvinsi Bengkulu.
    2. Diharapkan pemerintah mensosialisasikan dan mendukung sarana dan prasarana serta pelatihan tentang perbenihan kepada para pelaku usaha perbenihan nasional. Usaha benih dan bibit bersertifikat merupakan peluang agribisnis yang sangat menguntungkan jika dikerjakan dengan ketekunan yang tinggi mengutamakan kualitas dan kuatitas berdasarkan standarisasi yang ditetapkan oleh instansi yang terkait didalamnya.
    3. Adanya penelitian lanjutan tentang masalah perbenihan diBengkulu sebagai contoh  faktor  ­   faktor mempengaruhi minat      petani terhadap benih berlabel dan tak berlabel diProvinsiBengkulu.

DAFTARPUSTAKA

Article varietas unggul padi Adaptif mendukung swasembada pangan diprovinsi Bengkulumelalui=http://bengkulu. itbang.pertanian.go.id/ind/index. php/component/content/article/14­ technology­ information/alsin8/689­varietas­ unggul­ padi­ adaptif­mendukung­ swasembada­ pangan ­di­provinsi­ bengkulu63

Asmawati,blogspot.co.id/2009/06.2016.Analisis Pendapatan Usaha Tani Padi diDesa Pasiang, tanggal 4 Februari 2016 Bishop.C.E.dan  K.D.Tousin   1986.

Widya. Jakarta. Rubiyo.2005, dalam BPTP Bengkulu.2015, VarietasUnggul PadiAdaptif Mendukung Swansebada Pangandi  Provinsi  Bengkulu,  diakses tanggal 28 Januari 2016. Subana.M dan Sudrajat,2005 Dasar­ dasar Penelitian Ilmiah, penerbit. PustakaSetia.   Bandung   240 halaman.

Soekartawi, A.·Soeharjo, J.L. Dillon dan          Hardaker,    1986.    Ilmu Usahatani dan penelitianuntuk perkembangan petani     Kecil. Universitas   Indonesia    press. Jakarta 253 halaman Soekartawi, 1995. Analisis Usaha Tani,  penerbit Universitas   Indonesia press Jakarta, 110 halaman.

Suratiyah,    2015  Ilmu  Usaha  Tani, Penebar   Swadaya,  Jakarta  155 halaman

Susanto.A, 2009. Analisis Usaha Tani Jagung Manis  (Zea Mays Saccharata Sturt) di Desa Suro Muncar Kecamatan  Ujan  Mas Kabupaten Kepahiang. Skripsi, tidak dipublikasikan.   Sekolah TinggiPertanian    Kabuapten Lebong. 43 halaman.

 

Wahyu. Q.M dan Asep, S.MS.1995.Produksi Benih.Penerbit Aksara Jakarta 129 halaman

Posted in Jurnal | Leave a comment

ANALISIS PEMASARAN TOMAT DI PASAR KEPAHIANG KABUPATEN KEPAHIANG

Oleh :

Fithri Mufriantie1), Rita Feni1), Sumini2)

1)        Dosen Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Bengkulu

2)        Alumni Prodi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Bengkulu

ABSTRACT

This study aims to determine the marketing channels of tomatoes in the market, analyze margins and marketing channels to determine which marketing agencies are most efficient in the market Kepahiang Kepahiang District.

The location of this research carried out in the Market District Kepahiang Kepahiang .. The method used is a survey method, the data used primary data obtained through interviews with traders and retailers in the market Kepahiang Kepahiang District.

The results showed a tomato marketing channels in the Market Kepahiang Kepahiang District, there are two marketing channels, namely:

Channel II : Farmers            Traders Gatherer          Traders Retailer           Consumer

Channel III: Farmers           Wholesalers Retailers            Consumers

The value of marketing margin is Rp.3.500 / kg on the second line, the value of marketing margin smallest Rp.3,000 / kg on the third channel.

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan  untuk mengetahui saluran pemasaran tomat  yang terjadi di pasar, menganalisis margin saluran pemasaran dan untuk mengetahui lembaga pemasaran mana yang paling efisien di Pasar Kepahiang Kabupaten Kepahiang.

Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Pasar Kepahiang Kabupaten Kepahiang.. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei, data yang digunakan data primer yang diperoleh melalui wawancara langsung dengan pedagang pengumpul dan pedagang pengecer di Pasar Kepahiang Kabupaten Kepahiang.

Hasil penelitian menujukkan saluran pemasaran tomat di Pasar Kepahiang Kabupaten Kepahiang, ada dua saluran  pemasaran yaitu :

Saluran II   : Petani         Pedagang Pengumpul         Pedagang Pengecer         Konsumen

Saluran III : Petani           Pedagang Pengecer            Konsumen

Nilai margin pemasaran yang terbesar yaitu Rp.3.500/kg pada saluran II, nilai margin pemasaran terkecil yaitu sebesar Rp.3.000/kg pada saluran III.

Kata Kunci: Pemasaran, Margin Pemasaran, Saluran Pemasaran


PENDAHULUAN

Tanaman holtikultura merupakan komoditi yang sangat prospektif untuk dikembangkan, karena mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, baik  pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. Disamping itu tanaman holtikultura Indonesia merupakan tanaman yang memiliki keunggulan komperatif. Konsumsi tanaman holtikultura, khususnya buah-buahan dan sayuran dari penduduk Indonesia masih tergolong rendah, dewasa ini konsumsi ini terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk, pendapatan dan lain-lain. (Hamdani, 2006 : 1).

Tomat merupakan tanaman sayuran yang sangat digemari dan mempunyai nilai gizi yang sangat tinggi. Di Indonesia tomat banyak diusahakan, baik di dataran tinggi maupun didataran rendah, sebagai tanaman pekarangan ataupun tujuan komersial. Di pulau jawa penyebaran tanaman tomat sekitar 60% di dataran tinggi, sedangkan di dataran rendah hanya sekitar 40%. Namun, dengan semakin luasnya areal pertanaman tomat yang disertai dengan pembudidayaan yang dilaksanakan secara terus menerus di dataran tinggi, di khawatirkan akan terjadi erosi tanah secara perlahan-lahan. Tomat merupakan salah satu komoditas pertanian unggulan yang dianggap memiliki prospek yang baik dalam pemasarannya. Hal ini terkait dengan semakin meningkatnya permintaan akan buah tomat. Selain itu, harganya relative dapat dijangkau oleh segala lapisan masyarakat. (Purwati dan Khairunisa, 2007 : 3-5)

Kabupaten Kepahiang merupakan salah satu daerah sentral penghasil tanaman tomat di Propinsi Bengkulu, hal tersebut dapat di lihat karena Kabupaten Kepahiang didukung oleh potensi sumber daya perkebunan sayur yang cukup baik dan daya minat petani berbudidaya sayuran sangat tinggi.

Dilihat  dari sisi produksi Kabupaten Kepahiang cukup tinggi, namun jika kita perhatikan pendapatan yang diterima petani tidak sesuai dengan produksi yang mereka hasilkan. Di duga hal tersebut disebabkan oleh panjangnya saluran pemasaran.

METODOLOGI PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Metode survai adalah penelitian yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuisoner sebagai alat pengumpul data yang pokok. (Singarimbun dan Sofyan,1989:3)

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2016. Lokasi penelitian di desa kepahiang  kabupaten Kepahiang. Dengan pertimbangan merupakan salah satu daerah sentral sayur-sayuran terutama tomat adalah ada di kepahiang.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Snowball Sampling (Bola Salju), merupakan teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih responden lain untuk dijadikan sampel lagi, begitu seterusnya sehingga jumlah sampel terus menjadi banyak. (Umar, 2013 : 91).

Untuk menganalisis data yang di peroleh dengan analisis–analisis saluran pemasaran dan analisis margin pemasaran.

Analisis saluran pemasaran tomat di jelaskan secara deskriptif dengan metode penelusuran dari tingkat produsen sampai kepada pendagang pengecer. Alur pemasaran tersebut dijadikan dasar dalam menggambarkan saluran pemasaran tomat yang ada di Kepahiang.

Analisis  margin pemasaran adalah hasil penjumlahan antara persentase keuntungan dengan persentase biaya pemasaran yang terjadi pada setiap mata rantai pemasaran.

Cara untuk menghitung margin pemasaran dapat dilakukan sebagai berikut :

MP = MK + BP

Di mana :

MP   =  Margin Pemasaran

MK  =  Margin Keuntungan

BP   =  Biaya Pemasaran

Analisis Efisiensi pemasaran, adalah rasio yang mengukur keluaran atau produksi suatu sistem atau proses untuk setiap unit masukan. Cara untuk menghitung Efisiensi pemasaran adalah dapat dilakukan sebagai berikut :

EP =  X 100 %

Dimana :

TBP     = Total Biaya Pemasaran

TNP     = Total Nilai Produk

EP       = Efisiensi Pemasaran.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Saluran Pemasaran Tomat

Panjang pendeknya saluran pemasaran yang dilalui oleh suatu hasil komoditas pertanian tergantung pada beberapa faktor, diantaranya yakni jarak antara produsen dan konsumen. Semakin jauh jarak antara  produsen dan konsumen biasanya makin panjang saluran yang ditempuh oleh produk. Cepat tidaknya produk rusak, produk yang cepat atau mudah rusak harus segera diterima konsumen dan demikian menghendaki saluran yang pendek dan cepat. (Rahim dan Hastuti,2008:114)

Berdasarkan penelitian yang di lakukan,  saluran pemasaran tomat apel di kepahiang kabupaten kepahiang umumnya hanya melalui dua pola saluran pemasaran yaitu pada saluran kedua dan saluran ketiga, seperti yang ada di bawah  ini :

 

Saluran I  : Petani               Konsumen

Saluran II :  Petani          Pedagang Pengumpul         Pedagang Pengecer         Konsumen

Saluran III  : Petani           Pedagang Pengecer            Konsumen

Harga Beli dan Harga Jual

Berdasarkan hasil penelitian  rata-rata harga beli dan harga jual tomat apel di kepahiang kabupaten kepahiang adalah sebaga berikut:

Tabel 1. Harga Beli dan Jual Lembaga Pemasaran Pada Tiap-Tiap Saluran               PemasaranTahun 2016

 

No Lembaga Pemasaran Harga Beli ( Rp/kg) Harga Jual (Rp/kg)
1. Saluran II

Pedagang Pengumpul

Pedagang Pengecer

 

1.500

2.000

 

2.000

5.000

2. Saluran III

Pedagang Pengecer

 

3.000

 

6.000

 

 

 

Dari penjelasan diatas pada tabel 1 menjelaskan bahwa harga beli pedagang pengumpul saluran II sebesar Rp.1.500/kg harga jual Rp.2.000/kg. Pedagang pengecer harga beli Rp.2.000/kg harga jual Rp.5.000. Pedagang pengecer saluran III harga jual Rp.3.000/kg dan harga jual Rp.6.000/kg.

Harga beli paling murah/rendah terdapat pada pedagang pengumpul pada saluran II, hal ini disebabkan pedagang pengumpul mengadakan hubungan langsung ke produsen petani dalam jumlah yang banyak, sehingga harga belinya lebih rendah, sedangkan pedagang pengecer harganya lebih tinggi karena sudah melewati pedagang pengumpul terlebih dahulu.

Dan harga jual terbesar terdapat pada pedagang pengumpul saluran III, hal ini disebabkan karena pedagang pengecer membeli langsung ke produsen petani dalam jumlah yang sedikit dengan harga belinya tinggi sehingga hal tersebut mengakibatkan harga jualnya akan menjadi tinggi dibandingkan dengan pedagang pengumpul saluran II yang membeli langsung kepada produsen petani dalam jumlah banyak dengan harga beli yang rendah.

Biaya Pemasaran Tomat

Biaya pemasaran komoditas pertanian merupakan biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan atau aktivitas usaha pemasaran komoditas pertanian. Biaya komoditas pertanian meliputi biaya penyusutan alat, biaya tenaga kerja, biaya pengemasan, biaya sewa tempat serta biaya lainya. Besarnya biaya pemasaran berbeda satu sama lain, hal ini disebabkan lokasi pemasaran,  macam lembaga pemasaran (pengumpul, pedagang besar, pengecer, dan sebagainya) dan efektifitas pemasaran yang dilakukan, serta macam komoditasnya. (Rahim dan Hastuti,2008:120-121)

 

 

Tabel 2. Rata-Rata Biaya Pemasaran Tomat Di Pasar Kepahiang Kabupaten Kepahiang

 

No Lembaga Pemasaran Biaya Pemasaran (Rp / kg)
1. Saluran II

Pedagang Pengumpul

Pedagang Pengecer

 

349,502

2.619,530

  Total 2.969,032
2. Saluran III

Pedagang Pengecer

 

2.067,200

 

 

Berdasarkan Tabel 2 diatas bahwa biaya pemasaran saluran II pada pedagang pengumpul sebesar Rp.349,502/kg, sedangkan pedagang pengecer Rp.2.619,530/kg dan biaya pemasaran saluran III pada pedagang pengecer sebesar Rp.2.067,200/kg.

Biaya pemasaran yang paling tinggi terdapat pada pedagang pengecer saluran II, hal tersebut terjadi karena jumlah biaya-biaya operasional dalam pemasaran tomat lebih banyak/tinggi dari pada pedagang pengecer saluran II, sedangkan pada pedagang pengecer saluran III, biaya pemasaran paling kecil/rendah, karena pada pedagang pengecer saluran III biaya operasional yang dikeluarkan lebih sedikit/rendah, hal tersebut disebabkan oleh pedagang pengecer saluran III mengambil langsung dari produsen petani.

Keuntungan Lembaga Pemasaran

Keuntungan pemasaran komoditas pertanian merupakan selisih antara harga yang dibayar ke produsen (petani, nelayan, peternak) dan harga yang dibayarkan ke konsumen akhir. Perbedaan jarak dari produsen ke konsumen menyebabkan terjadinya perbedaan besarnya keuntungan. Masing-masing lembaga pemasaran ingin mendapatkan keuntungan sehingga harga yang dibayarkan oleh lembaga pemasaran itu juga akan berbeda. Perbedaan harga  di masing-masing lembaga pemasaran sangat bervariasi tergantung besar kecilnya  keuntungan yang diambil oleh masing-masing lembaga pemasaran. (Rahim dan Hastuti,2008:121-122)

Besarnya keuntungan yang didapat oleh masing-masing lembaga pemasaran pada setiap saluran pemasaran tomat di Kepahiang kabupaten Kepahiang dapat dilihat pada tabel 3 dibawah berikut :

 

 

Tabel 3.    Rata-Rata Keuntungan Yang Diperoleh Masing-Masing Lembaga Pemasaran              Pada Tahun 2016

No Lembaga Pemasarn Keuntungan Rp / kg
1. Saluran II

Pedagang Pengumpul

Pedagang Pengecer

 

150,498

380,469

  Total 530,967
2. Saluran III

Pedagang Pengecer

 

932,799

 

 

Berdasarkan Tabel 3 diatas keuntungan yang diperoleh dari saluran pemasaran II pada pedagang pengumpul adalah sebesar Rp.150,498/kg, pedagang pengecer sebesar Rp.380,469/kg. Dan saluran III pada pedagang pengecer adalah sebesar      Rp.932,799/kg. Keuntungan terbesar ada pada pedagang pengecer saluran III, hal tersebut terjadi karena biaya pemasaranya paling kecil dibandingkan dengan saluran II dan komoditi langsung dibeli dari produsen petani.

Margin Pemasaran

Dalam menyampaikan komoditas hasil pertanian dari produsen ke konsumen terdapat biaya pemasaran sehingga terdapat perbedaan antara harga yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima oleh produsen. Perbedaan ini disebut dengan margin pemasaran (marketing margin). Margin pemasaran untuk produk pangan adalah perbedaan antara harga yang dibayarkan konsumen dengan harga yang diterima petani untuk produk mentah. (Rahim dan Hastuti,2008:127-128)

Rata-rata  margin pemasaran pada setiap lembaga pemasaran dapat dilihat pada Tabel 4 yang ada dibawah berikut :

 

 

Tabel 4.     Rata-Rata Margin Pemasaran Pada Masing-Masing Lembaga Pemasaran Pada Tahun 2016

No Lembaga Pemasaran Margin Pemasaran (Rp / kg)
1. Saluran II

Pedagang Pengumpul

Pedagang Pengecer

 

500

3.000

  Total 3.500
2. Saluran III

Pedagang Pengecer

 

3.000


Berdasarkan pada Tabel 4 diatas menjelaskan bahwa margin lembaga pemasaran terdapat pada saluran II sebesar Rp.3.500/kg. dan  margin  saluran III adalah sebesar Rp.3.000/kg. Margin atau selisih harga terbesar pada saluran II karena pada saluran II lebih banyak melewati rantai pemasaran, semakin panjang saluran pemasaran akan semakin besar margin pemasaranya, karena semakin banyak biaya pemasaran dan keuntungan yang diambil margin lembaga pemasaran yang terlibat.

Efisiensi Pemasaran

Efisiensi yang tinggi merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh petani, lembaga pemasaran, konsumen, dan masyarakat yang berarti kinerja pasar lebih baik, sedangkan efisiensi yang menurun menyatakan keragaan yang buruk. Pemasaran dikatakan efisien apabila dapat memberikan balas jasa yang seimbang kepada semua pihak yang terlibat,yaitu petani produsen,pedagang perantara,dan konsumen akhir,serta mampu menyampaikan komoditas hasil pertanian dari petani  produsen kepada konsumen dengan biaya yang semurah-murahnya.

Besarnya nialai efisiensi pemasaran dapat dilihat pada Tabel 5 yang ada di bawah berikut :

 

 

Tabel 5. Nilai Efisiensi Pada Masing-Masing Lembaga Pemasaran Pada Tahun 2016

No Lembaga Pemasaran Nilai Efisiensi (%)
1. Saluran II

Pedagang Pengumpul

Pedagang Pengecer

 

0,14

1,91

  Total 2,05
2. Saluran III

Pedagang Pengecer

 

1,7


Berdasarkan penelitian ini pada Tabel 5 dijelaskan bahwa efisiensi pada pedagang pengumpul  saluran II sebesar 0,14% , sedangkan pedagang pengecer sebesar 1,91%, dan pedagang pengecer saluran III sebesar 1,7%. Semakin panjang saluran pemasaran maka semakin tidak efisien, karena semakin besar nilai marginnya

 

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian dan pengolahan data, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Terdapat  dua macam saluran pemasaran tomat di Kepahiang kabupaten Kepahiang. Saluran pertama produsen menjual kepada pedagang pengumpul selanjutnya ke pedagang pengecer terakhir konsumen. Saluran kedua produsen menjual ke pedagang pengecer kemudian menjual ke konsumen.
  2. Rata-rata margin pemasaran pada saluran II yaitu sebesar Rp.3.500/kg, dan margin pemasaran saluran III sebesar Rp.3.000/kg. Nilai margin lebih besar pada saluran II, kareana saluran II melalui lembaga pemasaran yaitu pedagang pengumpul dan pedagang pengecer, sedangkan saluran III hanya melalui satu lembaga pemasaran yakni pedagang pengecer.
  3. Efisiensi pemasaran tomat yang paling efisien yaitu pada pedagang pengecer pada saluran  III sebesar 1,7%.

DAFTAR PUSTAKA

Hamdani. 2006. Analisis Pemasaran Wortel (Daucus Carota L.) Desa Suban Ayam Ke Pasar Atas Curup.Skipsi. Tidak dipublikasikan

Rahim, A.B.D. dan D.R.D. Hastuti. 2007. Ekonomi Pertanian. Penebar Swadaya. Jakarta. 204 Halaman.

 

Singarimbun, M, dan Sofian,E, 1989. Metode penelitian survai.LP3ES .Jakarta.336 Halaman.

Umar, H. 2013. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Rajawali Pers. Jakarta. 385 Halaman.

 

Purwati, E. dan Khairunisa. 2007. Budi Daya Tomat Dataran Rendah. Penebar Swadaya. Jakarta. 67 Halaman.

 

 

 

 

 

Posted in Jurnal | Leave a comment

KAJIAN PENGEMBANGAN HOME INDUSTRY SEBAGAI EKONOMI KREATIF DALAM MENINGKATKAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT

Oleh :

Mar Atun Hidayah, Nurna Aziza dan Nila Aprilla

Badan Penelitian Pengembangan dan Statistik Daerah Provinsi Bengkulu

Jl. Pembangunan No. 15 Padang Harapan Kota Bengkulu

e-mail : athun_girl@yahoo.com

ABSTRAK

Kajian ini bertujuan untuk mengetahui home industry sebagai usaha kreatif yang ada saat ini yang berpotensi untuk dikelola secara optimal, sehingga dapat memberikan dukungan dalam memaksimalkan rencana meningkatkan perekonomian masyarakat Provinsi Bengkulu dan untuk memperoleh bentuk solusi operasional pengelolaan yang optimal terhadap home industry sebagai usaha kreatif. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah  deskriptif kualitatif dengan menggunakan data primer dan sekunder. Kajian ini memaparkan  berbagai potensi, kendala serta rekomendasi dalam mengoptimalkan produk-produk home industry di Provinsi Bengkulu.

Kata Kunci : Home Industry, Ekonomi Kreatif, Peningkatatan Perekonomian

ABSTRACT

The study was conducted to known homed industries was creative effort that current potential to be managed optimally so that it can provide support for a plan that maximizes improve the community economy of Bengkulu province and to get operational sollution of optimal management of the home industry. The method used in the study was descriptive qualitative by using primary and secondary data. This study describes the various potential, barrier as well as recomendation for optimizing home industry products in Bengkulu province.

Keyword : Home Industry, creative economic, economic growth.


PENDAHULUAN

Persaingan dagang dan pembangunan ekonomi yang semakin mendunia (globalisasi), menyebabkan seluruh bangsa berusaha mengejar ketertinggalan. Bangsa-bangsa dengan berbagai kelebihan dan kekurangan telah berusaha membangun dengan menyesuaikan kemampuan dan aset yang dimilikinya. Sumber daya manusia sangat memegang peran dalam pembangunan suatu bangsa. Bukan saja tingkat pendidikan tetapi faktor kedisiplinan, kerja keras, kreatifitas, dan sebagainya menjadi penentu daya tahan (survival) dan keberhasilan suatu bangsa dalam membangun. Ketika kreatifitas ikut menentukan daya saing suatu bangsa, pengembangan ekonomi dan industri juga membutuhkan kreatifitas agar dapat menghasilkan produk-produk dan pada akhirnya perkembangan ekonomi yang mampu membawa bangsa tersebut berdiri di depan (leading) bangsa-bangsa lain.

Pemerintah Indonesia dalam hal ini Departemen Perdagangan RI lebih dekat dengan klasifikasi yang digunakan oleh Howkins (2001). Saat ini sudah berhasil dipetakan 14 sektor industri kreatif antara lain: (1) periklanan, (2) arsitektur, (3)

pasar seni dan barang antik, (4) kerajinan, (5) desain, (6) fashion, (7) video, film, dan fotografi, (8) permainan interaktif, (9) musik, (10) seni pertunjukan, (11) penerbitan dan percetakan, (12) layanan komputer dan piranti lunak, (13) televisi dan radio, dan (14) riset dan pengembangan.

Ekonomi kreatif dapat ditemui pada sektor industri rumah tangga (home industry) yang sangat berperanan penting dalam roda pembangunan di masyarakat, karena dapat menopang kehidupan rumah tangga, bahkan dapat dijadikan tulang punggung perekonomian keluarga. Di samping itu, industri ini tidak hanya mempunyai manfaat bagi pemilik usaha, namun juga dapat menyerap tenaga kerja di sekitarnya.

Berbagai masalah yang dihadapi mereka antara lain mengenai pemahaman administrasi keuangan, pemasaran, bisnis keluarga, promosi, desain, adalah menjadi dinamika home industry dalam menjalankan bisnisnya. Banyak di antara mereka merupakan tenaga terampil yang tidak dapat dimanfaatkan karena keterbatasan modal ini. Usaha-usaha telah banyak dilakukan oleh pemerintah daerah baik tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten, namun tidak semua dapat terjangkau. Hanya sebagian kecil yang merupakan hasil pendampingan lembaga-lembaga swasta ataupun lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Provinsi Bengkulu dengan wilayahnya yang terdiri dari daerah perbukitan, dataran dan pesisir pantai, telah banyak mengembangkan dan memanfaatkan sumber daya alam misalnya dalam pengusahaan pertanian, perkebunan, perikanan, dan sebagai andalan dalam pembangunan dan pengembangan ekonominya. Potensi ini dapat disinergikan dengan pola dan arah pembangunan industri khususnya industri kreatif untuk menghasilkan produk dengan daya saing tinggi.

 

Rumusan Masalah dan Tujuan Penelitian

Rencana meningkatkan perekonomian masyarakat di Provinsi  Bengkulu,  perlu  ditunjang dengan melakukan kajian pengembangan home industry sebagai usaha kreatif.

Rumusan masalah penelitian ini adalah:

  1. Apakah home industry sebagai usaha kreatif yang ada saat ini berpontensi untuk dikelola secara optimal, sehingga dapat memberikan dukungan yang maksimal rencana meningkatkan perekonomian masyarakat Provinsi Bengkulu?
  2. Bagaimana bentuk solusi operasional pengelolaan yang optimal tersebut.

 

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui home industry sebagai usaha kreatif yang ada saat ini yang berpotensi untuk dikelola secara optimal, sehingga dapat memberikan dukungan yang memaksimalkan rencana meningkatkan perekonomian masyarakat Provinsi Bengkulu.
  2. Untuk memperoleh bentuk solusi operasional pengelolaan yang optimal terhadap home industry sebagai usaha kreatif.

 

HOME INDUSTRI

Home industry berasal dari kata home yang berarti rumah, tempat tinggal dan industry berarti kegiatan memproses atau mengolah barang dagang menggunakan sarana dan peralatan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2012). Ekonomi kreatif sering sekali dapat dijumpai pada industri rumahan (home indusry).

Dengan demikian, pengertian home industry (industri rumahan) adalah industri yang dilakukan di rumah. Industri rumahan juga merupakan perusahaan kecil. Dikatakan sebagai perusahaan kecil karena jenis kegiatan ekonomi ini dipusatkan di rumah. UU No. 9 Tahun 1995, menyebutkan bahwa usaha kecil adalah usaha dengan kekayaan bersih paling banyak Rp 200 juta (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) dengan hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000. Jumlah tenaga Kerja 1 – 4 orang.

Dalam buku ”Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025: Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2015,” yang diterbitkan oleh Departemen Perdagangan RI dikatakan antara lain: “Industri kreatif merupakan bagian tak terpisahkan dari ekonomi kreatif.” Dengan kata lain ekonomi kreatif adalah ekonomi yang ditopang antara lain oleh industri kreatif. Dan selanjutnya dikatakan bahwa Pengembangan ekonomi kreatif Indonesia tidak hanya menekankan tentang pengembangan industri yang termasuk dalam kelompok industri kreatif nasional, melainkan juga pada pengembangan berbagai faktor yang signifikan perannya dalam ekonomi kreatif, yaitu sumber daya insani, bahan baku, teknologi, tatanan institusi dan lembaga pembiayaan yang menjadi komponen dalam model pengembangan.” Secara umum dapat dikatakan bahwa untuk mengembangkan industri high-tech bukan saja membutuhkan infrastruktur yang mendukung tetapi juga lingkungan akademik dan SDM yang memenuhi syarat. Sederhananya berpikir, untuk mengembangkan industri high-tech membutuhkan lingkungan riset dan akademik yang maju, sehingga mampu bertahan (survive) dan bersaingan (competitive) secara global. Ada universitas maju, ada lembaga riset maju, ada pemodal berpikir maju dan tentu bermodal besar.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dirancang dalam dua tahap penelitian dengan muara akhir yang ingin dicapai adalah dirumuskannya metode pengembangan industri kreatif home industry. Secara lengkap disajikan dengan pendekatan sistem sebagaimana dalam tabel 1.

Tempat penelitian yaitu di Provinsi Bengkulu dengan unit analisis adalah pengusaha/ pengrajin industri kreatif home industry yang terhimpun dalam data Dinas Perdagangan Industri Provinsi Bengkulu. Data yang terkumpul selanjutnya dilakukan analisis secara deskriptif kuantitatif untuk menjawab berbagai tujuan penelitian. Berbagai temuan di lapang tentang faktor pendukung dan penghambat dalam mengembangkan industri kreatif diuraikan secara komprehensif.

 

Tabel.1. Desain Penelitian Metode Pengembangan Industri Kreatif Home industry

  Input Proses Output
T

A

H

A

P

I

Base line study terhadap lingkungan industri kreatif home industry

 

 

Analisis deskriptif kualitatif 1)     Identifikasi lingkungan usaha secara backward dan forward linkage.

2)     Deskripsi faktor pendukung dan faktor penghambat dalam menjalankan usaha mereka.

T

A

H

A

P

II

Evaluasi sumberdaya guna memperoleh modal ilmiah dalam metode pengembangan industri kreatif home industry
  1. Analisis sikap dan perilaku pengusaha dengan model sikap multiatribut dari Fishbein
  2. Analisis deskriptif kuantitatif

 

  1. Deskripsi peran kepemimpinan dalam industri kreatif home industry.
  2. Dekripsi inovasi, kreatifitas dan imajinasi pelaku dalam mengelola industri kreatif.
  3. Metode pengembangan industri kreatif home industry.

 



Hasil dan Pembahasan

Home Industry Kota Bengkulu

home industry terbanyak di Kota Bengkulu adalah dari kelompok industri produk roti dan kue serta kelompok industri kerupuk, keripik, peyek dan sejenisnya. Kelompok industri tersebut sudah lebih dari 10 tahun beraktivitas, namun tidak secara signifikan dapat meningkatkan pendapatan daerah Kota Bengkulu. Oleh karena itu, penelitian ini berusaha untuk menggali produk unggulan Kota Bengkulu yang dapat meningkatkan pendapatan daerah Kota Bengkulu.

Pada awalnya Kota Bengkulu memiliki produk unggulan berupa kerajinan kulit lantung, kerajinan kain batik besurek, lempuk durian dan manisan terong. Setelah melihat faktor kekinian produk unggulan Kota Bengkulu adalah sirup Jeruk Kalamansi.

 

Kerajinan Kulit Lantung

Meskipun kurang begitu terkenal seperti kerajinan kulit lantung di Papua, saat ini kerajinan kulit lantung juga berkembang di Kota Bengkulu. Kerajinan ini terbuat dari serat kulit kayu pohon atau lantung yang banyak terdapat di hutan-hutan di Propinsi Bengkulu.

Proses pengambilan kulit kayu lantung dari pohonnya cukup rumit. Pohon yang dapat diambil kulitnya biasanya pohon yang sudah berumur 10 tahun. Pohon ditebang kemudian kulitnya dikupas dari batangny, kulit kayu tersebut dipukul-pukul untuk memudahkannya terkelupas. Sesudah itu bagian tengah kulit dipisahkan dari kulit keras atau kulit luarnya. Lembaran kulit tengah lantung ini kemudian diratakan dengan alat khusus. Kemudian dipukul-pukul lagi hingga tipis menjadi lembaran-lembaran seperti kertas yang lebar.

Lembaran kulit lantung ini masih basah kemudian direbus, jadi perlu dijemur selama 2 minggu agar kering. Penjemuran kulit lantung ini juga dimaksudkan untuk mendapatkan kualitas kulit yang baik. Kulit lantung yang sudah kering dan siap diolah kemudian dijual kepada para pengrajin  dengan harga sekitar Rp.15.000,- sampai Rp.30.000,- per lembar.

Pada masa lalu kulit kayu lantung dibuat menjadi kain untuk busana para ibu. Kini kulit lantung dibuat menjadi beragam kerajinan tangan yang menarik dan telah menjadi oleh-oleh khas dari Bengkulu.

Kerajinan kulit lantung telah menjadi sumber penghidupan bagi banyak masyarakat di Bengkulu. Diantaranya ada yang mengolah kulit lantung menjadi bahan dasar rokok dan kopi. Usaha ini telah berdiri sejak tahun 1999. Selain itu masyarakat setempat juga mengubah kulit lantung menjadi beragam kerajinan tangan seperti topi, tas, lampion, celengan, gantungan kunci, tas, tempat tisu, kulit lantung juga dapat dijadikan sebagai kanvas lukis dan lain sebagainya.

 

 

 

Pengelolaan usaha kerajinan kulit kayu lantung masih bersifat konvensional dan sederhana dengan skala produksi yang relatif kecil atau bahkan mikro. Kebanyakan pengrajin kulit lantung ini merupakan pelaku industri rumahan, namun produk mereka laku terjual di dalam dan luar negeri. Salah satu negara yang menjadi pelanggan setia kerajinan kulit lantung dari Bengkulu ini adalah Brazil dan beberapa negara di benua Eropa.

Berdasarkan survey lapangan yang dilaksanakan peneliti dan Badan Penelitian Pembangunan dan Statistik Propinsi Bengkulu, jumlah pelaku usaha yang terdata adalah sebanyak 13 Pengerajin aktif yang tersebar di 5 (Lima) Kecamatan yaitu Kecamatan Ratu Samban, Teluk Segara, Muara Bangkahulu, Singaranpati dan Kecamatan Gading Cempaka.

Jika usaha kerajinan kayu lantung ini dikembangkan, maka dalam pengamatan peneliti dapat memberikan lapangan kerja baru dan kesempatan kerja sebagai berikut ;

  • Sumberdaya Manusia (tenaga ahli/terampil).
  • Jasa pengumpul kulit lantung.
  • Budidaya pohon lantung.
  • Lembaga keterampilan pengelolaan kulit lantung.
  • Berkembangnya usaha kerajinan kulit lantung dan dikelola secara professional.
  • Meningkatnya perputaran uang karena timbulnya jasa perdagangan, gallery dan exhibition produk-produk kerajinan dari kulit kayu lantung di tingkat nasional dan internasional.

Selanjutnya, juga berdasarkan pengamatan peneliti, usaha kerajinan kayu lantung belum dapat berkembang secara cepat dikarenakan rendahnya mutu produk yang dihasilkan, tidak adanya variasi produk dan sederhana dengan skala produksi yang relatif kecil/mikro. Sedangkan harga jual kerajinan kulit lantung ini relatif murah, yaitu berkisar antara 10 ribu sampai 200 ribu rupiah.

Selain itu, kerajinan kulit lantung mengalami keterbatasan persediaan bahan baku, sehingga kesulitan untuk memproduksi dalam jumlah banyak dan menjadi faktor penghambat keberlanjutan usaha tersebut.

 

Kerajinan Kain Batik Besurek

Kerajinan kain batik besurek adalah salah satu kerajinan tangan khas Bengkulu. Disebut demikian karena motifnya bertuliskan kaligrafi Arab. Pada hakekatnya besurek memiliki arti bersurat atau tulisan. Kerajinan ini diwariskan turun temurun. Konon, batik besurek diperkenalkan para pedagang Arab dan pekerja asal India pada abad XVII.

Agar lebih variatif, saat ini para pengrajin tak hanya menuliskan huruf kaligrafi. Namun juga mengombinasikan beberapa motif, seperti relung kua yang bergambar burung, relung paku yang meliuk liuk seperti tanaman pakis, dan motif rembulan serta bunga rafflesia. Motif-motif dasar kain besurek antara lain:

 

 

 

  • Motif Kaligrafi

Merupakan motif yang diambil dari huruf kaligrafi. untuk batik besurek modern, biasanya kaligrafinya tidak memiliki makna.

  • Motif Bunga Rafflesia

Bergambar bunga Rafflesia Arnoldi yang merupakan bunga raksasa khas Bengkulu. motif bunga Rafflesia bisa dibilang sebagai motif utama kain besurek setelah kaligrafi

  • Motif Burung

Bergambar seperti burung, tetapi terbuat dari rangkaian huruf kaligrafi

  • Motif Relung Paku

Bentuknya meliuk-liuk, persis seperti tanaman relung paku

  • Motif Rembulan

Merupakan motif yang digambar seperti rembulan yang bulat. biasanya dipadukan dengan motif kaligrafi

Saat ini batik besurek bukan hanya digunakan untuk kalangan bangsawan saat upacara adat maupun digunakan untuk menutup jenazah. Namun, seiring perkembangan penggunaan batik besurek yang semakin meluas maka dari hasil pengamatan peneliti batik besurek sudah dibuat pakaian seragam beberapa sekolah dan pakaian dinas pemerintah daerah, dengan tujuan untuk meningkatkan usaha kerajinan batik besurek Bengkulu.

Lokasi pengrajin kain batik besurek aktif di Kota Bengkulu berjumlah 16 (Enam Belas) pengrajin yang tersebar di 6 (Enam) kecamatan yaitu

ž  Kecamatan Gading Cempaka

ž  Kecamatan Ratu Samban

ž  Kecamatan Teluk Segara

ž  Kecamatan Ratu Agung

ž  Kecamatan Singaranpati

ž  Kecamatan Selebar

Berdasarkan hasil survei menunjukkan bahwa faktor tingginya harga jual kain buseruk adalah waktu pengerjaan yang relatif lama dan kerumitan pembuatan batik tulis kain besurek. Sepotong kain batik besurek yang berbahan sutra bisa mencapai lebih dari Rp 1.000.000,- per stel.

Kebijakan pemerintah Propinsi Bengkulu yang mewajibkan penggunaan pakaian berbahan batik besurek pada hari-hari tertentu bagi siswa pelajar dan pegawai negeri sipil pemerintah kota dan kabupaten sepropinsi Bengkulu, berdampak kurang baik bagi usaha pembuatan batik besurek. Pengusaha luar daerah telah memanfaatkan kebijakan tersebut dengan cara, memproduksi kain dengan motif kain besurek secara massal oleh pabrik-pabrik tekstil di luar daerah.

Dari beberapa faktor penghambat berkembangnya kerajinan kain besurek di atas, masih juga ada potensi yang tetap dapat dipertahankan, yaitu pangsa pasar kain besurek yang

mengerti akan seni batik. Pembeli ini tetap akan mencari jenis kain besurek yang ditulis tangan, walaupun harganya relatif mahal.

Sirup Jeruk Kalamansi

Kota Bengkulu memiliki potensi ekonomi kreatif yang berasal dari home industry berbasis pertanian, karena Kota Bengkulu termasuk kota yang masih memiliki lahan cukup luas. Hasil survey menunjukkan bahwa Kota Bengkulu memiliki produk berupa sirup jeruk kalamansi yang akan berpotensi menjadi unggulan. Sirup kalamansi merupakan hasil olahan home industry dari buah jeruk kalamansi.

Tanaman jeruk kalamansi sangat cocok dengan iklim di Kota Bengkulu, dan belum ada di Provinsi lain. Sehingga, jeruk kalamansi akan menjadi ciri khas dan icon Propinsi Bengkulu selain bunga raflesia-nya. Selain itu, jeruk kalamansi mudah ditanam, rasanya sangat asam, sehingga sulit untuk dimakan langsung. Oleh karena itu, solusi untuk memanfaatkan buah jeruk kalamansi adalah dengan mengolah jeruk tersebut menjadi sirup kalamansi.

 

Ada beberapa faktor yang dapat dianalisa bahwa produk sirup kalamansi menjadi potensi produk unggulan adalah:

  1. Faktor ketersediaan bahan baku

Saat ini Kota Bengkulu terdapat 4 pengusaha sirup kalamansi, yaitu di lokasi Perumdam, Pagar Dewa, Rawa Makmur, dan Bentiring. Salah satu pengusaha tersebut adalah Pak Ariyoto di Perumdam dengan label Kesturi. Pak Ariyoto memiliki kebun jeruk kalamansi seluas ½ hektar, yang dapat menghasilkan sebanyak 500 kilogram buah jeruk kalamansi dan dapat menjadi 27 liter sirup kalamansi. Setiap kali panen buah jeruk kalamansi mencapai 40-50 kilogram.

 

Jika merujuk pada pengusaha Pak Ariyanto yang merupakan binaan KADIN propinsi Bengkulu, 4 pengusaha sirup kalamansi memiliki masing-masing ½ hektar kebun jeruk, dapat diperoleh kesediaan bahan baku sebanyak 2.500 kilogram buah jeruk, dengan asumsi tidak terjadi gagal panen. Dan bila pengusaha-pengusaha tersebut menambah luas lahan kebunnya masing-masing menjadi 1 hektar, maka bahan baku sirup kalamansi akan meningkat sebanyak 5.000 kilogram buah jeruk. Dengan demikian, berdasarkan hasil survei tersebut, dapat menunjukkan bahwa ketersediaan bahan baku sirup kalamansi berpotensi cukup banyak.

 

  1. Faktor sumber daya manusia

Untuk menjalankan usahanya, Pak Ariyanto hanya memiliki 1 karyawan. Begitu juga dengan pengusaha lainnya rata-rata memiliki 1 karyawan. Hal ini menjadi kendala untuk memproduksi sirup kalamansi dalam jumlah banyak dengan efisiensi waktu dan biaya. Pengusaha tersebut belum mampu menggaji karyawan lebih banyak, karena sifat usaha ini masih banyak dikerja oleh para anggota keluarga.

Dengan demikian, faktor sumber daya manusia menjadi kendala dalam meningkatkan produksi sirup kalamansi di Kota Bengkulu.

 

  1. Faktor tehnik (tehnologi)

Dalam proses produksi pengusaha sirup kalamansi masih menggunakan tehnologi sederhana yaitu menggunakan kayu penumbuk jeruk yang belum bertehnologi tinggi. Buah jeruk sebanyak 50 kilogram untuk satu kali panen membutuhkan waktu 2 – 3 jam untuk direbus atau kukus. Proses selanjutnya, merebus air perasan jeruk dengan gula pasir juga melalui proses sederhana yaitu direbus dengan kompor.

Pada tahap pengemasan produk sudah menggunakan kemasan yang layak yaitu menggunakan botol dari bahan plastik dan diberi merek dagang.

 

  1. Faktor ekonomi (termasuk Pemasaran)

Berdasarkan hasil survei dan sudah dijelaskan di atas, bahwa setiap kali panen Pak Ariyanto memperoleh 40 – 50 kilogram buah jeruk. Jika dari 500 kilogram buah jeruk dapat menghasilkan 27 liter air perasan jeruk kalamansi, maka untuk menghasilkan 1 liter sirup membutuhkan lebih kurang 19 kilogram buah jeruk. Dengan demikian, satu kali panen dengan asumsi jumlah terbanyak yaitu 50 kilogram buah jeruk akan menghasilkan 3 liter air perasan jeruk kalamansi.

Jika satu kali produksi dapat dihitung sebagai berikut:

 

Biaya bahan baku:

Jeruk kalamansi 3 kg @ Rp. 7.000                      Rp. 21.000

Gula pasir 2 kg @ Rp. 12.000                 Rp. 24.000

Biaya tenaga kerja Rp. 0

Biaya Overhead:

Biaya listrik          Rp.   5.000

Biaya gas              Rp.   3.000

Total harga pokok produksi                                 Rp. 53.000 (2 liter sirup)

 

Dari total harga pokok produksi menghasilkan 2 liter sirup kalamansi, maka harga produksi 1 liter sebesar Rp 26. 500.

Ada tiga jenis kemasan produk yaitu ukuran 1 liter sirup dijual dengan harga Rp 35.000. Ukuran 500 mililiter dijual dengan harga antara Rp 20.000 hingga Rp. 25.000. Untuk ukuran kecil yang dapat langsung diminum yaitu 250 mililiter dijual seharga Rp 5.000. Pemerintah daerah Kota Bengkulu telah menganjurkan kpd semua restoran dan hotel untuk memperkenalkan sirup kalamansi.

Harga produksi 1 liter sirup =            Rp 26.500

Biaya 1 botol + sticker ukuran 1 liter           = Rp   4.000

Total harga pokok produksi  1 liter              = Rp  30.500

Harga jual 1 liter sirup                                = Rp  35.000

Keuntungan 1 liter sirup                             = Rp    4.500

Harga jual 0,5 liter sirup                             = Rp  25.000

Keuntungan 0,5 liter sirup                              = Rp     9.750

 

Biaya botol + sticker ukuran 250 ml

= Rp 1.700

2,5 liter sirup = 100 botol minuman

2,5 L  x Rp 26.500 = Rp   66.250

100 x Rp 1.700      = Rp 170.000

Harga pokok         = Rp 236.250/ 100 = Rp 2.362,5

Harga jual            = Rp  4.000

Keuntungan        = Rp  1.637,5

 

 

Penghasilan 1 bulan =

Rp 1. 637,5 x 100 botol x 30 hari              = Rp 4.912.500

Jika memproduksi 5 liter setiap hari

Rp 1. 637,5 x 200 botol x 30 hari             = Rp 9.825.000

4 anggota keluarga (@ Rp Rp 1.000.000)           = Rp 4.000.000

Peningkatan kesejahteraan                        = Rp 5.000.000

 

Berdasarkan perhitungan di atas, pengusaha sirup kalamansi akan memperoleh peningkatan kesejateraan sebesar Rp 5.000.000 per bulan. Jika home industry memperoleh bantuan peralatan untuk mengukus air perasan jeruk dengan tehnologi tinggi, sehingga lebih efektif, efisien, higienis (hygienic) dan jumlah besar, maka kesejahteraan pelaku home industry akan lebih meningkat.

Pemasaran sirup kalamansi dengan sistem konsiyansi, dan penjualan langsung. Namun produk tidak dapat bertahan lebih dari 3 hari. Disamping produk sirup, pengusa juga menghasilkan manisan dan permen kalamansi.

  1. Faktor lembaga keuangan

Faktor lembaga keuangan sangat penting dalam menunjung pengembangan usaha sirup kalamansi. Saat ini pengusaha sirup kalamansi telah memperoleh bantuan permodalan dari pihak perbankan seperti BRI. Selain itu, BRI dan Pelindo juga mempromosikan produk sirup kalamansi melalui pameran-pameran yang diselanggarakan oleh pihak BRI ataupun Pelindo.

Ada kendala produksi sirup kalamansi saat ini adalah belum terdaftar di direktori Disperindag Provinsi Bengkulu. Dengan demikian, para pelaku home industry sirup kalamansi kesulitan untuk memperoleh bantuan modal baik dari pihak pemerintah maupun swasta.

Selain di Perumdam, produksi sirup kalamansi juga ada di Rawa Makmur. Bahan baku jeruk kalamansi bersumber dari petani lain di daerah Kampung Melayu yang dibeli 1 kg buah jeruk dengan harga Rp 7.000. Sudah memiliki kebun, tetapi belum menghasilkan. Tidak memiliki tenaga kerja tetap. Dalam proses produksi, sudah menggunakan mesin pemeras jeruk yang merupakan bantuan dari kementerian melalui koperasi dan produk di label menggunakan mesin pres label.

Home Industry Kabupaten Bengkulu Utara

Berdasarkan hasil survey dan data yang diperoleh dalam Tabel 3.3, menunjukkan bahwa produk unggulan Bengkulu Utara masih didominasi oleh produk makanan, dimana kelompok industri gula merah menjadi mayoritas home industry di kabupaten Bengkulu Utara sebanyak 83 unit usaha (51,87%) sedangkan untuk produk di luar industri makanan belum terdata. Dari hasil pengamatan peneliti, home industry di luar kelompok industri makanan sangat menjanjikan untuk dikembangkan oleh kabupaten Bengkulu Utara, misalnya kelompok industri anyam-anyaman.

Pengrajin anyam-anyaman rata-rata kurang memiliki pengetahuan yang luas, dan permodalan kurang, namun jika ingin memperoleh kredit membutuhkan persyaratan yang banyak. Dibalik dari beberapa kendala ini, pengrajin anyam-anyaman berpotensi untuk dapat berkembang, karena kabupaten Bengkulu Utara memiliki sumber alam yaitu bahan baku baku bambu yang berlimpah.

Home Industry Kabupaten Muko-muko

Berdasarkan tabel 3.4. dan tabel 3.5. yang telah disampaikan sebelumnya, kelompok industri kerupuk, keripik, peyek mendominasi sejenis industry  di  Kabupaten  Muko-Muko  sebanyak 30 unit usaha (51,72%). Dari kelompok industri yang telah terdata adalah sebanyak 30 unit industri, industri kerupuk yang mendominasi sebanyak 9 unit industri atau 30 persen dan kelompok industri keripik ubi dan pisang sale memiliki masing-masing 4 unit industri atau sebanyak 13,33 persen. Sedangkan kelompok industri lainnya masih sedikit.

Salah satu jenis kerupuk yang dikembangkan adalah kerupuk dengan merk Tortila. Tortila kabupaten Mukomuko saat ini mulai marak digalakkan Oleh Bupati Mukomuko. Belum lama ini Bupati Mukomuko telah mengadakan Pelatihan  Program PUD Pangan Zoniped yakni di Malindo, Bupati Mukomuko mengirim 100 Warga dan Penyuluh untuk mengikuti Pelatihan tersebut di LPTTG Mallindo Di Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

LPTTG Malindo (Lembaga Pengembangan Teknologi Tepat Guna Masyarakat Lokal Indonesia) adalah wadah pelatihan fokus Teknologi Tepat Guna (TTG) menjadi produk unggulan daerah (PUD). Tujuan dari pelatihan tersebut untuk meningkatkan  ekonomi kesejahteraan masyarakat di kabupaten Mukomuko. Hasil dari pelatihan tersebut diharapkan agar warga/masyarakat bisa mengembangkan usaha pembuatan Tortilla di kabupaten Mukomuko.

Pada tanggal 22 Desember 2011 pemerintah Kabupaten Mukomuko meluncurkan produk unggulan berupa makanan ringan “tortila” dengan kemasan dan rasa yang beragam. makanan ringan yang diluncurkan saat ini baru enam rasa, yakni ikan laut, ikan lele, kepiting, jagung, ubi, dan pisang. Produk unggulan berupa makanan ringan tortila ini merupakan hasil dari pelatihan yang diikuti oleh 100 orang warga masyarakat daerah ini.

Langkah yang diambil pemerintah daerah sudah tepat yaitu orang-orang yang telah mengikuti pelatihan di LPTTG Malindo sebelumnya membentuk kelompok-kelompok baru dan menghasilkan bahan baku setengah jadi. Barang setengah jadi tersebut dijual kepada pemerintah kabupaten Mukomuko. Dan selanjutnya pemerintah setempat bertugas untuk melaksanakan penggorengan menjadikan bahan baku tersebut menjadi produk akhir makanan ringan. Proses pengemasan dan pemasaran produk juga dilaksanakan oleh pemerintah setempat.

Pada tahap awal ini tortila hanya dipasarkan di toko, warung, dan pasar yang tersebar di kabupaten Mukomuko dan belum bisa dipasarkan atau dijual keluar daerah dikarenakan belum keluar izin kesehatan dan izin halal. Produk ini dijual dengan dengan harga mulai dari Rp. 5.000 hingga Rp. 35.000. adapun variasi hasil olahan Tortilla Kabupaten Mukomuko yaitu ;

  • Tortilla Ikan Lele,
  • Tortilla Ikan Laut,
  • Tortilla Jagung
  • Tortilla Pisang,
  • Tortilla kepiting,
  • Tortilla ubi

 

Hasil pengamatan peneliti, saat ini Tortilla  telah menjadi salah satu makanan Khas Kabupaten Mukomuko dan produk ini juga telah diperkenalkan oleh Pemerintah Propinsi Bengkulu dengan membawa tortilla di ajang pameran Industri Kecil dan Menegah tahun 2012 di Jakarta bersama produk unggulan kabupaten-kabupaten lain sepropinsi Bengkulu. Untuk masa mendatang, diharapkan pelaku usaha dan pemerintah daerah mukomuko dapat lebih mengembangkan variasi tortilla dengan menambah rasa yang bisa dibuat menjadi makanan ringan tortilla selain 6 (Enam) rasa yang ada pada saat ini. Pengembangan rasa tortilla dimungkinkan bertambah karena bahan baku banyak tersedia di daerah ini.

 

Home Industry Kabupaten Rejang Lebong

Berdasarkan tabel 3.7 kelompok industri produk roti dan kue, keripik, dan peyek mendominasi kelompok industri makanan di Kabupaten Rejang Lebong. Pada saat ini, terdapat produk potensi unggulan yang dapat meningkatan perekonomian masyarakat Rejang Lebong yaitu gula aren, gula semut dan kue kara.

Industri Gula Aren

Seperti di ketahui bahwa masyarakat di kabupaten Rejang Lebong terdiri dari bermacam etnis yang ada dan berkembang antara lain etnis Jawa, Padang, Rejang dan Serawai. Mereka memiliki cara-cara tradisional tersendiri dalam membuat gula aren ini diantaranya dapat dilihat dari bentuk dan kemasannya. Oleh karena itu sering kita menemui gula aren ini dikemas dengan mempergunakan plastik, dimasukkan dalam kotak-kotak karton dan ada yang dikemas dengan daun pisang kering.

Dari hasil survei, gula aren yang dibungkus dengan daun pisang kering inilah yang bisa dijual dengan harga lebih tinggi, lebih awet dan tidak berubah rasa walaupun dalam jangka waktu lama dibandingkan dengan jenis kemasan gula aren yang lainnya. Daun pisang selain berfungsi sebagai pembungkus, juga dapat berfungsi sebagai bahan mengering atau pencegah kelembaban. Jadi walaupun disimpan berlama-lama, gula aren yang dibungkus dengan daun pisang dapat terus dalam kondisi kering.

Salah satu pembuat gula aren di Curup mengatakan, setiap hari (pagi dan sore) dia menyadap tangkai buah aren untuk mendapatkan air gula. Pukul 15.00 Wib dia mulai memasaknya dan sore harinya gula aren itu sudah siap dikemas. Setiap hari mampu menghasilkan paling sedikitnya 3 kilogram gula aren. Bahan baku pembuatan gula aren selain bersumber dari pohon sendiri, juga bersumber dari petani lain. Pelaku usaha rumahan ini tidak memiliki karyawan tetap, karena semua proses produksi dilakukan oleh anggota keluarga.

Gula aren atau gula merah adalah produk hasil pemekatan nira aren dengan panas (pemasakan) sampai kadar air yang sangat rendah (<6%) sehingga ketika dingin produk mengeras. Pembuatan gula aren hampir sama dengan sirup aren. Nira dipanaskan sampai kental sekali. Pada pembuatan sirup aren, pemanasan dilakukan sampai volume tinggal 1/5 volume semula. Pada pembuatan gula aren pemanasan dilakukan sampai volume kurang dari 1/10 volume semula. Setelah itu, cairan gula kental tersebut dituangkan ke cetakan dan ditunggu dingin. Pembuatan gula aren ini juga mudah dan dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan yang sederhana.

Walaupun stok gula aren di pasarannya banyak, namun sampai saat ini harga jual gula aren di pasar tidak pernah turun bahkan jika dibandingkan dengan harga di tahun-tahun sebelumnya, harga gula aren tradisional terus mengalami kenaikan. Salah satu usaha yang dilakukan adalah mengemas kembali gula aren yang telah diproduksi dan belum terjual, memberikan variasi bentuk yang lebih menarik dan meningkatkan kualitasnya yaitu dengan menjaga keaslian gula aren namun tidak meninggalkan ciri aslinya, yakni mempergunakan daun pisang kering.

Melihat dari variasi produk, bentuk fisik dan kemasan yang beredar di pasaran saat ini, produksi gula aren yang dihasilkan oleh masyarakat Curup masih sangat kurang. Produk yang dihasilkan oleh daerah lain baik yang ada di wilayah Propinsi Bengkulu dan wilayah di Luar Propinsi Bengkulu sudah sangat maju dan bervariasi.

Di mall ataupun pasar tradisional sangat sering ditemui variasi produk gula aren, seperti ;

  • · Gula Aren Cetak

Kelebihannya antara lain;

  • Ø Membawanya enak.
  • Ø Bentuk dan fisiknya fleksibel.

Kekurangannya antara lain ;

  • Ø Kurang praktis, saat digunakan harus diiris-iris dulu
  • Ø Sulit untuk menakar sesuai keperluan.
  • Ø Jika disimpan di ruangan, mudah meleleh.
  • Ø Dalam pembuatannya memerlukan waktu dan keahlian khusus.
  • · Gula Aren Cair

Kelebihannya antara lain;

  • Ø Gampang penggunaanya.
  • Ø Bisa ditakar sesuai keperluan.
  • Ø Wadahnya fleksibel, bisa dimasukkan botol, jerigen, drum, dan sebagainya.

Kekurangannya antara lain ;

  • Ø Kadar gula sangat bervariasi
  • Ø Mutu gulanya sangat tergantung dari bahan

baku dan cara pemrosesannya.

  • Ø Jenis produk ini belum banyak ditemui di pasar.

Pemasaran gula aren yang dihasilkan oleh Kabupaten Rejang Lebong masih beredar di dalam wilayah Propinsi Bengkulu dan belum memasuki pasar internasional kecuali pada saat mengikuti pameran-pameran yang disponsori oleh pemerintah daerah, Kadin dan BUMN nasional.

 

Industri Gula Semut

Bahan baku gula semut bersumber dari gula aren yang berkualitas. Proses produksi gula semut sudah menggunakan tehnologi, yaitu menggunakan mesin khusus yang dapat menghasilkan gula semut berwarna coklat halus dan sangat kering.

 

Adapun kelebihan gula semut antara lain;

  • Ø Gampang diambil sesuai keperluan.
  • Ø Penggunaannya praktis
  • Ø Wadahnya fleksibel.
  • Ø Baik untuk penderita diabetes

Kekurangannya antara lain ;

  • Ø Cara pembuatannya agak rumit
  • Ø Kadar airnya lebih sedikit, beratnya kurang.
  • Ø Mudah meleleh dan mencair jika panas dan terkena air.

Gula semut berpotensi menjadi produk unggulan masyarakat dibanding dengan gula aren. Berikut disajikan perhitungan yang dapat memiliki daya ungkit dari produk gula semut:

Harga pokok produksi gula aren/kg        = Rp 14.000

Harga jual gula aren tanpa kemasan/kg           = Rp 18.000

Harga jual gula aren dgn kemasan/kg             =Rp  20.000

Keuntungan                                                    = Rp    4.000

Gula semut/kg:

Bahan baku gula aren              = Rp 14.000

Biaya pengeringan                  = Rp   5.000

Biaya Kemasan                        = Rp   1.500

Total HPP                                = Rp 20.500

Harga jual                                 = Rp 30.000

Keuntungan                             = Rp   9.500

Dengan adanya diversifikasi dan kreatifitas produk, diperoleh  nilai tambah produk (value added) sebesar Rp 5.500. Jika 1 bulan terjual 400 kg gula semut, peningkatan pendapatan sebesar Rp 2.200.000.

Sistem pemasaran gula semut bisa melalui pesan langsung dan memiliki toko sendiri. Industri gula semut mengalami hambatan berupa bahan baku yang terbatas karena bersumber dari air nira pilihan, sehingga kesulitan memenuhi permintaan. Walaupun demikian, pelaku industri gula semut telah memperoleh bantuan peralatan berupa mesin pembuatan gula semut dan pelatihan dari Dinas Perindustrian.

Dari hasil survei, pelaku industri gula semut tidak mau mengurus izin usaha. Hal ini disebabkan mereka malas untuk pergi mengurus izin tersebut, karena mereka menganggap dengan usaha yang ada sekarang merekapun bisa hidup.

Industri Kue Kara

Walaupun di sekitar kita banyak di jual produk pangan dari pabrik yang mempunyai bentuk, rasa beraneka ragam, namun industri kue kara juga berpotensi menjadi produk unggulan Kabupaten Rejang Lebong. Karena produk ini memiliki cita rasa yang khas, tanpa bahan pengaman sehingga aman dimakan oleh anak-anak. Bahan baku kue kara berasal dari ubi jalar. Pelaku industri rumahan kue kara tidak memiliki tenaga kerja tetap karena semua proses produksi dilakukan oleh anggota keluarga.

Proses produksi masih bersifat sederhana (tradisional), tetapi sudah memiliki alat pengepresan kemasan. Sistem pemasaran produk kue kara dengan sistem konsinyasi melalui koperasi dan toko. Pemasaran kue kara sudah mencapai kota Arga Makmur.

Kendala yang dialami oleh pelaku industri kue kara adalah belum memiliki izin produksi dari Disperindag yang tidak tercantum di label produk. Alasan belum memiliki izin dikarenakan pelaku home industry malas untuk mengurus izin tersebut. Mereka berpikir bahwa tidak perlu izin karena produksinya tetap dikenal pembeli.

Jika memiliki izin produksi dan kemasan yang lebih menarik, maka akan diperoleh nilai tambah:

Harga jual dengan kemasan plastik biasa = Rp 10.000

Harga jual dengan kemasan menarik (kreatif)            = Rp 15.000

Kenaikan harga jual (value added)                 = Rp   5.000

Dari penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa kue kara berpotensi produk unggulan masyarakat Kota Curup.

Home Industry Kabupaten Kepahiang

Kabupaten Kepahiang juga memiliki produk unggulan, antara lain: produksi kopi bubuk dan kopi luwak. Sejak puluhan tahun yang lalu Kota Kepahiang sudah dikenal dengan produksi kopi-nya. Jika berpergian melintasi Kota Kepahiang sudah tercium sedapnya aroma biji kopi yang sedang disangrai oleh produsen kopi. Sehingga bagi pecandu minuman kopi selalu berkeinginan untuk membeli kopi ataupun juga dapat dijadikan oleh-oleh. Berdasarkan tabel 3.11 , Kota Kepahiang memiliki 17 industri bubuk kopi atau 16, 83% dari total industri makanan di Kota Kepahiang.

Setelah ada temuan bahwa hasil feses hewan luwak (musang) yang memakan biji kopi dapat menghasilkan minuman kopi yang lebih enak dan di negara barat sangat menyukai kopi luwak tersebut, maka produsen kopi Kota Kepahiang mulai berinovasi untuk memproduksi kopi luwak juga. Agar dapat meningkat pendapatan produsen kopi dan juga petani kopi.

Salah satu industri rumahan kopi luwak di Kepahiyang adalah kopi luwak Luspita. Usaha kopi luwak Luspita memiliki 25 ekor musang. Dalam proses produksi sudah menggunakan mesin pengsangraian biji kopi dan mesin pengepresan kemasan.

Dengan 25 ekor musang inilah, Luspita dapat memenuhi permintaan konsumen. Industri kopi luwak Luspita memproduksi bubuk kopi luwak tergantung pesanan dan juga menjual eceran di toko sendiri. Satu kilo gram bubuk kopi luwak dari jenis kopi Arabika dijual dengan harga 600 ribu rupiah dan menjual biji kopi luwak yang belum diolah (yang masih dalam bentuk feses) dengan harga 1 kg sebesar 200 ribu rupiah.

Kopi luwak memiliki daya ungkit yang dapat meningkatkan perekonomian pelaku usaha dan pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kepahiyang:

Harga jual kopi bubuk/kg        = Rp  45.000

Harga jual kopi luwak/kg        =Rp 600.000

Sedangkan Harga jual biji kopi bubuk/kg              = Rp 30.000

Harga jual biji kopi luwak       =Rp 200.000

Dengan demikian, dengan adanya kreatifitas dan inovasi dapat peningkatan pendapatan lebih dari 100%.

Walaupun home industry Kopi Luwak Luspita sudah dibina oleh Disperindag, namun belum mendapatkan bantuan tambahan modal baik dari pemerintah maupun pihak swasta, juga mempunyai kendala dari segi pemasaran yaitu masih di sekitar wilayah Kepahiang.

Berikutnya adalah industri kopi luwak Jalil. Home industry kopi luwak Jalil merupakan usaha dari kelompok tani yang berdiri pada akhir tahun 2008. Bahan baku kopi luwak bersumber dari kelompok petani kopi tersebut, sehingga pemasok bahan baku kopi sudah jelas dan terjamin. Dengan memiliki 350 ekor hewan musang, industri kopi luwak Jalil dapat memasarkan produknya hingga ke Propinsi Lampung dan memenuhi semua permintaan karena persediaan bahan baku kopi luwak selalu ada. Industri ini tidak berkerja sama dengan koperasi karena para konsumen langsung membeli di tempat industri. Untuk pangan hewan musang dalam 1 minggu menghabiskan biaya 200 ribu rupiah. Hasil kotoran hewan musang 1 kilo gram akan menjadi bubuk kopi luwak sebanyak 1 ons.

Industri kopi luwak Jalil sudah memperoleh bantuan dari Dinas Perkebunan berupa mesin pengolahan kopi (mesin penggorengan, mesin bubuk kopi). Dengan bantuan tersebut, industri kopi luwak jalil dapat mempercepat proses usaha kopi luwak, sehingga modal awal usaha sudah dapat dikembalikan bahkan tingkat keuntungan dapat diperoleh   hingga 30%.

Berdasarkan penjelasaan di atas, dapat disimpulkan bahwa industri kopi luwak dapat menjadi sumber potensi peningkatan pendapat daerah Kota Kepahiang.

Home Industry Kabupaten Kaur

Kabupaten Kaur juga memiliki potensi untuk industri kopi luwak. Hasil survei menunjukkan bahwa kopi luwak Kabupaten Kaur mempunyai cita rasa yang berbeda dan lebih nikmat dibanding dengan hasil industri kopi luwak Kota Kepahiang. Karena Kabupaten Kaur bersumber dari iklim pantai dan pegunungan, sehingga dengan kombinasi iklim tersebut sangat mempengaruhi struktur tanah tanaman kopi luwak.

Home industry kopi luwak di Kabupaten Kaur adalah usaha kopi luwak Yopi. Bahan baku kopi luwak berasal dari hewan musang (luwak) liar, sehingga makanan musangpun bersifat alami. Hal inilah merupakan satu point kelebihan dari usaha luwak Yopi. Usaha kopi luwak Yopi bersifat mandiri dan berkerjasama dengan koperasi dari segi pemasaran. Bahan baku dikumpulkan dari petani kopi yang dibeli dengan harga sedikit lebih tinggi yaitu  100 ribu per kilogram karena bersumber dari kotoran musang liar.

Pemasaran usaha kopi luwak Yopi sudah menyampai ke luar negeri dengan            1 kilo gram biji kopi seharga 1,5 juta rupiah dan bubuk kopi luwak mencapai harga 5 – 6 juta rupiah. Selain dipasarkan ke luar negeri, kopi luwak Yopi juga mengisi counter shop di seluruh Jakarta. Kelompok tani kopi luwak di Kaur sudah diberi pelatihan dari instansi terkait. Namun, ada kendala dalam usaha ini, produksi kopi luwak masih bersifat sederhana dan belum ada izin usaha.

Begitu juga dengan usaha kopi luwak Bintuhan Black Coffee (BBC), biji kopi masih di sangrai dengan menggunakan kayu bakar dan belum ada izin usaha. Walaupun ada kendala, BBC sudah memasarkan biji sangrai hingga ke Bekasi Square. Dengan demikian, usaha kopi luwak sangat diperlukan bantuan agar usaha kopi tersebut dapat menjadi industri yang modern dan berpotensi untuk dikembang menjadi produk unggulan di Kota Kaur.

Selanjut, ada satu usaha lagi yang berpotensi menjadi produk unggulan Kota Kaur adalah usaha Abon Ikrin. Produksi Abon Ikrin diproduksi sesuai dengan pesanan dan diproduksi secara terus menerus. Karena kendala dengan bahan baku yang tergantung dengan sumber ikan. Alat produksi masih bersifat sederhana dan belum mendapat izin usaha. Usaha Abon Ikrin memperkerjakan kelompok ibu-ibu, sehingga dapat menjadi tambahan pendapatan bagi ibu-ibu rumah tangga tersebut. Sedangkan pemasaran usaha abon ini, masih dipasarkan secara lokal yaitu di sekitar Kota Bintuhan.

Kabupaten Seluma

Kabupaten Seluma juga memiliki potensi Kain tenun Bumpak yang sudah lama di buat oleh masyarakat Kabupaten Seluma, dengan menerapkan keterampilan pengolahan kain secara turun temurun, motif dan cara pembuatan menjadi keunggulan tersendiri dibandingkan dengan kain tenun dari daerah lain.

Di wilayah Sumatra selatan termasuk Bengkulu berbagai macan jenis kain tenun, kalau di Palembang kain tenun songket dan di Kabupaten Seluma tenun Bumpak, rencananya juga akan dijadikan batik Bumpak Seluma. Dan sudah menjadi binaan Disperindag Kabupaten Seluma.

Kabupaten Bengkulu Tengah

Sesuai dengan sumber daya alam (SDA) Kabupaten Bengkulu Tengah banyak menghasilkan bambu, sehingga kerajinan anyaman bambu merupakan produk unggulan. Selain itu juga Kabupaten Bengkulu Tengah juga mengembangkan industry olahan jeruk kalamansi.

Kabupaten Bengkulu Selatan

Kabupaten Bengkulu Selatan memiliki potensi produk unggulan gula aren/ gula merah dan sangat terkenal sampai Kota Bengkulu. Selain itu juga terkenal industry pengolahan kue yaitu kue Tat khas Bengkulu Selatan.

Kabupaten Lebong

Kabupaten Lebong berdasarkan profil home industry yang terbanyak adalah pengolahan makanan ringan juga terkenal dengan industry pengolahan kopi bubuk Arabica dan Robusta.

KESIMPULAN

Adapun Kesimpulan dan Rekomendasi dari penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.

Tabel 2. Potensi, Kendala dan Rekomendasi dari Produk Unggulan Propinsi Bengkulu

No. Sampel Wilayah Produk Unggulan Potensi Kendala Rekomendasi
1. Kota Bengkulu Kerajinan Kulit Lantung

 

 

 

 

 

Kerajinan Kain Besurek

 

 

 

 

Sirup Jeruk Kalamansi

Kerajinan tangan sebagai oleh-oleh

 

 

 

 

Pangsa pasar yang mengerti seni batik tulis.

 

 

Produk sirup kalamsi

 

Ketersediaan bahan baku.

Pemasaran dan promosi.

Kesulitan memperoleh kredit.

 

Pemasaran.

Motif mudah ditiru.

 

 

 

 

Ketahanan produk.

Belum terdaftar di direktori Disperindag Provinsi Bengkulu.

Jaminan kesehatan  dan halal produk.

 

Dinas Pariwisata: bekerjasama dengan Pemda untuk ikut mempromosikan (setiap event dan tamu daerah).

 

 

 

Dinas Perindustrian dan perdagangan, Dinas Penanaman Modal dan Pemda untuk mengusulkan Hak paten Motif Kain Besurek.

 

Dinas Pertanian bekerjasama dengan universitas untuk melakukan penelitian meningkatkan kualitas buah jeruk kalamansi.

Dinas pariwisata: ikut mempromosikan produk.

Pemda berkerjasama dengan Balai POM dan MUI: untuk mengusulkan jaminan kesehatan dan halal produk.

 

2. Kabupaten Bengkulu Utara Anyam-anyaman bambu

 

Gula merah/gula tebu

Bahan baku melimpah Kurangnya pengetahuan dari pengrajin, tehnologi, dan Permodalan.

Kesulitan memperoleh kredit karena diperlukan syarat yang banyak.

 

Pemda menfasilitasi untuk memperoleh bantuan kredit.
3. Kabupaten Muko-muko Gula kelapa

 

 

 

 

 

 

 

 

Tortila

Dapat menjadi bahan baku gula semut.

 

 

 

 

 

Oleh-oleh khas daerah.

Desain dan tehnologi kemasan.

Tidak ada bahan baku kemasan yang canggih di Bengkulu, yang harus dipesan di luar Bengkulu

 

Kurang luasnya pemasaran, sehingga produk menumpuk.

 

Pemda berkerjasama dengan Balai POM dan MUI: untuk mengusulkan jaminan kesehatan dan halal produk.

 

 

 

 

Pemda dan Masyarakat membantu mempromosikan Tortila.

4. Kabupaten Rejang Lebong Gula merah /Aren

 

 

 

 

 

 

Gula semut

 

 

Tingkat penjualan tetap tinggi.

Sebagai bahan baku gula semut.

 

Perminta-an cukup tinggi

Variasi produk dan desain kemasan kurang menarik.

 

 

 

 

 

Desain produk kurang menarik.

Izin usaha belum ada

Pemda berkerjasama dengan Balai POM dan MUI: untuk mengusulkan jaminan kesehatan dan halal produk.

Dinas pariwisata: membantu promosi

 

Pemda: jaminan kepastian pemasaran, memfasilitasi pengurusan izin, dan membantu promosi.

 

    Kue kara Produk dan cita rasa yang khas

 

Izin usaha belum ada Pemda berkerjasama dengan Balai POM dan MUI: untuk mengusulkan jaminan kesehatan dan halal produk.

 

5. Kabupaten Kepahiyang Kopi bubuk

 

 

 

Kopi Luwak

Pangsa pasar tetap tinggi

 

Pangsa pasar lokal dan berpotensi hingga LN

 

Malas mengurus izin usaha.

 

 

Belum mendapat bantuan modal

Dinas Pariwisata: membantu promosi.

 

 

Pemda: memfasilitasi perolehan  bantuan modal

6. Kabupaten Kaur Kopi luwak

 

 

 

 

Abon ikan Ikrin

Pangsa pasar lokal dan berpotensi hingga LN

 

Memiliki cita rasa khas yang berbeda dari daerah lain.

 

Bantuan modal

Izin usaha

 

 

 

 

Izin usaha

Pemda: memfasilitasi perolehan  bantuan modal dan izin usaha.

 

 

 

Pemda berkerjasama dengan Balai POM dan MUI: untuk mengusulkan jaminan kesehatan dan halal produk.

 

7. Kabupaten Seluma Ukir-ukiran

 

Tenun (Gumpak)

Tenun khas Bengkulu Belum begitu dikenal Dinas Pariwisata: membantu promosi.

Dinas Perindustrian dan perdagangan, Dinas Penanaman Modal dan Pemda untuk mengusulkan Hak paten Motif Tenun Gumpak.

 

8. Kabupaten Bengkulu Tengah Anyam-anyaman bambu

 

 

 

Gula merah /Aren

 

 

 

Sirup jeruk kalamansi

Bahan baku berlimpah.

Pemintaan tinggi.

 

Permintaan tetap ada

 

 

 

 

Bahan baku terbatas

Tehnologi sederhana.

Pemasaran.

 

 

 

Pemasaran terbatasa, sehingga kelebihan stock produk

 

Tehnologi sederhana

Dinas Perindustrian: membantu peralatan.

Dinas Pariwisata: promosi.

 

 

Perangkat SPKB: jaminan pemasaran

 

 

 

 

Dinas Perindustrian: membantu peralatan

9. Kabupaten Bengkulu Selatan Gula merah Memiliki cita rasa khas yang berbeda dari daerah lain

 

Izin usaha Pemda: membantu izin usaha.

 

 

10. Kabupaten Lebong Gula merah /Aren

 

Kopi Rubusta dan Kopi Arabika

 

Memiliki cita rasa khas yang berbeda dari daerah lain Izin usaha, tehnologi Pemda: membantu izin usaha.

 

Rekomendasi untuk semua produk unggulan di Propinsi Bengkulu adalah:

  1. Pemda Propinsi Bengkulu untuk mengarahkan semua produk unggulan Propinsi Bengkulu memperoleh legalitas produk.
  2. Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD) untuk melatih enterpreneurship dan mengubah pola pikir pelaku industri rumahan.
  3. Perangkat SKPD dan masyarakat memiliki komitmen yang tinggi untuk menumbuh kembangkan produk unggulan lokal.
  4. Universitas khususnya Fakultas Ekonomi untuk melatih manajemen usaha dan keuangan.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Perdagangan Republik Indonesia: “Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025: Rencana Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2015,” Deperdag RI, 2009.

Howkins, J.: ”The Craetive Economy, How People make Money from Ideas,” Penguin Books, 2001.

Bayu Krisnamurthi, 2002. Strategi Pembangunan Ekonomi Rakyat, Dalam Kerangka Pembangunan Ekonomi Daerah. Pusat Studi Pembangunan IPB.

Davis and Cosenza, 1993. Business Research for Decision Making. Third Edition. Wadsworth Publishing Company, Belmont California USA.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2012. Edisi Empat. Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Kotler, Philip (1994). Marketing Management: Analysis, Planning, Implementation and Control. Eighth Edition. Prentice Hall International, New Jersey USA.

 

 

Posted in Jurnal | Leave a comment

KARAKTERISTIK SAUS SAMBAL TEMPOYAK (KAJIAN KONSENTRASI TEMPOYAK : CABAI DAN JENIS BAHAN PENSTABIL)

Oleh :

Lina Widawati 1), Havid Shandy Priyadutha 2)

1) Program Studi Teknologi Pangan Universitas Dehasen Bengkulu

2) Program Studi Teknologi Pertanian Universitas Dehasen Bengkulu

Email : lina84id@gmail.com

 

ABSTRAK

Tempoyak merupakan makanan hasil olahan buah durian yang diperoleh dengan cara fermentasi sederhana, yang melibatkan bakteri asam laktat. Tempoyak dapat diolah menjadi saus sambal tempoyak yang lebih praktis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rasio tempoyak dan cabai serta jenis bahan penstabil yang tepat terhadap mutu saus sambal tempoyak. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil analisis Total Padatan Terlarut saus sambal tempoyak sudah memenuhi syarat SNI yaitu minimal 20 brix. Pada hasil analisis pH menunjukan bahwa saus sambal tempoyak dengan rasio tempoyak : cabai 150 : 50 dan 100 : 100 baik menggunakan bahan penstabil CMC maupun tepung maizena sudah memenuhi syarat SNI yaitu pH maksimal 4. Berdasarkan hasil analisis organoleptik warna, saus sambal tempoyak yang paling disukai adalah dengan rasio tempoyak : cabai 100 : 100 baik dengan jenis bahan penstabil CMC maupun tepung maizena. Sedangkan hasil analisis organoleptik rasa dan tekstur, saus sambal tempoyak yang paling disukai adalah dengan rasio tempoyak : cabai 150 : 50 dengan jenis bahan penstabil CMC.

 

Kata kunci : Tempoyak, Cabai, Bahan Penstabil, Saus Sambal Tempoyak

ABSTRACT

            “Tempoyak is a food processed durian fruit obtained by simple fermentation, involving lactic acid bacteria. With touch technology tempoyak can be processed into chili sauce tempoyak more practical and can be enjoyed anytime. This study aims to determine the effect of the ratio tempoyak and chili as well as the type of stabilizer right to quality chili sauce “tempoyak. The results showed that the analysis of Total Dissolved Solids chili sauce tempoyak already qualified SNI is at least 20 brix. On the results of the analysis show that tempoyak : chilli ratio is 150 : 50 and 100 : 100 good use of stabilizers CMC and cornstarch already qualified SNI chili sauce namely a maximum pH 4. Based on the results of the organoleptic analysis of colour, chili saucetempoyak most preferred is the ratio of tempoyak : chili 100 : 100 either to the type of stabilizer CMC and cornstarch. While the results of organoleptic analysis flavor and texture, chili sauce tempoyak most preferred is a ratio of tempoyak : chili 150 : 50 to the type of stabilizer CMC.

Keywords: Tempoyak, Chili, Stabilizer, Sauce Chili Tempoyak


PENDAHULUAN

Provinsi Bengkulu memiliki berbagai jenis buah-buahan,salah satunya adalah buah durian. Di setiap kabupatennya menghasilkan buah durian yang cukup banyak. Saat musim buah durian biasanya buah durian akan melimpah di Kota Bengkulu, sehingga sebagian buah durian diolah menjadi berbagai olahan. Buah durian yang masih baik dapat dijadikan lempuk atau dodol, sedangkan buah durian yang rusak dapat dijadikan tempoyak. Tempoyak adalah pengolahan buah durian yang kelewat masak secara mikrobiologi yang melibatkan bakteri asam laktat atau fermentasi.

Tempoyak adalam salah satu makanan khas Bengkulu, yang dibuat dari fermentasi spontan daging buah durian (Durio zibetinus) (Hasanuddin, 2010). Tempoyak dibuat hanya dengan penambahan garam sebanyak 1-1,5% ke dalam daging buah yang kemudian diperam selama 3-4 hari (Antarlina dkk, 2010). Tempoyak biasa digunakan sebagai bahan masakan di beberapa daerah, sala satunya diolah menjadi sambal yang umur simpannya relatif singkat. Oleh karena itu sangat diperlukan inovasi baru pengolahan tempoyak menjadi saus sambal tempoyak dalam kemasan yang praktis dan bisa dinikmati kapanpun. Akan tetapi untuk menghasilkan saus sambal tempoyak yang sesuai dengan karakteristik mutu saus sambal maka diperlukan penambahan bahan penstabil yang sesuai. Menurut Mustamanah (2012), pengemulsi, pemantap dan pengental (emulsifier, stabilizer) adalah bahan tambahan makanan yang dapat membantu terbentuknya atau memantapkan sistem dispersi yang homogen pada makanan.

Selain bahan penstabil, saus sambal yang identik dengan rasa pedas perlu ditambahkan cabai pada pembuatan saus sambal. Konsentrasi cabai harus sesuai jumlahnya agar saus sambal tempoyak yang dihasilkan rasanya sesuai dengan mutu organoleptik saus sambal. Sehingga perlunya penelitian tentang penambahaan jenis penstabil serta rasio cabai dan tempoyak untuk menghasilkan saus sambal tempoyak yang sesuai dengan karakteristik mutu yang diinginkan.

METODE PENELITIAN

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakandalam penelitian ini adalah buah durian,cabai merah, minyak goreng, air, garam, gula pasir, bawang putih, bawang merah, penyedap rasa, CMC serta tepung maizena. Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah timbangan, sendok, kuali, toples, mangkok, kompor, blender, pisau, labu ukur, corong, cawan petri, pH meter, refraktrometer,dan saringan.

Metode

Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap yaitu yang pertama pembuatan tempoyak dengan kadar garam 1,5% dan fermentasi selama 5 hari. Tahap kedua yaitu pembuatan saus sambal tempoyak dengan kombinasi bahan tempoyak : cabai (150 : 50, 100 : 100 dan 50 : 150) serta penambahan jenis penstabil (maizena dan CMC). Tahap ke tiga yaitu analisis yang meliputi analisis total padatan terlarut, nilai pH dan analisis organoleptik (parameter warna, rasa dan tekstur).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Jumlah Padatan Terlarut Saus Sambal Tempoyak

Total padatan terlarut merupakan salah satu parameter penting mutu dari saus. Saus sambal yang memiliki total padatan terlarut yang tinggi menujukkan bahwa bahan-bahan yang terkandung didalamnya tercampur secara merata sehingga campuran menjadi lebih homogen. Total padatan terlarut meningkat karena air bebas diikat oleh bahan penstabil sehingga konsentrasi bahan yang larut meningkat. Semakin banyak partikel yang terikat oleh bahan penstabil maka total padatan yang terlarut juga akan semakin meningkat dan mengurangi endapan yang terbentuk. Dengan adanya bahan penstabil maka partikel-partikel yang tersuspensi akan terperangkap dalam sistem tersebut dan tidak mengendap oleh pengaruh gaya gravitasi (Potter dan Hotchkiss, 1995 dalam Kusumah, 2007).

Badan Standar Nasional menetapkan bahwa total padatan terlarut menurut SNI pada saus sambal adalah harus lebih besar atau sama dengan dari 20 Brix yang diukur pada refraktometer 20 derajat Celcius. Nilai 20 Brix tersebut adalah ambang batas dimana apabila total padatan terlarut kurang dari 20 Brix maka tidak memenuhi standar. Nilai rerata analisa total padatan terlarut saus sambal tempoyak dengan perlakuan bahan penstabil (maizena dan CMC) dan rasio tempoyak dan cabai  ( 150 : 50; 100 : 100 dan 50 : 150 ) dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil Analisis Total Padatan Terlarut Saus Sambal Tempoyak

Penstabil Nilai Total Padatan Terlarut
Tempoyak 150 : 50 cabai Tempoyak 100 : 100 Cabai Tempoyak 50 : 150 Cabai
CMC 27.33a 25.14b 22.74c
Maizena 21.74d 21.46d 20.27e

 

Keterangan : Angka yang diikuti oleh kode huruf  yang berbeda menunjukkan adanya perbedaan yang nyata pada taraf signifikansi 5%.

Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa bahwa semua perlakuan kombinasi cabai serta jenis penstabil berpengaruh terhadap total padatan terlarut saus sambal tempoyak. Total padatan terlarut pada kedua jenis penstabil dan ketiga perlakuan telah memenuhi SNI dengan nilai minimal 20 Brix. Rerata total padatan terlarut saus sambal tempoyak dengan perlakuan jenis penstabil CMC dan maizena dengan  kombinasi tempoyak : cabai 150 : 50 adalah 27.33 Brix dan 21.74 Brix. Perlakuan jenis penstabil CMC dan maizena dengan kombinasi tempoyak : cabai 100 : 100 adalah 25.14 Brix dan 21.46 Brix sedangkan perlakuan jenis penstabil CMC dan maizena pada kombinasi tempoyak : cabai 50 : 150 adalah 20.74 Brix dan 20.27 Brix. Sehingga dapat disimpulkan bahwa bahan penstabil CMC lebih baik daripada penstabil maizena. Menurut Tamaroh (2004) sebagai pengental, CMC mampu mengikat air lebih baik dibanding penstabil lainnya, hal ini dikarenakan  CMC memiliki kemampuan yang cukup kuat dalam mengikat air bebas dalam saus sambal tempoyak dibanding dengan maizena dan membentuk kerangka gel yang kuat.

Tingkat Keasaman (pH) Saus Sambal Tempoyak

PH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu bahan atau larutan. Nilai pH merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk menentukan mutu saus sambal tempoyak pada pembuatan saus sambal tempoyak sesuai dengan SNI  01-2976-2006 yaitu pH maksimal 4. Pada penelitian ini saus sambal tempoyak diamati perubahan pH nya dengan menggunakan pH meter digital. pH saus sambal tempoyak telah memenuhi SNI dengan maksimal pH 4, namun pada rasio tempoyak : cabai 50 : 150 tidak memenuhi syarat mutu karna pH lebih dari 4 karena kontribusi tempoyak mempengaruhi besar kecilnya nilai pH. Semakin besar rasio tempoyak membuat pH semakin menurun sedangkan semakin banyak cabai pH semakin meningkat. Hasil analisa pengukuran pH saus sambal tempoyak dapat dilihat pada Tabel 2.


Tabel 2. Hasil Analisis pH Saus Sambal Tempoyak

Penstabil Nilai pH
Tempoyak 150 : 50 cabai Tempoyak 100 : 100 Cabai Tempoyak 50 : 150 Cabai
CMC 3.51 b 3.81ab 4.67 ab
Maizena 3.45 b 4.05ab 5.28 a

Keterangan : Angka yang diikuti oleh kode huruf  yang berbeda menunjukkan adanya perbedaan yang nyata pada taraf signifikansi 0.05

Dari Tabel 2 terlihat bahwa Nilai pH saus sambal tempoyak  pada ketiga  kombinasi tempoyak : cabai menunjukan adanya perbedaan nyata  pada taraf signifikan 5%. Namun pada perlakuan jenis penstabil tidak menunjukan perbedaan yang nyata. pH terendah terdapat pada rasio tempoyak : cabai 150 : 50 dengan penstabil maizena, sedangkan pH tertinggi terdapat pada rasio tempoyak : cabai 50 : 150 dengan penstabil maizena.

Perubahan pH saus sambal tempoyak dipengaruhi oleh rasio tempoyak dan cabai sehingga pH berbanding terbalik dengan rasio tempoyak. Semakin besar rasio tempoyak dan kecilnya rasio cabai maka pH nya akan semakin rendah. pH terendah terdapat pada rasio tempoyak : cabai 150 : 50 dengan penstabil maizena dengan pH 3.45, sedangkan pH tertinggi terdapat pada rasio tempoyak : cabai 50 : 150 dengan penstabil maizena yaitu dengan pH 5.28.  Hal ini dikarenakan komposisi tempoyak sangat mempengaruhi tingkat keasaman saus sambal tempoyak. Menurut Ekowati (1995) tempoyak yang telah difermentasi selama 4 hari memiliki pH 4 yang diakibatkan oleh asam organik yang diproduksi oleh bakteri asam laktat pada tempoyak. Sehingga semakin tinggi kombinasi tempoyak maka pH saus sambal tempoyak semakin kecil karena asam yang terdapat pada tempoyak.

Sifat Organoleptik Warna Saus Sambal Tempoyak

Secara visual faktor warna sangat menentukan mutu. Warna juga dapat dipakai sebagai indikator kesegaran atau kematangan, baik tidaknya cara pencampuran atau pengolahan juga dapat ditandai dengan warna yang seragam dan merata. Warna merupakan komponen yang sangat penting dalam menentukan kualitas atau derajat penerimaan dari suatu bahan pangan. Suatu bahan pangan yang dinilai enak dan teksturnya baik tidak akan dimakan apabila memiliki warna yang kurang sedap dipandang atau telah menyimpang dari warna yang seharusnya. Penentuan mutu suatu bahan pangan tergantung dari beberapa faktor, tetapi sebelum faktor lain diperhitungkan secara visual faktor warna tampil lebih dahulu untuk menetukan mutu bahan pangan (Winarno, 2004). Uji organoleptik terhadap parameter warna dilakukan untuk mengetahui tingkat penerimaan panelis terhadap warna yang dihasilkan saus sambal tempoyak dengan perlakuan bahan penstabil (CMC, maizena) dan konsentrasi rasio tempoyak : cabai. Adapun hasil uji organoleptik terhadap warna dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Analisis Warna Saus Sambal Tempoyak

Penstabil Warna
Tempoyak 150 : 50 cabai Tempoyak 100 : 100 Cabai Tempoyak 50 : 150 Cabai
CMC 3.30bc 3.95a 3.6oab
Maizena 3.15c 3.75a 3.65ab

Keterangan : Angka yang diikuti oleh kode huruf  yang berbeda menunjukkan  adanya perbedaan yang nyata pada taraf signifikansi 5%. Keterangan Skala : 1= sangat tidak suka; 2 = tidak suka; 3 = agak suka; 4 =  suka;  5 = sangat suka

Tabel 3. menjelaskan rerata warna saus sambal tempoyak dengan perlakuan jenis bahan penstabil dan rasio tempoyak : cabai berbeda nyata pada taraf signifikan 5%. Perbedaan nyata terlihat pada perlakuan rasio tempoyak : cabai serta perlakuan bahan penstabil CMC dan maizena pada rasio tempoyak : cabai 150 : 50 yaitu  3,30 (agak suka), dan 3,15 (agak suka) dengan warna agak merah. Perlakuan jenis bahan penstabil CMC dan maizena pada rasio tempoyak : cabai 100 : 100 yaitu 3,95 (suka), dan 3,75 (suka) dengan warna merah. Sedangkan perlakuan bahan penstabil CMC dan maizena pada rasio tempoyak : cabai 50 : 150  yaitu 3,60 (suka), dan 3,65 (suka) dengan warna sangat merah.

Warna yang paling disukai panelis terdapat pada jenis penstabil CMC dengan rasio tempoyak : cabai 100 : 100 dengan nilai 3.95 (suka), sedangkan warna yang paling tidak disukai terdapat pada penstabil maizena dengan rasio tempoyak : cabai 150 : 50 dengan nilai 3.15 (agak suka). Warna saus sambal tempoyak yang dihasilkan yaitu merah, hal ini disebabkan karena rasio cabai pada proses pengolahan saus sambal tempoyak. Sehingga semakin banyak cabai mengakibatkan saus sambal tempoyak berwarna merah. Menurut Purseglove (2003) warna dari cabai disebabkan oleh pigmen karotenoid yang warnanya bervariasi dari kuning jingga sampai merah gelap, pendukung warna merah pada kultivar Capsicum annuum adalah capsantin dan capsorubin. Kandungan kedua komponen ini meningkat selama pemasakan buah dan mencapai maksimum pada saat buah masak merah.

Sifat Organoleptik Rasa Saus Sambal Tempoyak

Rasa merupakan faktor yang paling penting dalam menentukan keputusan bagi konsumen untuk menerima atau menolak suatu produk pangan. Meskipun parameter lain nilainya baik, jika rasa tidak enak atau tidak disukai maka produk akan ditolak. Ada empat jenis rasa dasar yang dikenali oleh manusia yaitu asin, asam, manis dan pahit. Sedangkan rasa lainnya merupakan perpaduan dari rasa lain (Soekarto, 1985). Uji organoleptik terhadap rasa dilakukan untuk mengetahui tingkat penerimaan panelis terhadap rasa pada saus tempoyak dengan perlakuan bahan penstabil (CMC, dan maizena) dan rasio  tempoyak : cabai. Adapun hasil uji organoleptik rasa saus tempoyak dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil Analisis Rasa Saus Sambal Tempoyak

Penstabil Rasa saus sambal tempoyak
Tempoyak 150 : 50 cabai Tempoyak 100 : 100 Cabai Tempoyak 50 : 150 Cabai
CMC 3.95a 3.25bc 2.35e
Maizena 3.65ab 2.90cd 2.45de

Keterangan : Angka yang diikuti oleh kode huruf  yang berbeda menunjukkan  adanya perbedaan yang nyata pada taraf signifikansi 5%. Keterangan Skala : 1= sangat tidak suka; 2 = tidak suka; 3 = agak suka; 4 =  suka;  5 = sangat suka

Tabel 4. menjelaskan rerata rasa saus sambal tempoyak dengan jenis bahan penstabil dan rasio berbeda nyata pada taraf signifikan 5%, perbedaan nyata terdapat pada pelakuan rasio tempoyak : cabai. Rerata penilaian rasa saus sambal tempoyak dengan perlakuan bahan penstabil CMC dan Maizena pada rasio tempoyak : cabai 150 : 50 yaitu  3,95 ( suka), dan 3,65 (suka), perlakuan bahan penstabil CMC dan Maizena pada rasio tempoyak : cabai 100 : 100  yaitu 3,25 ( agak suka), dan 2,90  ( agak suka), sedangkan perlakuan bahan penstabil CMC dan Maizena pada rasio tempoyak : cabai 50 : 150  yaitu 3.35 (agak suka), dan 2.45 (tidak suka).

Rasa yang paling disukai terdapat pada jenis penstabil CMC dengan rasio tempoyak : cabai 150 : 50, sedangkan rasa yang paling tidak disukai terdapat pada penstabil maizena dengan rasio tempoyak : cabai 50 : 150. Skala penilaian panelis terhadap rasa saus sambal tempoyak yaitu berada pada skala penilaian agak suka, rasa yang ditimbulkan dari saus sambal tempoyak yaitu asam dan pedas. Menurut Furia (1968), cabai merah mengandung oleoresin yang menimbulkan rasa pedas, warna merah dan cita rasa yang khas. Menurut Widawati (2014) rasa asam pada olahan  tempoyak disebabkan karena adanya tempoyak atau durian fermentasi yang memberikan konstribusi rasa khas asam karena mengandung senyawa organik yaitu asam laktat, asam asetat, dan etanol sehingga rasa saus sambal tempoyak lebih spesifik dan disukai. Sehingga rasa sangat dipengaruhi oleh rasio cabai dan tempoyak, semakin besar rasio tempoyak rasa yang dihasilkan asam, namun semakin besar rasio cabai rasa saus sambal tempoyak pedas. Sedangkan menurut Muchtadi (2010) bahwa fermentasi buah dan sayur-sayuran akan selalu menghasilkan asam laktat. Asam laktat ini akan menyebabkan perubahan tekstur dan citarasa. Proses ini berlangsung secara alamiah.

Sifat Organoleptik Tekstur Saus Sambal Tempoyak

Kestabilan suatu produk semi basah dapat dilihat dari perubahan kekentalannya, apabila terjadi perubahan kekentalan yang nyata kemungkinan besar produk itu sudah mengalami penurunan mutu. Parameter kekentalan merupakan salah satu faktor yang dapat berpengaruh terhadap mutu saus yaitu tekstur. Uji organoleptik terhadap parameter tekstur dilakukan untuk mengetahui tingkat penerimaan panelis terhadap tekstur yang dihasilkan pada saus sambal tempoyak dengan perlakuan bahan penstabil (CMC dan maizena) dan rasio tempoyak : cabai. Adapun hasil uji organoleptik tekstur saus tempoyak dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5. Hasil Analisis Tekstur Saus Sambal Tempoyak

Penstabil Tekstur
Tempoyak 150 : 50 cabai Tempoyak 100 : 100 Cabai Tempoyak 50 : 150 Cabai
CMC 3.85a 3.75a 2.9c
Maizena 3.5ab 3.05bc 2.65c

Keterangan : Angka yang diikuti oleh kode huruf  yang berbeda menunjukkan  adanya perbedaan yang nyata pada taraf signifikansi 5%. Keterangan Skala : 1= sangat tidak suka; 2 = tidak suka; 3 = agak suka; 4 =  suka;  5 = sangat suka

Tabel 5. menjelaskan rerata tekstur saus sambal tempoyak dengan jenis bahan penstabil dan rasio tempoyak : cabai  berbeda nyata pada taraf signifikan 5%. Rerata penilaian tekstur saus sambal tempoyak dengan perlakuan bahan penstabil CMC dan maizena pada rasio tempoyak : cabai 150 : 50 yaitu  3,85 ( suka), dan 3,5 (suka), perlakuan bahan penstabil CMC dan maizena pada rasio tempoyak : cabai 100 : 100  yaitu 3,75 ( suka), dan 3.05  (agak suka), sedangkan perlakuan bahan penstabil CMC dan maizena pada rasio tempoyak : cabai 50 : 150  yaitu 2.9 ( agak suka), dan 2.65 ( agak suka).

Tekstur yang paling disukai terdapat pada jenis penstabil CMC dengan rasio tempoyak : cabai 150 : 50 dengan tekstur kental, sedangkan tekstur yang paling tidak disukai terdapat pada penstabil maizena dengan rasio tempoyak : cabai 50 : 150 dengan tekstur agak encer. Tekstur yang ditimbulkan pada saus sambal tempoyak disebabkan oleh jenis penstabil dan rasio tempoyak dan cabai. Selain itu dipengaruhi juga oleh sifat dari masing-masing perlakuan memberikan kontribusi tekstur yang berbeda. Semakin banyak rasio tempoyak membuat tekstur semakin kental karena kandungan serat pada tempoyak. Selain itu penstabil jenis CMC lebih kuat mengikat air dibanding maizena.

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa Total padatan terlarut pada saus sambal tempoyak dengan perlakuan jenis bahan penstabil dan rasio tempoyak : cabai telah memenuhi SNI dengan nilai minimal 20 Brix. Semakin besar rasio tempoyak dan kecilnya rasio cabai maka pH nya akan semakin rendah. pH terendah terdapat pada rasio tempoyak : cabai 150 : 50 dengan penstabil maizena dengan pH 3.45, sedangkan pH tertinggi terdapat pada rasio tempoyak : cabai 50 : 150 dengan penstabil maizena yaitu dengan pH 5.28. Dari segi organoleptik warna yang paling disukai panelis terdapat pada jenis penstabil CMC dengan rasio tempoyak : cabai 100 : 100 dengan nilai 3.95 (suka). Rasa yang paling disukai terdapat pada jenis penstabil CMC dengan rasio tempoyak : cabai 150 : 50. Tekstur yang paling disukai terdapat pada jenis penstabil CMC dengan rasio tempoyak : cabai 150 : 50.

DAFTAR PUSTAKA

Antarlina, SS, N. Izzudin dan U. Sudirman. 2010. Karakteristik Fisik dan Kimia Buah Eksotik Lahan Rawa serta Potensi Pemanfaatannya sebagai Pangan. http://balittra.litbang.deptan.go.id/eksotik/Monogr af%20-%208.pdf. Diakses Tanggal 20 Desember 2014.

Ekowati, C.N. 1998. Mikroflora pada Fermentasi Daging Buah Durian (Tempoyak). Jurnal Penelitian Sains dan Teknologi. Edisi Khusus Desember 1998:140-147. Unila Press. Bandar Lampung

Furia, T.E. 1968. Handbook of Food Additives.CRC Press Inc. Florida

Harpenas, A dan R. Dermawan. 2010. Budidaya Cabai Unggul (Cabai Besar, Cabai Keriting, Cabai Rawit, dan Paprika). Penebar Swadaya, Jakarta, 108 hlm

Hasanuddin. 2010. Mikroflora pada Tempoyak. Agritech. Volume 30. No.4. November Tahun 2010. Hal 218-222

 

Kusumah, R.A. 2007. Optimasi Kecukupan Panas Melalui Pengukuran Distribusi dan Penetrasi Panas Pada Formulasi Minuman Sari Buah Pala (Myristica fragrans HOUTT). Skripsi. Fateta. IPB. Bogor

Muchtadi, Tien R., dan Fitriyono A. 2010. Teknologi Proses Pengolahan Pangan. Alfabeta. Bandung.

Mustamanah, kristina. 2012. Pengemulsi, Pemantap dan Pengental Makanan (Emulsifier).http://kristinamustamanah.blogspot.com/2012/01/pengemulsi-pemantap-danpengental.html. Diakses tanggal 0 Januari 2015

Purseglove , 2003, Spices Volume II, New York :Longman Inc

Badan Standardisasi Nasional (BSN).2006. SNI (Standar Nasional Indonesia) Saus Cabe. Departemen Kesehatan R.I. Jakarta.

Soekarto, Soewarto T. 1985. Penilaian Organoleptik untuk Industri Pangan dan Hasil Pertanian. Bhratara Karya Aksara. Jakarta

Tamaroh, Siti. 2004. Usaha Peningkatan Stabilitas Nektar Buah Jambu Biji (Psidium guajava L) dengan Penambahan Gum Arab Dan CMC (Carboxy Methyl Cellulose). LOGIKA : Vol.1 No.1, Januari 2004 :56-64

Widawati, Lina 2014,  Preferensi Panelis dan Efektifitas Penggunaan Bahan Penstabil Terhadap Mutu Sambal Hijau Tempoyak. www.journal.ift.or.id. Diakses tanggal 20 Februari 2015

Winarno, F.G. 2004. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia. Jakarta

 

 

Posted in Jurnal | Leave a comment

ANALISIS FAKTOR YANG  MEMPENGARUHI MARKETABLE SURPLUS BERAS DI KELURAHAN DUSUN BESAR KECAMATAN SINGARAN PATI DAN KELURAHAN KANDANG LIMUN KECAMATAN MUARA BANGKAHULU KOTA BENGKULU

Oleh :

Rika Dwi Yulihartika

(Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Dehasen Bengkulu)

 

ABSTRACT

Indonesia is the largest rice producer in the world. However, with a large population led to the national rice production is insufficient. This is due to the population growth rate is not in line with the growth rate of national food availability. Location methods of research used in this study is a cluster sampling. Two villages were selected were Dusun Besar Village District of Singaran Pati and Village Coop Lemonade Muara Bangkahulu Bengkulu city on one cropping season in the period from March to June 2016. In this case the variable factors that affect the marketable surplus is a function of the total rice production, reception outside the farm, the number of family members, the price of rice, the percentage distribution of other production, the status of land ownership and the family’s main reception. the coefficient of determination (R2) is 0.80. This value indicates that the variable amount of marketable surplus is explained by variables in the study was 80%. While 20% again beyond this model. Availability of rice at the farm level amounting to 69426.26 Kg to 4 months to come, is not sufficient for the needs of Bengkulu city during the coming four months or until the next harvest time.

Keywords: Rice, Marketable Surplus, availability of rice

ABSTRAK

 

Indonesia merupakan negara produsen beras terbesar di dunia. Akan tetapi dengan jumlah penduduk yang besar menyebabkan produksi beras nasional tidak mencukupi.  Hal ini disebabkan kecepatan pertumbuhan penduduk tidak sejalan dengan tingkat pertumbuhan ketersediaan pangan nasional. Metode penentuan lokasi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cluster sampling. Dua kelurahan yang terpilih adalah Kelurahan Dusun Besar Kecamatan Singaran Pati dan Kelurahan Kandang Limun Kecamatan Muara Bangkahulu Kota Bengkulu pada satu periode musim tanam pada bulan Maret-Juni 2016. Dalam hal ini variabel faktor yang mempengaruhi marketable surplus beras merupakan fungsi dari total produksi beras, penerimaan luar usahatani, jumlah anggota keluarga, harga beras, persentase pembagian produksi lain, status kepemilikan lahan dan penerimaan utama keluarga. koefisien determinasi (R2) adalah 0,80. Nilai ini menunjukkan bahwa variabel jumlah marketable surplus beras dijelaskan oleh variabel dalam penelitian sebesar 80%. Sedangkan 20% lagi diluar model ini. Ketersediaan beras di tingkat petani sebesar 69.426,26 Kg untuk 4 bulan yang akan datang, belum mencukupi untuk kebutuhan Kota Bengkulu selama 4 bulan yang akan datang atau sampai waktu panen berikutnya.

Kata Kunci : Beras, Marketable Surplus, Ketersediaan beras

PENDAHULUAN

Padi atau beras masih memegang peran utama dalam konsumsi pangan di Indonesia sehingga seringkali pangan diidentikkan dengan padi atau beras. Oleh karena itu peningkatan produksi padi terus dilakukan dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan nasional (Sofyan, 2006).Indonesia merupakan negara produsen beras terbesar di dunia. Akan tetapi dengan jumlah penduduk yang besar menyebabkan produksi beras nasional tidak mencukupi.  Hal ini disebabkan kecepatan pertumbuhan penduduk tidak sejalan dengan tingkat pertumbuhan ketersediaan pangan nasional. Sektor pertanian diharapkan dapat berperan dalam penyediaan pangan yang cukup bagi penduduk, mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penyediaan bahan baku bagi industri dan ekspor, meningkatkan pemerataan kesejahteraan petani melalui penyediaan kesempatan kerja dan berusaha, dan memberi sumbangan pada pengembangan wilayah. Misi penting dari sektor pertanian adalah menghasilkan pangan yang cukup dan berkualitas untuk seluruh penduduk (Djamali, 2010).

Untuk mencukupi kebutuhan pangan, pemerintah Kota Bengkulu berusaha untuk meningkatkan produksi hasil pertanian terutama padi. Usaha tersebut telah terlihat dengan banyaknya sawah yang menggunakan pengairan irigasi baik teknis, setengah teknis dan sederhana. Berikut data mengenai jumlah luas lahan yang ada di kota Bengkulu:

Tabel 1. Luas Potensi Lahan Sawah Berdasarkan JenisPengairan di Kota Bengkulu (Ha), 2015

Kecamatan Luas lahan (Ha) Tanaman Padi
Teknis 1/2 Teknis Sederhana Non

PU

Tadah Hujan Pasang Surut Sawah Lebak Polder& Sawah lainnya Jumlah        (%)

(Ha)

K. Melayu

Ratu Agung

Selebar

Sungai Serut

M.Bangkahul u

G.Cempaka

-

-

202

103

-

300

156

-

-

-

-

18

398

-

139

-

123

-

291

-

-

-

-

-

168

40

259

233

766

5

-

-

-

-

30

-

217

-

-

-

153

-

-

-

-

-

10

-

1.230          34,06

40            1,11

600          16,62

336           9,31

1.082          29,96

323            8,95

Jumlah (Ha)

Persentase

605 16,75 174 4,82 660

18,28

291

8,06

1.471 40,74 30

0,83

370 10,25 10

0,28

3.611

100

Sumber: Dinas Pertanian Kota Bengkulu 2016

Catatan: – Tanda (-) di atas menunjukkan bahwa nilai data nol

Tabel 2. Perkembangan Produksi dan Konsumsi Padi/Beras di kota Bengkulu dari tahun 2010-2015

Uraian Tahun
2010 2011 2012 2013 2014 2015
Produksi Padi (Ton/GKG) 9.367 14.609 14.380 14.948 17.579 13.529
Persentase Kenaikan (%) 2,7 55,96 -1,56 3,9 17,61 -23,04
Produksi Beras (90% Produksi x konversi 60%) 5.058 7.889 7.765 8.071,9 9.493,7 7.305,66
Jumlah Pendududuk 1 Tahun 293.918 309.554 325.982 336.962 348.823 273.016
Konsumsi Perkapita /Tahun (Kg) 126 126 126 126 126 126
Jumlah Kebutuhan Beras (Ton) 37.034 39.004 41.074 42.457,2 43.952 34.400,02
Minus/Kekurangan (Ton) -31.976 -31.115 -33.309 -34.385,3 -34459,3 -27.094,36

Sumber: Dinas Pertanian Kota Bengkulu 2016

Rumusan Masalah

Masalah pangan (beras) menyangkut aspek-aspek penyediaan jumlah bahan pangan yang cukup untuk memenuhi permintaan pangan yang meningkat baik karena pertumbuhan penduduk, perubahan komposisi penduduk maupun peningkatan pendapatan penduduk. Pendistribusian bahan-bahan pangan pada ruang dan waktu, ketersediaan bahan pangan (jumlah, kuantitas, ruang dan waktu), harus dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat.

Ketersediaan beras di Kota Bengkulu masih mengalami kekurangan dari tahun ke tahun, hal ini disebabkan karena luas lahan sawah irigasi teknis yang merupakan lahan dengan produktivitas tertinggi semakin sempit, yang disebabkan  oleh adanya pembangunan sarana dan prasarana seperti perumahan, perkantoran dan jalan sehingga produksi sedikit (hanya mencukupi kebutuhan hidup petani dan rumah tangganya serta modal usahatani). Kurangnya ketersediaan beras dari tahun ketahun juga disebabkan adanya bencana alam seperti banjir, kekeringan dan serangan hama penyakit, perubahan iklim yang menyebabkan perubahan pola tanam yang menyebabkan gagal panen atau berkurangnya produksi, dan banyaknya sawah yang belum memiliki irigasi dengan produktivitas lahan yang relatif rendah.

Dari produksi padi yang dihasilkan tidak semuanya di jual oleh petani melainkan sisa atau kelebihan yang di terima petani setelah dikurangi untuk konsumsi, zakat, sewa tanah, pajak dan bibit. Dalam kaitan ini perlu dilakukan penelitian tentang marketable surplus beras pada musim tanam Maret-Juni 2016 dan faktor-faktor yang mempengaruhinya serta pengaruhnya terhadap ketersediaan beras di Kota Bengkulu.

METODOLOGI PENELITIAN

Metode Penentuan Lokasi

Metode penentuan lokasi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cluster sampling. Menurut Nazir (2014) cluster sampling merupakan teknik pengambilan sampel  dengan cara memilih sebuah sampel dari kelompok-kelompok unit-unit yang terkecil, atau cluster. Kota Bengkulu yang terdiri dari 6 kecamatan sentra produksi padi yang tercantum pada tabel di bawah..

Tabel 4. Pemilihan Lokasi Penelitian di Kota Bengkulu

Kecamatan Alasan Memilih Kecamatan Terpilih
  1. Singaran Pati
  2. MuaraBangkahulu
  3. Selebar
  4. Teluk Segara
  5. Kampung Melayu
  6. Sungai Serut
  7. Memiliki lahan yang luas  berdasarkan pengairan yaitu sawah irigasi teknis 300 ha dan tadah hujan 766 ha.
  8. Jumlah petani pada kedua kecamatan lebih banyak yaitu 357 orang di Kecamatan Singaran Pati dan 1072 orang di Kecamatan Muara Bangkahulu.
1.  Singaran Pati

2.MuaraBangkahulu

Kelurahan Alasan Memilih Kelurahan Terpilih
Kecamatan Singaran Pati

  1. Dusun Besar
  2. Sido Mulyo
  3. Panorama
  4. Padang Harapan

KecamatanM.Bangkahulu

  1. RawaMakmurPermai
  2. Rawa Makmur
  3. Beringin Raya
  4. Kandang Limun
  5. Pematang Gubernur
  6. Bentiring
  7. Bentiring Permai
1. Memiliki lahan yang luas dibandingkan dengan kelurahan lain yang ada pada masing-masing kecamatan, dimana Kelurahan Dususn Besar memiliki lahan dengan irigasi teknis seluas 200 ha dan Kelurahan Kandang Limun (sawah tadah hujan) seluas 201 ha.

2. Jumlah petani lebih banyak yaitu 160 orang di Kelurahan Dusun Besar dan 346 orang di Kelurahan Kandang Limun.

1. Dusun Besar

2. Kandang Limun

Dari 11 (M) kelurahan yang ada dikelompokkan lagi dengan menggunakan two stage cluster sampling dengan frame fraction = 15 % di dapat:

f = m                          f = 0,15 x M

M

f = 0,15 x 11 = 1,65 = 2 kelurahan

Jadi dua kelurahan yang terpilih adalah Kelurahan Dusun Besar Kecamatan Singaran Pati dan Kelurahan Kandang Limun Kecamatan Muara Bangkahulu Kota Bengkulu pada satu periode musim tanam pada bulan Maret-Juni 2016.

Metode Penentuan Sampel

Pengambilan sampel dilakukan secara acak sederhana (Simple Random Sampling), dimana pengambilan sample ini dilakukan secara random dan berimbang yang besarnya ditentukan oleh sample fraction yang diinginkan.

Tabel 5. Penentuan Jumlah Responden Pada Kelurahan Dusun Besar dan Kelurahan Kandang Limun

Kelurahan Jumlah Populasi (org) Frame Fraction Jumlah Responden (org) Total (org)
  1. Dusun Besar
  2. Kandang Limun
160

287

20 % = 0,2

20 % = 0,2

32

57

89

Metode Analisis dan Pengujian Hipotesis

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Marketable Surplus

Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi marketable surplus beras digunakan persamaan linear berganda dengan metode kuadrat terkecil (Ordinary Least Squar) yang dirumuskan sebagai berikut:

m = a0 + b1X1 + b2X2 – b3X3 + b4X4 – b5X5+ a1D1 + a2D2 + e

Dimana m = Marketable Surplus (%)

X1 = Total Produksi Beras (Kg/MT)
X2 = Jumlah Penerimaan diluar Usahatani Padi (Rp/MT)
X3 = Harga Beras (Rp/Kg)
X4 = Persentase Pembagian Produksi lain (%)
5 = Konsumsi Rumah tangga (Kg)
D1 = Status Kepemilikan lahan
D1 = 1, Kalau Pemilik
  = 0, Kalau Non Pemilik
D2 = Penerimaan Utama Keluarga
D2 = 1, Kalau Penerimaan Utama dari Usahatani Padi
  = 0, Kalau Penerimaan Utama dari Luar Usahatani Padi
b = Koefisien Regresi
a0 = Konstanta
e =

 

Variabel Pengganggu

1. Pengujian terhadap seluruh variabel

Uji statistik yang digunakan adalah uji F dengan taraf kepercayaan 95 % (ά = 0,05)

 

Fhitung =     R2 / k-1

(1 – R2) / n – k

Dengan kriteria pengambilan keputusan sebagai berikut:

ü  Jika F hitung ≤ F tabel, maka Ho diterima dan Hi ditolak, berarti secara bersama-sama variabel bebas tidak berpengaruh nyata terhadap variabel tak bebas.

ü  Jika F hitung ≥ F tabel maka Ho ditolak dan Hi diterima, berarti secara bersama-sama variabel bebas berpengaruh nyata terhadap variabel tak bebas.

  1. 2. Pengujian untuk masing-masing variabel

Tujuannya adalah untuk menguji pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap variabel tak bebas. Digunakan uji t dengan pegujian dua arah, dengan menggunakan tingkat kepercayaan 95 % (ά/2 = 0,025), nilai hitung diperoleh dengan menggunakan rumus

Uji statistik yang digunakan adalah uji t:

Thitung =     bi

Sbi

Kriteria ujinya:

ü  T hitung > t tabel maka tolak Ho, berarti secara parsial variabel bebas berpengaruh nyata terhadap variabel terikat

ü  T hitung ≤ t tabel maka terima Ho, berarti secara parsial variabel bebas tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat

ü  T hitung < – t tabel maka tolak Ho, berarti secara parsial variabel bebas berpengaruh nyata terhadap variabel terikat

ü  T hitung ≥ – t tabel maka terima Ho, berarti secara parsial variabel bebas tidak berpengaruh nyata terhadap variabel terikat

Analisis Ketersediaan Beras di Kota Bengkulu

Analisis data yang digunakan untuk menganalisis ketersediaan beras di kota Bengkulu, dilakukan dengan analisis data deskriptif yaitu dengan cara menjelaskan dan memaparkan, menggambarkan dan menguraikan masalah dan pemecahannya yang ditemukan di lapangan tanpa ada perlakuan terhadap objek yang di teliti. Jumlah penduduk Kota Bengkulu pada tahun 2016 sebanyak 273.016 orang dan tingkat konsumsi perkapita 126 kg/tahun maka jumlah beras yang dibutuhkan dan tingkat ketersediaan beras yang ada di Kota Bengkulu dapat di hitung atau di analisa.

Untuk menganalisa ketersediaan beras yang ada di Kota Bengkulu dapat dilihat dari jumlah stok beras yang ada di gudang bulog Kota Bengkulu dan jumlah produksi padi yang dihasilkan petani serta marketable surplus. Adapun sumber pengadaan beras dapat berasal dari produksi lokal, perdagangan regional atau kombinasi keduanya dan perdagangan internasional (impor). Jika di lihat dari jumlah penduduk Kota Bengkulu pada tahun 2015 sebanyak 273.016 orang dengan tingkat konsumsi perkapita 126 kg/tahun.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Faktor Yang Mempengaruhi Marketable Surplus Beras

Tabel 6.     Hasil Estimasi Model Marketable Surplus Beras di Kelurahan Kandang Limun Kecamatan Muara Bangkahulu dan Kelurahan Dusun Besar Kelurahan Singaran Pati Kota Bengkulu, 2016

No Variabel Bebas Koefisien Regresi Standard Error thitung
1 Total Produksi (X1) 0,004 0,002 2,842***
2 Penerimaan Luar Usahatani (X2) 0,001 0,00 1,357
3 Harga Beras (X3) 0,14 0,006 2,500***
4 Proporsi Pembagian Produksi Lain (X4) - 0,526 0,076 - 6,957***
5 Konsumsi Rumah Tangga (X5) - 0,049 0,008 - 6,435***
6 Status Kepemilikan Lahan (D1) 11,321 2,648 4,275***
7 Penerimaan Utama Keluarga (D2) 6,453 3,609 1,788
  Intersep -10,486    
  R2 0,80    
  Fhitung 46,922***    
  ttabel(5%,81) 1.989688    
  ttabel(2,5%,81) 2.283832    
  Ftabel(5%;7,81) 1.434744    
  Ftabel(2,5%;7,81) 1.538353    

Keterangan

** Signifikan pada α = 0,05

*** Signifikan pada α/2 = 0,025

Tabel 6 menunjukkan bahwa koefisien determinasi (R2) dari model penelitian marketable surplus beras di Kota Bengkulu adalah 0,80. Nilai ini menunjukkan bahwa variabel jumlah marketable surplus beras dijelaskan oleh variabel total produksi, penerimaan luar usahatan padi, jumlah anggota rumah tangga, harga beras, persentase pembagian produksi lain, status kepemilikan lahan dan penerimaan utama keluarga sebesar 80%. Sedangkan 20% lagi dijelaskan oleh variabel yang tidak dimasukkan dalam model ini, diduga seperti harga-harga barang lain kebutuhan petani selain beras, luas lahan dan sistem pembayaran pupuk urea. Variabel luas lahan tidak dimasukkan karena dikhawatirkan akan memiliki hubungan yang erat (multicolinearitas) dengan jumlah produksi.

Untuk menguji pengaruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat digunakan uji F. Dari tabel 18 dapat dilihat besarnya Fhitung (46,922) lebih besar dari Ftabel (1.538353) pada α = 0,025. Artinya variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap variabel terikat pada taraf keyakinan 95%.

Persamaan hasil estimasi menunjukkan bahwa masing-masing koefisien regresi memiliki tanda yang sesuai dengan harapan, tapi ada 2 variabel bebas yang tidak berpengaruh terhadap variabel terikat. Dimana koefisien total produksi, penerimaan luar usahatani, harga beras, status kepemilikan lahan dan penerimaan utama keluarga memilki tanda koefisien regresi positif. Sementara konsumsi rumah tangga dan persentase pembagian produksi lain memilki tanda negatif terhadap marketable surplus beras. Jadi dari hasil estimasi dapat dilihat bahwa total produksi, harga beras, dan status kepemilikan lahan, berpengaruh nyata dan positif terhadap marketable surplus beras. Untuk penerimaan luar usahatani padi dan penerimaan utama keluarga tidak berpengaruh nyata tapi berhubungan positif. Sedangkan konsumsi rumah tangga rumah tangga dan persentase pembagian produksi lain berpengaruh negatif dan nyata terhadap marketable surplus beras.

Untuk melihat pengaruh masing-masing variabel bebas terhadap variabel terikat dilakukan uji t. Untuk total produksi (X1), thitung peubah ini (2,842) lebih besar dari t tabel (1.989688) pada taraf kepercayaan 95%. Dari uji ini dapat disimpulkan bahwa peubah total produksi berpengaruh nyata terhadap jumlah produksi yang dapat dipasarkan atau marketable surplus beras. Variabel total produksi memiliki koefisien regresi sebesar 0,004 dan bertanda positif (+), yang berarti dengan adanya penambahan satuan total produksi maka akan menaikkan persentase marketable surplus beras sebesar 0,004 satuan dengan asumsi variabel lain dianggap konstan (cateris paribus).

Variabel penerimaan luar usahatani padi (X2) memiliki tanda yang positif  (+) terhadap marketable surplus beras, namun variabel ini tidak berpengaruh nyata pada taraf kepercayaan 95%. Hal ini didasarkan pada uji t, dimana nilai thitung (1,357) lebih kecil dari nilai ttabel (1,989688)

Harga beras (X3) juga memberi pengaruh yang nyata dan positif (+) terhadap marketable surplus, sesuai dengan uji t. Nilai t hitung­ (2,500) yang lebih besar dari nilai t tabel (2.283832) menjadi landasan yang menyatakan variabel harga beras berpengaruh nyata terhadap marketable surplus pada taraf kepercayaan 0,025%. Hal ini sesuai dengan hipotesis awal yaitu harga beras berpengaruh nyata dan positif terhadap marketable surplus beras. Pada kondisi cateris paribus besarnya koefisien regresi 0,014 memberikan informasi jika kenaikan satuan harga beras akan menaikkan marketable surplus sebesar 0,014.

Variabel proporsi pembagian produksi lain (X4) mempunyai pengaruh yang nyata dan memiliki hubungan negatif. Nilai uji t yang didapatkan yaitu t hitung sebesar (-6,957) lebih kecil dari t tabel (2.283832) pada taraf kepercayaan 97,5%. Hal ini sesuai dengan hipotesis awal yaitu proporsi pembagian produksi lain berpengaruh negatif dan nyata terhadap marketable surplus beras.  Koefisien regresi yang diperoleh -0,526 yang berarti bahwa dengan berkurangnya jumlah pembagian produksi lain maka akan menaikkan marketable surplus sebesar 0,526 dengan anggapan variabel lain konstan (cateris paribus).

Variabel konsumsi rumah tangga (X5) mempunyai pengaruh yang nyata dan memiliki hubungan negatif. Nilai uji t yang didapatkan yaitu thitung­ (-6,435) lebih kecil dari nilai ttable (2,283832) pada taraf kepercayaan 0,025%. Koefisien regresi yang diperoleh -0,049 yang berarti bahwa dengan berkurangnya jumlah konsumsi rumah tangga maka akan menaikkan marketable surplus sebesar 0,049 dengan anggapan variabel lain konstan (cateris paribus).

Utuk variabel dummy status kepemilikan lahan (D1) memiliki hubungan yang positif dan berpengaruh yang nyata terhadap marketable surplus pada α = 0,025, sesuai dengan hipotesis awal yaitu status kepemilikan lahan berpengaruh nyata dan positif terhadap marketable surplus beras. Hal ini dapat dilihat berdasarkan uji t, dimana t hitung (4,275) lebih besar dari t tabel (2.283832). Berdasarkan uji t, variabel dummy penerimaan utama keluarga (D2) memiliki hubungan positif dan tidak berpegaruh nyata pada taraf keyakinan 95%, dimana t hitung (1,788) lebih kecil dari t tabel (1.989688). Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis awal yaitu penerimaan utama keluarga berpengaruh nyata dan positif terhada marketable surplus beras.

Interpretasi Hasil

Hasil estimasi model marketable surplus beras menunjukkan bahwa variabel penerimaan luar usahatani dan penerimaan utama keluarga tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada taraf keyakinan 95%. Sedangkan variabel total produksi, konsumsi rumah tangga, harga beras, persentase pembagian produksi lain dan status kepemilikan lahan berpengaruh nyata terhadap marketable surplus.

Total produksi memiliki tanda positif terhadap perubahan marketable surplus beras sesuai dengan hipotesis awal. Hasil ini sama dengan hasil penelitian Sofyan (2006) di Muara Aman, dimana total produksi berpengaruh nyata terhadap marketable surplus beras. Hal yang sama juga diutarakan oleh David (2009), penelitian di Malaysia menunjukkan perubahan produksi berpengaruh positif terhadap marketable surplus beras.

Variabel penerimaan luar usahatani padi bertanda positif tapi tidak berpengaruh nyata terhadap marketable surplus beras. Hal ini bisa disebabkan oleh lebih besarnya penerimaan yang diperoleh petani dari usahatani padi dibandingkan penerimaan dari luar usahatani padi sehingga kebutuhan petani masih di kaya seorang petani maka semakin banyak jumlah padi yang dapat dijual oleh petani. Rata-rata penerimaan luar usahatani padi petani sebesar Rp.3.376.629,21,- per 3 bulan atau Rp.1.125.543,07,-, sedangkan rata-rata penerimaan usahatani padi sebesar Rp. 3.524.200,89,- per musim tanam atau Rp. 1.174.733,63,- per bulan. Penelitian David (2009) di Malaysia juga memasukkan penerimaan luar usahatani pada model persamaannya meski hasil yang diperoleh positif namun tidak berpengaruh nyata. Dari hasil penelitian Sofyan (2006) penerimaan luar usahatani padi memiliki tanda positif namun tidak berpengaruh nyata terhadap marketable surplus beras.

Semakin tinggi harga beras pada saat panen akan memacu petani menjual hasil produksinya dalam jumlah yang besar. Pada penelitian ini menjelaskan harga beras yang tinggi memberikan pengaruh yang positif dan signifikan pada α = 0,025 (tabel 18). Mubyarto (1970) dalam Sofyan (2006) menyatakan faktor yang mempengaruhi besarnya marketable surplus beras salah satunya adalah harga beras itu sendiri. Dari hasil penelitian sofyan (2006)

Peroporsi pembagian produksi lain memberikan pengaruh yang nyata dan negatif terhadap marketabe surplus beras. Karena semakin besar proporsi pembagian produksi lain sepert: sewa lahan, upah panen dan treser, upah giling dan zakat maka jumlah marketable surplus akan semakin sedikit.

Konsumsi rumah tangga mempengaruhi secara begatif dan signifikan pada taraf 97,5%. Hasil penelitian ini berdasarkan alasan bahwa semakin banyak jumlah beras yang dikonsumsi oleh rumah tangga petani maka jumlah beras yang dapat dipasarkan akan semakin kecil.

Kebanyakan petani pada daerah penelitian memiliki lahan sendiri, seperti dapat dilihat pada tabel 15 yaitu sebanyak 64,04% petani memiliki lahan sendiri. Namun tidak semua petani memiliki lahan sendiri sebagai tempat melakukan usahatani, sehingga menyebabkan lahan dimasukkan dalam model penelitian ini. Dengan pertimbangan apabila petani menyewa lahan untuk kegiatan usahatani, maka petani tersebut akan mengeluarkan upah sewa yang akan mempengaruhi jumlah beras yang dapat dipasarkannya. Pembayaran sewa lahan yang bersifat natura menyebabkan petani yang menyewa lahan mengeluarkan sebagian hasil produksinya untuk  sewa lahan. Sebaliknya, jika petani memiliki lahan sendiri maka kesempatan petani untuk memasarkan  hasil produksi padi akan lebih besar karena tidak perlu mengeluarkan alokasi untuk sewa lahan.

Sumber penerimaan utama keluarga mempunyai hubungan yang positif tapi tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap marketable surplus beras karena kebutuhan petani cukup banyak dan beragam dapat dipenuhi dari penerimaan luar usahatani, sehingga petani tidak perlu lagi menjual hasil produksi lebih banyak. Karena pada intinya petani banyak menjual hasil produksinya karena ingin menutupi kebutuhan keluarga yang lain seperti biaya sekolah sehingga mereka harus menjual produksi lebih banyak dibandingkan dengan petani yang memiliki penerimaan luar usahatani lebih besar.

Ketersediaan Beras di Kota Bengkulu

Ketersediaan beras di Kota Bengkulu dapat dilihat dari jumlah produksi yang dipasarkan oleh petani atau marketable surplus beras yang ada ditingkat petani pada musim tanam Maret 2016. Pada musim tanam ini ketersediaan beras yang ada di tingkat petani sebesar 69.426,26 kg  dengan konversi gabah kering giling sebesar 60 % (berdasarkan informasi dari dinas pertanian dan Bulog) sampai batas 4 bulan ke depan atau sampai waktu panen berikut tiba, sementara kebutuhan akan beras perkapita 126kg/tahun dengan jumlah penduduk Kota Bengkulu sebanyak 273.016 orang pada tahun 2016 setelah dikurangi dengan jumlah petani dan anggota keluarganya sebanyak 422 orang maka jumlah penduduk yang membutuhkan beras sebanyak 272.594 orang. Maka kebutuhan beras masyarakat Kota Bengkulu sebesar 272.594 x 126 kg/tahun = 34.346.844 kg/tahun. Jadi kebutuhan beras masyarakat Kota Bengkulu selama 4 bulan adalah 34.346.844 kg/4 = 8.586.711 kg. Sementara selama 4 bulan produksi dari sentra penelitian, yang diwakili atau di hitung berdasarkan jumlah produksi yang dapat dipasarkan oleh 89 petani responden hanya mampu memasok kebutuhan beras di Kota Bengkulu sebesar 69.426,26 kg atau 0,81%, . Sedangkan sisanya disediakan oleh Perum Bulog yang nantinya di bagi dalam Raskin, OPM, dan jatah beras karyawan Bulog. Sisanya juga dipasok dari berbagai daerah sentra produksi di Propinsi Bengkulu (seperti: Seginim, Manna, dan Padang Guci) dan luar Propinsi Bengkulu.

Berdasarkan data yang didapat dari Perum Bulog Divisi Regional Bengkulu, bahwa jumlah stok beras untuk Kota Bengkulu dari bulan Juni sampai Oktober adalah sebanyak 8.784.051,39 kg. Dimana jumlah stok ini digunakan untuk berbagai macam pengeluaran seperti raskin, bantuan sosial bencana alam, maupun operasi pasar murni untuk menstabilkan harga beras di pasar apabila harganya naik.

Berdasarkan data diatas maka ketersediaan beras  di Kota Bengkulu masih sangat sedikit dan tidak mencukupi untuk kebutuhan beras di Kota Bengkulu. Minimnya ketersediaan beras di Kota Bengkulu disebabkan karena masih banyaknya sawah yang tidak memiliki pengairan irigasi dan ditambah lagi dengan adanya musim kemarau sehingga produk yang diperoleh tidak mencukupi untuk kebutuhan masyarakat Kota Bengkulu. Selain itu seiring perkembangan zaman, lahan-lahan persawahan banyak dialih fungsikan menjadi tempat usaha lain ataupun untuk pembangunan sarana dan prasarana sehingga akan menyebabkan semakin sempitnya lahan persawahan dan hasil yang diperoleh juga sedikit.

Kurangnya ketersediaan beras di Kota Bengkulu juga sebagai akibat kurang berhasilnya panen, juga berkaitan dengan peran penyuluh yang jarang memberikan penyuluhan dan mendengarkan keluhan dari petani apalagi untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi petani. Seperti informasi yang diperoleh dilapangan, petani mengahadapi masalah mengenai hama akan tetapi para penyuluh tidak ada memberikan solusi. Sehingga hasil panen yang diperoleh menurun karena adanya serangan hama.

Dengan minimnya ketersediaan beras di tingkat petani maka pemerintah Kota Bengkulu, berusaha mengimpor atau mendatangkan beras baik dari luar Kota Bengkulu, luar propinsi untuk memenuhi permintaan beras di Kota Bengkulu yang semakin meningkat.  Pemerintah terus berupaya agar produksi padi di Kota Bengkulu terus meningkat baik melalui peran penyuluh maupun pembangungan sarana irigasi. Dengan adanya peran pemerintah diharapkan produksi padi di Kota Bengkulu dapat ditingkatkan sehingga ketersediaan beras ditingkat petani juga meningkat dan dapat mencukupi kebutuhan beras di Kota Bengkulu.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian usahatani padi di Kelurahan Kandang Limun Kecamatan Muara Bangkahulu dan Kelurahan Dusun Besar Kecamatan Singaran Pati Kota Bengkulu pada musim tanam Maret 2016 dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi marketable surplus beras  adalah:penerimaan luar usahatani, jumlah anggota rumah tangga,  harga beras, persentase pembagian produksi lain, dan status kepemilikian lahan.
  2. Ketersediaan beras di tingkat petani sebesar 69.426,26 Kg untuk 4 bulan yang akan datang, belum mencukupi untuk kebutuhan Kota Bengkulu selama 4 bulan yang akan datang atau sampai waktu panen berikutnya.

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian usahatani padi di Kelurahan Kandang Limun Kecamatan Muara Bangkahulu dan Kelurahan Dusun Besar Kecamatan Singaran Pati Kota Bengkulu pada musim tanam Maret 2016 disarankan:

  1. Untuk mencukupi kebutuhan beras dan meningkatkan ketersediaan beras di Kota Bengkulu, sebaiknya pemerintah Kota Bengkulu meningkatkan produksi padi. Upaya ini dijalankan melalui pembangunan saluran irigasi bagi petani seperti di Kelurahan Kandang Limun. Peningkatan produksi diharapkan akan meningkatkan jumlah marketable surplus beras pada petani di Kota Bengkulu yang nantinya juga dapat meningkatkan jumlah marketable surplus beras di Kota Bengkulu.
  2. Peran penyuluh ditingkatkan dalam memberikan arahan kepada petani dalam penggunaan saprodi sesuai anjuran seperti: pupuk, obat-obatan/pestisida, bibit agar hasil yang diperoleh lebih baik dan meningkatkan marketable surplus beras.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2016. Dinas Pertanian Kota Bengkulu. Bengkulu.

Arifin, B, dkk. 2006. Pemberdayaan Lahan Kering untuk Penyediaan Pangan Abad 21.Perhimpunan Ekonomi Indonesia (PERHEPI).

Banoewdjojo, M. 2003. Pembangunan Pertanian. Penerbit: Usaha Nasional. Surabaya.

Badan Pusat statistik. Kota Bengkulu Dalam Angka 2015/2016. Bengkulu.

David. 2009. Marketable Surplus Fungtion of Rice In Malaysia. Universitas Malaya. Kualalumpur.

Deptan. 2012. Analisis Permintaan Pangan di Kawasan Timur Indonesia. Jurnal Agroekonomi, 20 (2).

Djamali, A. B. 2010. Manajemen Usahatani. Departemen Pendidikan Nasional Politeknik Pertanian Negeri Jember Jurusan Manajemen Agribisnis.

Endaryanto, T dan Nur, M. 2004. Analisis Respon Penawaran Padi di Indonesia. Jurnal Sosio Ekonomika, 10 (2): 231-245

Kasian. 2011. Seuntai Pengetahuan Usahatani Indonesi. PT. Rineka Cipta. Jakarta.

Nazir, M. 2014. Metode Penelitian. Penerbit: Ghalia Indonesia. Jakarta.

Nusril, dkk. 2016. Analisa Marketable Surplus Beras (Studi Kasus di Desa Dusun Muara Aman Kecamatan Lebong Utara Kabupaten Lebong. Jurnal Akta Agrosia, 10 (1): 32 – 39.

Rangga, K. K dan Sayekti, D. W. 2004. Keragaan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani Padi Sawah Kasus di Desa Liman Benawi Kab. Lampung Tengah. Jurnal Sosio Ekonomika, 10 (2): 161 – 172.

Sigit, S. 2001. Pengantar Metodologi Penelitian Sosial-Bisnis-Manajemen. Penerbit: Bagian Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Sarjanawijaya Tamansiswa. Yogyakarata.

Singarimbun, M dan Effendi S. 2005.Metode Penelitian Survai. Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia.

Sofyan, H. 2006. Marketable Surplus dan Lembaga Pemasaran Beras di Desa Dusun Muaraaman Kec. Lebong Utara Kab. Lebong. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Bengkulu. Skripsi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Pertanian UNIB. Bengkulu (tidak dipublikasikan).

Solahuddin, S. 1998. Prosiding Seminar Nasional: Kebijaksanaan Peningkatan Produksi Padi Nasional. Penerbit: Universitas Lampung.

Wibowo, R. 2000. Pertanian dan Pangan “Bunga Rampai Pemikiran Menuju Ketahanan Pangan”. Penerbit: Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.

 

 

 

 

 

Posted in Jurnal | Leave a comment

 

Posted in Jurnal | Leave a comment

BIAYA PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI PADA USAHA PENGOLAHAN UBI KAYU DI KABUPATEN BENGKULU TENGAH PROVINSI BENGKULU

Oleh :

Evi Andriani

Fakultas Pertanian, Universitas Dehasen Bengkulu

Email : andrianievi20@yahoo.co.id

ABSTRACT

 

This study aims to : (1) determine the cost of production of income from the business of processing cassava into cassava chips (2) determine the amount of income from the business of processing cassava into cassava chips and (3) know the level of business value added cassava processing into cassava chips. This study was conducted in the month September 2015. Methods used in this research is descriptive analytic method. Results of the analysis showed that (1) the effort processing cassava chips to have a total of production 8.900.000 rupiah with the cost of production 5.239.000 rupiah  (2). agro-processing cassava chips provide benefits, which amounts to 3.303.500 million rupiah fifths times the production process for a month and (3) enjoyed the added value of the agro-industry entrepreneurs at 4,275 rupiah per kilogram of raw material used.

Keywords : cassava chips, agro-industry, value-added.

.ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk : (1). menganalisis besarnya biaya produksi dari usaha pengolahan ubikayu menjadi keripik ubikayu, (2). menganalisis besarnya pendapatan petani dari usaha pengolahan ubikayu menjadi keripik ubikayu, dan (3). menganalisis besarnya nilai tambah  pendapatan dari usaha pengolahan ubikayu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September  tahun 2015. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode deskriptif analitik. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Usaha pengolahan ubikayu mempunyai total produksi sebesar Rp. 8.900.000 dengan biaya produksi Rp. 5.239.000, (2) keuntungan yang diterima perbulan adalah sebesar  Rp 3.303.500,- per lima kali proses produksi selama satu bulan dan (3) nilai tambah yang dinikmati pengusaha dari usaha pengolahan ubikayu sebesar Rp 4.275 per kilogram bahan baku yang dimanfaatkan.

PENDAHULUAN

Sistem agribisnis terdiri dari subsistem input (agroindustri hulu), usahatani (pertanian), sistem output (agroindustri hilir), pemasaran dan penunjang. Dengan demikian pembangunan agroindustri tidak dapat dilepaskan dari pembangunan agribisnis secara keseluruhan. Pembangunan agroindustri akan dapat meningkatkan produksi, harga hasil pertanian, pendapatan petani, serta menghasilkan nilai tambah hasil pertanian (Lipsey et al.,1990).

Dalam menyelenggarakan usahatani, setiap petani berusaha agar hasil panennya banyak (produksi tinggi) dan kemudian dapat dijual dengan harga yang tinggi sehingga dapat mensejahterakan petani. Bagi seorang petani analisis pendapatan memberikan bantuan untuk mengukur apakah kegiatan usahanya pada saat ini berhasil atau tidak (Hernanto, 1989).  Pendapatan usahatani akan berbeda untuk setiap petani, dimana perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan faktor produksi, tingkat produksi yang dihasilkan dan harga jual yang tidak sama hasilnya, seperti tanaman ubi kayu (Supriyono, 1999).

Ubikayu (manihot utilissima) merupakan salah satu hasil komoditi pertanian di Indonesia yang dipakai sebagai bahan makanan, sebagai bahan baku industri, dan sebagai bahan makanan pengganti (Djaafar at al.,2003; Rukmana dan Yuniarsih, 1987). Ubi kayu yang langsung dipasarkan setelah panen dan di konsumsi langsung tanpa melalui proses pengolahan terlebih dahulu, nilai gizinya masih rendah dan daya tanah serta umur ubi tersebut tidak lama. Untuk meningkatkan nilai gizi ubi kayu dilakukan pengolahan ubi kayu (Muchlis at al.,2013). Apabila ditinjau dari aspek ekonomis usaha pengolahan ubikayu seperti pembuatan keripik ubikayu mempunyai prospek yang menggembirakan (Masyhuri, 2000).

Tujuan dari penelitian ini adalah (1). Untuk menganalisis besarnya biaya produksi dari usaha pengolahan ubikayu menjadi keripik ubikayu, (2). Untuk menganalisis besarnya pendapatan petani dari usaha pengolahan ubikayu menjadi keripik ubikayu, dan (3).untuk menganalisis besarnya nilai tambah  pendapatan dari usaha pengolahan ubikayu menjadi keripik ubikayu.

METODE PENELITIAN

Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di usaha pengolahan kripik ubi kayu di Desa Sri Kuncoro Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah pada bulan September tahun 2015. Penentuan lokasi ini dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan bahwa di lokasi ini terdapat salah satu agroindustri pengolahan ubikayu menjadi keripik ubikayu.

 

Jenis Dan Sumber Data

Data Primer

Data primer adalah data yang dikumpulkan dan diperoleh langsung dari produsen ubikayu dan pemilik usaha keripik ubikayu serta pihak-pihak yang terkait dengan menggunakan kuisioner.

Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari instansi yang terkait (BPS, Dinas Pertanian, beserta instansi terkait lainya) dan berbagai media cetak dan media online beserta dari berbagai buku dan literatur yang berkaitan dengan penelitian ini.

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah pemilik dan tenaga kerja usaha pengolahan Ubikayu di Desa Sri Koncoro Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah sedangkan yang menjadi sampel adalah pemilik usaha pengolahan Keripik Ubikayu dan seorang pekerja pada usaha pengolahan Keripik ubikayu di Desa Sri Koncoro Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah.

Metode Analisis Data

Menghitung Pendapatan Usaha Pengolahan Ubikayu Menjadi Keripik

Rumus : π = TR – TC

Keterangan : π = Keuntungan usaha pengolahan ubikayu menjadi keripik ubikayu (Rp), TR = Penerimaan usaha pengolahan ubikayu menjadi keripik ubikayu (Rp), TC = Biaya total usaha pengolahan ubikayu menjadi keripik ubikayu (Rp)

Untuk biaya total dapat dihitung dengan mengunakan rumus : TC = TFC + TVC

Keterangan : TC = Biaya total usaha pengolahan ubikayu menjadi keripik ubikayu (Rp), TFC=Biaya tetap usaha pengolahan ubikayu menjadi keripik ubikayu (Rp), TVC=Biaya variabel usaha pengolahan ubikayu menjadi keripik ubikayu (Rp)

Untuk menghitung penerimaan

Rumus: TR = Q x P

Keterangan : TR=Penerimaan total usaha pengolahan ubikayu menjadi keripik ubikayu (Rp), Q = Jumlah produk keripik ubikayu ( Bungkus), P = Harga produk keripik ubikayu (Rp)

 

Menghitung Nilai Tambah Keripik Ubikayu

  1. Nilai Tambah Bruto, Rumus : NTb = Na – Ba = Na – (Bb + Bp)

Keterangan : NTb = Nilai tambah bruto (Rp), Na = Nilai produk akhir keripik ubikayu (Rp), Ba = Biaya antara (Rp), Bb = Biaya bahan baku keripik ubikayu (Rp), Bp = Biaya bahan penolong (Rp)

Nilai Tambah Netto (NTn), Rumus : NTn = NTb – NP NP=nilai awal−nilai sisa umur ekonomis

Keterangan : NTn = Nilai tambah netto (Rp), NTb = Nilai tambah bruto (Rp), NP = Nilai penyusutan

  1. Nilai Tambah per bahan Baku, Rumus : NTbb = NTb : Σbb

 

Keterangan : NTbb = Nilai tambah per bahan baku yang digunakan (Rp/kg), NTb = Nilai tambah bruto (Rp), Σbb = Jumlah bahan baku yang digunakan (kg)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Lokasi Penelitian

Usaha pengolahan ubi kayu yang diteliti merupakan Agroindustri berskala kecil menengah yang berlokasi di di Desa Sri Kuncoro Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah. Usaha pengolahan ubi kayu mulai berdiri pada tahun 2010 yang awalnya terdiri hanya memiliki 3 (tiga) orang tenaga kerja, dan sekarang sudah beranggotakan 10 (sepuluh) orang tenaga kerja yang terdiri dari 7 (tujuh) orang tenaga tetap pada bagian produksi dan 3 (tiga) orang lainnya tenaga kerja harian sebagai penunjang. Factor jumlah tenaga kerja berpengaruh terhadap keuntungan usaha tani ubikayu, sehingga semakin banyak jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dalam satuan Hari Orang Kerja (HOK) maka akan semakin rendah keuntungan usahatani ubi kayu yang diterima (Eka, 2012).

Bahan baku yang digunakan berasal dari petani yang ada di Kecamatan Pondok Kelapa dan kecamatan lain yang ada di Kabupaten Bengkulu Tengah. Sekali melakukan proses produksi keripik ubi kayu, di butuhkan bahan baku sebanyak 200 kg, total produksi dalam satu bulan sebanyak 5 kali makan bahan baku yang di gunakan 1000 kg/1 ton dalam satu bulan, dengan harga jual berkisar antara Rp. 16.000,- sampai Rp. 20.000/Kg.

 

Keadaan Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Jumlah penduduk menurut umur dan jenis kelamin di Desa Sri Koncoro menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang berumur  produktif yaitu pada umur 20-59 tahun menempati posisi jumlah penduduk terbesar dari jumlah penduduk yang berumur 0-19 tahun. Sementara jumlah keseluruhan penduduk di Desa Sri Koncoro adalah sebanyak 5.172 jiwa.  (Tabel 1). Menurut Mubyarto (1989), umur 15 tahun sampai 50 tahun merupakan umur produktif.

 

Tabel 1. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin

 

No. Umur (Tahun) Jenis Kelamin Jumlah (Orang)
Laki-laki Perempuan
1. 0-4 160 185 345
2. 5-9 165 201 366
3. 10-19 333 379 712
4. 20-24 174 199 373
5. 25-39 408 479 887
6. 40-44 161 174 335
7. 45-49 165 194 359
8. 50-54 168 196 364
9 55-59 158 188 346
10. 60-64 182 189 371
11. 65-69 166 191 357
12. 70-74 149 166 315
13. 20 22 42

Sumber : Profil Desa Sri Koncoro (2015)

 

 

Total biaya peralatan yang dikeluarkan oleh usaha pengolahan ubikayu Desa Sri Koncoro, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah Rp. 2.515.000. Biaya peralatan yang terbesar untuk pembelian mesin perajang Rp. 1.500.000. dan biaya terendah yang dikeluarkan untuk pembelian saringan kawat ukuran besar dan kecil dengan harga masing-masing Rp. 50.000. Secara keseluruhan nilai penyusutan peralatan sebesar Rp. 357.500 per tahunnya (Tabel 2).

Tabel 2. Rincian Penggunaan Peralatan

 

No Peralatan Jumlah Satuan Harga Biaya Umur Nilai Sisa Penyusutan
1. Blender 1 Unit 150.000 150.000 2 90.000 30.000
2. Pisau 3 Unit 30.000 90.000 2 60.000 15.000
3. Wajan 2 Buah 250.000 500.000 2 450.000 25.000
4. Ember 3 Buah 25.000 75.000 2 50.000 12.500
5. Mesin Peranjang 1 Unit 1.500.000 1.500.000 2 1.000.000 250.000
6. Timbangan 1 Unit 100.000 100.000 2 80.000 10.000
7. Saringan besar 2 Buah 25.000 50.000 2 30.000 10.000
8. Saringan kecil 2 Buah 25.000 50.000 2 40.000 5.000
Jumlah   2.515.000   1.800.000 357.500

Sumber : Data Primer (2015)


Penyediaan Bahan Baku

Dalam melakukan pengolahan keripik ubi kayu, bahan baku utama yang digunakan adalah ubi kayu, sedangkan bahan baku penolong lain yang digunakan adalah minyak goreng, cabe merah, garam, dan kayu bakar. Harga ubikayu sering melambung tinggi hingga mencapai Rp 1.800 sampai 2.500/Kg. Faktor harga ubi kayu berpengaruh nyata terhadap keuntungan usahatani ubi kayu, jadi semakin tinggi harga ubi kayu maka semakin tingi keuntungan usahatani ubi kayu yang diterima (Eka, 2012).

Proses Produksi Pengolahan Ubikayu

Kegiatan produksi dilakukan dengan menggunakan alat perajang ubi yang dirancang khusus yaitu dinamo yang dihubungkan dengan listrik, seperti pada saat penggilingan bumbu masih menggunakan blender biasa, dan menggunakan tenaga manusia pada saat pengupasan kulit ubi serta dan penggorengan. Uraian kegiatan yang dilakukan dalam proses produksi pengolahan keripik ubikayu adalah sebagai berikut :

Pengadaan Bahan Baku

Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan keripik ubikayu pada dasarnya adalah sama pada tiap-tiap usaha pengolahan lainnya, yaitu ubikayu, cabai merah dan garam

Proses Produksi

Dalam malakukan proses produksi pengolahan keripik ubikayu pada dasarnya memiliki tahapan yang sama, adapun tahapan tersebut adalah pengupasan, pencucian, perajangan / pengirisan, penggorengan, dan pengemasan (Mubyarto. 1994).Untuk keripik ubikayu dengan berat 1000 gram dapat dikemas dalam plastik ukuran 24cm x 40cm sebanyak 1 Kg dengan harga Rp 40.000,-. Untuk kemasan 40.000 gram yang biasanya dibeli oleh agen berukuran 120 x 180 cm sebanyak 1 lembar dengan harga Rp 10.000,-

Produksi dan Nilai Produksi Keripik Ubikayu

Faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani ubi kayu adalah produksi dan harga jual (Marniza et al., 2011). Produksi adalah segala kegiatan yang ditujukan untuk menciptakan dan menambahkan keragaman makanan atau barang dan jasa. Produksi merupakan pendapatan kotor dalam bentuk fisik dari suatu proses produksi. Sedangkan nilai produksi merupakan pendapatan kotor yang diperoleh dari hasil perkalian jumlah dan harga jual yang berlaku di pasaran (Gasperz, 1999).

Tabel 3. Rincian produksi, harga jual dan nilai produksi keripik Ubi Kayu

Tahun Produksi (Kg/Bulan) Produksi (Kg/Tahun) Harga Jual (Rp/Kg) Pendapatan (Rp/bulan)
2015 445 5.340 20.000 8.900.000

Sumber : Data Primer (2015)

 

 

Selama melakukan proses produksi, hasil yang diperoleh  selama satu bulan sebanyak 445 kg, maka hasil produksi yang diperoleh selama satu tahun sebanyak 5.340 kg. Pendapatan yang diperoleh sebesar Rp 8.900.000 perbulan dengan harga jual sebesar Rp 20.000/kg. agroindustri ini hanya mampu berproduksi 5.340 kg/ tahun dengan harga jual          Rp 20.000/kg (Tabel 3).

Biaya Produksi dan Pendapatan

Biaya tetap usaha pengolahan ubikayu terdapat pada biaya produksi yaitu biaya penyusutan pada alat-alat yang digunakan dalam proses produksi serta penyusutan bangunan yang dihitung berdasarkan umur ekonomis. Pada saat peneliti melakukan pengamatan pengusaha keripik ubikayu masih menggunakan alat-alat yang sederhana dalam melakukan proses produksi.

Tabel 4. Rincian Pengeluaran Biaya Produksi, Keripik Ubikayu Dalam Lima Kali Proses Produksi

No. Jenis Pengeluaran Volume Satuan Harga Satuan Jumlah Persentase (%)
1. Bahan baku          
  1. Ubi kayu
1000 Kg 2.000 2.000.000 38,2
  1. Minyak Goreng
90 Kg 13.000 1.170.000 22,3
  1. Cabe Merah
25 Kg 25.000 625.000 11,9
  1. Garam
5 Kg 4.000 20.000 0,4
Jumlah 3.815.000
2. Bahan Penolong          
  1. Kayu Bakar
10 Ton 50.000 500.000 9,5
  1. Plastik 1 Kg
5 Kg 4.000 200.000 3.8
  1. Plastik 40 Kg
10 Lembar 10.000 100.000 1,9
  1. Karet Ikat
2 Ons 5.000 10.000 0,2
Jumlah   810.000  
3 Biaya Tenaga Kerja          
1.Tenaga Kerja Tetap 11,6 HKP 40.000 464.000 8,9
2.Tenaga Kerja Harian 5 HKP 30.000 150.000 2,9
Jumlah   614.000  
Jumlah Biaya   5.239.000  

Sumber : Data Primer (2015)

Biaya pembelian bahan baku ubikayu merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha pengolahan keripik ubikayu yang kemudian diikuti oleh biaya pembelian minyak goreng. Hal ini terlihat dari persentase di dalam tabel diatas sebesar 38,2% dari keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi keripik ubikayu. Tingkat upah tenaga kerja ditentukan pada tingkat upah yang berlaku, lama kerja dan jumlah hari kerja. Secara keseluruhan jumlah biaya yang harus dikeluarkan oleh agroindustri pengolahan keripik ubikayu adalah sebesar Rp 5.239.000 (Tabel 4).

Dengan penggunaan bahan baku utama ubikayu sebanyak 1000 kg maka agroindustri memperoleh nilai produksi pengolahan keripik sebesar Rp. 8.900.000 dan pendapatan bersih yang diterima perusahaan sebesar Rp. 3.303.500 dalam 1 bulan lima kali roses produksi. Agroindustri ini termasuk usaha yang menggunakan bahan baku yang banyak, itu dibuktikan dengan biaya yang dikeluarkan mencapai 38,2% untuk pengadaan bahan baku ubikayu dalam lima kali proses produksi (Tabel 5).

 

Tabel 5. Biaya Produksi Pendapatan dan Keuntungan Agroindustri Keripik Ubi Kayu :

 

No. Keterangan Harga (Rp)
1. Pendapatan Agroindustri
Total produksi / 445 kg x 20.000 (TR) 8.900.000
2. Biaya Agroindustri
  1. Biaya bahan baku
3.815.000
  1. Biaya penyusutan
357.000
  1. Biaya bahan penolong
810.000
  1. Biaya tenaga kerja
614.000
Total Biaya Produksi 5.239.000
3. Keuntungan (TR – TC) 3.303.500

Sumber : Data Primer (2015)

 


Analisis Nilai Tambah Bahan Baku Pengolahan Ubikayu

Analisis nilai tambah usaha kengolahan ubikayu menjadi keripik ubikayu dilakukan untuk mengetahui besarnya nilai yang ditambahkan pada bahan baku yang digunakan dalam memproduksi keripik ubi kayu.

Tabel 6. Analisis Nilai Tambah Ubikayu Menjadi Keripik Ubi kayu perbulan

No Komponen Nilai
1. Nilai produk akhir (Rp) 8.900.000
2. Nilai bahan baku (Rp) 3.815.000
3. Jumlah bahan baku (Kg) 1.000
4. Biaya penolong (Rp) 810.000
5. Biaya penyusutan (Rp) 357.000
6. Biaya antara (Rp) 4.625.000
7. Nilai tambah bruto (Rp) 4.275.000
8. Nilai tambah netto (Rp) 3.917.500
9. Nilai tambah per bahan baku (Rp/Kg) 4.275
Jumlah 26.704.275

Sumber : Data Primer (2015)

Nilai Tambah Bruto

Nilai tambah bruto merupakan dasar dari perhitungan nilai tambah netto dan nilai tambah per bahan baku (Hendriksen, 1999). Analisis nilai tambah ubikayu dengan produk akhir yang diterima oleh usaha pengolahan keripik ubikayu adalah nilai yang diberikan atau dijual dari usaha pengolahan kepada konsumen. Besarnya biaya antara yang dikeluarkan                Rp. 4.625.000 yang diperoleh dari penjumlahan antara biaya bahan baku, dan biaya bahan penolong, yang masing–masing sebesar Rp. 3.815.000 dan Rp. 810.000 semakin besar biaya antara maka nilai tambah bruto yang diciptakan akan semakin kecil. Semakin besar nilai tambah maka semakin besar keuntungan yang diperoleh dan juga sebaliknya.

Nilai Tambah Netto

Nilai tambah netto pada petani ubikayu sebesar Rp 3.917.500 diperoleh dari selisih antara nilai bruto sebesar Rp 4.275.000 dan biaya penyusutan sebesar Rp 357.500.

 

Nilai Tambah per Bahan Baku

Nilai tambah per bahan baku merupakan untuk mengetahui produktivitas bahan baku yang dimanfaatkan untuk mengahasilkan produk keripik ubi kayu. Nilai tambah per bahan baku keripik ubikayu pada usaha pengolahan di Desa Sri Koncoro Kecamatan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah yaitu sebesar Rp 4.275/Kg, artinya untuk setiap satu kilogram bahan baku ubikayu yang digunakan dalam produksi dapat memberikan nilai tambah bahan baku sebesar Rp 4.275 Besarnya nilai tambah tersebut diperoleh dari nilai tambah bruto sebesar Rp 4.275.000 dibagi dengan jumlah bahan baku yang digunakan yaitu sebanyak 1.000 kg.

KESIMPULAN

Usaha pengolahan keripik ubikayu mempunyai total produksi sebesar Rp. 8.900.000 dengan biaya produksi Rp. 5.239.000 sehingga keuntungan yang diterima perbulan adalah sebesar Rp 3.303.500,- dalam lima  kali produksi. Nilai tambah yang dinikmati petani dari usaha pengolahan ubi kayu sebesar Rp 4.275,- per kilogram bahan baku yang dimanfaatkan. Nilai tambah ini merupakan peningkatan hasil produksi yang didapatkan oleh usaha pengolahan keripik Ubi kayu dalam 1 kilogram penggunaan bahan baku.

DAFTAR PUSTAKA

Djaafar, Titiek F dan Siti R. 2003. Ubikayu dan Olahannya. Kanisius. Yogyakarta.

Eka, M.J. 2012. Analisis keuntungan usaha tani dan distribusi pendapatan rumah tangga petani ubi kayu pada sentra agroindustri tapioca di Kabupaten Lampung Tengah. Jurnal Informatika Pertanian 21(2) : 95-105

Gasperz, V. 1999. Ekonomi Manajerial Pembuatan Keputusan Bisnis. PT Gramedia. Jakarta.

Hendriksen.1999. Manajemen Pemasaran. LP3N. Jakarta.

Hernanto, F.  1989.  Ilmu Usaha Tani.  Penebar Swadaya. Jakarta

Lipsey, G. R, Peter, O. P. dan Douglas, D.P. 1990. Pengantar Mikroekonomi I jilit I. Diterjemahkan oleh Jaka, A. W dan Kirbrandoko. Erlamgga. Jakarta.

Marniza, Medikasari, Nurlaili. 2011. Produksi tepung ubi kayu berprotein. Jurnal Teknologi Industri dan Hasil Pertanian 16 (1) : 73 – 81

Masyhuri, 2000. Pengembangan Agroindustri Melalui Peneliti Pengembangan Produk Yang Intensif dan Berkesinambungan. Jurnal Agroekonomi 7 (1) : 21-29.

Mubyarto. 1989.  Pengantar Ekonomi Pertanian. LP3ES. Jakarta.

Mubyarto.1994.Teknik-teknik Manajemen Modern. Pena Tinta. Jakarta.

Muchlis,R,D.,P.Andreas, B.Jos, S. Sumardiono. 2013. Modifikasi ubi kayu dengan proses permentasi menggunakan Lactobacilus casei untuk produk pangan. Jurnal Teknologi Kimia dan Industri 2 (4) : 137-145

Rukmana dan Yuniarsih. 1987. UbiKayu dan Pasca Panen. Kanisius. Yogyakarta.

Soekartawi. 1990. Teori Ekonomi Produksi Dengan Pokok-Pokok Bahasan Analisis Fungsi Cobb-Douglas. Rajawali. Jakarta.

Supriyono.1999. Metode Penelitian Bisnis. Alf ABETA. Bandung.

 

 

Posted in Jurnal | Leave a comment

ANALISIS USAHA BUDIDAYA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DALAM KERAMBA JARING APUNG DI DESA SURO ILIR KECAMATAN UJAN MAS KABUPATEN KEPAHIANG

Oleh:
Herti Liani1), Apri Andani2) dan Nyayu Neti Arianti2) 1)Alumni Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian UNIB 2)Dosen Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian UNIB

ABSTRACT

This study aims to analyze the income and efficiency of tilapia culture in floating net at Suro Ilir Village Ujan Mas District Kepahiang Regency. Thesix respondents weretakenby census method. The incomewas calculated by substracted the Total Revenue (TR) with Total Cost (TC) and the eficiency level was known by R/C ratio value. The income was Rp 80.745.805,55 per stocking season and R/C ratio was 1,21. Those values meaned that the the business of tilapia in floating net was already profitable and efficient.

Keywords: floating net , tilapia, income, efficiency

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan dan efisiensi budidaya nila di jaring apung di Suro Ilir Desa Ujan Mas Kecamatan Kabupaten Kepahiang. responden Thesix weretakenby metode sensus. The incomewas dihitung dengan dikurangi Total Pendapatan (TR) dengan Total Biaya (TC) dan tingkat efisiensi dikenal dengan / C nilai rasio R. pendapatan sebesar Rp 80.745.805,55 per musim tebar dan rasio R / C adalah 1,21. Nilai-nilai tersebut meaned bahwa bisnis ikan nila di jaring apung sudah menguntungkan dan efisien.

Kata kunci: jaring apung, nila, pendapatan, efisiensi

PENDAHULUAN

Subsektor perikanan merupakan bagian dari subsektor pertanian yang mempunyai arti yang strategis terutama dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui perbaikan pangan dan gizi yang dikonsumsi masyarakat. Tujuan pembangunan pertanian subsektor perikanan adalah meningkatkan produksi dan produktivitas perikanan menuju swasembada pangan protein hewani dalam rangka perbaikan gizi masyarakat serta dapat memperluas kesempatan kerja dalamsubsektor perikanan. Beberapa media bisa digunakan untuk budidaya ikan.  Salah satunya adalah media keramba jaring apung. Budidaya ikan keramba jaring apung bisa di lakukan baik di sungai yang dalam, danau, di atas kolam terpal, hingga laut.
Budidaya ikan keramba jaring apung merupakan salah satu cara budidaya pembesaran ikan nila yang efisien dan efektif, model sistem budidaya ini telah terbukti lebih efisien, baik efisien secara teknis ataupun ekonomis (Anonim, 2014). Beberapa keunggulan ekonomis usaha budidaya ikan dalam keramba yaitu1)Menambah efisiensi penggunaan sumberdaya, 2) Prinsip kerja usaha keramba dengan melakukan pengurungan pada suatu badan perairan dan memberi makan dapat meningkatkan produksi ikan, dan 3)Memberikan pendapatan yang lebih teratur kepada nelayan dibandingkan dengan hanya bergantung pada usaha penangkapan (Anonim, 2015).

Desa Suro Ilir Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Kepahiang merupakan salah satu desa yang sebagian penduduknya melakukan usaha budidaya ikan nila dalam keramba jaring apung di Danau Suro.   Keramba jaring apung yang diusahakan baru seluas 2 Ha dari 100 Ha luas danau tersebut.  Budidaya ikan nila dalam keramba jaring apung sangat cocok dilakukan di danau ini.  Kegiatan budidaya yang sudah dilakukan oleh masyarakat dengan pembinaan dari instansi terkait seperti Dinas Perikanan dan Bank Indonesis Cabang Bengkulu.  Potensi sumberdaya perairan Danau Suro belum dimanfaatkan secara maksimal.  Jika dilakukan dengan baik, budidaya ikan dalam keramba jaring apung di Desa Suro Ilir dapat menjadi usaha yang menguntungkan dan memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

 

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pendapatan dan efisiensi usaha budidaya ikan nila dalam keramba jaring apung di Desa Suro Ilir Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Kepahiang.

 

METODOLOGI PENELITIAN

 

Penelitian dilakukan di Desa Suro Ilir Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Kepahiang dari tanggal 8 Mei  sampai 8 Juni 2015. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja karena daerah tersebut merupakan sentra budidaya ikan nila dalam keramba jaring apung.  Ikan nila yang dihasilkan mampu memenuhi permintaan pasar.

 

Responden petani ikan nila diambil dengan metode sensus, dimana seluruh petani ikan nila keramba jaring apung di Desa Suro Ilir dijadikan responden.  Jumlah responden sebanyak 6 orang.  Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer  diperoleh langsung dari hasil wawancara dengan petani ikan nila keramba jaring apung dengan panduan kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya. Data sekunderdiperoleh dari literatur-literatur dan instansi-instansi terkait.

 

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

 

1.  Pendapatan usaha

 

Pendapatan usaha budidaya ikan nila keramba jaring apung dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut:

 

PD = TR – TC

 

TR = Y . Py

 

TC = FC + VC

 

Dimana :

 

PD :  Pendapatan  usaha (Rp/UT/MT)
TR :  Total penerimaan usaha (Rp/UT/MT)
TC :  Total biaya usaha (Rp/UT/MT)
Y :  Jumlah produksi (Kg/MT)
Py :  Harga produksi (Rp/Kg)
FC :  Biaya tetap (Rp/UT/MT)
VC :  Biaya variabel (Rp/UT/MT)
MT :  Musim Tebar (6 bulan)

 

2. Efisiensi usaha

 

Tingkat efisiensi usaha budidaya ikan nila dalam keramba jaring apung ditentukan dari nilai R/C Ratio, dengan rumus :

 

R/C Ratio = TR : TC

 

Kriteria efisiensi yang digunakan adalah : jika R/C Ratio >1artinya usaha tersebut efisien atau menguntungkan, jika R/C Ratio=1artinya usaha tersebut tidak untung dan tidak rugi atau impas, dan jika R/C Ratio < 1 artinya usaha tersebut tidak efisien atau mengalami kerugian (Soekartawi, 2003).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Rata-rata keramba jaring apung yang dimiliki petani adalah 663,5 m3.  Keramba terdiri dua macam ukuran, yakni ukuran 4 m x 4 m dan 7 m x 7 m dengan kedalaman jaring 1,5 m.  Budidaya ikan nila dalam keramba jaring apung dilakukan selama 6 bulan.  Kegiatan tersebut dimulai dari penebaran benih ikan sampai pemanenan. Jumlah rata-rata benih yang ditebar dalam satu kali musim tebar sebanyak 5.567 kg dengan Rp 21.000/Kg.

 

Jenis pakan yang digunakan oleh petani ikan nila keramba jaring apung adalah pelet yang bermerk Mabar sebagai pakan pokok yang dipesan langsung dari Kota Medan. Petani ikan nila keramba jaring apung di Desa Suro Ilir tidak memakai pakan tambahan. Jumlah pakan berupa pelet yang digunakan petani sebanyak  26.580 Kg/MT dengan harga rata-rata Rp10.000/Kg. Jumlah pakan yang diberikan setiap petani dalam satu kali musim tebar tidak sama tergantung jumlah benih yang ditebar dan umur ikan dalam keramba jaring apung.

 

Alat transportasi yang digunakan petani dalam usaha budidaya ikan nila keramba jaring apung di Desa Suro Ilir berupa rakit bermotor.

 

  1. Biaya Usaha

 

Total biaya usaha terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel.  Biaya tetap adalah biaya yang tidak terpengaruh oleh jumlah produksi atau biaya yang tidak habis dalam satu kali proses produksi.  Biaya tetap berupa biaya penyusutan alat yang tertera pada Tabel 1. Biaya tetap didominasi oleh biaya penyusutn keramba, baik keramba ukuran 4m x 4m maupun 7m x 7m. Keramba yang menjadi komponen utama dalam usaha budidaya ikan nila ini tersusun dari jaring, pelampung, jangkar dan tali jangkar. Biaya penyusutan yang cukup besar juga berasal dari drum pengangkutan dan tabung oksigen yang digunakan dalam kegiatan pemanenan.

Tabel 1. Rata-rata Biaya Penyusutan Alat Usaha Budidaya Ikan Nila Keramba Jaring Apung di Desa Suro Ilir dalam Satu Musim Tebar

 

No. Alat-alat Biaya Penyusutan  (Rp/UT)
1 Keramba ukuran 4m x 4m 2.066.666,67
2 Keramba ukuran 7m x 7m 1.700.000,00
3 Pondok 32.083,33
4 Keranjang jaring 35.000,00
5 Drum pengangkutan 210.000,00
6 Ember 15.278,78
7 Timbangan 94.000,00
8 Tabung oksigen 125.000,00
9 Rakit motor 18.750,00
Total 4.296.777,78

 

Sumber : Data primer diolah, 2015.

 

Biaya variabel merupakan biaya yang dikeluarkan untuk pembayaran input-input variabel dalam proses produksi jangka pendek. Rata-rata biayavariabel yang dikeluarkan pada usaha budidaya ikan nila keramba jaring apung di Desa Suro Ilir dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Rata-rata Biaya Variabel Usaha Budidaya Ikan Nila Keramba Jaring Apung di Desa Suro Ilir dalam Satu Musim Tebar

 

 

 

No. Peruntukan Biaya Jumlah (satuan) Biaya (Rp/UT)
1 Benih (kg) 5.567 116.900.000,00
2 Pakan (Kg) 26.580 265.800.000,00
3 Transportasi   8.333,33
4 Angkut   212.500,00
5 Plastik 100cm x 60cm (lembar) 2.100 630.000,00
6 Oksigen (Kg) 2.000 2.880.000,00
7 Karet gelang (Kg) 5 70.000,00
8 Tenaga kerja   22.960.416,67
Total 409.461.250,00

 

Sumber : Data primer diolah,  2015

 

  1. Produksi, Penerimaan, Pendapatan dan Efisiensi usaha

 

Besarnya pendapatan ditentukan oleh besarnya penerimaan dan biaya yang dikeluarkan. Rata-rata produksi, penerimaan, biaya, pendapatan, dan efisiensi usaha budidaya ikan nila dalam keramba jaring apung di Desa Suro Ilir dapat dilihat pada Tabel 3.

 

Tinggi rendahnya produksi usaha budidaya ikan nila keramba jaring apung antara lain ditentukan oleh tingkat penerapan teknologi. Salah satu indikatornya adalah penggunaan sarana produksi seperti benih ikan yang unggul dan pakan yang tercukupi. Rata-rata produksi ikan nila yang dipelihara dalam keramba jaring apung di Desa Suro Ilir adalah sebanyak 21.500Kg/UT atau 16,18 Kg/m3.Harga jual rata-rata 23.000/Kg.  Hasil produksi ini lebih rendah dibandingkan data hasil penelitian Pontoh (2012) yang sebanyak 20,94 Kg/m3.Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh kepadatan tebar ikan di Desa Suro Ilir yang sangat tinggi yaitu 8,7 Kg/m3 yang jauh melebihi  batas ideal.  Kepadatan tebar ideal adalah 2,4 Kg/m3 (Anonim, 2014). Kepadatan yang tinggi akan mempengaruhi pertumbuhan ikan nila sehingga berdampak pada rendahnya hasil produksi.

Tabel 3. Rata-rata Produksi, Total Penerimaan, Total Biaya, Pendapatandan Efisiensi Usaha Budidaya Ikan Nila dalam Keramba Jaring Apung di Desa Suro Ilir dalam Satu Musim Tebar

 

 

 

No. Keterangan Nilai/UT
1 Produksi (Kg) 21.500,00
2 Harga Produksi (Rp23.000,00/Kg)  
3 Total Penerimaan (Rp) 494.503.833,33
4 Total Biaya (Rp) 413.758.027,78
5 Pendapatan (Rp) 80.745.805,55
6 R/C Ratio 1,21

 

Sumber : Data primer diolah,  2015.

 

Pendapatan usaha budidaya ikan nila dalam keramba jaring apung di  Desa Suro Ilir rata-rata sebesar Rp. 80.745.805,55/UT/MT.  Nilai R/C Ratio  rata-rata sebesar 1,21.  Nilai efisiensi yang lebih besar dari satu menunjukkan bahwa usaha tersebut sudah efisien atau menguntungkan.Tingkat efisiensi tersebut telah memberi bukti lagi bahwa budidaya ikan dalam keramba jaring apung memang mempunyai keunggulan-keunggulan ekonomis.  Tingkat efisiensi sebesar 1,21 berarti bahwa biaya usaha sebesar Rp 1.000/UT/MT akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp.1.210/UT/MT. Namun nilai efisiensi ini juga lebih rendah dibanding hasil penelitian Suryanti (2013) dimana nilai efisiensi usaha budidaya ikan nila dalam keramba jaring apung di Kecamatan Wonogiri Kabupaten Wonogiri adalah sebesar 1,48.

 

KESIMPULAN

 

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa rata-rata pendapatan usaha budidaya ikan nila dalam keramba jaring apung di Desa Suro Ilir Kecamatan Ujan Mas Kabupaten Kepahiang adalah sebesar Rp80.745.805,55/UT/MT dan sudah efisien dengan nilai R/C Ratio sebesar 1,21.

 

SARAN

 

Usaha budidaya ikan nila dalam keramba jaring apung sudah menguntungkan namun tingkat keuntungan dan efisiensi dapat ditingkatkan lagi antara lain dengan cara mengurangi kepadatan tebar sehingga produksi dapat meningkat.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim.  2014.  Budidaya Keramba Jaring Apung.  http://alamikan.com. Diakses Tanggal 10 Mei 2016 Pukul 14.15 WIB.

 

________.  2015.  Penerapan Keramba Jaring Apung dalam Budidaya.  http://infoakuakultur.com.  Diakses Tanggal 11 Mei 2016 Pukul 19.20 WIB.

 

Pontoh, Otniel.  2012.  Analisis Usaha Budidaya Ikan dalam Jaring Apung di Desa Tandengan Kecamatan Eris Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara.  Pasific Journal Edisi Juni 2012 Volume 2 (7) : 1424 – 1428. http://repo.unsrat.ac.id. Diakses Tanggal 11 Mei 2016 Pukul 16.40 WIB.

 

Soekartawi.  2003.  Prinsip Ekonomi Pertanian.  Rajawali Press.  Jakarta.

 

Suryanti, Hesty.  2013.  Analisis Usaha Pembesaran Ikan Nila Merah pada Keramba Jaring Apung di Kecamatan Wonogiri Kabupaten Wonogiri. http://dgilib.uns.ac.id.  Diakses Tanggal 10 Mei 2016 Pukul 10.11 WIB.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Jurnal | Leave a comment

Selamat Atas Akreditasi Prodi Agroteknologi dengan Nilai “B”

Selamat Atas Diraihnya Akreditasi “B” Untuk Program Studi Agroteknologi Fakutas Pertanian Universitas Muhammadiyah Bengkulu.

Setelah dilaksanakan visitasi atau asesmen lapangan beberapa waktu yang lalu (28 Oktober 2016) oleh Tim Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), Kedua Asesor tersebut berasal dari Institut Pertanian Bogor (Prof. Dr. Ir. Slamet Susanto, M.Sc.) dan Universitas Brawijaya (Prof. Ir. Abdul Latief Abadi, M.S.) Prodi Agroteknologi UMB berhasil meraih akreditasi dengan nilai B (sangat memuaskan) Semoga hasil tersebut menjadi titik balik untuk menjadi lebih baik dan semakin terdepan…..(admin,1/2017)

 

 

 

Posted in Jurnal | Leave a comment